Tulus Namun Tetap Cerdik Di Dunia Bisnis


Tuesday, 10 Oct 2017


Bicara tentang tulus namun tetap cerdik, sejak masih saya sekolah keluarga saya termasuk saya pribadi sudah diajarkan bagaimana berteman dengan teman secara tulus, tidak memanfaatkan teman meskipun mereka mempunyai fasilitas yang lebih (saya bersyukur karena saya bersekolah di sekolah yang membekali kami dengan pelajaran budi pekerti). 

 

Mama mengajarkan kami bersaudara  untuk tidak mudah menerima pemberian orang lain. Alasan mamaku bahwa untuk mendapatkan apa yang temanmu berikan padamu, ia berjuang lho, sementara kamu mendapatkannya tanpa berjuang. 

 

Jika kamu tidak mampu memilikinya, lebih baik tidak usah, jangan manfaatkan kebaikan orang lain untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Begitu ajaran dasar ketulusan di usia dini.

 

Hasil dari pengajaran ketulusan itu, sampai sekarang, aku tidak terbiasa memanfaatkan teman-temanku meskipun aku tahu bahwa mereka memiliki nilai manfaat bagiku. Peluangku untuk di pertemukan oleh teman yang hanya ingin memanfaatkanku juga kecil ? mengapa? Karena ketulusan, orang yang yang mau berniat memanfaatkanku seketika malah jadi tidak tega untuk berencana mempergunakanku, karena memang dari kecil aku selalu diajarkan untuk tetap bersikap baik pada orang yang aku tahu dia sedang memanfaatkanku. Karena lambat laut orang tersebut akan malu sendiri karena kita sudah banyak memberikan kebaikan padanya.

 

Walau memang jika diterapkan di dunia bisnis sifat tulus seperti ini umumnya akan rentan sekali dimasuki oleh orang-orang yang tidak tulus, yang misinya hanya ingin berteman atau menjadi rekan bisnis kita dengan memanfaatkan ketulusan kita. Untuk hal ini memang saya tidak menganjurkan menerapkan apa yang seperti saya lakukan, dengan bersikap tulus dan tetap baik pada orang yang hanya memanipulasi kita di dunia bisnis tanpa mempunyai sikap cerdik.

 

Nah, bagaimana jika kita ingin menjadikan relasi kita sebagai target marketing? Apakah akan menghancurkan ketulusan kita? Ternyata tidak. teman, kenalan dan relasi tentu tidak tabu untuk dijadikan customer tapi nilai ketulusan harus tetap dijunjung tinggi misalnya kita memberikan NILAI TAMBAH misalnya  harga lebih murah agar teman, relasi dan sahabat kita yang membutuhkan jasa atau barang yang kita sediakan mendapatkan nilai lebih daripada ia membeli barang atau jasa yang sama dari orang lain yang belum dikenalnya atau baru dikenalnya.

 

Ketulusan harus mengalir dalam persahabatan, pertemanan, relasi, kenalan dan pada customer, tepatnya semua orang. Sangat tidak layak kita tidak tulus atau malah menipu orang yang telah mempercayai kita sebagai kenalannya. Tapi saya bersykur pada Tuhan karena teman-teman yang mempunyai sikap tidak tulus dan berniat hanya memanfaatkan saya satu per satu mundur dari per temanan ddengan saya.

 

Karena jujur berteman dengan saya sebenarnya so simple, kamu baik dan tulus ke saya maka saya akan melakukan 2x kebaikan dan ketulusan untukmu. Tapi jika kamu di tengah jalan ternyata saya ketahui berelasi hanya untuk memanfaatkan dan memanipulasi saya maka saya tidak akan membalas namun saya akan langsung keluar dari pertemananan dengan orang tersebut dan memilih jaga jarak dengan mereka yang tidak tulus, namun saya tetap bersikp baik pada mereka hanya saja tidak care seperti sebelumnya. Maka jangan heran orang-orang yang kini berteman dan berelasi dengan saya adalah mereka yang memang sudah teruji dan memang layak menjadi teman dan berelasi dengan saya.

