Sukses Adalah Hasil Dari Ketangguhan


Thursday, 05 Oct 2017


Menjadi wanita tangguh tidaklah mudah, karena menjadi tangguh adalah hasil dari menghadapi segala macam rintangan hidup. Saya beruntung banyak dikelilingi perempuan-perempuan tangguh dalam hidup saya, banyak mendapat berbagai pelajaran dari pengalaman hidup mereka.Salah satu wanita tangguh yang saya kenal adalah Rani (bukan nama asli), sahabat saya sejak di SMA. Rani adalah salah satu sosok perempuan yang saya kagumi, dan saya sangat berterima kasih karena diijinkan untuk menceritakan kisah Rani jatuh bangun membangun bisnis dari nol sampai sukses seperti sekarang. Perjalanan nya itu sangat menginspirasi saya untuk selalu bersemangat dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan hidup.

 

Rani memulai bisnis nya sejak di kuliah di tahun 2007 bersama kekasih nya yang bernama Emil. Mereka berdua memulai usaha sebagai pemasok alat-alat telekomunikasi  dan GPS secara online, dengan hanya bermodal internet di hp dan kamar kost yang dijadikan sebagai kantor. Hampir setiap hari juga mereka bekerja dari warnet saat tengah malam sampai subuh untuk memasang iklan di internet, karena saat tengah malam lah mereka bisa menikmati tarif khusus yang jauh lebih murah daripada tarif di siang hari. Karena sibuk merintis usaha Rani juga sampai harus mengorbankan kuliah nya dan memutuskan tidak melanjutkan kuliah S1 nya. Tapi dengan keyakinan dan semangat usaha yang mereka jalani mulai membuahkan hasil, dari mulai orderan pertama yang diantar dengan motor pinjaman dan hanya menghasilkan keuntungan 200 ribu rupiah, sampai di tahun 2008 usaha mulai berkembang dan Rani memutuskan untuk mendirikan CV dan menyewa ruangan kecil untuk dijadikan kantor.

 

Tahun 2009 Rani dan Emil menikah dan terus menjalankan usaha yang semakin berkembang di rumah 2 lantai yang mereka sewa untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus kantor. Mereka juga mulai merekrut karyawan yang kebanyakan adalah saudara dekat mereka. Setahun setelah menikah anak pertama lahir dan Rani memutuskan untuk mulai mundur dari perusahaan karena ingin konsentrasi mengurus anak, lagipula saat itu sudah ada 10 orang karyawan yang bisa membantu suaminya menjalankan perusahaan tersebut. Tidak sampai setahun Rani mundur dari perusahaan mulai banyak masalah terjadi. Suami Rani mulai mengenal beberapa orang yang dia anggap sebagai guru spiritual dan mulai mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan guru spiritual nya tersebut sampai tidak pulang berhari-hari. Suami nya mulai jarang mengurus urusan perusahaan dan menyerahkan nya pada anak buah mereka.  Tidak berapa lama tiba-tiba mulai banyak orang datang ke rumah untuk menagih hutang. Padahal selama ini suami nya tidak pernah bercerita tentang kesulitan keuangan kantor. Akhirnya Rani mulai memeriksa keadaan keuangan kantor dan menemukan bahwa keuangan kantor mengalami defisit karena tidak ada order an masuk dan banyak nya pembayaran yang tidak di setor ke vendor sehingga menjadi hutang yang sangat besar. Ternyata selama ini anak buah mereka yang notabene adalah saudara dari suaminya itu mengkhianati mereka dengan cara menerima order dari klien perusahaan tapi mengambil untung untuk pribadi mereka sendiri tanpa menyetor ke perusahaan. Saat keadaan perusahaan semakin sulit karyawan mereka pun satu persatu pergi dengan mengambil hampir semua klien perusahaan.

 

