Tidak Tulus Berbahaya, Terlalu Tulus Pun Fatal Akibatnya


Friday, 20 Oct 2017


“A little sincerity is a dangerous thing, and a great deal of it is absolutely fatal.”
–  Oscar Wilde

Quote dari pengarang terkenal di atas memprovokasi hati dan pikiran saya. Arti yang saya tangkap dari kalimat itu, “Sedikit ketulusan itu berbahaya, dan ketulusan yang besar itu benar-benar fatal”. Hmmm….Berarti ketulusan berlebihan lebih menyeramkan dari sedikit ketulusan, donk? Jadi kalau begitu lebih baik apa kita nggak tulus sekalian aja sama orang supaya nggak celaka? Sebelum memilih langkah yang ekstrim, mungkin lebih baik saya menganalisa dulu makna dari kata “tulus”.

 

Beginilah makna kata “tulus” menurut KBBI: tulus [tu·lus]Kata Adjektiva (kata sifat)Arti: sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas
contoh: 'orang lain belum tentu berhati tulus kepada kita ia menyumbangkan tenaga dan hartanya dengan tulus ikhlas'

 

 Dari definisi di atas, saya mengambil kesimpulan bahwa tulus itu sikap hati yang memberi tanpa embel-embel. Berarti, kita bisa dibilang benar-benar tulus kalau kita memberi atau membantu pihak lain tanpa mengharap apa pun kembali, baik itu balasan berupa apresiasi verbal, materi, cinta kasih/perhatian/penerimaan atau pihak lain yang kita bantu itu bertumbuh kembang sesuai dengan harapan kita. Memberi tanpa mengharap apa pun kembali.

 

 Wah….ketulusan tingkat tinggi seperti itu sih hanya Tuhan yang mampu hahaha….kita manusia pasti tidak luput dari rasa ingin menerima kembali atau dua arah. Misal, seperti yang Urban Women tulis di penjabaran tentang tema artikel bulan ini tentang hubungan asmara. Dalam berpacaran, sebagaimana pun tulusnya kita mencintai pasangan, pasti ada keinginan untuk menerima balasan kembali, misalkan mengarah kepada pernikahan yang membawa kita dan dia menjadi satu (lain cerita kalau yang berpacaran dengan motivasi hanya untuk mendapatkan satu dua aspek dari pasangan bukan sepaket, misalkan hanya untuk sex, materi atau companionship semata karena kesepian). 

 

Lalu, misalkan dalam bekerja, walaupun saya benar-benar tulus mencintai pekerjaan saya sebagai Early Childhood Teacher, tapi saya juga mengharap imbalan kembali berupa gaji yang sesuai dengan standar pemerintah, fasilitas karyawan yang memadai, seperti sick leave dan maternity leave yang sesuai dengan peraturan pemerintah, dan imbalan tak berwujud seperti support dari team dan melihat tumbuh kembang anak sesuai dengan harapan saya. Bahkan, dalam menulis artikel ini, setulus-tulusnya saya, tetap mengharap imbalan kembali dalam bentuk ditayangkan oleh Urban Women, dibaca oleh kalian, apalagi kalau ada yang terinspirasi untuk mengaitkan dengan kehidupan pribadi ?? Saya berkesimpulan ketulusan hati manusia itu tidak sempurna karena selalu bersifat dua arah.  

 

 Karena bersifat dua arah itu, kita kerap terluka kalau kita merasa ketulusan kita disalahgunakan oleh yang menerima seperti yang pernah saya ceritakan di artikel saya yang pernah dimuat di UW juga, bagaimana saya pernah mengalami yang namanya dimanipulasi ketulusan saya oleh seorang teman. Saat itu saya sudah dengan baik menolongnya dengan meminjamkan uang untuk bisnisnya. Namun, ketulusan saya malah dimanfaatkan oleh rekan saya tersebut. 

 

Lantas tidak menjadikan saya kapok untuk tulus membantu orang lain, hanya saja saya lebih cerdik dalam menghadapi rekan yang sudah berniat ingin meminjam uang saya, lebih baik kalau kita meminjamkan uang kepada seseorang, mikirnya jangan terlalu jauh uang itu akan kembali. Anggap aja kita sekali-kali memberi bantuan ke orang lain dan jangan pernah mengharapkan orang tersebut mengembalikan karena ujung-ujungnya kerap kecewa. 