 

Banyak orang berpendapat bahwa bisnis jangan tulus, bagaimana bisa kaya jika tulus, itu orang bodoh terlalu tulus sih dan pendapat lainnya yang kerap memojokkan ketika kita melakukan suatu perbuatan yang tulus tanpa ada berpikir negatif. Tulus tapi tetap cerdik, nggak mudah dibodohi. Tapi kenyataannya, dalam bisnis justru ketulusan adalah tiang kesuksesan sebuah usaha. 

 

Benarkah? Saya dan keluarga mengalaminya. Urbanesse mungkin pernah mendengar dalam training-training justru banyak kita temui kata-kata sincere (sincerity), give money for value (berikan pelanggan lebih dari uang yang ia bayarkan), customer satisfaction index (tingkat kepuasan customer) dan lain-lain yang kesemuanya sepakat bahwa ketulusan dalam melayani harapan pelanggan adalah pintu menuju sukses berkelanjutan.

 

Kita tidak bisa menyamaratakan semua customer kita. Ada mereka yang peka atas ketulusan atau tidak menghargai ketulusan kita, meski tentu tidak sedikit yang tidak mengerti tentang tulus atau tidak tulus yang penting dia bayar dan mendapatkan apa yang ia harapkan (ada yang peka soal harga dan ada yang tidak peka). Tapi apapun keadaan customer, pelayanan tulus adalah tanggung jawab moral dan tanggung jawab iman terhadap nafkah yang kita peroleh untuk menghidupi kita dan keluarga.

 

Kata orang, jika kita mendapatkan nafkah dari merugikan orang lain maka nafkah yang kita nikmati itu akan kembali menyakiti kita meski tidak kita sadari. Jika kita beriman, kita akan percaya bahwa rejeki yang dihasilkan BUKAN RAHMAT dari TUHAN maka hidup kita dan orang yang kita beri dari nafkah itu, tidak berada dalam lindungan rahmat TUHAN.

 

Jika dalam menjalankan bisnis kita tidak tulus, kita mungkin lupa, bahwa kita sedang mengajarkan pada teamwork kita  hal-hal buruk  yang merugikan customer, mereka akan belajar juga berbuat tidak tulus pada  kita. Kita tulus saja belum tentu mereka membalas dengan ketulusan apalagi jika kita mengajarkan hal-hal buruk pada mereka, mereka akan berkali-kali lipat pintar berbuat tidak tulus pada kita  karena mereka adalah orang-orang yang berhadapan langsung  dengan bidangnya setiap saat sehingga mereka dengan mudah melihat celah-celah kesempatan berbuat buruk yang ada. Nah jika kita tidak meng-satukan visi dan cara kita berbisnis, maka mereka akan mencari jalan umum yang berlaku atau meniru ketidak jujuran kita.

 

Ketulusan dalam menjalankan bisnis tidak serta merta membuat usaha yang kita jalankan segera maju pesat tapi bisnis kita akan TERUJI WAKTU, akan bertahan lama karena customer yang percaya dan memberi kita cap BERINTEGRITAS. Bagaimana jika dalam berbisnis pelanggan tidak percaya bahwa kita tulus ? Jawabnya tetaplah tulus karena pelanggan berhak atas pelayanan tulus yaitu NILAI yang sesuai antara apa yang ia bayar dengan apa yang ia dapatkan. Mungkin pelanggan bersikap tidak puas atas ketulusan yang telah kita dedikasikan, tidak masalah karena kita bisa membutkikan bahwa apa yang kita berikan adalah sudah sesuai dengan apa yang ia bayarkan bahkan lebih.

 

Jika ia masih tidak puas, tentu kita tidak bisa bersikeras dan bertengkar dengan pelanggan. Kewajiban kita tetap sampai apa yang menjadi komitmen kita, sikap dialah yang kurang berbesar hati atas ketulusan kita. Kita tetap menjadi diri kita yang tulus karena kita harus yakin dan percaya bahwa TIDAK SEMUA PELANGGAN AKAN SESULIT DIA, artinya rejeki kita masih banyak.

