Tulus Cerdik Dalam Rumah Tangga


Wednesday, 11 Oct 2017


Sejak kecil seseorang yang terlahir dari keluarga tulus, keluarga yang tidak tega merugikan orang lain, maka ketulusan pasti akan diajarkan sebagai salah satu moral pendidikan dini yang diterapkan pada anak-anaknya

 

Menjadi wanita yang tulus sudah diajarkan dari kami kecil, itu makanya life skill (kecerdasan mencari nafkah) diajarkan dari kecil untuk mengantisipasi kemungkinan buruk dalam sikap tulus , jika kelak setelah menikah suami kurang cukup memberikan biaya hidup atau suami meninggalkan kita karena terpikat wanita lain atau (maaf) meninggal.

 

Dogma – dogma untuk menjadi istri yang tulus sudah seperti nyanyian hidup sehari – hari , misalnya kalau nyapu tidak bersih, nenekku akan bilang ”Gimana mau jadi istri yang baik bagi rumah tangganya kalau nyapu aja tidak bersih , bagaimana rumahnya bisa bersih bla bla bla.” sementara sebagai istri, wanita harus mempersiapkan segala sesuatu di keluarga sebaik mungkin sebagai sebuah perjuangan dan pengorbanan yang tulus untuk membahagiakan anggota keluarga.

 

Selain diajarkan bekerja di rumah , sayapun diajari mama saya mentalitas entrepreneurship dari kecil, semua harus bisa diurus, dari order barang yang disukai customer sampai menahan diri untuk tidak meng-order barang yang menurut kita bagus tapi tidak bisa kita yakini terjual dan sebagainya sampai bagaimana menghandle customer.

 

Pelajaran ini perlu karena sebagai bekal kelak dalam berbisnis dan menata kehidupan. Kata mamaku, kalau orang tidak pintar marketing (jualan) baik jasa ataupun barang, maka sepintar apapun seseorang, nilai kepintarannya tidak bisa menghasilkan uang yang merupakan NILAI TUKAR dalam kehidupan. 

 

Bagaimana kamu bisa tulus membantu orang jika kamu tidak punya kemampuan membantu dirimu sendiri dan orang lain? Benar,  jika kamu tidak punya uang, kamu bisa membantu orang lain dengan tenagamu tapi jika tenagamu tidak mempunyai nilai yang dibutuhkan orang yang akan kamu bantu, kamu bisa berbuat apa? Beda jika kamu cerdas dan mempunyai uang yang cukup , kamu bisa jadikan uangmu sebagai nilai tukar untuk membantu orang lain misalnya membantu orang lapar, kamu bisa memberikan orang makanan dengan uangmu dan sebagainya. 

 

Jadi, membantu orang lain secara tulus pun kita harus memiliki kecerdasan hidup agar memiliki kemampuan untuk berbuat tulus. Karenanya mamaku mempersiapkan life skill kepada anak perempuannya misalnya saya harus belajar menjahit, tata buku, mengetik 10 jari, bahasa inggris yang pada jamanku jarang orang kuasai semua itu secara komplit. Dalam pikiran mamaku, semakin banyak anak perempuannya memiliki life skill maka semakin ringanlah beban kehidupannya nanti dan semakin mudahlah ia meraih hidup yang lebih dari cukup untuk dirinya dan orang lain (suami, anak-anaknya, keluarga, family dan orang lain).

 

Selain life skill tentu mamaku selalu nasihati bagaimana harus menjadi seorang anak perempuan yang kelak bersuami, harus mencintai suami, mengasihinya, menjadi teman yang mendukung, menghargainya, sopan pada suami dan menyertainya dalam suka dan duka agar ia sukses dan bahagia bersamanya dalam mmendapingi anak – anak kita. Jamanku, ini pelajaran basic yang berulang – ulang sampai menjadi mindset.

 

Jamanku, pelajaran tulus seperti pelajaran wajib yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga di sekolah, kebetulan saya di sekolahkan di sekolah yang menjunjung tinggi budi pekerti.

 

Saking tulusnya, ketika aku menikah, sampai saat ini, aku tidak memakai uang pemberian suamiku, aku selalu menyimpan uang hasil suamiku di rekeningnya sendiri yang kupegang dengan tujuan hanya membantu suamiku me-manage uang. Selama ini suamiku justru bisa menghasilkan uang lebih karena aku membantunya me-manage uangnya, setiap suamiku membuka usaha baru dengan teman-temannya, aku mengeluarkan uang sesuai perintahnya, begitupun jika nanti ia menerima hasilnya, seberapapun ia akan menitipkannya padaku. Ini bukan kesepakatan nikah kami tapi berjalan bersama waktu, terbentuk sendiri.

 

Aku akan melaporkan pada suamiku berapa uang saldonya, dana apa-apa saja sebagai pengeluarannya serta pemasukannya (itu mungkin ilmu dasar yang aku dapatkan di sekolah dan juga ilmu tata bukuku meski aku membuatnya sangat-sangat-sangat simple sehingga mudah dibaca).

 

Jarang perempuan kalau sudah menikah kartu kredit dan tabungan suaminya dipegang semua oleh istrinya, tetapi aku dipercayakan suami untuk memegang semua kartu kredit dan tabungannya. Jadi selain bisa aku pantau keluar masuknya uang yang dia gunakan untuk apa saja juga menghindari tipu-tipu, walau sebenarnya saya sangat percaya suami saya namun ada baiknya kita back up dalam hal ini, agar tidak memunculkan kesempatan agar suami kita tidak memiliki sifat manipulatif terhadap uangnya yang bisa saja dipergunakan untuk wanita lain atau untuk hura-hura yang tidak jelas.

