Tidak Ada Kata Tua Untuk Mengejar Passion


Wednesday, 25 Jul 2018


Buat saya hari tak kan indah tanpa musik begitu juga pekerjaan, walaupun gak semua orang suka musik, indikatornya sangat personal. Berawal dari sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan dan latar belakang, maka saya belajar memberikan kesempatan bagi diri saya untuk lebih banyak belajar tentang artinya “peluang” dan “berkontribusi lebih” dalam arti mengorbankan hal –hal lain untuk mengembangkan diri pada Passion saya. Pekerjaan itu seperti warna biru dalam hari-hari saya artinya memberi semangat dan memberi cinta dalam hidup saya. Walaupun tidak semua orang suka warna biru kan, tapi lagi-lagi ini pilihan. Begitupun pilihan menjadi pendidik yang ditugaskan di daerah terpencil beberapa provinsi di Indonesia, itu pilihan juga tantangan untuk saya terus memberdayakan diri menjadi sosok pendidik yang tidak hanya memberi manfaat untuk murid saya tetapi juga memberi manfaat ke diri saya bahwa “tidak ada kata tua untuk belajar dan mengejar passion”.  

Pendidik merupakan profesi yang saya pilih seperti warna biru dan musik, kemudian profesi ini berkembang juga menjadi naluri keingintahuan akan banyak hal, tanpa sadar pada akhirnya saya menggeluti banyak kajian mengenai kebijakan dan tetap pada passion memperjuangkan anak-anak dan pendidikan. Seperti semuanya mengalir begitu saja banyak kesempatan terbuka banyak rekan dan mitra  percaya akan analisa yang saya lakukan tanpa sadar dari pendidik saya menjadi peneliti, konsultan sebuah Kementerian dan saya sangat menikmati pekerjaan ini.

Cara Saya menghadapi masalah di tempat bekerja

  1. Jangan takut/malu untuk selalu belajar hal yang kita rasa kita belum tahu, karena disitu kualitas kita menjadi daya tawar.

Namanya pekerjaan kan harus diperjuangkan sehingga saya harus ada kualitasnya, sadar setiap waktu ilmu itu akan berkembang dan usia akan terus bertambah sehingga kualitas  menjadi daya tawar yang akan membuat saya terus belajar. Saya tidak suka kompetisi saya lebih baik memaksa diri untuk belajar, berusaha mencari tahu sendiri hal-hal yang menurut saya bisa saya pelajari, untuk menghindari kompetisi. Saya juga tahu bahwa kompetisi dalam pekerjaan gak bakal bisa dihindari sehingga bagaimana membuat kondisi kerja lebih humanis dan bersahabat.

Tidak semua orang suka sama kita? Nah gimana kalo yang berkompetisi adalah orang gak suka sama kita .... Yihaaaa ... sudah hampir 10 tahun lebih saya menjadi pendidik langsung yang artinya mengajar didepan kelas dimulai dari di kampus hingga jadi guru TK. Saya selalu berpikir jadi pendidik/guru adalah pekerjaan yang paling “sempurna” buat perempuan (menurut saya) karena ada libur satu bulan yang bisa dialokasikan untuk keluarga selain libur-libur lainnya. Nah, Guru biasanya berkompetisi di kualitas pembelajaran dalam kelas maka saya akan mencari cara bagaimana menghasilkan anak yang berprestasi, nah disini saya menunjukkan kualitas bukan dengan bersaing dalam hal –hal yang beresiko rentan konflik yang berujung persaingan tidak sehat dengan rekan kerja.

Begitu juga saat menjadi peneliti/konsultan ada sistem yang saya pelajari yang tidak banyak diminati banyak orang. Saya cenderung suka mempelajari hal baru secara otodidak, biasanya saya menganalisa pembelajaran yang sudah saya lampaui sehingga orang akan tahu bahwa untuk melakukan itu saya memiliki kualitas yang “terbaik” sehingga mitra atau teman akan kembali bekerjasama dan menjadi teman.  

  1. Tidak perlu sungkan Berbagi ilmu/kemampuan dan pengalaman pada orang lain karena berbagi tidak akan mengurangi kualitas dirimu, malah sebaliknya Ilmu kita semakin terasa.

Saya suka sekali berbagi pengetahauan yang saya tahu dengan banyak orang dan karena itu saya suka berada ditempat yang ramai, saya bisa jumpa banyak orang, bergaul, dan pastinya memiliki ilmu baru. Nah saya tuangkan “hobby” itu dengan menjadi pekerja sosial di lembaga sosial pengasuhan anak. Dan saya gak mau jadi biasa-biasa aja dalam menjalani hobby ini saya berkarir disini sehingga ini jadi nilai tambah bagi saya saat menjalani profesi saya yang utama. Seorang peneliti kebijakan pendidikan yang bekerja dibidang pendidikan dan memiliki interaksi sosial rasanya memberi nilai tambah bagi diri sendiri di profesi saya tersebut.

  1. Uang tambahan perlu, Namun bukan segalanya.

Mungkin pekerjaan sebagai pendidik di desa terpencil, di luar daerah yang saya jalankan belum memberikan hasil secara finansial yang besar tapi saya sangat termotivasi dengan banyak orang tua yang bekerja di airport Singapore .... lihat mereka sudah tua –mereka menyebutnya warga emas hehehe – warga emas yang menjalani pekerjaannya dengan bahagia. Saya juga akan memberdayakan diri hingga saya memiliki daya yang dapat menjadi pegangan di usia pensiun nanti, hingga saya dapat bahagia dan membahagiakan orang lain disekeliling saya.., mungkin setelah pensiun nanti dari pekerjaan utama saya di Kementerian, profesi sebagai guru TK akan terus saya lakukan sampai tua nanti, karena bertemu dengan senyum anak-anak akan membuat saya selalu jadi muda dan disinilah passion saya.

Kalau sekarang saya ditanya apa pekerjaan saya, maka Educator/pendidik adalah bahasa yang tepat karena saya tidak hanya mengajar dalam kelas tapi juga di lingkungan dan kelas nonformal lainnya.

 



Eka

No Comments Yet.