Tidak Berlebihan di Hari Raya ? Why Not.


Thursday, 15 Jun 2017


Bicara tentang keimanan dan tradisi yang berkembang di masyarakat rasanya kalau ditulis bakal panjang karena antara menjalankan apa yang kita imani selalu tidak bisa dilepaskan dengan adat kebiasaan atau tradisi masyarakat yang sudah terlanjur berkembang di daerah setempat.

 

Jujur saya selalu heran kenapa tiap menjelang hari besar keagamaan, baik jelang Natal, tahun baru, Ramadhan dan Idulfitri harga-harga kebutuhan pokok seperti “sengaja” dinaikkan, mungkin melihat tingginya permintaan kebutuhan jadi serempak bahan-bahan kebutuhan berupa makanan harganya melambung. Daging ayam, daging sapi, sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, anehnya seakan tidak terpengaruh dengan kenaikan harga, para Ibu yang biasa berbelanja di pasar tradisional malah ramai-ramai memenuhi pasar, disatu hari jelang moment keagamaan yang terjadi selama 1 bulan ini mereka dengan muka antusiasnya mengantri pembelian daging sapi dan ayam yang dijual di pasar. Kebetulan pada hari itu saya juga sedang disana untuk berbelanja sayuran untuk menu moment 1 bulanan itu, iseng saya bertanya ke salah satu Ibu yang sedang mengantri juga.

 

Menurut Ibu tersebut dirinya memang terbebani dengan harga daging sapi, ayam dan sayuran yang penaikannya cukup tinggi, namun katanya itu tidak mengubah semangatnya menghadapi hari besar keagamaan, karena gimanapun hari pertama di bulan ini kita musti punya pancingan untuk dimakan mau ada uang atau tidak pokoknya hari pertama bulan yang menurut keyakinan saya suci ini musti bisa kebeli daging sapi atau minimal ayam untuk menu makan sahur dan berbuka. Saya yang mendengarnya langsung mengerutkan dahi, lah kok gitu? Bukan kah bulan yang merupakan moment besar keagamaan itu secara esensinya kita dituntut menjaga hawa nafsu, yaa termasuk nafsu-nafsu untuk membeli makanan berlebih dan tidak ngoyo menuruti keinginan makan ini itu selama 1 bulan ini padahal uangnya juga kurang cukup namun karena mengikuti tradisi yang berkembang di masyarakat, yang tidak ada pun di ada-adain.

 

Yaa..mungkin itu bisa saya sebut gaya hidup, awalnya dari tradisi berkembang dimasyarakat yang pada akhirnya menjadi gaya hidup orang-orang di bulan ini maupun jelang hari Raya atau hari besar keagamaan. Dulu waktu masih berusia belasan saya ingat banget, tiap mau jelang hari raya saya selalu pengen dibeliin ini, dibeliin itu. Pada saat hari raya saya pingin kaya orang-orang pake baju baru gonta ganti maksudnya biar kelihatan hari raya pake baju baru, sendal baru anehnya mama saya selalu menuruti kemauan anak-anaknya (mungkin di mindset mama juga tertanam bahwa hari raya itu ya baju baru sendal baru semua serba baru) tanpa memikirkan uang yang dihabiskan berapa. Karena buat orang-orang low maupun middle class seperti saya hari raya itu momentnya bisa beli-beli apapun serba baru. Merasa lumrah uang habis kalau untuk berhari raya. Padahal esensi hari raya itu menurut ajaran keyakinan saya adalah merayakan hari kemenangan, setelah 1 bulan menahan untuk tidak makan dan minum seharian) selama bulan ini, tetapi tidak dengan hura-hura, foya-foya melainkan dengan kesederhanaan, berbagi, dan sukacita.

 

Sedangkan saya kala itu jauh sekali dari yang namanya kesan sederhana di hari raya. Yang ada ya ikut-ikutan seperti orang- orang pada umumnya. Tahun berlalu dan berganti ketika saya memasuki usia 20-an saya mulai berpikir. Untuk apa saya beli baju baru sampai berupa-rupa hanya untuk merayakan hari raya yang hanya 2 hari saja berlangsungnya. Toh pakaian yang saya kenakan gak akan saya pakai semuanya dalam waktu 2 hari. Dalam kurun 12 bulan pasti saya ada membeli baju baru hingga dilemaripun nampak menumpuk kenapa saya nggak memakai pakaian-pakaian tersebut, toh orang-orang juga nggak akan memperhatikan atau peduli pakaian kita itu baru atau tidak. Kalaupun sampai diperhatikan, yaaa yang saya lakukan cuekin saja karena ini baju baju saya belinya juga dari uang pribadi saya. Saya melakukan ini semata-mata hanya ingin agar ketika selesai hari raya saya dan orang tua masih memiliki uang setidaknya bisa untuk kami tabung dan selebihnya untuk biaya kami hidup sehari-hari, jadi nggak habis-habisan banget.

 

Tetangga mama saya ada yang jelang hari raya atau moment hari besar keagamaan sampai harus menggadaikan perhiasan yang dia punya hanya agar bisa merayakan hari raya seperti orang-orang (pakai baju baru, bikin kue, beli kue, beli daging sapi) bahkan ada lho yang sampai nekat mencuri uang dengan alasan agar bisa mudik dan uangnya digunakan untuk berhari raya. Inilah alasan saya dan keluarga sudah 3 tahun belakangan ini setiap hari raya tidak diisi dengan beli ini itu yang berlebihan dan  hanya akan membuat dompet kosong sebelum waktunya. Kami pergunakan rezeki yang datang pada keluarga kami untuk hal-hal seperti membeli kebutuhan pokok  karena setelah lebaran biasanya banyak pedagang yang belum membuka kiosnya. Kalaupun kami harus membeli pakaian Mama membelikan saya hanya 1 pakaian yang digunakan untuk ibadah pada pagi hari raya. Tidak lupa kami berbagi rezeki dengan bagi-bagi angpau untuk keponakan-keponakan yang masih kecil-kecil dan melakukan amal karena ini kewajiban dan harus dijalankan. Sisanya mama menyarankan saya untuk menabung dan digunakan untuk hari-hari berikutnya.

 

Kata mama saya beragama itu seharusnya membentuk kita agar menjadi pribadi yang lebih baik, bukan malah menjadi pribadi yang boros. Step by step kita menjalaninya, di hari raya atau hari besar keagamaanlah tolok ukur ibadah kita, sudah sampai sejauh mana kita melangkah. Kini saya dan kita semua bisa mulai menyadari makna hari raya yang sejatinya hari kemenangan, hari penuh kesyahduan yang biasa dirayakan dengan kesenangan alangkah baiknya kini dirayakan dengan kesederhanaan, sukacita dan kedamaian, tidak jadi membebani umat. Karena Tuhan dari keyakinan manapun  pasti tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan bukan ?

 

 

sumber gambar: Created by Mrsiraphol - Freepik.com



Angel

No Comments Yet.