 

Uang keperluan anak – anak terkadang secara spontan tanpa hitung-hitungan, juga aku biayai dari penghasilanku karena aku sangat mencintai anak-anakku tanpa membuat anak – anakku manja. Aku mengajari anak-anakku PROSES mencari uang, mengatur pengeluaran dan memanage kebutuhan dan menghindari hal-hal yang hanya sebatas keinginan. Seorang papa pasti akan kurang detail mengajari anak-anak soal me-manage uang. Kalau papanya anak-anak, apa maunya anak, segera diikuti. Kalau saya, pertimbangannya matang sekali, maklum kita sebagai Ibu harus terlahir dengan jiwa tulus namun dengan dibekali kecerdikan agar lagi-lagi terhindar dari kesempatan datangnya sikap manipulatif anak-anak dan pasangan.

 

Rumah tangga adalah tiang sukses anggota keluarganya. Ketulusan satu dengan yang lain adalah tali pengikatnya. Jika ketulusan sudah tidak terjaga, kepercayaan pun tidak terbentuk, bagaimana mungkin terdapat saling mendukung untuk hadirnya kesuksesan yang membahagiakan semua anggota keluarga ?

 

Anak-anak tetap diajarkan nilai-nilai ketulusan dan kecerdasan menghadapi sikap orang lain yang tidak tulus tapi antara sesama anggota keluarga TIDAK BOLEH ADA KETIDAKTULUSAN karena kita dilahirkan dari cinta, doa dan darah yang sama. 

Ketulusan sesama saudara tidak boleh dirusak oleh pasangan hidupnya. Caranya, tetap ingatkan  bahwa kalian dilahirkan dari cinta yang sama, doa yang sama dan darah yang sama. 

 

Nah bagaimana jika dalam keluarga ternyata misalnya suami tidak jujur kepada istri ? (Ini yang sering terjadi). 

 

Menjadi cerdas sebagai istri tidak harus membalas ketidakjujuran suami dengan hal yang sama. Suami adalah anak dari keluarga lain yang tentu saja berbeda dengan apa yang diajarkan keluarga kita. Ia mungkin dibesarkan dengan lingkungan yang berbeda dari lingkungan kita, bisa juga berbeda budaya dan sebagainya. Tapi satu  hal yang harus diingat seorang istri adalah tugas berat yang TUHAN amanahkan pada kita sebagai ibu. Jika kita membalas ketidakjujuran suami, bagaimana mungkin kita tetap bisa tulus membesarkan anak-anak kita dalam kasih ?.

 

Suami tidak jujur tentu ada alasannya. Searif mungkin mengenal suami dan alasan mengapa ia tidak jujur, kemudian refleksikan. Ia tidak jujur pasti ada ketidaksempurnaan kita baginya. Cobalah perbaiki ketidaksempurnaan itu bukan untuk menjadi sempurna tapi menjadi pribadi yang disukainya.  Jika ia tetap tidak jujur, kita yang harus cerdas menjalani pernikahan itu DEMI ANAK-ANAK. Berjuang dan berkorbanlah demi anak-anak dan hanya semata-mata demi anak-anak tanpa membuat anak-anak galau atas apapun yang terjadi pada perkawinan yang retak. Seorang IBU harus melindungi anak-anaknya. Inilah yang dinamakan Kecerdikan seorang ibu.

 

Tidak cerdik seorang ibu jika membalas kecurangan suaminya dengan menelantarkan dan mengorbankan kebahagiaan anak-anaknya. Untuk menghadapi kemungkinan buruk dari sebuah rumah tangga, sebaiknya bekali anak perempuan dengan life skill, ilmu menghadapi kehidupan yang berkelanjutan jika terjadi sesuatu pada biduk rumah tangganya. 

 

Jika dari kecil belum pernah diajarkan life skill tidak ada salahnya saat ini belajar hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan keluarga, belajarlah menjaga hati suami agar ia dapat merasakan apa yang ia harapkan dari seorang wanita. Jika suamimu sangat mencintaimu, maka kamu akan mendapatkan ketulusannya, dirinya seutuhnya.

 

Jika ketulusanmu tidak dihargai suami, pilihlah untuk tetap tulus DEMI ANAK-ANAKMU karena anak-anakmu lahir dari cintamu saat itu. Jangan merusak anak-anakmu karena hatimu yang terluka. Seorang ibu harus menjaga dan melindungi anak-anaknya dari hal-hal buruk yang terjadi. Lakukan yang terbaik yang bisa kita sebagai ibu lakukan demi anak-anak.

 

Mamaku adalah wanita yang telah memberikan contoh dan teladan, dengan tidak menikah lagi setelah papaku meninggal di saat usia mamaku masih sangat muda dan saat itu mamaku menghadapi banyak pilihan untuk menikah lagi, tapi mamaku memilih membahagiakan kami berempat tanpa papa tiri. Dengan tangan mamaku, dengan keringatnya, mamaku membesarkan kami sampai semua kami hidup layak seperti sekarang.

 

 

 Sumber Gambar: Created by Nensuria - Freepik.com

 



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.