Wanita Tangguh Itu Logis dan 'Nggak' Cengeng


Monday, 18 Sep 2017


Sering dalam perjalanan hidup saya, saya kerap mendengar wanita itu mengalahkan segalanya untuk perasaan yang sering mereka label dengan kaya cinta. Prinsip dikalahkan oleh “cinta”, jadwal hidup dikalahkan oleh “cinta” dan juga banyak hal ditunda dan dipercepat dengan kata “cinta”.

 

Tidak ada salahnya mencintai dan bahkan mencintai adalah hal yang mulia tapi benarkah itu cinta? Atau itu adalah emosi2  wanita yang di label dengan atas nama cinta supaya terdengar mulia?

 

Saya pernah ketika masih lebih muda menjalani hubungan yang juga saya label dengan nama cinta tersebut. Sayapun melakukan hal yang sama:

 

  1. Jadwal saya disesuaikan jadwal pertemuan dengan si dia
  2. Prinsip hidup bisa dikalahkan asal “ kita harmonis”
  3. Menangis nangis karena kekecewaan dalam pacaran seperti tidak ada hari esok adalah wajar karena memang dia adalah “segalanya”
  4. Dan dengan segala pengorbanan yang saya lakukan atas nama cinta, akhirnya memang dia menjadi prioritas dalam hidup saya ( padahal kalau dipikir lagi tidak juga jelas kenapa dia menjadi prioritas karena sebenarnya baik karakter maupun kehidupannya bukanlah suatu contoh yang baik)

 

Lalu dari satu kesalahan dan kesalahan yang lain saya belajar. Apa sih yang membuat saya bisa bahagia dalam suatu hubungan dan juga apakah benar semua pengorbanan ini yang dihargai pria? Atau sebenarnya semua pengorbanan ini hanya membuat pria menjadi nyaman tanpa menjadi hormat terhadap saya?

 

Lalu saya juga banyak mendengar curhatan teman-teman saya yang untuk mempertahankan suatu hubungan mereka harus menggerus harga diri mereka dengan alasan “yang penting harmonis”, sebaik dan sepintar dan sebijak apapun mereka, mereka bisa kalahkan untuk pria.  Apakah cinta seperti ini membuat perkawinan atau suatu hubungan berhasil?

 

Dari pengalaman saya tidak,

Pertama Pada saat itu Saya akhirnya malah pernah berada dalam hubungan yang prianya cukup semena-mena dan suka berbohong. Kedua, saya pun jadi terkondisikan dalam posisi yang “tidak boleh marah” semua harus dikatakan dengan “baik”. Walau dijawab atau tidak.

 

Lalu saya juga melihat teman-teman saya yang sudah menikah, kebanyakan mereka juga senang dan pahit serta sedikit tertekan atas nama “ perkawinan dan cinta tadi”. Saya melihat segelintir wanita yang mempunyai hubungan atau pernikahan yang bahagia dan terhormat. Nah....hubungan seperti ini terasa berbeda. Mmm apa ya bedanya? Bedanya mungkin laki-laki dalam hubungan ini benar-benar mencintai dan menghormati mereka, bukan hanya sekadar “ada” untuk mereka. Hubungan ini tidak bertepuk sebelah tangan, dan hubungan ini adalah hasil kerja keras kedua belah pihak. Saya lihat kunci dari pernikahan ini adalah wanita yang membuat prinsip yang benar dan berani membela prinsip-prinsip mereka serta tanggung menerima semua konsekuensi dari pilihan-pilihan mereka yang benar tadi.

 

Memang jaman sekarang menjadi wanita yang benar dan ingin diperlakukan yang benar dalam hubungan yang benar itu tidak mudah. Karena sudah banyak pria dimanjakan oleh wanita yang membolehkan mereka melakukan apapun atas nama “cinta”.  Namun,  hubungan yang benar, langgeng, berdasarkan cinta dari kedua belah pihak, yang penuh rasa hormat, biasanyadimulai dengan wanita yang menghormati dirinya sendiri dan tahu apa yang dicari dalam seuatu hubungan dan mempertahankan hal-hal tersebut. Tangguh? Tangguh berdasarkan pengalaman relationship yang pernah saya jalani sepanjang usia saya yang sudah lebih dari 30 tahun ini bukan dalam hal sok berani atau dalam keadaan fisik tapi berani dalam mengambil resiko memilih pilihan hidup yang benar dan baik untuk diri mereka terlepas apa  yang ditawarkan dunia luar.

 

Contoh hal yang paling gampang dan susah untuk diminta zaman sekarang adalah untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum jenjang pernikahan. Mmm....sulit dan sangat beresiko. Karena biasanya dengan mengeluarkan pendapat ini bisa-bisa kita para wanita diputusin atau diberikan wejangan-wejangan ketus hehehehe.  Yah tapi semua teman saya dan saya pun berusaha menerapkan ini dan  hampir semua pria – pria yang kurang bermutu dan menghormati pilihan saya akan melipir dan malah mereka  yang berani maju adalah yang jelas mau melihat diluar hubungan seksual, yang bertahan malah mereka mau melihat suatu hubungan dengan makna yang sesungguhnya.

 

Kenapa hal ini saya katakan tangguh, karena kita sudah harus siap dengan tolakkan demi tolakan dari pria-pria yang mungkin awalnya kita sudah cukup suka.

 

Lalu ketika kita sudah berpacaran pun banyak wanita tidak berani membela prinsipnya. Takut kehilangan. Tapi hanya wanita-wanita yang tangguh yang berani, kembali, mengambil resiko untuk tetap berpijak dalam prinsip yang sudah dipikirkan dengan baik.

 

Hasilnya? Ketika mereka memilih menikah, mereka mendapatkan pria yang sudah terbiasa menghormati prinsip-prinsip tersebut dan mereka juga mendapati pria yang menghormati dirinya apa adanya. Tapi memang perjalanan ini bisa jadi jauh lebih berat diawal di banding wanita yang iya-iya saja di awal.

 

Dan saya lihat biduk pernikahan maupun hubungannya lebih tenang dan lebih terhormat ketimbang yang semua di awal dengan “ karena cinta kita harmonis”

 

Pada saat ini saya masih single, saya baru keluar dari suatu hubungan, namun  saya berusaha menjadi seperti teman-teman saya yang hubungan percintaaannya langgeng, terhomat, dan benar-benar dicintai. Yang saya perlukan dalam perjalanan ini adalah ketangguhan mental dan emosional untuk selalu bertahan dengan apa yang saya percayai benar, untuk jatuh bangun dalam hubungan-hubungan baru berikutnya. Sampai akhirnya saya mendapatkan pria yang bisa saya ajak untuk saling mencintai, saling menghormati, dan saling membangun dalam hidup. Bukan hanya selalu terombang ambing tentang bagaimana menikmati suatu hubungan dengan asas “ I do anything for love”.

 

Hidup dengan prinsip yang baik akan membawa kita jauh lebih baik, baik dalam percintaan, karir, maupun dalam hidup pertemanan. Sedangkan hidup yang penting semua harmonis dan seru pada awalnya biasanya malah tidak langgeng dan sering berakhir pada masalah yang terasa pahit bahkan tidak terselesaikan.

 

Itu sih pengalaman saya tentang ketangguhan, Bagaimana dengan pengalaman kamu Urbanesse?

 

Sumber Gambar: Created by Tirachard - Freepik.com

 

 

 

 



Priscilla

No Comments Yet.