Success Under 30


Wednesday, 22 Mar 2017


Saya Wirda, anak pertama dari tiga bersaudara. Posisi anak pertama membuat saya terbiasa menjadi perfectionist, kalimat “anak pertama harus menjadi contoh bagi adik-adik” adalah jimat luar biasa yang membuat saya mampu menjadi seperti sekarang ini.

Otak saya sudah terbebani dengan fikiran “nanti setelah lulus kuliah akan bekerja di mana? Apakah saya juga akan mengalami masa yang disebut “pengangguran”?. pikiran-pikiran itu yang menuntun saya melamar di sebuah perusahaan Multi Level Marketing (MLM) di kawasan Jakarta Barat setelah lulus SMA, sambil menunggu masa orientasi di kampus.

Tidak memiliki pengetahuan apapun di bidang Multi Level Marketing (MLM) membuat saya bingung, tapi berkat rasa penasaran dan rasa ingin tahu dalam tempo sebulan saya sudah memiliki dua downline. Dengan dua downline itulah saya akan meraih bonus, ya bonus yang tidak seberapa dengan modal awal yang saya keluarkan. System MLM yang saya masuki adalah menanamkan modal terlebih dahulu dengan cara membeli produk-produk perusahaan tersebut. Enam ratus ribu rupiah adalah kocek yang saya ambil dari tabungan saya sendiri. Enam ratus ribu rupiah, 13 tahun yang lalu sangat berarti, tapi saya mempertaruhkan itu. Dan tidaklah mudah meyakinkan orang lain untuk membeli produk dan bergabung menjadi downline.

Kuliah semester pertama dimulai, saya mulai kualahan. Betapa tidak, semester awal adalah semester dengan banyak mata kuliah wajib, MLM saya mulai terbengkalai, uang 600 ribupun tidak kembali.

Lagi-lagi pikiran takut menganggur setelah lulus kuliah terus menghantui. Liburan semester saya manfaatkan untuk melamar di stasiun radio di Jakarta. Pemilik radio atau sebut saja bos besar menyukai karakter suara saya, ia memberikan tugas kepada saya untuk membuat naskah siaran terlebih sebelum saya diperbolehkan on air. Akhirnya setelah beberapa kali naskah saya buat saya mulai siaran dengan berduet alias tandom dengan penyiar lain. Duet maut itupun berjalan lancar, walau kadang masih ada kritikan sana sini, namun saya menerima dengan harapan saya akan terpacu lebih baik sesuai dengan standart kualitas yang diminta. Hingga suatu hari tepatnya jelang Idul Fitri beliau (pemilik radio) memanggil saya ke ruangannya. Ia mengevaluasi saya A sampai Z, hingga keluar kalimat “kamu siaran program A ya nanti siang”. Saya tersenyum dan bertanya dalam hati, apakah ini serius?. Kalimat itu dikatakan bos besar pukul 10 pagi sebelum ia berangkat keluar kantor. Pukul 14.00 program A itu mulai bersiaran, dan saya pun bersiaran dengan didampingi Mixman.

Sekitar satu jam lebih saya bersiaran, yang tentunya masih belum sempurna, tiba-tiba bos besar masuk ke ruang siaran dan berteriak “siapa yang suruh kamu siaran di program ini??”. Semua orang yang berada di kantor mendengar dan menuju ke studio untuk melihat apa yang terjadi. Kursi yang berada di studio digerakkan dengan cukup kencang dan tumpukan koran di meja dilemparkannya. Ya, mungkin itu akibat beliau marah sekali dengan saya, di fikiran beliau saya belum layak untuk on air, tapi di ingatan saya beliaulah yang memberi saya lampu hijau. Orang di kantor kaget bahkan ada penyiar yang menangis melihat kejadian itu. “Keluar kamu dari sini, keluar!!”, itu yang diucapkan bos besar.

Siang menjelang sore saya pun keluar dari radio itu, saya berjalan keluar lalu saya pulang dengan ojek sambil tersenyum, menarik nafas panjang, mengucap Ya Tuhan...tanpa ada air mata sedikitpun jatuh di pipi saya. Gagal bekerja di radio tersebut saya tidak patah arang, liburan kuliah semester berikutnya saya kembali mengirim lamaran, kali ini di stasiun televisi swasta. Ternyata televisi itu sedang tidak menerima karyawan baru, namun menerima anak magang. Tanpa ragu sayapun menerima tawaran magang. Tidak mau mensia-siakan keadaan membuat saya menyimpan rapi semua data program yang saya kerjakan saat itu. Sampai tiba saatnya saya harus mengerjakan skripsi sebagai syarat kelulusan, saya sudah mempunyai data untuk diolah dalam penelitian hehehe. Data sudah di tangan, observasipun juga sudah saya lakukan, selanjutnya tinggal wawancara key informan dan second informan.

