Tulus Saja Tidak Cukup, Sebagai Wanita Kita Harus Cerdik


Wednesday, 25 Oct 2017


Tulus namun cerdik itu seperti apa ? tanya seorang teman padaku. Kata dia kalau sudah tulus, ya sudah berarti kita ikhlas dan bebasin aja hati kita dari segala macam prasangka baik dan buruknya, plongin jangan diingat-ingat lagi Itu jawaban yang temanku buat ketika aku bicara tentang menjadi wanita tulus namun cerdik.

 

Buat aku tulus ya tulus memang namun ketulusanku jangan disalahartikan apalagi sampai dimanfaatkan makanya aku melakukan musti cerdik. Mengapa musti cerdik? yaaa...supaya tidak di manfaatin dan di kecewakan. Ini sama halnya dengan ketulusan yang aku terapkan tiap kali menjalin hubungan dengan laki-laki.

 

Dari SMA jalan pikiranku memang sudah berbeda dari anak-anak seumuranku. Kalau berkawan aku paling senang dengan laki-laki karena mereka nggak baperan, setia kawannya malah tinggi banget dan apa adanya. Saat itu aku juga sudah berpikir tipe cowok yang nantinya kelak menjadi pasanganku bukan sekedar tipe lho, tapi ini paten hingga aku masuk dunia kerja tipe yang akan menjadi pasanganku tetap nggak berubah, masih sama. Satu punya penghasilan sendiri yang bisa memenuhi kebutuhanku, kedua cowok yang serius menjalin hubungan denganku harus baik, baik di sini adalah mereka yang segala tindak tanduknya takut sama Tuhan, Ketiga mereka musti gentleman (salah yaa..akui, tidak membesarkan ego), Keempat sayang keluarga (bukan cuma sayang aku aja tapi juga sayang keluargaku).

 

Nggak heran dulu itu aku termasuk cewek yang bisa dibilang banyak teman cowoknya. Tiap weekend pasti selalu ada cowok berbeda yang izin ke orangtuaku untuk mengajakku datting (sekedar makan di restoran atau nonton film di bioskop), bahkan lucunya lagi sampai amprokan, bersesi gitu cowok A mau pulang cowok B datang, cowok B pulang Cowok C datang dan seterusnya. Meski demikian semua itu bukan pacar aku, semua aku anggap teman. Nggak ada tuh yang namanya belum apa-apa aku sudah terbawa perasaan. Jadi semua cowok yang jadi teman aku itu yaa..pyuuur teman aku nggak akan main hatiku di awal, karena memang sudah prinsip aku baru mau menjalin hubungan (pacaran) jika memang laki-laki tersebut sudah memenuhi checklist pria sesuai dengan tipe yang aku sebutkan di awal tulisan. Kalau masih kurang salah satu yaaa...maaf – maaf aja nih aku nggak memasukkannya ke dalam list pria yang akan lanjut menjadi pasanganku kelak.

 

Mia sahabat perempuan di komplek rumahku sempat mengatakan kalau aku ini jahat, memperlakukan laki-laki seperti itu? Lho di mana jahatnya yaa? Aku kan hanya menjalankan apa yang aku setujui memenuhi prinsipku dengan 3 tipe cowok yang memang aku idamkan dari dulu. Buat aku ini caraku bersikap cerdik dalam memilih pasangan hidup. Kalau nggak cerdik dari sekarang masa iya kita mau menikah dengan pria yang salah atau mengecewakan nantinya. Aku hanya nggak mau menyesal seperti beberapa temanku karena keliru memilih pria yang tidak sesuai. Terus kalau gitu aku tulus nggak ? itu jangan ditanya. Karena dalam menjalin pertemanan dengan mereka (pria-pria tersebut) saya tulus tidak ada motif untuk morotin mereka atau ngerjain mereka.

 

Salah satu kriteria pria yang dapat menjadi pasangan saya adalah mereka yang berpenghasilan, terus kalau belum punya penghasilan nggak bisa jadi pasangan saya gitu ? Saya berpikir realistis bukan matrealistis lho ladies. Ini hanya untuk tolok ukur saja, jadi bagi mereka  yang mau dekat dengan saya yaaa..mereka yang sudah niat serius. Karena bagi saya pria yang sudah baik secara finansial berarti dia sudah bisa bertanggung jawab nantinya untuk keluarganya dan dapat memenuhi kebutuhan keluarganya kelak (ini prinsip saya) Mereka yang sudah memiliki penghasilan sendiri, bisa mencukupi hidupnya dan nantinya hidup saya. Apa saya seistimewa itu ? tentunya iya, kalau bukan saya yang mengistimewakan diri saya, yang menghargai tinggi diri saya sendiri lantas siapa lagi ? cowok-cowok itu ? yaaa...nggak deh gimana bisa, jika mereka sudah berhasil tidak membuat saya istimewa dan saya sendiri nggak bisa menghargai diri saya, otomatis pasti mereka juga akan memiliki 1001 cara bagaimana untuk tidak menghargai saya. Saya lihat betul teman-teman saya di sekolah, di kampus waktu itu. Sampai ada yang menangis semalam berhari-hari karena ditinggalin sama cowoknya yang sudah pacaran lagi dengan orang lain padahal teman saya itu sudah merasa memberikan “segalanya”. Temanku sempat nanya, “kok gw sampai di perlakukan kaya gini ya?padahal gw sudah baik dan sayang banget sama dia dan memperlakukan dia layaknya pasangan hidup?”

