Unggahan di Sosial Media itu Tanda Pamer, Benarkah?


Friday, 18 May 2018


“Cind, kamu udah punya anak? Kok aku nggak menemukan di instagrammu sih?”

“Ada kok Mbak, foto jari tangannya...hahaha” jawab saya sekenanya.

Itulah obrolan darinya suatu saat ketika saya melayat ke rumah seorang teman di daerah Pondok Pinang Jakarta Selatan dan hal itu berlanjut menjadi sebuah diskusi di kereta bersama sahabat yang lain. Obrolan itu akhirnya berlanjut saat kami berdua naik commuter line.

Dulu, saat awal-awal memasuki dunia rumah tangga dan menjadi pengantin baru di mana semangat posting ini posting itu sangat menggebu, saya pun memilih tekad untuk memposting hal-hal lain di sosial media. Pun dengan anak, saya pun berusaha meminimalisir untuk mengunggah foto-foto anak saya dan ternyata itu tidak mudah karena euforia akhirnya memiliki anak ini memang harus menunggu selama kurang lebih empat tahun.

Memang tidak ada aturan baku atau tertulis terkait mengunggah apapun di akun sosial media yang kita punya. Segala macam lalu lintas di dunia maya itu tanpa sekat dan tanpa batas. Kalau suka ambillah, tidak suka silakan skip saja. Banyak hal yang menjadi latar belakang mengapa setiap unggahan kita menghiasi lini masa. Faktor eksistensi hingga alasan kebahagiaan. Yap, setiap orang membutuhkan pengakuan, “ini aku!” dan “aku benar-benar ada” hingga alasan ‘hanya’ untuk sebuah rasa bahagia dan tetap ingin menjaga kewarasan. Sangat simpel, bukan?

Seharusnya tidak ada masalah dengan setiap unggahan. Namun, ternyata di sinilah lahir tantangan bagaimana menjadi pribadi yang bijak dalam memainkan semua akun sosial media yang kita punya. Setiap kepala tidak selalu memiliki kesepakatan yang sama. Kemudian lahirlah cara penyikapan dan penerimaan yang berbeda. Saya pribadi termasuk jarang unggah foto bersama pasangan setelah menikah hingga sangat sering ditanya “rumah tanggamu baik-baik saja kan?” atau “anakmu sehat kan?” Saya meresponnya dengan ucapan terimakasih atas perhatian tersebut.

Bagi saya, ketika sudah menikah dulu memang susah sekali menahan euforia jatuh hati yang hanya disimpan sendiri, tetapi saat itu saya menyadari bahwa di luar sana banyak para lajang yang juga ingin menikah. Perkara menikah ini pun juga tidak mudah secara mental kan? Banyak pertimbangan tentang kondisi, belum menemukan pasangan, sedang menempuh pendidikan, karir, kesehatan, hingga keluarga besar. Kita tidak pernah tahu itu. Sama halnya tentang unggah foto anak, saya berpikir untuk menjaga privasi anak dan ingin juga menjaga perasaan para pasangan di luar sana yang juga sedang mengusahakannya. Yap, karena saya juga pernah di posisi menunggu selama empat tahun dan cukup sulit untuk mengatur emosi ketika menjumpai unggahan-unggahan yang bercaption tentang anak. Kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan dan penerimaan orang lain yang mampir dalam unggahan kita kan? Saya setuju dengan peryataan salah satu penulis di Urban Women yang mengatakan bahwa sebelum kita memposting segala sesuatu berkaitan dengan anak, kemewahan dan unggahan foto kemesraan bersama pasangan ada baiknya kita pikirkan dua kali, posisikan seandainya kita menjadi orang lain yang belum memiliki apa yang kita sudah miliki saat ini. Karena diluar sana kita tidak pernah tahu akan ada hati dan pikiran seperti apa dengan postingan kita. Saya menulis ini karena saya pun pernah ada di posisi-posisi mereka tersebut seperti yang saya ceritakan diatas.

Dalam kesempatan yang lain, saat kita menjadi penikmat unggahan orang lain pun juga dituntut cerdas, tidak hanya cerdas mengelola pikir tetapi juga cerdas mengelola emosi. Di balik unggahan di sosial media tiap orang yang penuh dengan senyuman bahagia itu pasti ada usaha keras atau bahkan memeras air mata. Setiap unggahannya adalah jalan mendapatkan kebahagiaan atau bahkan pengakuan atau ‘hanya’ sekadar berbagi. Kita sebagai penikmat pada akhirnya juga harus memiliki dada yang lapang dan membuang jauh rasa ketergesa-gesaan menghakimi bahwa itu adalah sebuah sikap pamer.

Pamer atau tidaknya berakhir pada sebuah definisi dalam diri yang sangat dipengaruhi dengan cara pandang. Cara kita menerima akan menentukan kesimpulan yang kita dapat karena kita tidak bisa memasang aturan ideal pada setiap unggahan. Ini pendapat dan sikap saya, bagaimana denganmu Urbanesse?



Cindy Riyanika

No Comments Yet.