Tulus Namun Tetap Realistis, Ladies!


Tuesday, 17 Oct 2017


Seorang perempuan yang kuat membangun karakter diri yang tidak mudah tertipu dengan keadaan dan tidak mudah terluka dalam kekecewaan. Ia menjaga hatinya dengan segala kewaspadaan. Ia juga memilih untuk menjalin persahabatan dengan sesama perempuan yang saling mendukung dan tidak segan-segan menegur atau mengingatkannya apabila ia terlalu larut dalam perasaan cinta yang seringkali membutakan.

 

Love is blind. Itu benar adanya. Jadi kalau sedang jatuh cinta, pastikan mata hati kita tidak sampai dibutakan karena cinta. Supaya kalau pada waktunya kenyataan menunjukkan sifat asli pasangan kita yang ternyata berbeda 180 derajat dari yang selama ini ditunjukannya, mata hati kita masih bisa merekam kejadian itu di memori kita. Dan meskipun perasaan kita sudah telanjur teriris-iris karena merasa bodoh, merasa dibohongi dan dikhianati, memori yang terekam di ingatan kita akan membantu kita belajar dari kesalahan yang sama di kemudian hari.

 

Salah Membaca Keadaan

Bicara soal “love is blind” itu adalah realita yang pernah saya alami dan belum lama ini juga dialami sahabat saya. Sahabat saya ini curhat ke saya dan circle of friend kami di grup WA. Saya jadi merasa déjà vu, walaupun kejadiannya tidak persis sama. Satu hal yang sama persis, di tengah-tengah perasaan kita yang sedang dibutakan oleh virus cinta, tiba-tiba pasangan kita menjauh, makin susah dihubungi (apalagi ditemui), memutus komunikasi tanpa alasan yang jelas dan – sesuai prediksi alam – akhirnya hubungan yang kami kira sedang berjalan baik itu lenyap tanpa bekas seperti pergi dibawa angin badai.

 

Sama seperti sahabat saya yang mendadak seperti perempuan yang kehilangan pijakan, terus memikirkan the why’s and how’s semua bisa terjadi, saya juga dulu mengalami hal yang sama. Karena sudah pernah mengalami, alhasil respon saya di obrolan grup WA kami itu menjadi respon mungkin yang terkesan kejam. Alih-alih kasih puk-puk untuk menghibur sahabat saya, saya lebih suka membahas kenyataan bahwa apapun alasan mantan pasangannya meninggalkan dia, intinya adalah he’s just not that into you. Intinya, dia tidak memilihmu dan justru memilih untuk meninggalkanmu. Pahit memang, tapi begitulah keadaanya.

 

Hubungan yang selama ini kita kira didasari oleh rasa saling cinta seperti cerita Cinderella, ternyata tidak berakhir happily ever after. Ibarat pohon, cintanya buat kita tidak berakar kuat dan akhirnya perasaannya berubah. Tanya kenapa? Karena begitulah perasaan, bisa berubah kapan saja. Perasaan bukan komitmen. Bahkan yang sudah berkomitmen pun bisa mengubah komintmennya dengan barbagai alasan, apalagi yang baru berpacaran, terlebih lagi penjajakan. Begitulah kenyataan yang mau gak mau harus bisa kita terima. Kita keliru menilai orang. Kita keliru membaca situasi. Kesimpulannya, kita... keliru.

 

Kemampuan untuk Selalu Realistis

Apa yang saya pelajari dari pengalaman seperti ini? Apa lantas kita sebagai perempuan tidak boleh terlalu tulus mencintai pasangan kita? I wish I could, tapi sepertinya sulit untuk tidak mencintai dengan tulus karena hanya ketulusan yang membuat kita merasa bahagia ketika menjalin hubungan. Dan, bagaimanapun juga, ketulusan adalah salah satu bentuk ungkapan rasa cinta. Atau, apa sebaiknya kita harus berhenti jatuh cinta? Kalau ada tombol khusus di pikiran kita untuk bisa melakukan ini sih ok, tapi sepertinya jalan satu-satunya adalah menjadi tulus namun cerdik melihat situasi. Ini bukan berarti kita kejam dengan keadaan, melainkan kita harus cerdas membaca keadaan.

 

Saya sadar saya belum punya jawaban pastinya, yang jelas selain bahwa saya sebagai perempuan harus punya kemampuan untuk cepat tanggap terhadap keadaan dan saya tidak mudah memberikan seluruh hidup saya saat itu untuk sebuah hubungan yang masih dalam tahap dating atau berpacaran, apalagi kalau masih dalam tahap penjajakan, itu menurut saya cara cerdik saya dalam memberi rasa yang tulus pada seseorang namun tetap hati-hati dan jangan terburu-buru menggunakan perasaan misalnya “ih cowok itu suka sama saya, cowok itu sudah baik sama saya jadi saya harus kasih semuanya (waktu, pikiran bahkan hidup kita untuk orang yang belum tentu serius sama kita). Pastikan dulu tentang itikad laki-laki tersebut mendekati kita, lagi-lagi dengan kecerdikan.

