Tidak Pernah Terbayang Jika Aku (Harus) Menjadi Orang Ketiga


Thursday, 28 Mar 2019


Saya akan menceritakan kisah saya yang dimana kisah ini baru kali ini saya utarakan. Saya pernah menjalin hubungan dengan seorang pria yang ternyata dia sudah mempunyai pasangan. Pria itu sebut saja bernama Adit. Awal kami berkenalan melalui salah satu sosmed. Saat itu, kami langsung akrab dan saya juga tidak berpikir kalau dia sudah mempunyai pasangan. Saya berkenalan dengan Adit bertujuan ingin menambah teman. Dan saya pun tidak pernah berpikir akan mempunyai hubungan yang serius dengan dia. Selama kami berkenalan, Adit sangat baik dengan saya. Bahkan kami bertemu pertama kali dirumah saya, karena waktu itu saya kebingungan akan bertemu dengan dia dimana? Saya pun memperkenalkan Adit kepada keluarga saya sebagai teman. 

Selang beberapa lama kami berkenalan, saya mendapat kabar bahwa Adit sebenarnya mempunyai pasangan. Saat itu masih status pacaran atau bahkan bisa dikatakan tunangan. Saya mendengar kabar tersebut, ya jujur saya tidak kaget sedikitpun. Karena dari awal, saya hanya ingin menambah teman saja. Setelah mendengar kabar tersebut, saya langsung konfirmasi kepada Adit dan dia pun mengakuinya. Disitu saya tidak marah sedikitpun hanya bertanya "Mengapa kamu mendekati wanita lain jika sudah mempunyai pasangan?". Lalu dia bercerita bahwa sebenarnya dia ingin putus dengan tunangannya tersebut. Tetapi karena terlanjur janji terhadap orang tua masing-masing, jadi dia akan menikah dengan tunangannya secara terpaksa. Setelah mengetahui cerita dia yang sebenarnya. Saya bukannya menjauh, tetapi malah makin dekat dengan dia. Arti kata kami seperti pacaran, tetapi dilakukan secara diam-diam.

 Selama kami berpacaran dan sebelum Adit menikah, saya hanya berpikir saat itu untuk membahagiakan dia dengan cara apapun. Ya hitung-hitung ingin memberikan kesan baik kepadanya saat itu. Hari pernikahan Adit pun datang. Jujur ada kesedihan, karena dia menikah dan berpikir kami

tidak akan bertemu lagi. Tapi saya tidak mau larut dengan kesedihan tersebut. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Selang beberapa bulan dari pernikahan tersebut, saya berpikir Adit sudah melupakan saya. Karena kami pun tidak saling menghubungi satu sama lain. Tetapi, dia muncul dengan cerita baru yaitu tentang pernikahan dia yang dimana dia tidak bahagia sama sekali.

Satu sisi, saya senang Adit muncul kembali. Sisi lain, saya menjadi khawatir dia muncul disaat saya sudah mempunyai pasangan yang baru. Tetapi saat itu lagi-lagi, saya bukannya menjauh malah meladeni sikap Adit. Bertemu dengan dia, mendengar cerita-cerita dia. Dan bahkan Adit memperlakukan saya seperti pasangannya. Ya saya pun dengan bodohnya mengikuti keinginan

Adit saat itu. Sampai suatu hari, saya bertanya kepada Adit. Mau dibawa kemana hubungan kami ini? Adit hanya menjelaskan bahwa, dia ingin seperti ini seterusnya tanpa ikatan pernikahan karena dia juga sudah menikah dan saya pun sudah mempunyai pacar. Awalnya saya menikmati kedekatan ini, tanpa memikirkan kalau kami berdua saling selingkuh. Adit tidak mempermasalahkan hubunganku dengan pacarku, begitupun saya dengan hubungan dia dengan istrinya. Adit juga pernah menawarkan saya menjadi istri keduanya, dengan kata lain nikah siri. Tetapi saya menolak, karena saya dari dulu ingin menikah secara sah secara agama dan negara. Dua tahun kemudian setelah kami berpacaran, saya mengalami masalah finansial. Dan saya bukannya menceritakan kepada pacar asli saya, tetapi menceritakan kepada Adit. Adit langsung membantu saya tanpa bertanya sedikitpun. Dan dari situ saya mulai merasa bergantung dengan Adit. Setiap masalah yang saya hadapi, saya selalu cerita kepadanya dan Adit pun tidak bertanya sedikitpun selama saya bercerita, dia hanya menjadi pendengar yang baik. 

Saya sebenarnya sadar bahwa saya seharusnya tidak bercerita kepada pria yang sudah beristri. Tetapi entah kenapa saya hanya ingin berbagi pikiran kepadanya. Suatu hari, saya pun mulai ada kecemburuan kepada istrinya. Karena saat itu, saya sedang butuh dia dan disaat yang bersamaan istrinya membutuhkan Adit juga. Adit memilih istri sah nya dan saya pun hanya bisa diam tanpa kata saat itu. 

Adit menyadari bahwa saya cemburu kepada istrinya. Bahkan saat itu, Adit berpikir ingin menceraikan istrinya dan menikahi saya. Karena dia merasa dia hanya bahagia dengan saya. Awalnya saya malah menantang kepada Adit, apakah dia benar ingin menceraikan istrinya? tetapi hati kecil saya, saya tidak ingin Adit cerai. Setelah Adit meniatkan dirinya untuk cerai, disaat itu juga istrinya menandakan kehamilan. Adit senang campur kecewa saat itu, dan saya mendengar kabar tersebut bukannya sedih bahkan senang kalau Adit akan menjadi Bapak. Saya berpikir saat itu bahwa saya dan Adit memang tidak berjodoh.

