Tetap Tenang Menghadapi Mantan Pacar Pasangan


Monday, 12 Mar 2018


Kalau lihat dari tema ini saya mengartikannya lebih kepada bagaimana saya bereaksi untuk tetap tenang, sabar, berpikir logis, terarah namun tetap tegas dalam mengambil keputusan ketika saya marah, sedih dan kecewa karena laki-laki yang saya sayang dan percayai ternyata menduakan saya?.

Kira-kira tahun 2006 saya mengenal pria ini sebut saja namanya Doni (bukan nama sebenarnya) Doni adalah teman dari sahabat saya Dian. Kami bertemu di pernikahan Dian, dari situlah saya dan Doni akhirnya dekat, kebetulan bukan sebagai pacar tapi sebagai sahabat karena saya dan Doni sama-sama memiliki pacar, Mungkin karena memang kami satu profesi saat itu namun beda kantor jadi kita cocok sebagai teman ngobrol. Doni baik dia bisa menjadi teman untuk diskusi masalah pekerjaan dan ide-ide nya pun sangat bagus.

Singkat cerita waktu berlalu saat itu 2008 saya sudah putus dengan pacar saya, Walau tidak memiliki pacar saya memiliki sahabat-sahabat jadi tidak sulit buat saya move on. Kata orang ketika kita menjomblo masukan-masukan dari kita itu sangat bagus untuk teman-teman kita yang sedang galau dengan pasangannya.  Tapi ini benar lho, sahabat-sahabat perempuan saya satu geng-an sangat mendengarkan petuah-petuah dari saya, walau sebenarnya saya sendiri saat itu feeling lonely, tapi saya bahagia bisa berbagi dengan mereka. Sahabat cowok saya  yang bernama Doni pun sering meminta masukan saran dari saya ketika ia sedang ada masalah dengan pacarnya, sayapun sempat membantunya membuat kejutan ulang tahun untuk pacarnya. Mungkin disitu kebahagiaan saya sampai-sampai saya lupa bahwa saya jomblo menahun heeehee.

Selang waktu berganti, saya masih menikmati kesendirian saya dan fokus pada pekerjaan yang saat itu sedang saya jalani. Pada 2010 akhir Doni putus dari pacarnya karena pacarnya menduakan dia. Ok, kembali saya harus menjadi pelipur lara untuk sahabat saya lagi. Yaa...sekedar menemani dia nonton film di bioskop atau lari bareng ke monas waktu itu cukup membuat dia senang sepertinya. Saya tahu rasanya patah hati senang rasanya ketika ada seorang teman menemani kita ngobrol atau sekedar di dengarkan saja keluh kesahnya. Mungkin dari situ juga karena kami mempunya kesamaan yaitu, sama-sama pernah patah hati dan sama-sama single, kita juga sudah sama-sama tahu tabiat dan karakter baik dan jelek masing-masing. Kamipun memutuskan pacaran.

Selama menjalani hubungan dengan Doni saya pikir semua akan baik-baik saja, tapi ternyata masuk tahun kedua hubungan percintaan ini mantan pacar Doni yang bernama Prili(bukan nama sebenarnya) menghubungi saya dengan mengirim message ke twitter (karena saat itu twitter lagi booming). Dia bertanya pada saya apakah saat ini saya sedang berpacaran dengan Doni, saya jawab Iya. Lalu dia mengirim screenshoot percakapan whatsapp, sepertinya yang dia kirim itu obrolan dia dan doni di whatsapp, banyak sekali yang dia kirim. Isinya cukup membuat saya sedih, kesal, marah, kecewa karena merasa Doni membohongi saya. Namun, saat itu saya harus tetap tenang menghadapinya. Saya memilih untuk tidak menjawab lagi message dari perempuan itu, karena saya pikir semakin saya jawab semakin dia memanas dan ujung-ujungnya tidak jelas arahnya. Sampai tengah malam perempuan itu masih mengirim screenshoot percakapan dia dengan Doni yang mana ia ingin menyampaikan bahwa saya adalah perusak hubungan dia dan Doni. Dia menuduh saya merebut Doni dari dia. Bahkan karena mungkin dia kesal saya tidak merespon message provokatifnya, dia pun memajang foto saya di sosial medianya dengan caption mencaci maki saya, lalu ia screenshoot pula tindakan dia itu ke direct message twitter.