 

Ladies, tetaplah realistis dan hati-hati, Itu bukan ucapan yang hanya wajib dalam mengantisipasi tindak kejahatan, tetapi juga untuk mengantisipasi apapun perubahan yang mungkin terjadi dalam sebuah hubungan yang belum diresmikan di depan altar atau penghulu. Ungkapan “tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular” sangat cocok menggambarkan kekuatan seorang perempuan di tengah suasana love is blind alias di bawah pengaruh cinta.

 

Memang kita perlu untuk tulus mencintai pasangan kita, tetapi kita juga perlu untuk selalu realistis dan awas dengan keadaan yang kapan saja bisa berubah. Dengan kewaspadaan penuh layaknya seekor ular yang selalu Realistis dan cepat tanggap, kita bisa tetap tulus mencintai dengan kesetiaan, kebaikan dan menyayangi dengan perasaan, perbuatan dan perkataan yang baik sesuai nilai-nilai yang kita percayai; tetapi tidak menyerahkankan seluruh perasaan apalagi jiwa raga kita kepada pasangan yang belum tentu mau berkomitmen seterusnya.

 

Kita harus selalu ingat bahwa sebelum janur kuning terpasang dan semua dokumen sah ditandatangani secara hukum, pasangan kita bisa pergi meninggalkan kita kapan saja dia mau tanpa kita bisa menahannya pergi. Untuk itulah kita perlu membangun karakter diri yang kuat agar tidak mudah tertipu dengan keadaan, apalagi terluka ketika mengalami kekecewaan. Caranya adalah dengan menjaga diri kita dengan segala kewaspadaan dan jangan larut terbawa perasaan yang belum saatnya dikembangkan dan yang terpenting saya selalu mengingatkan ke dalam diri saya yaitu dengan melatih mata hati kita untuk peka dalam segala keadaan, khususnya ketika kita sedang jatuh cinta. 

 

Bersyukur untuk Persahabatan

Memang, kadang pengaruh love is blind itu begitu kuatnya sehingga mengalahkan logika. Itulah gunanya kita punya sahabat yang selalu mengingatkan kita ketika kita mulai terkesan gak masuk akal menyikapi hubungan kita dengan pasangan. Ketika kita terlalu memuja-muja pasangan kita atau sebaliknya ketika kita tidak terlalu fokus pada bumbu-bumbu romantisme yang seringnya hanya berlangsung sesaat sebelum kemudian berubah menjadi pahit ketika hubungan kita berakhir.

 

Sebagai sahabat yang baik dan sebagai sesama perempuan, kita yang paling mengerti kondisi sahabat kita. Kita mengenal baik pribadi dan karakter sahabat kita dan kita mungkin pernah berada pada situasi yang sama. Kita tahu bahwa perempuan cenderung mudah terbawa perasaan, entah itu mengawang-awang di langit karena merasa sangat dicintai, maupun ketika sedang terjatuh ke jurang yang tak berujung ketika dikhianati atau ditinggalkan pria yang dicintai. Sekali lagi, itulah gunanya sahabat dan bersyukurlah apabila kamu memiliki persahabatan yang kuat dan saling mengingatkan. Ini pun saya lakukan dulu tiap kali sedang penjajakan atau menjalin hubungan dengan pria.

 

Sekedar saran, pilihlah mereka yang menjadi sahabat kita yang menyadarkan sahabatnya untuk tetap tulus tapi juga selalu realistis. Pastikan sahabat kita tersebut adalah seorang yang sudah kita percaya dalam artian sahabat yang tidak hanya ada di kala kita senang tapi ada di kala kita mengalami kesusahan namun ia tidak pernah menjudge atau menjatuhkan kita. Mungkin, itulah warning terakhir yang ia terima sebelum keadaan menjadi tidak terkendali ketika pasangannya berubah setia atau rasa cintanya memudar. Sebaliknya juga, dengarkanlah sahabat kita ketika ia seakan-akan “mempertanyakan” cerita bahagia kita bersama pasangan. Mungkin apa yang kita anggap sebagai cerita bahagia itu ternyata adalah sinyal atau tanda-tanda perpisahan dari pasangan kita yang ia tutupi dengan manis dan tentunya tidak terlihat semanis itu di mata orang lain yang tidak di bawah pengaruh cinta.

 

Perempuan yang Kuat

Jatuh cinta itu tidak terelakan dan magis “love is blind” itu pasti. Cinta itu buta. Dia tidak bisa memilih apa ia akan tinggal selamanya atau pergi selamanya. Pikiran kitalah yang membuat keputusan itu.

Semoga belum terlambat untuk membuat keputusan untuk tetap tulus seperti merpati dan selalu realistis seperti ular yang cerdik. Buka mata hati kita, jangan biarkan ia ikut-ikutan dibutakan oleh cinta. Latih karakter kita untuk cepat tanggap dengan keadaan. Jagalah mata hati kita dengan segala kewaspadaan, supaya kita tidak terlalu terluka ketika cinta itu pergi, dan mampu belajar dari kesalahan di masa lalu. Dan jadilah sahabat yang baik yang selalu jujur dan mengingatkan sahabat kita ketika ia membutuhkannya. Putuskan untuk menjadi perempuan yang semakin kuat dalam kedewasaan.

 

 Be alert, Ladies. Tetap menjadi wanita yang realistis. Selalu.

 

 

 

 Sumber gambar: Created by Kues - Freepik.com



Cicilia Elisabeth

No Comments Yet.