Strategi Anti Pamer di Sosial Media


Monday, 21 May 2018


Kadang saya suka berpikir kenapa ada orang suka pamer di sosial media padahal menurut saya jati diri seseorang beserta harkat dan martabatnya ya sudah bisa terlihat  ketika kita bertemu dengan seseorang, terlebih bila kita bersama sama untuk beberapa waktu?

Jadi, kenapa orang perlu mengukuhkan bahwa dirinya kaya atau dirinya cantik atau yang lain lain? Saya sendiri kurang mengerti. Mungkin beberapa dari kita tidak nyaman atau tidak percaya diri dengan dirinya sendiri sehingga harus menunjukkan image berlebih di social media biar dianggap wah dan dipuji-puji. Setuju tidak ?

Tapi saya juga melihat fenomena ini menjadi-jadi karena ternyata banyak orang Indonesia kepo. Artinya mereka ingin tahu kehidupan orang lain padahal keingin tahuannya tidak ada faedahnya, istilahnya hanya supaya update, atau bisa mengatakan teman dengan ini dan itu, dan atau kadang ingin tahu hidup orang agar bisa dibicarakan dibelakang sebagai topik yang seru dengan sesama teman penggosip. Kalau ini saya setuju karena memang saya dikelilingi oleh rekan-rekan yang seperti itu. Menurut Urbanesse bagaimana ?

Jadi antara yang tukang pamer dan suka bergosip, hobi mereka itu sebenarnya saling mengisi. Hehehehe memang Jakarta itu unik.

Saya kebetulan bukan orang yang suka dikepoin tapi saya memang suka menjalin hubungan baik dengan orang orang yang menurut saya juga baik. Maka sosial media saya isidengan aktivitas yang saya lakukan, Jadi mereka bisa mendapat update dari kehidupan saya dan vice versa. Sisanya saya pakai sosial media untuk mencari info, inspirasi, atau hiburan.

Tapi memang terkadang orang yang tidak terhubung dengan kita baikpun ini masuk sosial media kita. Ya sudah tidak apa apa. Tapi ada baiknya kita bisa mengatur foto atau video ataupun apapun yang mereka lihat dari kita supaya mereka bisa mendapat dampak yang baik.  Ini yang saya lakukan.

  1. Saya membagi kenalan saya menjadi 2 bagian., orang dekat dan orang yang biasa biasa saja.
  2. Kalau untuk orang-orang dekat saya masukkan ke dalam kelompok khusus yang akan bisa meihat upload keseharian saya. Kenapa begitu, supaya mereka tetap merasa terhubung dengan saya walau mereka sibuk. Jadi ketika kita bertemu, kita tetap update dengan aktivitas masing-masing.
  3. Untuk teman dan kenalan lain yang tidak terlalu dekat saya berusaha posting bagian dari diri saya yang bisa berdampak baik untuk mereka yang membaca seperti mengupload kata-kata bijak, mengupload aktivitas dan info kegiatan social yang saya kerjakan, atau menguload tentang produk-produk perusahaan saya ( sekalian marketing ya?). ..Tetapi mereka tidak bisa melihat bagian-bagian hidup saya secara pribadi sehingga otomatis mereka juga tidak punya bahan berlebih jika mereka mau membahas kehidupan saya atau sekedar kepo.

Lalu semua akun saya, saya buat private jadi pastinya orang yang tidak saya kenal ya jamak tidak tahu apa apa tentang saya, karena saya bukan selebritis atau tokoh politik yang perlu tenar. Saya hanya perlu terhubung dengan orang-orang sekeliling saya dengan baik.

Alhasil kebanyakan orang-orang yang kepo akhirnya malas men-follow saya ( bagus ya ada satu orang berkurang yang dikepoin karena kepo itu tidak ada gunanya), orang orang yang merasa upload-upload saya bagus akan follow dan memberi dampak positif dalam hidup mereka, dan teman teman dekat saya bisa tetap update tentang kehidupan saya walaupun kita sibuk dan mungkin hidup berjauhan.

 Jadi sosial media memang bisa dibuat ajang pamer, bisa juga dijadikan ajang ingin tahu dan sok tahu, tapi kalau kita pikirkan dengan sedikit waktu lebih, bisa kita gunakan untuk memberikan dampak positif kepada semua pihak.

Selama kita mau berpikir dengan baik, alat dan media apapun bisa kita gunakan utk dampak yang positif. Yang penting, kita tidak mudah ikut-ikutan orang lain.



Priscilla

No Comments Yet.