Tidak Perlu Iri, Santai Saja Ladies


Monday, 16 Apr 2018


Urbannesse pernah merasa iri dengan keberuntungan orang lain? Keberuntungan di sini bisa berarti lebih cantik, lebih cerdas, lebih mumpuni atau lebih beruntung dalam hal percintaan. Perempuan biasanya lebih sensitif dalam hal persaingan yang akhirnya bisa menjerumus menjadi sifat iri. Saya kurang setuju jika ada yang mengungkapkan sifat iri identik dengan perempuan. Rasanya menghakimi sekali. Kurang setuju bukan berarti itu tidak benar. Sebagai perempuan saya merasa memiliki naluri yang tidak bisa dibantah. Ya, kadang saya merasa iri dengan keberuntungan orang lain. Di tempat kerja misalnya, jika rekan saya punya prestasi lebih, saya akan merasa “Dia bisa, mengapa saya tidak?”. Kadang hal tersebut membuat saya reflek mencari-cari kesalahan rekan saya tersebut untuk melegakan hati “Oh, dia tidak sesempurna itu.” Tapi suatu ketika saya ingat kata-kata Ibu saya “Kamu perlu sifat iri, agar kamu punya alasan untuk menjadi lebih baik.

Pandanglah kelebihan seseorang itu sebagai cambuk agar memotivasi kamu menjadi lebih baik dan semakin baik, dan jadikan kekurangan seseorang itu untuk mengingatkanmu tentang rasa bersyukur.” Jadi, menurut saya sifat iri pada perempuan ini sejatinya bisa dikelola secara emosional. Tidak selamanya kok sifat iri itu buruk. Saya bisa bicara ini karena saya belajar dari seseorang, Saya mengenal satu orang perempuan yang bisa dibilang tidak pernah merasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Namanya Rizky, usianya 27 tahun.  Jarang sekali saya menemukan dia mengeluh, padahal rutinitasnya amat membosankan menurut saya.

Bekerja lima hari dalam seminggu. Pulang kerja hanya menjalani rutinitas “orang hidup” makan-mandi-tidur. Jika tidak lelah dia akan mulai membaca buku atau sesekali mengecek akun sosmednya. Jika musim pertandingan olahraga favoritnya digelar, dia akan habiskan waktu senggangnya menonton siaran pertandingan tersebut. Kadang sesekali dia habiskan libur weekend dengan nonton film di bioskop atau sekedar pergi makan sesuatu yang dia inginkan. Semua itu dilakukannya seorang diri. Jarang sekali saya melihat dia habiskan waktu dengan nongkrong bersama teman-teman seperti yang dilakukan anak muda jaman sekarang. Perempuan, single, mandiri. Orang akan berfikir apa dia tidak kesepian? Apa dia tidak merasa iri dengan perempuan lain di luar sana yang melakukan aktifitas menyenangkan dengan pasangannya atau setidaknya teman-temannya?

Suari hari kami janji bertemu. Ada film baru yang ingin sekali kami tonton saat itu. Usai menonton, kami putuskan makan dan saat itu iseng saya bertanya: “ kenapa kamu terlihat santai sekali, seolah tidak pernah iri dengan hidup orang lain tidak juga khawatir dengan hidupmu. Bukankah usia kamu sudah sewajarnya memiliki pasangan? Menjalin hubungan serius dengan laki-laki? Atau tidak kah kamu iri dengan rekan kerja mu yang sudah naik jabatan satu persatu? Tidakkah kamu punya ambisi?” teman saya tersebut hanya tertawa lepas. Tanpa beban apalagi tersinggung dengan ucapan saya saat itu. Di saat saya bingung dengan tanggapan tersebut, teman saya mulai memberikan alasan yang untuk saya itu cukup masuk akal. Dan tentu saja membuat saya berfikir lama. Menurutnya, waktunya akan terbuang percuma jika mengkhawatirkan hidup orang lain. Baginya, dia tidak punya waktu untuk iri dengan keberuntungann orang lain. Hidupnya penuh dengan hal-hal yang dia sukai dan itu membuat dia bahagia. Tidak ada satupun rutinitasnya yang tidak dia suka.

Sehingga, dia tidak punya alasan iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Mengenai pekerjaan, siapa yang tidak suka naik jabatan? Tapi katanya, kita hanya perlu menjadi lebih baik setiap harinya. Jika kamu tidak naik jabatan, bukan berarti kamu tidak mampu atau tidak beruntung. Tuhan sedang menyiapkan yang lebih baik. “Yang terpenting saya terus bekerja dengan benar dan baik” terangnya, Dia tidak punya waktu untuk mengeluh. “Aku khawatir rejeki dan kebahagiaanku berkurang jika mengeluh.” Begitu katanya. Saya senang berada didekat perempuan satu itu, auranya selalu positif.

Hal-hal yang kami bicarakan bukan mengenai orang lain, namun selalu tentang diri kami sendiri. Sudah ada perubahan apa? Lebih baik atau tidak? Dan hal-hal lain yang membuat kamu bahagia. Ketika saya singgung mengenai pasangan, dia jawab seperti ini “Aku diam, bukan berarti tidak iri. Aku kan perempuan normal. Pengen juga dong punya pasangan, pengen berbagi hal menyenangkan. Tapi itu bukan prioritasku saat ini. Jika aku fokus pada satu hal yang tidak ku miliki, sama rasanya seperti memupuk perasaan iri dan dengki. Pada akhirnya perasaan itu akan melukai dan menghancurkan diriku sendiri. Aku memilih untuk bahagia, meski dengan hal dan cara paling sederhana sekalipun.Tentu saja aku khawatir dengan hidupku. Aku tidak terlalu cantik, apalagi pintar. Tapi hal tersebut bukan berarti membuatku harus berhenti bersyukur bukan? Setidaknya indraku lengkap, tubuhku normal. Otakku? meskipun bekerja lamban masih bisa dipakai untuk bekerja. Aku tidak punya alasan untuk iri.” selorohnya sambil tertawa lepas. Kami akhiri hari itu dengan harapan setiap wanita di luar sana bisa berfikir sejernih ini. Aku juga jadi dapat pembelajaran lagi tentang bagaimana mengelola rasa iri.



Nesiana Yuko Argina

No Comments Yet.