 

Jadi, mulai saat itu kalau saya ngebantu orang yaa..udah nggak mau mikir lagi dia akan membalikkan uang saya atau nggak, anggap aja membantu orang yang sedang kesulitan, toh kebaikan dan keburukan akan kembali kepada pemiliknya. Tapi kita musti ingat, harus cerdik. Bukan berarti kita pinjamin uang dan di situasi berikutnya ketika dia coba memnijam uang kembali, kalau bisa dengan tegas kita tidak perlu membantunya lagi. Ini dilakukan agar mereka juga belajar bahwa untuk jangan pernah memanfaatkan kabaikan/ketulusan orang lain. Terlalu tulus pun bisa fatal akibatnya bukan?

 

 Mungkin saja yang menerima kebaikan kita benar-benar tidak merasa mereka menyalahgunakan kebaikan kita, atau mungkin pura-pura bego. Itu bukan urusan kita, hati dan respons orang nggak bisa kita selidiki 100% apalagi kita ubah. Lebih efektif dan reliable buat diri sendiri kalau kita set boundaries dalam mengekspresikan ketulusan itu, dalam artian memulai ketulusan dengan benar-benar, jujur pada hati sendiri dan berikan sesuatu kepada orang sesuai dengan level di mana kita benar-benar ridho itu nggak bakal balik dalam bentuk apa pun, termasuk secuil ucapan terima kasih. 

 

Dari situ kita bisa lihat bahwa manusia itu benar-benar makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa. Sesuatu yang kita latih, baik itu fisik ataupun hati, akan menjadi lebih kuat dan fleksibel. Tulus yang kekanak-kanakan (berusaha sepenuh tenaga tapi sebenarnya kurang peka akan kapasitas hatinya sebesar apa dan tidak melihat realitas yang ada, akhirnya maksa, menuntut kembali secara impas dan kecewa kalau tidak menerima hasil yang diinginkan) berkembang perlahan-lahan menjadi tulus yang dewasa (jujur/tulus pada kapasitas hati sendiri dan melihat realitas sebagaimana adanya, berusaha sekuat tenaga sesuai dengan kapasitas hati yang sejujur-jujurnya, dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan). 

 

Threshold dalam memberi tanpa mengharap kembali menjadi lebih tinggi. Maka, kadang pernah lihat kan orang yang kita pikir kok bisa ya baik seperti itu, hatinya gede amat dan nggak apa-apa diperlakukan nggak adil. Mungkin orang itu nggak merasa dirinya dalam kondisi yang dirugikan, malah dia bertumbuh dalam kondisi itu menjadi pribadi yang lebih besar lagi. Menurut saya, itulah gambaran tulus dan cerdik. Cerdik di sini bukan mengakali orang supaya nggak sakit hati atau nggak rugi, tapi lebih kepada cerdas dalam memanage perasaan dan hati, bukan dimanage oleh hati dan perasaan. Akhirnya, malah lebih benar-benar bahagia dan berkembang daripada yang tidak tulus atau setengah-setengah tulus. 

 

Baru-baru ini saya meng-Google artikel-artikel Urban Women yang pernah saya tulis, baik mengenai masalah keluarga, pertemanan, dan pekerjaan. Hal itu untuk merenungkan kembali apa yang pernah saya alami (selain untuk ngecek supaya saya nggak mengulang menulis hal yang sama hahaha…) Betapa saya takjub ketika hal-hal yang pernah menjadi beban berat di masa lalu, sekarang saya bisa menatap kembali dengan lebih netral, bahkan lebih ngertiin pihak lain kenapa mereka berbuat demikian.  

 

Untungnya routine emotional self-check dan disiplin dalam mempraktikkan ketulusan adalah dengan saya menjalani hidup, jadi nggak banyak beban dari dalam. Tantangan dari luar selalu ada dan bahkan sekarang lebih besar, tapi karena nggak banyak beban dari dalam, menghadapinya pun bisa lebih efektif, karena hati dan pikiran lebih mudah untuk diarahkan ke energi yang positif. Teman-teman kuliah saya selalu bilang saya seakan-akan memiliki waktu 48 jam dalam sehari karena mengerjakan banyak hal buat diri sendiri maupun orang lain tapi anehnya memang saya nggak berasa ngoyo hahaha…. 

 

Jadi, analisa saya mengenai quote Oscar Wilde di opening, sikap tulus idealnya mulai kepada ketulusan/kejujuran terhadap realitas hati sendiri, baru ketulusan/kejujuran kepada pihak luar, karena ketulusan yang fatal untuk jiwa adalah ketulusan/kejujuran kepada pihak luar dan mengesampingkan ketulusan/kejujuran terhadap diri sendiri. Ketulusan itu bukan untuk dijadikan ajang kompetisi siapa yang bisa memberi lebih banyak, tetapi lebih kepada proses pendewasaan diri secara individu. Mulai dari jujur dan sayangi diri kamu seutuhnya!

 

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.