“When sh*t happens, turn it into fertilizer.”


Friday, 23 Mar 2018


Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah quote yang saya post di social media dua tahun yang lalu: “When sh*t happens, turn it into fertilizer.” Sampai saat ini, saya masih meyakini makna dari quote tersebut, termasuk dalam menjalani hubungan pernikahan saat ini. Namanya menikah tidak selalu mulus. Ada kala dimana kita merasa semua berjalan sesuai harapan. Namun, ada juga saat dimana kita mengalami jalan buntu. Kita sudah berusaha yang terbaik, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita inginkan.

Pada artikel sebelumnya, saya menulis bagaimana saya merubah cara pandang saya terhadap anak suami dari pernikahan sebelumnya. Saya mencoba berpikir dari sudut pandang seorang ibu. Saya dan suami membuat strategi agar kita bisa menikmati liburan bertiga, yang pada akhirnya membuahkan hasil yang indah. Kita mengikutsertakan anggota keluarga lainnya dan teman-teman sang anak dalam liburan tersebut. Kita bertiga sangat menikmati liburan bersama tersebut, jauh melebihi dibandingkan liburan terdahulu dan kita lebih mengenal satu sama lain. Saya juga berusaha membina hubungan baik dengan pihak mamanya. Pada saat mamanya berulang tahun, saya mengirimkan ilustrasi portrait mamanya. Mamanya mengucapkan terima kasih kepada saya.

Pada saat liburan berakhir dan kita harus menjalani aktivitas di kota masing-masing, saya dan suami rutin berkomunikasi dengan sang anak, melalui Skype video call dan group chat. Sang anak bahkan memasukkan saya ke dalam group chat dia bersama teman-temannya yang saya kenal selama liburan. Di sela-sela rutinitas saya yang padat, saya selalu menyempatkan waktu untuk bermain online game bersama. Kami juga berdiskusi mengenai membuat proyek game bersama. Hingga suatu hari, group itu mendadak sepi dan sang anak tiba-tiba tidak membalas message dari saya dan suami. Dalam satu video call, sang anak berkata bahwa dia sibuk bermain bersama anak dari teman mamanya dan dia mulai sibuk sekolah. Kami tetap berusaha mengontek dia secara rutin, tetapi dia mulai bersikap acuh tak acuh dan membalas message kami setelah beberapa hari. Dia juga tidak mengangkat video call dari kami lagi, padahal saya melihat dia online. Dia hanya mengontek kami secara cepat ketika dia membutuhkan sesuatu dari suami saya. Saya mulai merasa ini tidak sehat. Pada satu video call, saya marah kepada dia, dan saya bilang kita sudah berusaha yang terbaik dalam menjaga komunikasi jarak jauh, tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau salah satu pihak tidak menghargai dan bersikap acuh tak acuh walaupun sudah diberikan pengertian. Di mata saya, seorang anak yang berumur hampir 12 tahun sudah cukup dewasa untuk diberikan reasoning seperti ini. Tetapi, dia hanya menangis. Mamanya marah pada saya dan menutup video call kami. Mamanya bilang saya tidak perlu marah kepada sang anak karena dia mungkin sibuk dengan temannya dan mamanya bilang dia tidak suka saya berbicara seperti itu kepada anak dia, dan saya harus berdiskusi dengan dia dulu sebelum saya berbicara kepada anaknya.

Jelas, disini terlihat posisi saya adalah sebagai orang luar, bukan sebagai partner dalam nurturing anak tersebut. Setelah saya merenung, saya berpikir keputusan terbaik adalah stepping back from the parenting karena sedari awal, saya hanya bermaksud untuk mencintai si anak tanpa bermaksud untuk memperebutkan dia. Kini, saya memutuskan untuk fokus kepada rumah tangga saya dan suami, bukan pada konflik yang mengaitkan  saya dengan anak dari pernikahan sebelumnya dan pihak lain yang bersagkutan. Banyak mimpi dalam berkarir dan mengejar passion yang sedang saya kembangkan. Saya utarakan semua ini pada suami, dan saya juga bilang pada suami sebaiknya tidak liburan bertiga bersama, karena saya benar-benar mau step back dan hanya mendukung dari belakang. Namun, saya memberikan kebebasan seutuhnya pada suami untuk menghubungi dan mengunjungi sang anak.

Suami tidak setuju, karena ekspektasi dia tentang kami bertiga akan bahagia. Menurut saya, ini tidak realistis karena sang anak tidak tinggal bersama kita. Kami bertengkar cukup hebat, dan suami mengajak saya untuk ke konselor pernikahan. Untungnya, kami berdua tidak bitching tentang satu sama lain. Pada saat konflik terjadi, kami memutuskan tidak curhat kepada teman dan keluarga. Itu bisa menimbulkan bias dan perpecahan, karena kemungkinan besar keluarga dan teman-teman akan mendukung saya atau suami secara sepihak. Kami juga tidak nyampah di social media, karena kami butuh solusi dan masukan, bukan dukungan buta yang ujung-ujungnya berdampak negative buat pernikahan kami.

Sisi plus dari konseling adalah saya bisa mendengar curahan hati suami yang kalau kita berdua ngomong nggak keluar karena sedang emosi. Misal, pada waktu saya memutuskan nggak liburan bertiga lagi, suami langsung berpikir bahwa dia tidak akan bisa bertemu anaknya lagi. Saya tegaskan saya tidak akan pernah menghambat komunikasi dan pertemuan suami saya dan anaknya, tetapi saya yang akan mundur. Konselor menyarankan suami untuk memanage ekspektasi dan idealism dia mengenai kita bertiga sebagai satu keluarga, karena konteksnya si anak tidak tinggal di rumah yang sama dengan kita, dan dia baru mengenal saya pada saat dia sudah beranjak remaja. Konselor juga berkata bahwa jangan sampai anak memecah belah dan memanipulasi hubungan rumah tangga kita berdua, bahkan ketika dia tidak berada bersama kita. Konselor berkata bahwa suami harus fokus pada rumah tangga yang sekarang dan juga memikirkan perasaan saya. Mungkin bagi suami, apapun yang dilakukan oleh si anak, dia tetap sayang kepada si anak karena itu adalah anak kandungnya. Namun, tidak demikian halnya dengan saya yang lebih membutuhkan interaksi timbal balik. Konselor juga berkata bahwa saya berusaha terlalu banyak dalam hal ini, dan tindakan yang sekarang saya lakukan sudah benar yaitu stepping back and support suami saya dari belakang.

Kejadian ini memperbesar kapasitas hati saya dan membuat saya lebih jeli dalam mengatur fokus dan prioritas. Saya belajar untuk stepping back dan mengatur ekspektasi saya. Saya tetap sayang kepada anak itu, tetapi saya memutuskan untuk fokus kepada suami, karir, dan pelayanan ibadah. Ternyata, fokus yang saya arahkan ke hal yang benar membuahkan hasil. Saya dan suami lebih fokus dalam pelayanan ibadah bersama. Bahkan, teman-teman sekitar kami juga memberikan komentar positif tentang suami yang lebih giat melayani di ibadah akhir-akhir ini. Lalu, setelah sebulan bekerja, atasan saya dan klien puas dengan kinerja saya, dan saya mendapatkan kenaikan gaji. As the quote says…When sh*t happens, turn it into fertilizer.

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.