Sosial Media Mendekatkan Yang Jauh, Menjauhkan Yang Dekat ?


Wednesday, 23 May 2018


Masih jelas di ingatan saya, waktu saya masih duduk di bangku SD di Samarinda, kota kecil di Indonesia, saya pengen sekali punya teman dari luar negeri…kayaknya seru gitu, bahasanya beda, culturenya beda, penampilan juga beda. Jadi, saya dan kakak saya mengikuti program Penpal, dimana kita mendapatkan alamat dan nama lengkap beberapa anak sebaya di negara lain dan kita bisa menulis surat dan mengirimkan foto ke mereka. Waktu mendapatkan surat balasan setelah beberapa bulan berselang, wah senangnya bukan main. Apalagi waktu kita mendapatkan surat baru dari teman baru, bener2 bikin kita happy berhari-hari. Kita baca surat-surat itu berkali-kali dan kita simpan baik-baik seperti layaknya harta karun.

Ketika saya kuliah S1, sekitar umur 18 tahun, Friendster baru booming. Itulah awal perkenalan saya dengan social media. Di sela-sela kesibukan kuliah desain yang memang selalu mengharuskan kita untuk menggunakan komputer, saya dan teman-teman saya unwind dengan bertukar testimonial seru satu sama lain di Friendster page kita. Kita kerap membaca ulang testimonial dari teman-teman dan ngakak bareng2…those were such good times with social media.

Beberapa tahun kemudian, muncullah Facebook yang ternyata jauh lebih seru karena memiliki fitur yang lebih komplit. Saya merasa lebih mudah menjangkau teman-teman baru dari berbagai belahan dunia, real time dan gratis pula, cuma bermodalkan internet. Beda sekali dengan waktu saya SD. Bahkan, kakak saya berkenalan dengan suami dia melalui Facebook. Social media benar-benar membuat dunia menjadi lebih kecil.

Lalu, muncullah InstagramScroll…scroll..scroll….banyak news feed berisikan pemandangan liburan yang indah, makanan berestetika tinggi dan tampak menggiurkan, barang-barang bermerk, selfie selfie yang aduhai cantik banget, yang disertai dengan kata-kata pepatah yang bijak. Itu semua eye candy buat saya, yang lama-lama merubah intensi saya dalam menggunakan social media. Saya tidak lagi menggunakan social media untuk benar-benar connect dan berkomunikasi dengan teman-teman, tetapi hanya untuk killing time, memanjakan mata saya dengan visual yang indah. Saya jadi berasa lebih connected to the world, padahal sih enggak, rasa-rasanya saya aja. Dalam menggunakan social media, penyakit saya bukanlah pamer ataupun curhat. Saya pun menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan yang orang tampilkan di social mediahanyalah sebagian dari kehidupan nyata, karena beberapa teman kerap berkata ketika mereka melihat social media saya, hidup saya bahagia sekali. Ya jelas wong saya hanya mengunduh peristiwa-peristiwa penting dan berkesan seperti hari kelulusan…hari pernikahan….reuni bersama teman dan keluarga….hari-hari di mana saya sibuk bekerja, belajar, mempersiapkan pernikahan…ya saya nggak upload mana ada waktu! Maka dari itu, saya maklum saja sama orang yang mengunduh kemewahan yang mereka nikmati, karena saya pikir itu highlights dari kehidupan mereka, bukan standard terendah dari kehidupan mereka. Apalagi, saya pada dasarnya benar-benar mencintai keindahan…justru saya suka melihat gambar indah mereka sampai lupa waktu. Dan inilah penyakit saya yang terbesar. 1-2 jam mantengin smartphone bener-bener gak berasa, lho. Saya kecanduan liat news feed yang bagus. Itu semacam cheerleader effect buat saya, instant gratification for happiness tapi zero calories, layaknya menikmati junk food. Puncaknya adalah suami protes karena mata saya lebih banyak menatap smartphone daripada melihat wajahnya…bahkan pada saat di kamar! Saya ingat satu kejadian, ketika saya hendak menyusul suami ke suatu tempat, ia meminta saya untuk membawakan jaketnya karena cuaca lagi dingin. Namun, saya tidak sengaja meninggalkan jaket miliknya di kereta. Suami saya yang biasanya sangat sabar pada waktu itu marah sama saya dan berkata, “Makanya jangan liat smartphone mulu, awaredonk sama sekeliling!” Oops…saya bisa merasakan suami cemburu sama smartphone.

Saya merasa bersalah, dan saya mau bertobat. Saya puasa social media sebulan penuh. Saya hapus apps Facebook dan Instagram di smartphone saya. Saya pikir bakal susah, eh ternyata nggak juga, lho. Kalau mau tau news buka aja website berita. Mau cari rekomendasi lifestyle ya cari web khusus itu. Mau cari inspirasi pekerjaan, ya sama, buka professional development website. Justru waktu puasa social media ini saya belajar menjadi cermat dan tepat guna dalam mengakses informasi via internet. Saya lebih banyak ngobrol sama suami, lebih fokus di kerjaan, lebih banyak berkomunikasi sama keluarga yang tinggal jauh. Ternyata, tidak tahu teman lagi apa nggak bikin saya mati hahahahaha….

Setelah selesai puasa, saya kembali menggunakan social media. Namun, saya mensortir siapa yang saya followWhat we follow, what we’ll become. Dan social mediabenar-benar bisa amplify our life messages. Kita bisa menyebarkan hal-hal positif dan berita-berita penemuan terbaru yang membangun wawasan diri kita dan sekitar. Kita juga bisa membangun pencitraan baik untuk bisnis atau untuk personal life yang mungkin untuk mengisi ego. Kita juga bisa menyebarkan hal-hal negatif yang membuang waktu saja kalau kita tidak benar-benar mencari solusinya di hidup nyata (offline world). Pertanyaannya kembali ke Urbanesse masing-masing…what messages do you want to amplify through your social media life?  

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.