Tradisi Bertanya Kapan Nikah


Thursday, 15 Jun 2017


Barusan teman saya cerita katanya sudah 2 tahun sampai sekarang ini dia malas untuk ikut merayakan hari besar keyakinannya. Dia berencana akan balik ke kampung halamannya nanti setelah H+3 perayaan saja. Ketika saya bertanya kenapa malas, bukankah hari besar keagamaan itu momen kita berkumpul dengan keluarga besar, bahkan bisa bertemu dengan keluarga atau saudara yang jauh yang mungkin kita sendiri jarang sekali bertemu dan moment perayaan hari besar keagaamaan itulah tempatnya kita bisa saling bertemu dan berkumpul untuk saling tahu kabar dan kondisi masing-masing? Teman saya menjawab, Iya sih memang senang kalau kaya gitu, tapi ini tiap tahun mereka bertemu, selalu bertanya kapan nikah. Hal itu selalu ditanya ketika sedang benar-benar orang ramai dan kumpul keluarga. Saya selalu kehabisan jawaban ketika dari mereka menanyakan hal itu berulang tiap tahun, rasanya seperti diteror.

 

Berapa banyak di antara Urbanesse yang agak malas merayakan hari besar keaggamaan akhirnya karena belum berhasil bekerja di kota jadi takut dibicarakan oleh orang-orang dikampungnya? Berapa banyak di antara urbanesse yang cemas karena belum menikah dan takut ditanya-tanya kapan nikah ? dan berapa kali hari raya tersebut teman saya dan bahkan Urbanesse lewatkan hanya karena kita takut dengan teror keingintahuan orang-orang tersebut?

 

Well..Urbanesse mungkin kamu juga pernah mengalami yang pernah teman saya alami, bahkan saya sendiri mengalaminya, ketika dulu belum menikah. Setiap perayaan hari besar keagamaan sesuai dengan keyakinan saya, pasti disitu saya identikan dengan yang namanya tradisi yang dibentuk masyarakat kita yaitu tradisi bertanya kapan nikah, kapan punya anak, kapan kerja, kapan punya ini kapan punya itu dan sebagainya. Yang saya lakukan :

  1. Buat peryataan lebih dulu dari mereka dengan sedikit candaan, Sebelum mereka bertanya saya sudah menjawab duluan dengan candaan “Yaahh...kita ketemu lagi aku masih menjomblo nih doain ya biar tahun depan Aunty-nya sudah bawa suami kesini” atau ketika kita ditanya kapan punya rumah atau kapan punya anak sebelum mereka bertanya itu, kita duluan saja yang memberi pernyataan, selipin dengan kalimat “doakan ya”. Sesungguhnya secara psikis jawaban seperti itu malah menenangkan hati dan mereka yang niatnya mau nyinyir panjang lebar ingin tahu diri kita jadi urung untuk bertanya lebih.
  1. Tunjukan kerendahan hati dan positif untuk menerima masukan dari mereka. Misalnya ketika kakak sepupu saya mengatakan “cowok yang dulu bukannya dijadiin aja, udah cocok padahal” saya jawab “ada hal-hal yang membuat kita tidak sejalan, akunya gak bisa dandan jadi dia nyari yang bisa dandan, nanti kalau ada lagi aku kenalin ke kakak deh, kakak kan perhatian banget sama aku heehee” jujur, jawaban ini membuat saya malah nggak sakit hati dan juga tidak membuat kita menyesal dengan ucapan kita ke orang tersebut.
  1. Membicarakan isu lain. Jadi saya pernah mencoba membicarakan isu lain ketika keluarga berkumpul di rumah nenek saya. Saat bertemu mereka, saya pun malah asyik ngobrol perkembangan bisnis yang baru dibuka om dan tante saya hingga pertanyaan teror itupun tidak keluar dari mulut mereka.
  1. Bawa santai aja, anggap aja itu adalah perhatian mereka pada kita. Dibawa santai aja karena ketika kita sudah membawa diri kita santai didepan orang lain, maka aura positiflah yang muncul otomatis mereka yang niatnya mau nanya pun jadi mengurungkan niatnya untuk banyak tanya-tanya.

 

Jangan sampai momen silaturahmi perayaan hari besar keagamaan yang seharusnya membahagiakan karena bisa berkumpul dengan keluarga besar, seakan jadi hal yang mengerikan buat kita.

 

Sejatinya momen hari besar suatu keagamaan seharusnya dimaknai sebagai hari kemenangan yang identik dengan silaturahmi, merekatkan hubungan persaudaraan yang mungkin saja pernah hilang, momen dan kesempatan bagi kita untuk bertemu karena pada hari lain masing-masing kita selalu dihadapkan berbagai persoalan dan kesibukan yang tak henti - hentinya, maka setiap parayaan hari besar Umat beragama adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan dalam menjalin tali persaudaraan dan kebersamaan, kita masing masing dilahirkan di dunia ini sudah menjadi kodrat Tuhan, apapun asal usul etnis, suku dan agama, karena kita tidak pernah meminta kepada Tuhan lahir di dunia mau jadi bangsa apa, jadi semua itu harus disyukuri,

 

Silaturahmi dalam ajaran keyakinan yang saya anut di perintahkan oleh Tuhan, karena selain dapat membuat umur panjang juga merekatkan tali persaudaraan yang mungkin pernah terputus, kalau saya kaitkan secara logika Tuhan menganjurkan kami untuk saling bersilaturahmi agar ikatan tali persaudaraan antara anak, cucu, cicit hingga ke generasi berikutnya usianya berumur panjang, juga merekatkan tali persaudaraan yang bisa jadi sempat terputus, disinilah seharusnya moment yang pas untuk merajut kembali persaudaraan yang terputus hingga pada akhirnya bisa kembali saling mendukung, menopang dan menolong. 

