Tetap Tangguh Meski Dibully Secara Fisik


Thursday, 14 Sep 2017


Demi Lovato pernah dibully karena ukuran tubuhnya hingga ia keluar dari sekolah dan menjalani Home Schooling. Rihanna pernah dibully karena tubuhnya yang terlalu kurus. Justin Timberlake dibully karena ia tidak bisa bermain sepak bola, laki-laki yang tidak bisa bermain sepak bola dianggap banci. Bahkan Bill Clinton juga pernah dibully saat SMP karena badannya gemuk dan tidak fashionable. Emma Watson pernah dua kali keluar dari universitas karena dibully saat aktivitas belajar di kelas, bahkan ketika sudah menjadi pesohor terkenal Emma tetap di bully.

 

Saya pun pernah mengalami hal serupa. Sebenarnya saya tidak pernah menyadari bahwa itu adalah bully, entah karena saat itu saya masih kecil atau karena saya tipe orang yang tidak mau berpikir negatif kepada seseorang.

 

Hai, saya Wirda, orang-orang yang menyayangi saya memanggil saya Da’. Yes, Da’ saja, bukan si keriting atau yang sebutan  lain. Rambut saya keriting, asli, dan berwarna hitam. Saat SD orang tua saya, lebih tepatnya ibu saya suka mendandani rambut saya, kadang dikuncir kuda, kadang kepang dua, kadang digerai dengan menggunakan bando. Saya juga diajarkan untuk selalu duduk di bangku paling depan. Banyak alasan yang disampaikan, duduk di depan membuat lebih berkonsentrasi, tidak banyak mengobrol, dan seterusnya. Ternyata itu menjadi masalah bagi sebagian teman sekelas saya, rambut saya yang sedikit bervolume dianggap risih jika harus duduk di bangku paling depan. Padahal rambut saya tidak pernah bersalah. Dan mereka yang duduk di belakang bukan terhalang dengan rambut saya, tapi karena mereka tidak mengerti apa yang dituliskan oleh guru di papan tulis akibat lebih banyak mengobrol di kelas. Saya juga menggunakan kaus kaki panjang dan menggunakan tas koper merk President untuk ke sekolah. Teman-teman saya kembali meledek saya, “elu mau sekolah atau mau main bola sih”, mereka juga berkali-kali mengucapkan “sekolah bawa koper, kayak mau ke kantor aja lu” sambil tertawa lepas.

 

Saya pulang ke rumah, ada mama dan mami (mami sapaan untuk nenek saya), lalu saya mengatakan kejadian tersebut. Mama saya bilang, kalau kaus kaki panjang kan bagus Kak, supaya kaki kamu tidak hitam, dan mami saya berkata, yang pakai koper ke sekolah itu anak-anak pintar, zaman mami sekolah anak-anak bule pakai tas koper juga kok, itu kan supaya tulang punggungmu tidak bungkuk karena berat menggendong tas sekolah, sudah senyum saja, mereka cuma tidak terbiasa.”

 

Saat SMA, saya berkunjung untuk bermain bersama teman sekelas saya, ia memiliki kakak laki-laki yang selalu menggoda saya, entah hanya sekedar bercanda atau memang ia senang melakukan hal itu, “rambut kok keriting sih, aneh banget”. Beberapa kali saya berkunjung ke rumahnya, beberapa kali juga ia tetap mengatakan hal itu.

 

Tidak berhenti soal rambut, pakaian saya juga sempat dikritik. Semua pelajar tentunya harus mentaati peraturan sekolah. Kemeja seragam tidak boleh ketat dan rok tidak boleh pendek. Karena badan saya yang kecil, ada beberapa teman yang merasa saya tidak pantas memakai kemeja agak longgar, agak longgar dan tidak gombrong dipermasalahkan oleh mereka. “gw ga suka deh sama gaya Wirda, badan Wirda kan kurus, harusnya pake kemeja yang agak ketat sedikitlah biar bentuk badannya terlihat gitu”.

 

Nah untuk yang satu ini saya sempat mencoba memakai kemeja yang agak ketat, tapi apa yang terjadi? Saya ditegur oleh guru agama di sekolah saya. Ia memanggil saya lalu mengatakan kalimat ini, “Da, kenapa sekarang kamu pakai seragam ketat? Tidak perlu mengikuti teman-temanmu yang menganggap sekolah seperti tempat fashion show, kamu itu sudah cantik dengan menggunakan ini nih (sambil menunjuk kepala menggunakan jari telunjuk)”. Ucapan itu membuat saya tersenyum dan membuat saya berfikir bahwa akan ada saatnya memakai pakaian apapun, tapi nanti, saat pakaian-pakaian itu saya beli dengan uang saya sendiri, bukan meminta kepada orang tua.

 

Kuliah semester-semester awal saya juga sempat menerima kalimat sinis dari beberapa orang, dan lucunya semuanya perempuan. Yes, perempuan meledek sesama perempuan. “Wirda itu kan ga pernah make up-an ya, terus kalau pakai baju juga ga mau gaya-gaya banget, kenapa sih cowok-cowok suka banget ngobrol sama dia”.

 

Entahlah hanya sekedar bercanda atau tidak, entah karena mereka tidak terbiasa melihat sesuatu yang unik hingga mereka merasa sesuatu yang unik itu aneh. Saya pun sebenarnya tidak pernah terganggu atau  merasakan hal aneh, karena seperti yang saya katakan, saya tidak mau berfikir negatif tentang yang dikatakan orang lain.