Akhirnya Rani memutuskan untuk kembali mengambil alih roda perusahaan dan mulai menyusun rencana untuk membereskan keadaan menjadi lebih baik. Rani melakukan semua nya sendiri dari mulai meeting dengan vendor sampai mengirim barang pesanan, karena suaminya semakin jarang dirumah dan seperti menghindar dari kesulitan ini dengan cara melarikan diri ke guru spiritual nya. Padahal setiap hari rumah yang sekaligus kantor itu didatangi debt collector dan vendor yang menagih hutang sampai mengancam untuk memasukan mereka ke penjara. Di tengah-tengah kesulitan itu Rani baru sadar bahwa ternyata dia sedang hamil anak kedua, dia merasa bingung apakah harus senang atau sedih. Di satu sisi dia merasa anak adalah berkah dari Yang Diatas, tapi di sisi lain dia sedih sekaligus putus asa karena tentunya kehamilan ini akan menghambat aktivitas nya mengurus perusahaan yang hampir bangkrut ini. Rani jadi merasa marah, dia marah kepada suaminya, anak-anak buah nya dan terutama marah kepada Tuhan yang memberinya cobaan seberat ini. Walaupun hampir putus asa Rani tetap berusaha menjalani nya se maksimal mungkin demi anak-anak nya. Dia tetap bekerja keras mengurus perusahaan dan hasil nya dipakai untuk menyicil hutang-hutang perusahaan. Tapi dengan begitu banyak nya hutang dan mobilitas Rani yang semakin terbatas  seiring kehamilan yang semakin membesar, akhirnya Rani memutuskan menutup perusahaan dan kembali ke rumah orangtuanya. Dia memberi ultimatum kepada suaminya untuk memilih keluarga atau guru spiritualnya, akhirnya suaminya memilih keluarga dan ikut pulang ke rumah orangtua Rani saat anak kedua mereka lahir.

 

Keluarga Rani menerimanya dan anak-anak dengan tangan terbuka, tapi tidak dengan suaminya. Sikap orangtua Rani dan kakak-kakak nya kepada suaminya tidak bisa dibilang ramah, wajar saja mereka merasa kesalahan suaminyalah yang membuat hidup Rani menjadi sengsara seperti ini. Mereka sering sekali mengungkit kesalahannya, walaupun suaminya sudah sadar dan berusaha bersikap baik dengan membantu pekerjaan rumah sampai menjadi supir ayah Rani tanpa dibayar. Rani sudah memaafkan kesalahan suaminya, dia berpikir selama ini mereka sudah menjalani masa susah dan senang bersama jadi suaminya berhak mendapat kesempatan memperbaiki kesalahan nya.

 

Melihat suami nya dipelakukan seperi itu oleh keluarga nya, semakin hari Rani semakin kasihan dan merasa tidak adil. Akhirnya Rani memutuskan untuk kembali membangun hidup mandiri, tentu saja hal ini ditentang oleh kedua orang tua Rani. Tapi Rani tetap bersikeras dan pergi dari rumah orangtuanya. Mereka berdua memulai lagi semuanya dari nol, Rani sadar kali ini akan lebih berat karena ada 2 orang anak yang harus mereka hidupi. Suaminya sempat ragu untuk membangun kembali usaha mereka dari nol, tapi Rani bertekad untuk terus maju karena memang tidak ada pilihan lain selain maju dan terus berjalan. Maka di tahun 2012 itu Rani dan suami nya kembali mendirikan perusahaan nya lagi dari nol di sebuah petak kontrakan, kali ini dia benar-benar sebagai penggerak roda perusahaan tersebut.

 

Sekarang Rani sudah memiliki 3 orang anak, masih bersama suaminya dan baru saja mengundang saya datang ke acara selamatan kantor 3 lantainya. Memang impian Rani selama ini adalah memiliki kantor sendiri yang terpisah dari rumah. Beberapa tahun ini Rani mulai berekspansi dari hanya sekedar reseller menjadi distributor, dan sedang dalam proses mendirikan 2 perusahaan baru di bidang satelit komunikasi. Saya tidak pernah melihat dia tidak bersemangat di tengah kesibukan nya mengurus 3 orang anak dan karyawan-karyawan nya. Memang bukan perusahaan multinasional yang mentereng, tapi di mata saya keberhasilan Rani di dunia usaha yang di dominasi kaum pria tersebut adalah prestasi yang patut dikagumi. Rani selalu bilang bahwa segala cobaan yang dihadapi nya itulah yang membuat dia kuat dan menjadi lebih tangguh menjalani hidup. “Jangan pernah lari dari masalah, jangan pernah takut untuk belajar dan mencoba, jika ingin sesuatu jangan hanya berandai-andai tapi segera lakukan tindakan untuk meraihnya pasti akan tercapai selama dengan niat baik” itu lah yang selalu Rani ucapkan jika ada yang bertanya bagaimana dia bisa sesukses sekarang.

 

 

sumber gambar:Bunga Gladioulus (This flower is the perfect gift for anyone fighting through something difficult)  Created by Xb100 - Freepik.com



Rara

Mom of two adorable daughters. Love books, yoga and photography. Living life gratefully.

No Comments Yet.