Tetap Rukun & Bahagia Meski Berbeda


Thursday, 20 Dec 2018


Saya tumbuh dalam keluarga heterogen dan campur. Aku terlahir dari kedua orangtua dengan latar belakang keyakinan yang berbeda. Di tulisan ini aku bukan ingin bercerita tentang agama yang kami anut melainkan tentang bagaimana saya Risa dan keluarga besar saya memaknai hari raya meski berbeda namun tetap saling menghargai dan penuh kasih serta toleransi.

Beberapa teman terdekat sempat ada yang mengajak saya sharing tentang bagaimana kami bisa tetap akur dalam tiap suasana hari raya yang berbeda. Kami hidup bahagia, berdampingan dan menyenangkan. Masih teringat dengan jelas ketika Papa pernah membawa saya ke acara tahunan perayaan hari raya keyakinannya. Disana saya bertemu dengan anak dari teman teman Papa yang juga menjadi teman saya. Tidak jarang sayapun juga mengikuti sekolahnya. Kami diajarkan bernyanyi, dan banyak lagi yang di ajarkan saat itu, semua penuh dengan kebaikan, Indah dan damai sekali. Tidak jauh berbeda dengan apa yang Mamaku juga ajarkan padaku tentang bagaimana membangun adab dan akhlak sehari-hari, penuh kebaikan dan toleransi.

Papa dan Mama selalu mengatakan pada aku dan adikku bahwa semua Agama sejatinya mengajarkan kebaikan dan penuh kasih. Jika masih ada yang kisruh karena masalah keyakinan agama itu karena diri masih di besarkan oleh Ego dan keinginan pribadi manusianya” Intinya adalah tidak perlu menggunakan ego masing-masing yang dibesarkan ketika kamu ingin membangun kedamaian dalam perbedaan di dalam rumahmu” terang papa saat itu, masih saya ingat kata-kata itu hingga hari ini.

Dirikupun diberi kebebasan memaknainya sendiri setiap keyakinan yang mereka tunjukkan padaku. Tidak pernah sedikitpun Papa Mama menunjukkan perasaan iri dan marah karena aku akhirnya memilih keyakinan berdasarkan hati dan pikiranku yang ditunjukkan dari hasil doa yang kupanjatkan setiap malam. Papa malah mendukung supaya aku tetap menjalankan ibadah dengan fokus/khusyuk, Mama pun demikian mendukungnya.

Salah satu moment yang membuat aku dan pasti keluarga besarku selalu merasa mendapat makna mendalam di setiap hari raya adalah ketika kami merayakan Hari Raya 2 keyakinan berbeda secara bersamaan. Keluarga besar Papa akan datang dengan sukacita dan mengucapkan selamat hari raya kepada keluarga besar aku dan Mama, begitupun sebaliknya Aku Mama dan adikku juga melakukan hal yang sama merayakannya, membantu mereka mempersiapkan perayaan dan tidak lupa mengucapkan selamat hari raya, yang kami yakini adalah ini sebagai bentuk penghargaan dan rasa syukur bahwa kami 2 keluarga berbeda dapat hidup rukun dan memaknai hari raya dengan esensi luar biasa (Toleransi, kedamaian, kerukunan, cinta kasih, penuh sukacita dalam berbagi kebahagiaan batin). Saat itu Mama memasak hidangan khas Hari Raya yang sangat kugemari : opor, rendang jawa, sambal goreng hati favoritku, kerupuk dan tidak ketinggalan tape uli. 

it’s amazing for Me, sejujurnya aku bangga pada keluarga besar Mama dan Papa sangat toleran, bukankah ini esensi hari raya semua keyakinan sebenarnya ? . Bagi orang awam melihat 2 keluarga besar ini selalu merayakan bersama setiap moment hari raya mungkin merasa aneh dan bertanya-tanya kok bisa, kok akur ? Aku akan jawab Tentu bisa karena semua itu pilihan pribadinya. Apakah kita mau terus besarin Ego hanya untuk merasa keyakinan kita yang paling baik dan benar ? menurutku tidak, karena esensi hari raya adalah kebersamaan, kerukunan, kedamaian dan kesederhanaan. Meski pernah waktu itu saat perayaan hari besar keyakinan keluarga besar Papa kami hanya makan lesehan bersama (aku dan mama yang memasak) sepulangnya mereka dari ibadahsaat itu sangat sederhanadan hangat. Jadi ketika aku ditanya Risa bagaimana kamu memaknai hari raya ? Hari raya buatku adalah kebersamaan, kerukunan, kedamaian, ajang sharing kebahagiaan/sukacita dalam kesederhanaan.

Tidak ada sama sekali perbedaan, kami dan mungkin banyak dari Urbanesse juga yang memaknai hari raya seperti keluarga besarku pasti tahu bahwa keluarga seperti ini penuh dengan ikatan yang erat. Agama yang kami masing-masing yakini tidak membuat kami berbeda, karena kami yakin bahwa kami diajarkan untuk saling mengasihi. Sampai sekarangpun, aku masih membantu keluarga Omku untuk memasang hiasan pohon Natal dan juga membagikan kado untuk keponakanku tercinta yang menggemaskan.

Desember kali ini, kami tidak berkumpul seperti biasa di Jakarta karena keluarga besar memutuskan untuk menghabiskan pergantian tahun di Solo. Aku dan mamaku tidak dapat berkumpul karena kami sedang mempersiapkan untuk melaksanakan ibadah tahunan ke tanah suci. Padahal tante tanteku yang berada diSolo sudah mempersiapkan kamar khusus untukku di Solo. Mereka sangat menyenangkan dan bikin kangen.

Bagiku perayaan Hari Besar adalah saat dimana kita harus bersyukur dengan segala berkat yang Tuhan berikan sepanjang tahun. Bersyukur dengan rezeki dan pencapaian yang telah Tuhan berikan, bersyukur dengan kesehatan dan keluarga yang selalu ada mendukung kita.

Bersyukur dengan segala sesuatu yang Tuhan berikan.

Karena setiap manusia akan kembali kepada-Nya. Sudah sepantasnya kita selalu mengingat-Nya dalam segala hal yang kita lakukan. Moment Hari Raya bukanlah moment yang digunakan untuk memamerkan kemewahan, seperti yang sering terjadi. Tetapi harus menjadi moment untuk berbagi dengan sesama dan lebih menyayangi keluarga kita.

Selamat berbagi kasih dibulan penghubung tahun 2018. Yuk ladies kita tutup tahun ini dengan lebih membagi kasih sayang meskipun kita berbeda.

 

 

 

 



Risa

No Comments Yet.