Setelah mendengar hal tersebut, saya mulai menjauhi Adit. Tetapi lagi dan lagi, Adit membujuk saya kembali untuk tetap bersama. Dia tidak mau menjauh dengan saya dan saya makin bergantung kepadanya karena masalah finansial saya kembali menjadi persoalan. Saya mengakui sikap saya salah, melibatkan Adit dengan masalah saya disaat dia sedang mengumpulkan uang untuk kelahiran anaknya. Tetapi Adit tidak mempersoalkan hal tersebut. Dia bisa membagi mana untuk kebutuhan pribadinya dengan kebutuhan saya. Ya arti kata saya seperti istri keduanya dia saat itu. Tahun keempat, saya merasa saya harus menjauhi Adit. Saya tidak mau bergantung dengan Adit terus menerus. Dan entah bagaimana ceritanya, kami seperti dilupakan saat itu. Mungkin Allah ingin kami berdua dijauhkan satu sama lain. Saya dihadapkan dengan pekerjaan yang menumpuk begitu juga Adit dihadapkan dengan pekerjaan dan rumah tangganya. Kami tidak berhubungan sama sekali. Tahun kelima, Tahun 2016. Kami kembali bertemu. Adit muncul menanyakan kabar dan bercerita hal terbaru yaitu tentang rumah tangganya bahkan anaknya. Sejak dia muncul kembali, dia selalu mengirimkan foto-foto anaknya dan bahkan dia bercerita ingin anaknya tersebut diasuh oleh saya. Saat itu, saya hanya senyum bahkan mulai menasehati dia untuk merubah komunikasi dengan istrinya.

Tahun keenam, saya dan Adit mulai renggang komunikasi. Karena saya pun secara perlahan menjauhi dia. Karena saya selalu berpikir ingin menikah dan membuka hati saya untuk 1 pria saja. Dulu saya mengakui, walau selama saya dekat dengan Adit, saya selalu berganti-ganti pacar, saya tetap menunggu Adit. Tetapi semakin lama, saya menyadari saya dengan Adit tidak berjodoh. Tahun 2019. saya sudah mulai tekatkan hati untuk melupakan dia. Walau saya tau kondisi dia sekarang bagaimana, cerita akhir dia dihadapkan dengan masalah besar. Ibunya meninggal dan istrinya ingin cerai. Saya saat itu hanya iba saja, entah mau berbuat apa? dan saya salut dengan dia. Dia sudah berpikir dewasa. Dia ingin mempertahankan rumah tangganya demi anaknya. Dulu dia berpikir ingin menikahi saya, tetapi sekarang sudah tidak ada niat menikah lagi dengan siapapun. Saya pun sama, saya tidak ada niat lagi untuk menunggunya. Saya hanya mendoakan yang terbaik untuknya saat ini. Dan saya pun menyadari bahwa saya tidak mau terbayang-bayang menjadi pelakor didalam rumah tangganya.

Saat ini, saya sudah membuka lembaran baru dengan pasangan saya. Saya sudah mengubur dalam-dalam tentang masa lalu saya dengan Adit. Biarlah masa lalu itu menjadi kenangan sampai kapan pun. Hubungan saya dengan Adit menjadi pembelajaran besar dalam hidup saya bahwa seburuk apapun pasangan kita, dan apabila Allah menyatukan dalam pernikahan. Berarti pasangan kita itu jodoh kita. Dalam menjalin suatu hubungan dengan pasangan kita alangkah baiknya merubah komunikasi yang baik pula. Saya dan pasangan saya saat ini mempunyai masa lalu yang kelam dan sama-sama menguburnya demi masa depan kita berdua. Karena dengan masa lalu, saya dan pasangan saya bertemu dan mempunyai pengalaman untuk menata masa depan yang lebih baik.

Point Pembelajaran yang saya ambil dari kisah saya adalah :

  1. Sedih dan kecewa merupakan suatu hal yang manusiawi. Tetapi saya tidak ingin larut dalam kesedihan yang mendalam. Kesedihan saya, saya ubah menjadi ketegaran dalam diri saya sendiri. Karena masih banyak pria lebih baik daripada Adit diluar sana dan saya akan diberikan pasangan yang sesuai kebutuhan saya sendiri. Jika saya menunggu Adit selama itu, saya mungkin akan merugi diri sendiri. Bahkan saya akan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga untuk mencari seseorang untuk saya.

2. Pernikahan harus didasarkan restu oleh Allah dan orang tua. Jika saya menunggu Adit saat itu, tidak ada kemungkinan saya direstui oleh orang tua saya. Karena jika Adit bercerai, akan berstatus duda. Dan saya diberikan amanat, jika ingin menikah lebih baik dengan berstatus single atau belum pernah menikah.

  1. Memposisikan diri sebagai istrinya. Jika saya melanjutkan hubungan dengan Adit, dan diketahui oleh istrinya. Mungkin istrinya akan sedih dan bahkan akan melabrak saya. Bahkan jika saya suatu saat menjadi seorang istri, dan mengetahui suami saya mempunyai wanita lain, saya pasti akan sedih, kecewa bahkan marah menerima kenyataan tersebut. Sehingga alangkah baiknya saya menyudahi hubungan saya dengan Adit.


Mia

No Comments Yet.