 

Sambil menenangkan dia, saya jawab “Yaaa...karena dari awal kamu nggak menghargai diri kamu sendiri, makanya si cowok itu seenaknya tidak menghargai kamu. Karena kamu sendiri mau diperlakukan seperti itu. Kalau dia salah kamu akuin kamu yang salah, kalau dia salah kamu juga yang berusaha banget minta maaf duluan, dia yang salah kamu yang nangis-nangis minta dia berubah dan sebagainya” Mungkin itu yang menjadikan cowokmu meninggalkan kamu, karena kamu nggak sayang diri kamu sendiri. Coba deh mulai sekarang jadi cewek tulus boleh, tapi jangan sampai jadi “bodoh”. Di dalam ketulusanmu harus ada langkah cerdik supaya kita sebagai perempuan tidak dicerdikkin juga oleh laki-laki.

 

Naah..dari melihat pengalaman teman saya, itu juga yang mungkin membuat saya sangat realistis dalam memulai suatu love relationship. Saking realistisnya sampai disebut jahatlah, matrelah padahal saya “Just the way I am”. Saya seperti ini karena memang keadaan yang mengharuskan saya seperti ini, kalau tidak nasib saya pasti sama seperti rekan-rekan saya zaman sekolah dan ngampus itu.

 

Terus susah nggak dapetin cowok yang pas kalau prinsipnya seteguh itu ? memang nggak bisa diturunin lagi levelnya, emang nggak mau dicap sebagai perempuan pemilih? kalau bicara sulit atau nggaknya itu relatif ya, sejauh saya menjalankan ini yaaa...,mereka yang tidak masuk kriteria yang sudah saya buat itu akan terfilterasi sendiri. Saya nggak akan menurunkan levelnya karena saya tidak mau di semena-menakan nantinya oleh laki-laki yang menjadi pasangan saya, berarti dia harus mencintai diri saya apa adanya saya.  Nggak takut di cap pemilih ? kalau itu pendapat orang, jadi buat apa saya dengarkan karena yang menjalani pernikahan nantinya adalah saya dan pasangan, kalau saya kesusahan apa mereka yang bicara seperti itu mau membantu ? belum tentu kan?heeheee...jadi musti teguh pendirian bahwa ini prinsip yang saya pegang.

 

Pada akhirnya hanya mereka yang sesuai kriterialah yang bertahan. Karena cowok itu kalau sudah suka atau sayang sama kita apalagi ada pembandingnya sesama cowok juga, itu sudah pasti akan penasaran dan mengejar kita terus sampai dapat. Dan yang menjadi pasangan (suami) kita pada akhirnya adalah mereka yang benar-benar konsisten, komitmen, tulus apa adanya dan pantang mundur untuk memperjuangkan kita.

 

Dari beberapa kandidat yang datang ke rumah, ada 1 pria, sebut saja namaya Rudi, yang konsisten dan perjuangannya menurut saya bisa saya acungi jempol, dia tidak hanya pandai mengambil hati saya tetapi juga mengambil hati keluarga saya khususnya kedua orang tua saya. Dari ketiga prinsip saya tersebut dia miliki semua, dan saya amati dia tulus karena itu bisa dirasakan, bukan hanya saya yang merasakan ketulusannya tetapi orang rumah beserta kedua orangtua saya pun mengiyakan bahwa pria ini adalah orang yang pantas saya pilih untuk saya jadikan teman hidup.

 

Sebenarnya di dalam hati kecil saya, pria yang akan menjadi pasangan saya sih intinya mereka mau berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami nanti dan meyakinkan saya kalau dirinya bisa diandalkan. Dengan menjadikan mereka teman saya tanpa ada perasaan dan ekspektasi macam-macam, itu saya lakukan lebih kepada ingin melihat seberapa konsisten mereka dengan ucapan, jujur nggak mereka dengan keadaan diri mereka. Dari semua pria yang menjadi teman saya,  hanya Rudi yang dapat menunjukkan pribadi dia yang tulus, apa adanya dan berusaha untuk melindungi saya. Rudi merupakan teman SMP saya yang sempat dipertemukan lagi ketika reuni dulu.

 

Rudi berhasil meyakinkan orangtua saya bahwa dialah Mr. Right saya, akhirnya tepat di tahun 2011 dia melamar saya dan di bulan Februari dia meminang saya. Setelah berkutat dengan beragam kandidat akhirnya saya menemukan dia yang selama ini saya cari. Rudi adalah pelabuhan terakhir saya. Hingga saat ini keluarga kami selalu diberikan keberkahan oleh Tuhan di tiap harinya.  Rudi tetaplah Rudi dia tetap sama tidak berubah karakternya sedikitpun dari awal pertama bertemu. 6 tahun sudah kami menjalani pernikahan ini, doa kami adalah agar Tuhan selalu memberkati keluarga kami dengan karunia dan cinta-NYA agar kami bisa terus bersama hingga akhir hayat.

 

Nah, dari cerita saya ini saya ingin mengajak Urbanesse untuk selalu bersikap tulus namun tetap cerdik karena bagaimanapun bentuknya ketulusan akan berbuah manis jika kita mau sedikit saja menyisipkan kecerdikan di dalamnya. Bukan untuk kejahatan, tetapi lebih kepada untuk melindungi kita dan memberi penghargaan tertinggi untuk diri kita sendiri.



Libra

No Comments Yet.