 

Nggak menutup kemungkinan lho pada saat silaturahmi kita yang single akan bertemu jodoh karena di keluarga saya pun ada 3 orang yang bertemu jodohnya ketika sedang silaturahmi. Atau untuk kita yang belum memiliki pekerjaan, moment ini bisa menjadi moment yang tepat untuk kita membuka jaringan dan informasi tentang pekerjaan baru, kan kita nggak pernah tahu rezeki itu akan datang darimana toh.

 

Selain itu tiap tahun juga saya sempat bertanya apakah euforia Ibadah di lakukan hanya pada momen-momen besar yang terjadi setahun sekali? namun setelah lewat moment besar tersebut, euforia ibadah sekan tertutup dengan aktivitas keduniawian. Tempat ibadah pun kembali sepi seiring dengan berlalunya momen hari besar suatu keagamaan. Saya bertanya dalam hati mengapa ini sampai terjadi ? dan berulang tiap tahunnya. Ditambah lagi tradisi di masyarakat yang mana setiap ada satu hari besar keagamaan pasti itu menjadi ajang holiday travel (mudik). Ya..Holiday travel memang sudah umum dilakukan masyarakat disaat hari besar keagamaan yang sedang mereka rayakan. Memang menyenangkan di saat hari besar keagamaan bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halamn namun tidak menjadi lumrah ketika holiday travel dijadikan ajang untuk saling menunjukkan hasil dan meremehkan orang lain yang belum berhasil bekerja di kota.

 

Saya ingat betul bagaimana tradisi orang-orang di kampung saya, ketika ada hari besar keagamaan dan mereka kumpul keluarga atau saling berjumpa dengan kerabat dan tetangga di kampung halamannya. Mereka saling menunjukkan kepunyaan mereka, Om A tahun ini sudah punya mobil dan perhiasan emas yang dipakaikan ke istri dan anak-anaknya cukup menyita perhatian saya. Ketika dia bertanya ke saya, kamu sudah punya apa dari hasil kamu bekerja ? walaupun pertanyaan tersebut diucapkan dengan muka manis, namun buat saya ini sangat menohok sempat ngucap dalam hati Apakah ini esensi silaturahmi, bukankah silaturahmi itu menndekatkan yang jauh dan mengikatkan tali persaudaraan, kekeluargaan, saling mendukung dan kehangatan? tapi mengapa harus ada bumbu-bumbu pertanyaan yang bisa berpeluang melukai batin. Apalagi sebelumnya kita juga kan sudah ibadah bersama di pagi hari dan saling bermaaf-maafan. Tapi dalam hitungan jam sudah dikotori lagi oleh ucapan yang menyinggung hati orang lain, sayang kaan...

 

Naah...di artikel ini saya ingin mengajak Urbanesse untuk memaknai silaturahmi perayaan hari besar keagamaan sebagai tempat merekatkan tali persaudaraan, meningkatkan kebersamaan dan membuka komunikasi baru yang mungkin pernah hilang. Jadi nggak perlu adalagi bumbu-bumbu segala hal yang bisa menyinggung batin orang lain, memamerkan apa yang kita miliki agar dipandang orang, melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang sejatinya tidak menguntungkan kita.

  1. Isi silaturahmi dengan pembicaraan-pembicaraan dan aktivitas yang menyenangkan bersama keluarga besar. Makan bareng, ngobrolin politik terkini, ngobrolin masa kecil dulu ata seperti keluarga saya yang ketika kumpul hari raya selalu ada riungan untuk syukuran mendoakan orang-orang yang telah menghadap Tuhan lebih dulu. Itu lebih baik, mengingatkan kita bahwa Rezeki, jodoh, maut tidak akan ada yang tahu kapan datangnya.
  1. Dari silaturahmi hari besar keagamaan rencanakan pertemuan tiap bulannya, jadi silaturahmi tidak perlu menunggu setahun sekali tapi bisa dilakukan tiap bulan.

 

Urbanesse, momen perayaan hari besar keagamaan semoga lebih merekatkan kita pada tali persaudaraan dan yang paling utama adalah hari besar keagamaan menjadi jalan agar kita mampu lebih mendekatkan lagi untuk selalu bersyukur pada sang pencipta karena masih bisa merayakannya bersama keluarga.

 

 

 

sumber gambar: Created by Asierromero - Freepik.com



Libra

No Comments Yet.