Susah Move On Dari “Mantan Terindah?


Monday, 22 Apr 2019


Saya mau cerita pengalaman move on dari mantan pacar yang menurut saya terindah saat itu heehee...mengapa saya katakan terindah saat itu ? yaa...karena memang ketika kita bicara susah move on dari masa lalu pasti di pikiran kita, bahkan pikiran saya sendiri saat itu yang di kenang hanyalah hal yang indah-indah saja bersamanya padahal kalau di tulis kembali hal substansi apa yang paling berkesan dan menyakitkan/mengecewakan ketika menjalani hubungan tersebut terutama dampaknya ke diri saya sendiri, malah sebenarnya lebih banyak mengecewakannya dibanding yang hal yang indah-indahnya.

Tetapi anehnya saat itu terjadi yang saya kenang hanya yang indah-indah saja, sampai tercetuslah kalimat saya gak bisa move on darinya, saya nggak bisa hidup kalau nggak menikah dengannya, susah deh ketemu lagi sama orang yang benar-benar sudah membuat indah dan nyaman hari – hari saya selama ini (masa-masa itu masa dimana saya menangis dan meratapi diri). Sambil terus menyalahkan diri sendiri kenapa sih kok nasib gw jelek banget pacaran bertahun-tahun sama itu cowok, sudah banyak hal yang gw korbanin buat dia (materi, waktu, pikiran, tenaga) hingga apa yang belum waktunya saya kasih, saya sudah rela berikan untuknya tapi setelah semua itu saya berikan, dia malah memutuskan hubungan dengan saya, alasannya karena saya terlalu baik untuknya dan dia ingin menjadi anak yang berbakti pada orangtua. Kemudian ia pun menikah dengan orang lain, yang katanya perempuan tersebut adalah pilihan orang tuanya.

Saya merasa hancur saat itu, saya ragu dengan masa depan saya sendiri, mungkin nggak ya saya akan dapatkan yang lebih baik dari dia, mungkin nggak ada yang mau lagi sama saya yang sudah memberikan segalanya pada mantan pasangan saya tersebut? Saat itu saya galau dan belum bisa move on cukup lama. Bahkan ketika sudah putus pun saya dengan naifnya masih sempat menghubungi mantan saya, menangisi hubungan ini yang telah berakhir dan meminta ia kembali, berharap saat itu ia berubah pikiran untuk menolak perjodohan tersebut. Kenyataanya,mantan saya itupun akhirnya menikah dengan orang lain setelah 8 tahun menjalin hubungan dengan saya.

Setelah putus, beberapa kali saya mencoba menjalin hubungan baru dengan orang lain, berharap bisa move on kenyataanya saya selalu membandingkan orang tersebut dengan mantan saya. Meski nggak terucap di mulut namun hati dan pikiran saya sudah membentuk opini sendiri dan itu berulang. Saya sering ngucap begini di dalam hati ‘ternyata menjalin hubungan dengan pasangan yang baru ini, orangnya begini ya, beda banget ketika saya menjalin hubungan dengan mantan pasangan saya dulu, dia benar-benar tahu apa yang membuat saya nyaman. Belum lagi di pikiran saya kerap berekpektasi negatif duluan pada pria yang coba mendekati saya lagi ‘jangan-jangan nanti dia ninggalin saya lagi seperti mantan saya dulu, jangan-jangan dia mau sama saya karena hanya ingin manfaatin saya aja’ setiap kali pikiran itu muncul, setiap kali itu juga hubungan saya berakhir dengan kekecewaan yang sama berulang kalau nggak ditinggal nikah, diputusin tanpa alasan yang jelas bahkan yang kekecewaan yang terakhir adalah ketika sudah sepakat dia mau melamar ternyata dia selingkuh di belakang saya, akhirnya putus lagi.