 

Sejak sekolah  saya sudah memulai cari uang sendiri, agency memakai saya sebagai pagar ayu untuk resepsi pernikahan, menjadi figuran di beberapa sinetron, dibayar 100-200 ribu untuk sekedar lewat. Dari situ saya bukan hanya mendapat uang jajan, tapi juga mampu ke mall membeli makanan yang saya suka dengan uang saya sendiri. Saya juga pernah sekolah acting dan mempelajari beberapa tarian dan kursus modeling saat sekolah, sayangnya tidak saya teruskan karena saat itu saya menganggap sekolah lebih penting. SD saya memperoleh beasiswa, menjuarai lomba Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) tingkat kecamatan, lomba mata pelajaran Bahasa Indonesia, hasil ujian Bahasa Indonesia sering mendapat nilai 9 dan tidak lupa bidang Seni. Bahkan saya membiayai sekolah S2 saya dengan tabungan yang saya tabung sejak SMP.

 

Saat dewasa saya selalu meneruskan prinsip bahwa lebih bahagia jika membeli apapun dengan uang sendiri. Saya senang mengkoleksi lipstick, terutama warna merah, entah kenapa merah menjadi warna luar biasa bagi saya. Inipun sempat disindir beberapa orang, kenapa sih harus merah, menyala sekali dan dianggap berani. Lucunya tidak lama setelah berkali-kali mengkritik kenapa harus merah banyak yang mulai memakai lipstick warna merah. Dan yang dulu mengatakan  rambut keriting itu risih harus rela berbesar hati ya, karena saya memiliki rambut keriting yang seksi, sexy curly, setidaknya itu yang dikatakan orang-orang yang pernah jatuh cinta kepada saya heheh.

 

Jennifer Lawrence yang juga pernah dibully saat kecil mengatakan, “Jangan pedulikan mereka yang memang berencana untuk jadi orang gagal, ya para pelaku bully itu.”

 

Mungkin anak kecil yang membully teman mereka di sekolah tidak tahu apa yang mereka katakan dan efek apa yang ditimbulkan. Bahkan jika saya sempat baca di salah satu surat kabar seorang anak ada yang dibully fisiknya yang gendut dan terus menerus kemudia karena dia down dan minder, diapun mengakhiri hidupnya dengan minum racun serangga.

 

Dulu Saya memang juga sempat minder dan down, tapi saya mengatakan  pada diri saya, Fisik saya memang seperti ini, yaa seperti yang mereka katakan dan tertawakan tapi suatu saat saya akan  membuktikan kalau fisik itu bisa dibentuk atau diubah a tapi takdir  hidup orang itu sukses tidaknya tidak ada yang pernah tahu, tapi saya pastikan saya harus menjadi seseorang yang ketika mereka lihat mereka akan bilang “Oooo itu Wirda yang dulu sering saya hina fisik dan gaya berbusananya” Karena alangkah lebih baik jika kita mulai lebih memperhatikan apa yang mereka katakan kepada temannya dan darimana mereka menemukan kata-kata itu. Karena tidak semua anak korban bully mampu melupakan kejadian masa kecilnya dan mengubahnya menjadi prestasi.

 

Sekarang saya berprofesi sebagai broadcaster dan  praktisi komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, banyak yang menghantarkan saya menjadi konsultan Interpersonal Communication bagi mereka yang mengalami kesulitan berbicara di depan umum, bahkan untuk masalah psikologis yang mereka hadapi dalam keluarga dan karir. Saya pun beberapa kali dipercaya menjadi moderator di moment diskusi dan peluncuran buku. Beberapa kali saya berjumpa dengan mereka yang dulu mengomentari fisik saya dan ketika bertemu saya lah yang menyapa mereka dan  mereka terlihat malu lalu sesekali memasukkan kalimat permohonan maaf karena dulu sampat membully fisik saya. Sempat  ada celetukan dari mereka “Loe ternyata tangguh ya, mau dihina fisik kaya gimana juga loe tetap jalan terus gak cengeng, gak terlihat down...eeeh sekarang ketemu lagi sudah jadi dosen. Nggak nyangka da”  Namun saya menanggapinya dengan santai, saya sudah melupakan itu karena bagi saya bully tersebut adalah cambuk yang menjadikan saya seperti sekarang. Malah  saya berterimakasih pada mereka, kalau tidak dengan bully fisik dari mereka saya mungkin tidak akan menjadi Wirda yang sekarang. heeheee...

 

Well..Ladies dari cerita saya ini saya ingin mengajak Urbanesse yang saat ini pernah atau sedang mengalami bully entah itu dalam bentuk bullyan fisik maupun mental, “Jangan sedih, tidak perlu dendam dan minder” cara membalas orang yang sudah membully kita adalah cukup dengan menunjukkan prestasi dan keberhasilan kita”.

 

Disaat teman-teman kecil saya sibuk membully, saya sudah mengikuti banyak les, banyak masukan dan banyak bakat yang bisa diasah. Di saat mereka masih meminta uang untuk bersenang-senang, saya sudah memikirkan bagaimana caranya menyenangkan orang lain. You save your money to party on weekends. I save it to build my empire. We are not the same!

 

Bagi saya tangguh adalah :

  1. Disaat kita tetap berjalan di jalan yang kita yakini tanpa membalas dendam kepada hal-hal yang pernah membuat kita tidak nyaman dan down.
  2. Bahwa kesuksesan bukan untuk siapa-siapa tapi untuk pembuktian kepada diri sendiri dan sebagai rasa syukur kepada Tuhan.
  3. Tetaplah mempertahankan kebaikan diri, tingkatkan dan belajar hilangkan sisi negatifnya. Nikmati setiap proses dalam hidup dan yakini bahwa semua berkah dari Tuhan.

 

 Jadi menurut Urbanesse saya termasuk tangguh tidak ?

 

sumber gambar: Created by Yanalya - Freepik.com 



Wirda Yulita Putri

Praktisi Komunikasi. Communication Enthusiast. Beauty is important, but no more important than quality.

No Comments Yet.