 

Jika kita telah tulus dan pelanggan masih belum menerimanya artinya pelanggan demikian berharap terlalu tinggi daripada apa yang ia bayar. Jika ia punya usaha, kemungkinan ia adalah orang yang tidak tulus terhadap pelanggannya dan biasa menekan orang lain.

 

Ingat, kita tetap harus tulus. Penerimaan pelanggan yang berlebihan jangan mengubah kita, karena pelanggan lain masih banyak. Complaint-an pelanggan TETAP HARUS menjadi refleksi kita untuk MENINGKATKAN QUALITAS barang yang kita jual, jasa yang kita tawarkan atau kinerja kita , supaya semakin hari semakin baik untuk melayani begitu banyak pelanggan kita.

 

Mengenai ketulusan, itu adalah MORAL BASIC  dalam menjalani kehidupan ini bukan hanya pada keluarga tapi juga dalam berelasi dengan orang lain dan customer (sang sumber rejeki). 

 

Jika dalam pergaulan sehari-hari kita jauh dari ketulusan, maka orang bisa membaca sikap-sikap yang tidak baik hasil dari ketidak tulusan itu, misalnya biasanya diikuti dengan sikap ingin mengalahkan orang lain, tidak berbuat adil, mau menang sendiri, sedikit usaha tapi ingin mendapatkan kemudahan dan sebagainya. Sikap -sikap  itu kalau saya amati justu tidak akan membuat orang lain bertumbuh menjadi sukses sebagai manusi dan pengusaha.

 

Memang sering sekali kita dapatkan sikap orang yang membalas ketulusan kita tidak dengan tulus karena mereka tidak mengerti buah dari nilai-nilai ketulusan. 

Tentu kita tidak dapat mengubah orang menjadi tulus karena menjadi tulus itu butuh proses, butuh ajaran dari keluarga, ajaran dari budaya dan tentu ajaran dari agama yang kita anut. Semua agama mengajarkan kita untuk tulus seperti merpati, tapi kemudian ditambahkan menjadi cerdik seperti ular karena memang itu realita kehidupan.

 

Kita tidak bisa men-judge orang lain yang tidak bisa menghargai ketulusan kita dengan marah-marah apalagi curhat – curhat di FB misalnya (padahal sesekali aku lakukan juga ), itu semua tidak akan mengubah keadaan, maka kita harus MENGUASAI CARA MENGHADAPINYA , ini yang kita sebut dengan kecerdikan ular.

 

Pelajaran moral ketulusan yang berbenturan dengan realita bahwa ketulusan kita tidak dibalas dengan ketulusan, mau tak mau harus mengubah sikap kita berhadapan dengan orang yang tidak tulus. Apakah dengan membalasnya dengan ketidak tulusan ? tentu tidak, jika kita membalas orang lain dengan tidak tulus, terus apa bedanya kita dengan mereka.

Bagaimana cara menghadapi ketidak tulusan dengan cerdik ? Ini tidak ada teorinya tapi harus kita hadapi dengan tetap tulus, kita adalah kita yang tulus.

 

Contohnya : Ada seorang sahabat yang pernah saya bantu dengan tulus dari kesulitannya, pada suatu hari, saya memintanya mengerjakan apa yang menjadi pekerjaannya. Nah dalam proses pengerjaan, Nampak sekali bahwa ia tidak tulus malah memanfaatkan kebaikan saya.  Ya namanya sudah kadung memberinya kerja, ya harus minta segera selesai agar pengeluaran uang terhenti (tidak lagi dibobol  oleh sikap memanfaatkan kebaikan kita). Dalam hati tentu kita bergumam, “ kok begitu ya orang yang saya percaya dan pernah saya kasihi.” Cukup berguman dalam hati tanpa perlu marah karena kemarahan kita akan membuat pertemanan rusak sedangkan kerugian materi sudah terjadi , artinya jangan sampai double rugi.