Dalam keadaan sedih, marah dan kecewa saya pun pergi menenangkan diri cuci muka dan beribadah sesuai dengan keyakinan saya. Karena dengan cara ini saya bisa menurunkan emosi, menenangkan pikiran yang saat itu sedang membara. Ketika saya sudah tenang  pikiran saya pun lebih jernih

Saya hanya mengatakan dalam hati pada diri saya “Ya Tuhan, Kuatkan saya, besarkan hati saya agar tidak bereaksi negatif menghadapi perempuan ini. Karena saya yakin saya ada di posisi yang benar, jika saya salah tunjukan kebenaran itu pada saya dan bantu saya agar saya bisa mengambil keputusan yang tepat untuk melanjutkan semua ini, Jika ini caraMU untuk menunjukkan bahwa Doni bukan orang yang tepat buat saya, saya terima Tuhan. Namun kuatkan hati saya karena seujung kukupun saya tidak pernah berpikir dan punya niatan untuk merusak hubungan orang lain” seketika saya ucapkan itu batin sayapun lebih tenang dan kuat dari sebelumnya.

Doni menelpon saya masih tetap tenang seperti biasa saya tidak mennjukkan padanya kalau saat itu saya sedang marah padanya. Saya masih sempat bersenda gurau pada Doni via telepon. Keesokan harinya ketika bertemu Doni, barulah saya tanyakan tentang semua itu ke dia. Saya tunjukan message Prili ke Doni dan reaksi Doni seperti orang yang tidak memiliki dosa. Ia mengatakan bahwa Prili hanya sakit hati padanya karena Doni memutuskan hubungannya dan pindah hati ke saya. Lalu saya tanyakan lagi apa benar mereka berdua sudah putus karena prili berselingkuh, Doni menjawab iya. Dan semua screenshoot yang dikirim prili adalah screenshoot obrolan lama ketika mereka berdua masih berpacaran, Doni memastikan bahwa ia dan prili sejak 2 tahun yang lalu berpisah sudah tidak ada lagi komunikasi. Ok di posisi ini saya percaya Doni, tapi perempuan itu masih tetap terus menghubungi saya via twitter. Akhirnya tanpa sepengatahuan doni saya meminta prili untuk bertemu, tapi dia tidak mau. Ok berarti mungkin memang saya harus memblocknya dari semua sosial media saya. Karena buat apa juga nantinya ia hanya akan menjadi toxic dalam hubungan saya dengan doni. Lama wanita itu tidak lagi menggangu saya.

Waktu berlalu masuk tahun 2013 kami pun sepakat untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.  Mungkin ini jawaban tiap malam saya berdoa pada Tuhan tentang kelanjutan hubungan saya dan Doni.  Akhirnya kamipun menikah, masuk 2 bulan setelah menikah kembali prili menghubungi saya lagi, kali ini dia mengirim message ke Facebook saya. Dan mengirim lagi-lagi screenshoot percakapan antara doni dan prili, bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak tahu kalau saya dan doni sudah menikah. Dia mengatakan bahwa di tanggal sekian diajak Doni menginap di hotel, padahal saya pastikan ditanggal yang di sebutkan itu suami saya ada bersama saya di rumah. Kali ini saya tidak terlalu terpengaruh dengan pesan-pesan dari dia, karena saya percaya suami saya. Setelah menikah Doni bahkan tidak sama sekali pergi keluar malam, jadi pesan yang disampaikan Prili buat saya adalah mengada-ada.

Saya tidak menanyakan lagi pada Doni karena pikiran dan hati saya yakin kalau ini hanya cara prili untuk merusak pernikahan saya dan Doni. Lagi-lagi saya block facebooknya, meski ia terus berusaha membuat facebook dengan nama baru agar bisa mengirimi saya message di FB tapi saya tidak sama sekali menggubrisnya. Saya pun coba bicarakan ini ke Doni, dan Doni hanya mengatakan satu kata, sudah jangan dipikirin dia hanya sakit hati dan ingin merusak hubungan kita, biarkan saja nanti juga capek sendiri. Saya pun dengan tenangnya mengatakan ”iya, nggak saya ladenin saya sudah block namun saya meminta kamu jika memang masih ada yang belum selesai urusan dengan dia tolong agar bisa di selesaikan. Karena kalau belum selesai atau dia ketemu kamu, dia bakal terus mengusik saya” Doni pun menjawab dnegan tenang sambil meyakinkan saya kalau antara dia dan prili sudah tidak ada urusan apapun lagi, hanya sekedar mantan pacar, thats it”.  Sejak itu prili tidak lagi menghubungi saya.

6 bulan kemudian saya pun hamil anak pertama, masuk kehamilan bulan ke 7 saya mengadakan tujuh bulanan di rumah mertua selesai acara, betapa kagetnya saya ketika ada seorang perempuan datang kerumah mertua saya, dia adalah Prili. Dia datang menemui Ibu mertua saya sambil menangis tersedu. Dia menceritakan semua keluh kesah dan masa lalu antara dia dengan Doni. Entah apa yang Prili pikirkan saat itu. Saya sedih, tapi saya berpikir lagi berarti anak ini sangat sakit hati pada Doni. Ibu mertua melarang saya untuk bertemu dengannya, tapi saya bersikeras untuk menemuinya dan berbicara baik-baik dengannya. Karena saya pikir dia akan terus mengganggu jika belum bertemu Doni atau saya sendiri.