Pengerjakan materi skripsi berjalan aman, tapi rasa aman itu tidak bertahan lama. Pagi hari kira-kira pukul 7.15 saya mengalami salah faham dengan dosen pembimbing saya. Ya, saya mempunyai kesalahan. Saya mengatakan “bu gimana caranya cepat selesai bu? saya sudah mau cari uang” . kalimat itulah yang akhirnya menghantarkan saya kehilangan dosen pembimbing. Ketua jurusan Broadcast (broadcast atau penyiaran adalah salah satu cabang dari Ilmu Komunikasi) memanggil saya ke ruangannya dan berkata bahwa ada Dosen pembimbing saya kecewa karena beliau berpendapat saya mahasiswi yang tidak mengikuti proses dan terlalu bernafsu untuk lulus. Dengan rasa bersalah karena telah melukai dosen pembimbing saya itu, sayapun meminta maaf melalui SMS panjang lebar. Berhari-hari merasa seperti orang paling jahat sedunia karena dosen pembimbing saya sedang tidak bersedia bertemu saya.

Jadwal sidang skripsipun tiba, saya dan dua orang teman satu bimbingan dengan dosen yang sama bersiap-siap menghadapi proses sidang skripsi. Di luar ruangan disiapkan televisi kecil, semua orang di kampus dapat menyaksikan proses sidang. Dan keajaibanpun terjadi (setidaknya ajaib bagi saya), dua orang teman saya dinyatakan harus mengulang sidang alias tidak lulus, dan saya harus bangga mengatakan ini, “saya lulus, bukan mereka, bukan dua orang yang mempunyai dosen pembimbing, tapi saya, saya yang didampingi dosen pembimbing hanya pada bab 1 dan selebihnya saya mengerjakan sendiri”.

Sebelum ijazah Sarjana Komunikasi saya keluar, saya melamar di sebuah perusahaan asal Hongkong di kawasan S. Parman Jakarta. Dengan gaji pokok satu juta rupiah sebagai marketing ditambah bonus jika saya mencapai target setiap bulan, saya bekerja hampir setahun. Tingkat disiplin yang tinggi, telat masuk satu menit saja gaji dipotong 50 ribu rupiah, tidak hadir satu haripun dipotong 50ribu rupiah. Tugas saya adalah melakukan presentasi di kantor client tentang jasa perusahaan saya, setiap presentasi 85 persen saya closing (closing adalah sebutan bagi marketer yang mendapatkan client baru). Tapi, saat menawarkan jasa melalui telepon hanya 40 persen saya mampu closing. Huftttt, sejak saat itu saya lebih menyukai menemui client langsung bertemu empat mata dan membantu mereka menjawab kebutuhannya. Tidak saya sadari itulah kemampuan saya, saya lebih mantap jika langsung bertemu, berdiplomasi dengan tatap mata, berdiskusi dengan langsung menyelami psikologi client. Marketer yang baik bukanlah yang banyak bicara, tapi berbicara saat client membutuhkan solusi.

Bertemu dengan client mendapat suka dan duka, kadang client tidak hanya orang Indonesia tapi dari negara lain, kadang laki-laki kadang perempuan, kadang galak karena merasa punya uang, kadang tidak jelas apakah akan closing atau tidak. Target perusahaan yang terus naik dan naik membuat kepala saya seolah mau pecah, marketer tidak hanya harus terampil berbicara tapi juga melihat angka-angka yang membuat saya jenuh. Saya menyukai bertemu banyak orang dan orang baru tapi bidangnya bukan marketing. Saya pun memutuskan keluar dari perusahaan dan menjalani profesi sebagai wartawan tabloid remaja.

Hampir tiga bulan saya bekerja di tabloid remaja tiba-tiba saya mendapat panggilan interview di salah satu radio public. Saya kaget karena saya merasa sudah lama sekali saya mengirimkan lamaran ke banyak perusahaan kala itu. Masuk ke kantor ber plat merah dengan gelar pegawai bukan Pegawai Negeri Sipil, membuat saya suka tidak suka berhubungan dengan birokrasi, diplomasi, sampai senioritas. Saya muda, dan saya langsung mendapat posisi Pengarah Acara siaran. Yes, studio siaran adalah tempat paling seksi di kantor itu. Banyak yang berebut untuk berkarir di sana, bahkan Pegawai Negeri Sipil senior sekalipun. Menjalani peran sebagai Pengarah Acara di radio public dengan genre News and Talk yang kesehariannya rajin membahas politik membuat otak saya kusut. Siapa itu Panglima TNI, Pejabat-pejabat penting Kepolisian, sampai komisi – komisi di Dewan Perwakilan Rakyat Senayan itu.