 

Yang saya lakukan adalah selanjutnya apakah saya masih akan memakai jasanya atau tidak. Jika ya, maka saya harus membangun sistem transparansi dari awal misalnya minta dia menghitung berapa biaya pengerjaan, berapa lama masa pengerjaan dan tidak ada lagi biaya tambahan sesudahnya. Setelah ia memberikan harga ya kita tawar karena kita yakin orang seperti itu tidak akan memberikan hal terbaik untuk temannya. Setelahnya sepakati cara bayar bertahap agar ia tidak merusak kepercayaan yang saya beri.

 

Tentu masih banyak sekali contoh ketulusan tidak dibalas ketulusan yang sebenarnya pernah saya alami. Intinya adalah kita tidak perlu marah pada mereka yang tidak tulus, kita tidak perlu mengubah mereka karena sikap tidak tulus atau tulus adalah bagian dari habit seseorang.

 

Sikap tulus atau tidak tulus itu dibentuk dari moralitas Pendidikan ajaran di rumah, di sekolah, di lingkungan dan pada pelajaran agama yang kita anut. Ketulusan dan tidak tulus tidak tergantung daripada agama dan keturunan seseorang tapi adalah bagaimana ia dibentuk oleh ajaran dan pengalaman hidupnya. Mungkin awalnya ia tulus tapi ketika ia diperlakukan dengan tidak tulus, ia menjadi tidak tulus bahkan celakanya lagi terkadang bahkan menjadi  lebih tidak tulus yang kasar, yang akhirnya menjadi licik.

 

Coba amati orang yang tidak tulus ? bagaimana rejekinya ? bagaimana kebahagiaannya ? Jika banyak hal tidak baik terjadi padanya itu artinya banyak yang tidak suka pada sikapnya. 

Tapi apakah hanya sesimple itu ? Ternyata tidak. Berapa banyak orang tidak tulus menjadi semakin sukses dan semakin bahagia. Iya kan ? nah lho mengapa ? Karena ia sudah terlalu pintar membungkus ketidaktulusannya dalam hal yang menyenangkan orang lain. Apakah orang tidak tulus akan tidak bahagia ? Tidak lho. Mengapa ? karena mereka tidak mengerti apa itu tulus, mereka mengertinya bagaimana orang yang saya hadapi.

 

Jika kita tidak cerdas dalam ketulusan, kita tidak akan  bahagia dan menyalahkan sikap orang lain, menyalahkan keadaan bahwa mengapa orang tega, mengapa dunia ini kejam dan sebagainya, saya tidak percaya tulus yang tanpa kecerdikan akan membawa kebahagiaan. 

 

Kesimpulan dari pengalaman saya menjadi wanita tulus namun tetap cerdik :

 

  1. Jika kita sudah menjadi orang yang tulus tetaplah tulus
  2. Dalam ketulusan, ciptakan hal yang menyenangkan orang lain.
  3. Jika orang lain membalas ketulusan kita dengan tidak tulus, tetaplah tulus namun cerdik menghadapi ketidaktulusannya tanpa harus mengubahnya menjadi tulus melainkan siapkan diri dengan cara menghadapinya agar kita tidak terkena dampak dari ketidaktulusannya.

 

Bersikaplah tulus senantiasa karena ini yang akan membawa kita ke surga dan cerdaslah dalam ketulusan karena sikap itu yang menghasilkan surga dunia (kebahagiaan). Perlakukan orang lain setiap pribadi sesuai dengan sikap yang ia inginkan, karena TUHANpun menciptakan kita satu persatu dengan perbedaan-perbedaan. Jangan membaca orang lain dari kacamata kita, ubah cara kita bersikap maka semua akan berubah menjadi lebih baik. Itulah saya.

 

 

 

 

 

 

Sumber Gambar: Created by Peoplecreations - Freepik.com



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.