Dengan tenang saya menemuinya, ia nampak malu sambil melihat perut buncit saya yang sedang hamil.  Saya langsung menyapanya. Dia langsung menangis di hadapan saya sambil mengatakan bahwa ia rela di madu, ia tetap bersikeras ingin menikah dengan Doni. Ia meminta saya untuk merelakan Doni menikahinya. Saya katakan padanya, “Prili saya tidak ada masalah dengan kamu, saya dan doni sudah menikah dan hubungan kamu dan doni sudah lama berakhir. Kamu cantik, masih sangat muda masih banyak pria yang mau menjadi suami kamu yang bisa kamu pilih. Mengapa kamu malah mengejar pria yang jelass-jelas sudah beristri. Jika kamu meminta saya untuk merelakan Doni dari dulu juga saya sudah lakukan itu dan sampaikan ke Doni, Tapi Doninya nggak mau karena dulu kamu pernah menduakan dia. Saya akan tanya ini ke Doni, kita tanya sama Doni sekarang Prili, jika memang Doni mau menikahi kamu, saya rela untuk mundur dan menyerahkan Doni buat kamu”.

Seketika disitu semua hening, termasuk Doni. Doni pun langsung merangkul saya memegang tangan saya lalu mengatakan pada Prili bahwa hubungan mereka berdua sudah lama berakhir, kini dirinya sudah menikah dan Donipun meminta prili untuk mencari pria lain namun bukan dia. Doni mengatakan bahwa saat ini ia sudah menjadi suami dan calon Ayah untuk anak yang sedang saya kandung.  Doni dengan tegas menolak Prili dan meminta ia pulang dan tidak mengganggu saya dan dirinya lagi.

Sambil tersedu, Prili pun menjabat tangan saya dan meminta maaf seraya menjabat tangan ibu mertua saya, ia berjanji untuk tidak lagi menggangu saya dan doni. Cukup lega rasanya setelah pertemuan ini, meski saya tahu rasanya jadi Prili, tapi bagaimanapun ini satu pembelajaran untuk kami bertiga juga bahwa suatu konflik dalam relationship mau bagaimanapun rumitnya harus ada komunikasi dengan duduk bareng/saling bertemu muka agar clear semuanya.

Jujur saja sangat berat awalnya buat saya tidak bereaksi negatif ketika dalam kondisi marah, sedih dan kecewa, namun lagi-lagi semua itu diri sayalah yang mengendalikan. Mau marah dengan cara kasar bisa saja saat itu saya memaki-maki Prili, jambak-jambakan, berebut omong dan prilipun akan bersikap sama pastinya seperti yang saya lakukan, saya tahu dia masih sangat labil emosinya, saya juga nggak mau buang-buang energi untuk marah-marah karena dengan saya bereaksi negatif maka yang rugi pastinya saya sendiri. Oleh karenanya saya memilih untuk bersikap tenang, rasional, mencari solusi dan pasrah saja jika memang Tuhan sudah menggariskan Doni jodoh saya ia nggak akan kemana-mana kok, jadi saya tetap santai saja menghadapi prili.

Bagaimana saya mengelola reaksi diri saya hingga bisa tidak bereaksi negatif dalam mengelola emosi seperti cerita saya tersebut :

  1. Kita lah pemilik otoritas terbesar emosi kita. Kita yang memilih mau bereaksi dengan cara-cara negatif atau tetap positif menghadapi masalah yang menghampiri relationship kita.
  2. Jaga komunikasi yang baik dengan pasangan. Ada apa-apa jangan dipendam, langsung bicarakan dengan kepala dingin dan baik
  3. Tetap tenang meski situasi atau keadaanya terlihat rumit, buruk dan mengecewakan.
  4. Ketika kita sudah berusaha melakukan ketiga hal diatas, hasilnya harus kita terima dengan besar hati, ikhlas dan tegar. Karena apaun hasil keputusan yang kita dapatkan pasti itu yang terbaik untuk hubungan tersebut. Kalau saya sih berpikirnya seperti itu, nggak mau mikirin yang membuat hati saya malah jadi tidak enak. Hadapi dengan tenang, jalani dengan kuat dan lihat hasilnya.

Itu cara saya mengelola emosi saat itu, tiap orang kadar emosinya berbeda-beda namun semua itu bisa dikelola dengan baik jika kita sendiri yang memilih untuk mau atau tidak melakukannya. 

“Wanita tidak dapat mengubah arah angin, Namun ia dapat mengendalikan perahunya”.



Libra

No Comments Yet.