Sudut Lain Kota Bandung: Menelisik Rahim Indonesia di Kota Bandung


Tuesday, 25 Apr 2017


Tidak menyangka jika Bandung memiliki sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang begitu dalam. Bisa jadi, saya kurang membaca. Tanpa sengaja kunjungan kami ke beberapa tempat, yakni Penjara Banceuy, Museum Mandalawangsit, Museum Sri Baduga, Museum Konferensi Asia Afrika, dan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, telah membuka mata saya bahwa Bandung memiliki sisi lain yang penting diketahui, bukan sekedar berbelanja atau mencari kesegaran alamnya saja.

Mungkin, Anda bisa menjajal Bandung dari sudut ini. Cukup dari dua tempat saja, yakni Penjara Banceuy dan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Dari kedua tempat ini, Anda mendapatkan cerita sejarah cikal bakal perjuangan Indonesia, dan itulah alasan Bandung layak diberi sebutan sebagai rahimnnya Indonesia. Tidak hanya itu, bersiaplah akan cerita romansa cinta antara Soekarno dan Inggit Garnasih, serta cinta mereka kepada Indonesia. Selanjutnya, Anda bisa jadi penasaran sejarah menarik apalagi yang disimpan si kota kembang ini. 

Penjara Banceuy

Awal mendengar Penjara Banceuy yang seakan asing bagi saya, membuat saya malu. Ternyata Penjara Banceuy adalah tempat pertama kali Soekarno, presiden pertama dan pejuang kemerdekaan yang berkharisma itu, dipenjara karena gerakan radikalnya demi kemerdekaan Indonesia.

Menjejakan kaki di tempat tujuan, jauh dari bayangan saya mengenai penjara yang terbengkalai. Ternyata tempat itu sudah tidak ada, hanya satu bangunan kecil yang dibangun ulang menggambarkan kamar penjara Soekarno saat itu. Pos penjagaan masih ada tersisa di ujungnya, tetapi semua bangunan ini terhimpit pertokoan di kanan-kirinya.

Kita akan tertegun melihat sempitnya ruangan itu, sampai Soekarno pun menjulukinya peti mati. Hanya ada satu dipan tempat tidur, dan tempat buang air di pojokan. Menurut cerita, Ibu Inggit, istri kedua Soekarno, sering menyelundupkan buku-buku Soekarno saat mengunjungi beliau di penjara. Ibu Inggit selalu berpuasa dahulu, kemudian menyelipkan buku-buku tersebut dibalik kebayanya.

Oleh karena itu, di dalam ruangan sempit seukuran 1x2 meter itu menjadi tempat permenungan bagi Soekarno dan disitulah muncul tulisan Indonesia Menggugat karyanya yang diajukan dalam persidangannya kelak. Dari dokumen tersebutlah tercetus perlawanannya terhadap kolonialisme dan imperialisme.

 

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Rumah sederhana yang saya temui saat itu, ternyata menyimpan cerita salah satu peran wanita dalam perjuangan Indonesia. Ibu Inggit Garnasih, adalah sosok wanita yang mendorong pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya piawai dalam buah pikirannya mengenai politik, memperbarui nasib rakyat sekitarnya saat itu, tetapi ia pun pandai berbisnis, namun tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai ibu yang memasak makanan dan mengolah tanaman menjadi jamu dan kosmetik herbal.

Beliau adalah ibu kost dari pemuda-pemuda pergerakan, ia pun guru dan rumahnya terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar soal memperbaiki taraf hidup. Dari tempat itulah pemuda-pemuda pergerakan dari berbagai daerah berkumpul, dan segala ide bermunculan.

Ia setia mendampingi Soekarno, dari satu tempat ke tempat lain dalam masa pembuangan suaminya dulu. Bahkan, ketika bercerai pun ia ingin kembali ke Bandung, tempat pertemuannya dulu dengan Sang Proklamator.

Tak dinyana, bertahun-tahun kemudian, setelah Bandung sempat luluh lantak karena peristiwa Bandung Lautan Api. Tanah yang dibeli oleh menantunya (dari anak angkat beliau), adalah tanah berdirinya rumah panggung yang dulu merupakan kediaman Pak Soekarno dan Ibu Inggit menerima banyak orang untuk pergerakan  kemerdekaan Indonesia. Sejarah pun kembali berulang dan Ibu Inggit menjalani hari-hari hidupnya hingga akhir di rumah baru yang didirikan di atas tanah penuh kenangan tersebut. Bersama dengan keluarga anak angkatnya, Rahma Djoeami (Omi), Ibu Inggit tetap meramu jamu dan kosmetik herbal, dan menerima siapa saja yang tetap ingin berdiskusi termasuk belajar mengaji.

Meskipun sudah lama kepergian Ibu Inggit, rumah yang kini dirawat oleh keluarganya berada dibawah pengelolaan Museum Sri Baduga. Rumah sederhana dengan empat ruangan itu masih menyimpan kehangatannya. Siapapun yang hendak belajar dan ingin tempat bercerita, dari pelajar, mahasiswa, umum, datang untuk berbagi, mengerjakan tugas sekolah, maupun berdiskusi ringan, serta mengadakan lokakarya untuk masyarakat sekitar.

 

Alamat :

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih beralamat Jl. Inggit Garnasih No 8 Bandung.

Penjara Banceuy beralamat Jalan Cikapundung, Bandung, West Java, Indonesia

 

 



Anna Maria

Sarjana komputer, penggemar sejarah dan budaya Indonesia. Menikmati hidup dengan freelance menulis tentang wisata dan blog pribadi. Belajar meniti usaha perjalanan wisata untuk kesekian kali, sampai siap dan berhasil.

No Comments Yet.