Anak muda yang terbiasa stylish, menyukai musik dan seni masuk ke kolam politik, ya kolam dong, kolam bukan tempat memelihara ikan saja, tapi tempat seseorang bisa kecemplung. Kecemplung dibentak – bentak oleh senior, dianggap saingan dan ancaman oleh crew senior membuat saya gerah. Seperti masuk ke era penjajahan. Ada senior yang setiap hari harus disapa penuh rasa hormat, ada yang menolak berdiskusi dengan anak muda yang secara umur lebih pantas menjadi anaknya dibanding rekan kerjanya. Hingga suatu hari saya meminta izin kepada orang tua saya untuk melanjutkan kuliah ke tingkat magister atau S2. Daripada saya ambil pusing mereka lebih baik saya meningkatkan kualitas diri dengan sekolah lagi.

Orang tua saya menyetujui walau mereka bertanya, “uangnya dari mana?”. Saya pun tidak tahu apakah puluhan juta untuk kuliah S2 mampu saya pecahkan, saya hanya bermodal niat dan tabungan yang saya simpan di bank sejak saya SMP. Saya pernah kehilangan motivasi, tapi saya tidak pernah kehilangan semangat. Dan semangat itulah yang membuat saya termotivasi kembali. System kerja di radio dengan shift, kadang saya ke kantor dini hari, kadang pukul 5 pagi, kadang baru mulai bekerja pukul 8 malam. Sayapun sering masuk angin. Saya bekerja pukul 8 malam, tiba di rumah pukul 1 pagi, lalu mengetik tesis depan laptop hingga pukul 4 pagi dan pagi harinya pukul 8 harus bimbingan.

Dengan jam tidur yang amat sangat kurang, tidur 8 jam sehari seakan menjadi teman jauh saya. Bukan hanya jam tidur tapi juga rupiah yang terus keluar dari tabungan membuat otak dan fisik bekerja luar biasa. Tapi saya bangga, saya bersyukur. Saya anak muda dan perempuan paling muda di kampus. Tahun demi tahun berlalu. Saya lulus dengan IPK yang Alhamdulillah membuat saya tersenyum, kali ini bukan senyum karena menahan rasa sedih, tapi senyum bahagia karena IPK 3 koma sekian, hampir 4. Sayang sekali tidak cumlaude karena telat satu bulan karena kelelahan.

Sebelum saya lulus sebagai seorang Master Ilmu Komunikasi, tawaran menjadi dosen pun menghampiri saya. Entah apa pertimbangannya namun saya sangat bersyukur. Sekarang saya bukan hanya mengajar di depan mahasiswa, tapi saya juga mempunyai mahasiswa dan mahasiswi terbang. Mahasiswa terbang tersebut berusia jauh lebih tua dari saya, bahkan ada yang berjarak 10 tahun.. Tidak berhenti di situ, orang mulai berdatangan untuk konsultasi tentang komunikasi, bagaimana menyelesaikan masalah psikologi antara atasan dan bawahan, institusi yang tidak sensitive gender, membuat konsep kreatif, meminta saya menjadi MC, moderator diskusi public, sampai mediator persoalan bisnis. Aktif mengikuti kegiatan berbasis gender, sampai memberikan advokasi bagi siapapun yang datang dan mempercayai saya. Berkomunikasi dari kaki lima sampai bintang lima

Jadi sukses merencanakan karir se-awal mungkin buat saya ukurannya bukan dilihat dari mobil dan rumah mewah, bukan pakaian import, bukan berlibur ke luar negeri. Kesuksesan merencanakan karir bagi saya adalah mampu keluar dari kekhawatiran atau ketakutan yang membuat kita berhenti bergerak. Buat saya merencanakan karir sedini mungkin ada beberapa keuntungan :

  1. Dengan perencanaan, saya jadi tahu yang mana prioritas mana yang tidak. Dengan tidak mengecilkan tujuan lain, prioritas dibuat untuk memberikan intensitas perhatian tertentu, sayapu jadi tahu itu.
  2. Dengan tujuan-tujuan tadi saya jadi punya semangat & motivasi. Nggak kebayang kalau hidup saya ngga punya mimpi atau tujuan.
  3. Saya berpikir dengan berkarir kita menjadi manusia yang lebih produktif & bertanggung jawab. Karena apa? Secara otomatis kita terlibat dalam lingkup yang lebih besar & kompleks.
  4. Terakhir. Hidup itu adalah anugerah dari Tuhan. Jadi saya mensyukurinya ya dengan berkarir. Lebih bagus lagi jika karir kita bisa menjadi berkah bagi orang lain (memberikan mereka motivasi, lapangan kerja, dan semangat). Karena berkarir adalah salah satu cara untuk berinvestasi dalam masa depan

Aku bersyukur dengan beragam moment pahit yang pernah aku alami dalam mencapai karirku sekarang, sebelum usia 30 tahun aku sudah mendapatkan pengalaman itu aku kini bisa berkarir sesuai dengan passionku. So, maturity comes with experience NOT age.

 

Wirda Yulita Putri

Praktisi Media dan Dosen Komunikasi InterStudi



Wirda Yulita Putri

Praktisi Komunikasi. Communication Enthusiast. Beauty is important, but no more important than quality.

No Comments Yet.