Untukmu Yang Tetap Bekerja di Hari Raya


Thursday, 22 Jun 2017


Hari Besar keagamaan selalu identik dengan beragam tradisi yang berkembang di masyarakat mau itu perayaan Natal, Lebaran maupun hari besar keagamaan lainnya. Rekan saya bilang hari besar keagamaan nggak akan seramai seperti sekarang ketika tidak dibumbui dengan menjalani yang sudah menjadi tradisi, walaupun yang saya tahu tradisi itu kan ada karena hasil bentukan dari masyarakat masing-masing daerah bukan turun langsung perintahnya dari Tuhan.

 

Tradisi Pulang Kampung saat Lebaran atau liburan keluar negeri pada saat Natal adalah hal yang bisa dibilang sudah menjadi tradisi di negara kita. Seperti rekan kantor saya, yang lebaran tahun ini, dia tidak pulang kampung melainkan ingin merayakan lebaran di kampung orang, dia berencana merayakan hari lebaran di Bali bersama keluarganya minus Bapak Ibu nya, karena bapak ibunya sudah sepuh jadi tidak bisa ikutan. Katanya sih pingin ganti suasana saja, yaa..itu memang haknya dia sih heehee tapi kalau saya jadi dia aduuh...saya pasti nggak bakal menyia-nyiakan moment hari raya kumpul bersama keluarga. Saya sendiri pernah 4 kali hari raya tidak pulang kampung karena pekerjaan saya sebagai seorang Dokter di Papua menuntut saya untuk tidak bisa berhari raya bersama Bapak dan Ibu saya di kampung.  Lagi pula ongkosnya juga cukup mahal untuk mudik ke kampung saya di Purwokerto.

 

Sedih? iya itu saya rasakan pada waktu itu disaat orang-orang bisa berkumpul bersama keluarganya ketika hari raya saya harus bekerja dan jauh dari bapak dan ibu dikampung. Memang sih tidak ada anjuran dalam keyakinan yang saya anut untuk pulang kampung, karena itu hanya tradisi saja.  Namun, karena dari kecil selalu berhari raya sama Ibu Bapak, rasanya ada yang kurang kalau berhari raya tidak bersama mereka apalagi mereka kan masih sehat, hari raya itu setahun sekali rasanya nggak terbayang harus berhari raya tidak bersama mereka karena tahun depan kan belum tentu bisa berkumpul bersama. tapi setelah masuk tahun kedua sampai keempat rasa sedih dan galau pun sirna karena ibu saya menjelaskan esensi hari raya yang sebenarnya.

 

Ibu saya di kampung pernah bilang, kalau hari raya itu harus sukacita merayakannya, meski dalam keadaan jauh dari keluarga bukan berarti sukacitanya tidak dapat dirasakan. Karena hari raya itu moment, mudik atau pulang kampung hanyalah tradisi masyarakat. Jika memang  ketika hari raya tetap bekerja bukan alasan untuk bersedih dan tidak merasakan sukacita dan kesyahduan moment hari raya. Yang terpenting adalah esensi hari raya itu untuk diri kita. Meski 4 kali hari raya tidak bersama Ibu Bapak, toh saya tetap menjalankan ibadah di pagi hari, tetap bisa sungkeman dengan ibu bapak dikampung karena teknologi kan kini sudah canggih, saya bisa video call-an dengan orang-orang yang saya sayangi.

 

Esensi hari raya dalam keyakinan saya adalah merayakan kemenangan dan proses perbaikan diri untuk menjadi manusia yang kembali suci setelah menjalani puasa, silaturahmi itu bentukan tradisi. Yaa...selama 4 kali hari raya saya tidak mudik disaat orang-orang mudik, ini kemenangan saya bisa menjaga hati dan pikiran saya hingga tidak menggalau sedih dan tetap merayakan hari raya dengan sukacita dan karena hari raya di tanah rantau seorang diri saya pun lebih bisa memaknai hari raya yang sesuai dengan keyakinan saya yaitu kemenangan dan perbaikan diri dari bulan-bulan sebelumnya

 

  1. Saya bisa menjadi orang yang lebih sabar yang biasanya saya tidak sabaran baik dalam pekerjaan maupun dalam keseharian kini saya jadi lebih menghargai pekerjaan saya dan mengerjakannya dengan ketelitian dan kesabaran.
  2. Saya bisa menjadi pribadi yang disipilin, karena merayakan moment hari dan bulan keagamaan seorang diri otomatis membibit saya untuk melakukan segala sesuatu sendiri, bangun jadi lebih pagi, datang kekantor pun yang biasanya ngaret saya bisa lebih ontime.
  3. Lebih menghargai waktu, merayakan hari raya di rantau dan jauh dari keluarga menjadikan saya lebih menghargai waktu. Jadi moment hari raya atau moment lain yang sekiranya ada acara kumpul keluarga saya tidak akan pernah lewatkan jika pas luang waktu saya.

 

Buat Urbanesse yang perantau seperti saya, yang harus bekerja atau tidak bisa meninggalkan pekerjaanya ketika hari raya , percaya deh semua akan berjalan baik dan tidak segalau yang kita rasakan yang terpenting hari raya itu kita pahami esensinya yaitu merayakan kemenangan dan proses transformasi menjadi pribadi yang lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya. Kumpul dengan keluarga memang moment tahunan tapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan ketika berjauhan karena teknologi juga sudah canggih bisa mendekatkan yang jauh dimata hanya dengan sentuhan jari. Jangan sampai esensi moment hari raya keagamaan hilang hanya karena kita jauh dari keluarga, nggak dapat momentnya lalu kemudian kita tidak menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh Tuhan.

 

Akhirnya setelah 4 tahun berturut-turut tidak bisa merayakan hari raya bareng Ibu Bapak di kampung. Tahun ini saya di kasih izin sama kantor untuk bisa bertemu dengan Ibu Bapak dan bersyukurnya dapat rezeki lebih untuk ongkos mudik saya ke kampung dan merayakan hari raya bersama. Ini moment sangat berharga buah dari hasil saya menunggu selama 4 tahun di rantau, akhirnya bisa berhari raya lagi bersama Bapak dan Ibu serta keluarga besar saya di kampung.

 

Satu pesan yang lumayan mengena untuk diri saya sebagai penutup tulisan ini dan sebagai pengingat untuk kita yang sedang dan akan merayakan hari besar keagamaan yaitu “kontrol baik-baik pengeluaran, Ingat..! Hidup akan tetap berjalan usai hari raya. Stay... save your money Ladies!

  

 

sumber gambar: created by Freepik



Angel

No Comments Yet.