Setelah Resign, Aku Putuskan Menjadi Ibu Rumah Tangga Yang Tetap Produktif


Friday, 27 Jul 2018


Sebut saja nama saya Willa, saya seorang Ibu dengan 2 orang anak dan saat ini sedang mengandung anak ketiga. Anak pertama saya usianya 6 tahun, yang kedua berusia 3 tahun. Memang rencana memiliki 3 anak adalah pilihan saya dan pasangan, dari dulu saya sudah punya impian jika menikah saya ingin memiliki 3 orang anak heehee, jadi saya sudah tahu resiko ketika harus memiliki anak dengan jarak usia yang hampir berdekatan.  Sehari-hari saya bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga fulltime dirumah, aktivitas saya lainnya adalah menjadi tukang masak untuk usaha catering dan rumah makan yang sedang saya rintis kecil-kecilan.

Pendidikan saya S2 Managemen SDM, Passion saya memasak dan baca buku. Dulu sebelum menikah saya pernah bekerja dengan jabatan yang lumayan, waktu itu jadi kepala HRD salah satu perusahaan oil nasional di Jakarta. Jabatan tersebut memang bukan passion saya tetapi berhubung berkaitan erat dengan bidang kuliah saya dan ada kesempatan bekerja disitu makanya saya ambil. Kalau boleh jujur sebenarnya passion saya adalah memasak dan mengajar.

Di artikel ini saya ingin berbagi pengalaman dan semangat bahwa kita sebagai perempuan tidak perlu merasa malu dan patah arang karena berprofesi menjadi seorang  Ibu rumah tangga yang fulltime dirumah meski kita memiliki pendidikan yang cukup mumpuni. Menjadi Ibu rumah tangga juga profesi lho urbanesse sama halnya seperti profesi lainnya. Bahkan di profesi ini kita musti bisa merangkap banyak jabatan dari mulai manager keuangan, guru, chef, kurir, pendongeng, cleaning service dan banyak lagi profesi lainnya yang kita kerjakan disini. Pekerjaan ini tidak mengenal waktu rewardnya selain pahala dari Tuhan, saya pun bisa melihat wajah-wajah bahagia dari mata anak-anak dan suami, pastinya itu menjadi kebahagiaan batin tersendiri untuk saya di tiap harinya ketika apa yang saya kerjakan selesai dengan rapi.

Singkat cerita, Setelah saya menikah saya memilih resign dan ikut suami yang dipindah tugaskan bekerja di luar daerah. Karena sudah impian dari dulu kalau menikah saya ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang fulltime dirumah, agar bisa menikmati moment bersama anak-anak yang tidak akan terulang. Pilihan ini pastinya saya sudah tahu akan banyak resiko yang akan saya dapatkan ketika memutuskan resign.

Dulu ketika awal-awal jadi Ibu rumah tangga saya beberapa kali uji coba strategi dan mengatur waktu saya secara random. Jam sekian ngapain, jam sekian harus ada menyelesaikan apa saja, yang belum apa saja yang bisa dikerjakan nanti apa saja begitu seterusnya hingga saya menemukan formula yang pas heehee (rumit ya ?nggak kok malah jadi teratur nantinya ketika kita sudah tahu celah menjalaninya tiap hari) yang penting kuncinya 2 yaitu sabar dan ikhlas.

Nggak lupa tetap pake target. Target ibu rumah tangga seperti saya adalah tiap harinya saya harus bisa menyelesaikan tugas dengan rapi, walau nggak sempurna tapi setidaknya pekerjaan rumah beres dan anak-anak kepegang. Untuk mendapatkan hasil akhir yaitu anak-anak badannya harus sehat, berat badannya musti bertambah nggak perlu signifikan tapi harus kelihatan lah meski sedikit heeheee. Anak-anak saya dampingi belajar agama walaupun pada sore hari mereka juga memiliki guru agama yang datang kerumah untuk mengajar mereka pelajaran agama, namun biasanya saya ikut terlibat mengajarkan mereka pengetahuan agama juga setelah ibadah pada petang hari. Karena buat saya mengajarkan pengetahuan Agama penting di lakukan oleh perempuan dirumah, karena seorang Ibu adalah sekolah agama pertama untuk anak-anaknya. Jadi sebisa mungkin saya luangkan waktu untuk hal ini. Karena dengan benteng keimanan agamalah pembentukan karakter anak mulai di bibit.

