Sosmed Wadah untuk "Menjual Diri"


Wednesday, 30 May 2018


Sosial media memang telah menjadi fenomena, ya, Urbanesse. Kayaknya, hidup ini nggak lengkap tanpa update status dan aktif bersosial media. Dari banyak fenomena yang terjadi, saya lebih cenderung tertarik untuk mengungkapkan pendapat tentang persepsi & sudut pandang pamer itu sendiri. 

Saya sendiri memanfaatkan sosial media sebagai media profil untuk ‘menjual diri”. Dalam artian positif, sebagai sebuah laman untuk menampilkan profile pekerjaan, yang (semoga) bisa berujung ke peluang pekerjaan lain. Misalnya saat saya sedang menjadi host atau moderator di sebuah acara, menjadi narasumber, atau kegiatan lain yang bersifat profesional - pasti akan saya posting. 

Tapi memang, ada saja yang iseng berkomentar negatif. Tidak langsung diungkapkan melalui sosial media, sih.. Tapi pada suatu kesempatan, saya ditanya oleh saudara dekat, “Kalau kerja terus begitu, anaknya siapa yang jagain?”. 

Konteksnya luas sekali ya, social media ini. Kita posting apa, komentarnya bisa macam - macam. Ada yang komen tentang fisik, profesi, 

atau seperti yang saya alami: pera sebagai ibu. Kalau sudah begini, saya harus jelaskan perlahan - lahan tentang kondisi keluarga saya, siapa yang membantu menjaga anak, dan lain sebagainya. Kok jadi panjang, ya? Padahal keinginan saya haya memposting aktivitas yang sudah saya lakukan untuk tujuan positif. Tidak juga untuk paper, atau bahkan berlebih - lebihan. Saya sampat bertanya pada diri sendiri, apa ada yang salah?

Ternyata tidak, kok. Ini hanya soal persepsi. 

At some point, saya mulai berfikir:

  1. Siapapun bebas berbagi apapun di akun sosial medianya masing - masing. Tapi terimalah fakta bahwa siapapun juga bisa berkomentar apapun terhadap semua yang kita upload melalui platform ini. Mari berpikiran terbuka. 
  2. Yes, ini hanya soal persepsi. Nggak semua orang punya persepsi positive, jadi let it go, jangan terlalu dimasukkan hati - untuk komentar - komentar yang sericngkali terbaca mengkritik atau kepo. 
  3. Bijaklah bersosial media. Bukan hanya secara konsep waktu, tapi juga membatasi pikiran untuk tidak terlena dengan berbagai fenomena yang terjadi di sosial media. Bangun batas antara dunia nyata & maya. Tegakkan kepala. Masih banyak hal positif yang terjadi di kehidupan kita sebenarnya. 
  4. Tidak semua orang setuju denganmu. Jadi ketika ada yang memberikan kritik? Ya terima saja dengan senyuman, buat sebagai banan untuk introspeksi diri. 

Menurut saya, perempuan dan fenomenal di social media tidak akan ada habisnya. Habis dong, energi kita untuk memikirkan komentar & pendapat semua orang yang mampir ke akun kita? Kurang worth it, ya, Ladies? 



Nathalie Indri

No Comments Yet.