Saat itu terjadi lagi saya sudah nggak merasa sedih kaya sebelumnya, lagi-lagi saya malah kepikiran sama mantan pacar saya yang membuat saya sampai hari itu sulit melupakan dia padahal saya tahu dengan sadar dia sudah menikah dengan orang lain dan sudah membuat saya kecewa. Tetapi anehnya saya masih saja mengharapkan dia,, mengingat masa lalu dengannya malah membuat saya ingin kembali ke masa itu dan menolak realita. Saya susah move on dari mantan pacar saya yang dulu itu, hingga sulit rasanya membuka hubungan baru.

Ego-lah yang Membuat Saya Susah Move On

Masuk tahun pertama, ditengah perjuangan saya untuk bisa melupakan masa lalu sedikit demi sedikit akhirnya saya mulai mendapat teguran keras dari diri saya sendiri. Saya ingat betul waktu itu tahun 2012 saya memutuskan untuk pindah kos dan kembali tinggal di rumah orangtua. Patah hati saat itu membuat saya bukan hanya kehilangan diri sendiri tetapi juga sampai kehilangan pekerjaan. Otak saya sebelumnya saat itu hanya di penuhi dengan pikiran harus punya pasangan lagi, pingin nikah seperti teman-teman saya supaya bisa melupakan masa lalu dengan instant dan hidup bahagia dengan orang yang mau menerima saya apa adanya. Hingga saya lupa bahwa saya punya kehidupan. Akhirnya Saya di PHK karena terlalu sering bolos masuk kantor untuk urusan pribadi.

Ditengah kondisi menganggur juga masih belum bisa move on dari masa lalu saya jadi banyak waktu luang untuk merenung dan berdialog pada diri sendiri. Saat itu pertanyaan yang tercetus di kepala saya adalah ‘sebenarnya apa tujuan gw masih terus menerus nggak bisa move on dari masa lalu dan masih mengingat kenangan semu yang indah-indah bersama mantan pacar tersebut ?’

Padahal jika di list realitanya pertama dia sudah memutuskan hubungan dengan saya dan memilih menikah dengan orang lain, realita kedua dia juga sudah move on lalu saya merana jadi untuk apa sebnarnya saya harus mengemis seolah butuh cinta dari orang yang sudah dengan jelas tidak memilih saya?, realita ketiga saya merasa telah memberikan segalanya jadi saya di selimuti kekhawatiran akan diri saya sendiri. Takut nggak ada lagi yang mau menerima saya seutuhnya yang sudah tidak perawan, saya takut menjabat status jomblo di usia saya yang sudah tidak lagi remaja, takut kecewa lagi jika membuka hubungan baru dan kekhawatiran lainnya yang sebelumnya saya tolak. Iya saya menyangkal dan tidak menerima bahwa saya di putusin pacar saya ketika telah memberikan segalanya sampai saya rela meminta mantan saya agar kembali padahal saat itu ia akan menikah. Saya katakan pada diri saya bahwa bukan mantan saya yang membuat saya susah Move On tetapi EGO- lah yang membuat saya nggan bisa move on.

Saya sadar saat itu, saya egois hanya ingin mengingat dan merasakan hal yang indah-indah dan yang membuat saya nyaman saja, membohongi diri saya sendiri dengan mengennag masa lalu padahal saya tahu persis realitanya tapi saya memilih mengikuti ego saya untuk tetap stay dengan perasaan yang seharusnya sudah tidak penting untuk diingat kembali. Sampai ketika ada hantaman saya musti berpisah yang notabene membuat diri saya nggak nyaman, saya denial hingga berimbas pada hidup saya yang jadi nggak fokus pada segala hal yang saya lakukan sampai akhirnya saya harus kehilangan pekerjaan di waktu bersamaan. Lagi-lagi saya mengkambinghitamkan ‘gara-gara putus cinta jadi kehilanga pekerjaan’. Saat itu lah saya menyadari bahwa Saya salah.

Bukan putus cinta yang membuat saya kehilangan pekerjaan dan bukanjuga karena mantan terindah seperti kerap saya dengungkan ke teman-teman saya bahwa alasan saya nggak bisa move on adalah karena orang tersebut adalah mantan terindah, BUKAN, bukan itu sebenarnya yang membuat saya jadi susah Move on melainkan karena penyangkalan diri saya sendirilah yang tidak mau menerima bahwa patah hati bukan akhir dunia.

Proses Penyembuhan Diri Untuk Move On adalah Menyadari dan menerima Bahwa Masa Lalu Adalah Bagian Dari Perjalanan Hidup Saya

Dari perenungan dan banyak berdialog pada diri sendiri serta tidak lupa melibatkan Tuhan karena setiap hal yang terjadi saya yakini selalu ada hikmah pembelajaran di dalamnya. Mungkin Tuhan ingin say belajar untuk menjadi seseorang yang lebih ikhlas menerima segala hal yang nggak enak agar tidak menjadikan saya sangkal melainkan saya terima bahwa kejadian tersebut adalah bagian untuk menempa diri dan karakter saya agar bertumbuh menjadi orang yang lebih kuat jika menghadapi masalah yang lebih berat lagi dari ini, membuat saya juga nantinya bisa lebih tegas dan tidak ceroboh dalam memilih pasangan hidup serta kejadian tersebut membuat saya belajar untuk rendah hati menerima masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup saya yang harus saya hadpi BUKAN saya sangkal karena merasa nggak nyaman ngejalaninnya. Jika saya sangkal terus maka sampai kapanpun saya kayanya nggak akan bisa move on dan terus mengenang masa lalu yang seharusnya sudah usai.

Saya lupa berapa lama saya akhirnya bisa move on, Lupa karena saat saya menjalani proses recovery move on saya sudah tidak lagi menghitung-hitung harus berapa lama. Yang jelas selama proses move on saya jadi sangat menikmati hidup, menerima seutuhnya diri saya sebagai sebuah anugerah karena di sekelilng saya masih banyak orang yang fisiknya terbatas tetapi mereka bersemangat untuk hidup. Saya pikir tidak ada alasan buat saya gagal move on hanya karena sudah memberikan segalanya lalu putus dan ditinggal nikah.

Sepertinya sangat rugi jika saya terus terpuruk, mantan saya sudah bahagia dengan pasangannya saya pun juga bisa lebih bahagia pastinya. Kejadian lalu itu membuat saya jadi lebih mengenal diri saya seutuhnya, saya tahu apa yang saya butuhkan. Saking Asyiknya menjalani hidup saya yang baru saat itu, saya lupa bahwa saya pernah patah hati heeheee...hingga sempat dipertemukan kembali dengan mantan saya yang lagi sama istri dan anaknya di moment pernikahan seorang teman, saya sudah merasa biasa saja bahkan saya dengan mudah menyapa mereka. Teman-teman saya yang melihat yang tahu ceritanya dan melihat moment tersebut mengatakan, saya sudah move on heehee...

Dan luar biasa berkah yang saya dapat, akhir tahun 2014 saya akhirnya mendapatkan pekerjaan kembali, saya memiliki banyak aktivitas bersama teman-teman dekat saya, saya pun kini bergabung pada satu komunitas yang bergerak untuk membantu & saling mendukung perempuan yang mungkin pernah mengalami kejadian serupa lewat tulisan. Kini saya juga sudah menikah. Ketika kita sudah memantaskan diri untuk mendapatkan yang baik, maka Tuhan semesta alam mengabulkan doa dan niatan kita juga dipertemukan dengan orang yang juga mau bertumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya dan sesuai dengan cerminan diri kita juga kurang lebihnya, yang juga mau saling menerima kelebihan dan kekurangan seutuhnya.

Terimakasih Urban Women sudah mengangkat tema ini. Saya berharap perempuan yang saat ini mengalami kejadian yang sama bisa move on. Ladies, ketika kita patah hati pastikan kita menikmati proses masa berdukanya sedih pasti, kecewa iya jalani tidak perlu di sangakl tetapi setelah itu bangkit secepatnya karena hidup ini terlalu singkat hanya untuk menangisi kegagalan di masa lalu. Berbahagialah untuk diri sendiri.

 

 

 



Libra

No Comments Yet.