Selalu ada tantangan di semua profesi termasuk pekerjaan menjadi Ibu Rumah Tangga

Tantangan yang sering saya hadapi biasanya rasa lelah, sepertinya rasa lelah ini siapapun yang memiliki tanggung jawab atas pekerjaanya akan mengalaminya ya. Namanya orang bekerja pasti ada lelah dan merasa energi yang dikeluarkan sudah habis tetapi pekerjaan belum selesai bahkan ada yang pending dan mau tidak mau menumpuk untuk dikerjakan lagi di keesokan harinya. Waaahhh.....kalau dibayangin saja bagaimana mengaturnya ya? Hiiihiii... Rasa lelah akan menjadi kendala JIKA rasa lelah itu di turutin. Misalnya ketika merasa lelah mungkin  ada yang melampiaskannya dengan ngomel-ngomel ke anak, Suami, ngeluh di sosial media tentang pekerjaan rumah yang menumpuk dan reaksi negatif lainnya ketika merasa lelah karena seharian bekerja.

Sebagai manusia kurang elegan rasanya jika saya tidak jujur bahwa saya dulu pun ketika baru memiliki anak pertama pernah mengalami hal tersebut juga. Tapi seiring pengalaman saya menjadi seorang Ibu rumah tangga saya pun banyak belajar dari berbagai sumber. Baca buku parenting di waktu senggang, browsing-browsing tentang cara memanage waktu dan belajar dengan melihat pengalaman orang lain  di komunitas Ibu-ibu Muda yang cukup banyak berhasil menjadi ibu rumah tangga namun tetap bisa produktif.

Dari sinilah cikal bakalnya yang menjadikan saya tetap semangat menjalani profesi ini heeheee...pengalaman mengurus anak pertama, akhirnya membuat saya terus bertumbuh menjadi Ibu rumah tangga yang bisa memanage waktu. Sempat ada yang tanya emang masih bisa punya waktu metime, melihat anak masih kecil-kecil ? tentu bisa, tergantung pilihannya kita mau atau nggak buat metime meski hanya beberapa menit. Metime saya lakukan ketika anak-anak tidur siang atau ketika malam hari. Kalau anak sudah pada tidur saya metime tapi kalau saya ngantuk banget saya ikut tidur Heeheee... kalau nggak ngantuk disitulah biasa saya jadikan buat metime dengan menyalurkan hobby membaca buku sambil minum wedang jahe buatan sendiri.

Selalu ada Jalan Ketika Ada Kemauan

Saya memang orangnya nggak bisa diam, sesekali ada rasa jenuh karena rutinitas. Kebetulan suami ada rezeki lebih jadilah saya berinisiatif untuk membuka usaha catering dan warung makan. Kebetulan  saya hobbi banget memasak dan masakan saya yaa...nggak buruk-buruk bangetlah rasanya heehee memang beberapa kali orang tua teman-teman sekolah anak saya yang pertama sering meminta saya memasak menu-menu bento untuk bekal anak mereka yang sekolah, karena mereka tidak sempat harus memasak di pagi hari. Jadi, berawal dari situ saya memberanikan diri untuk memasarkan paket menu bento untuk bekal harian anak-anak sekolah.

Suami dan keluarga mendukung,  yang terpenting bagi mereka adalah pilihan saya untuk membuka usaha catering dan rumah makan ini tidak menjadikan saya kualahan dalam memanage waktu, karena pastinya ini akan menjadi tambahan beban kerja saya sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus menjalankan bisnis ini. Saya selalu berdoa tiap kali ibadah pada Tuhan saya tidak minta di mudahkan pekerjaan saya ini melainkan meminta pada-NYA agar saya, anak-anak dan suami diberi kesehatan dan kekuatan lebih untuk menjalaninya. Dengan menyebut nama Tuhan dan atas kuasa-NYA saya pun hingga hari ini masih diberi kepercayaaan Tuhan menjalankan profesi sebagai seorang Housewife sekaligus bisnis catering dan warung makan di rumah. Hasilnya memang belum terlihat besar, tapi saya yakin dengan keuletan dan kesabaran saya bisa menjalankannya.

Harapan saya dari bisnis ini saya bisa membeli mobil supaya bisa jalan-jalan bawa keluarga, tapi bukan dengan cara berhutang pada bank melainkan membeli cash meski second, itu impian saya bersama suami saat ini.

Rutinitas Adalah Ibadah, Rasa Beban Pasti Ada tapi Karena Ibadah Jadi Bawaanya Ikhlas Saja

Tiap hari saya musti bangun sebelum matahari terbit, jam 04.00 saya bersih-bersih  dan mempersiapkan sarapan dan bekal untuk suami dan anak-anak, sembari memasak untuk catering dan usaha warung makan kami. Setelah melaksanakan Ibadah pagi hari, saya beres-beres cucian piring yang kotor sisa makan malam, lalu merendam pakaian kotor kalau sempat saya mencucinya di jam yang tersisa jika tidak saya tunda untuk saya kerjakan pas malam hari. Jam 7 pagi  setelah suami berangkat bekerja  dan anak pertama saya berangkat sekolah serta adiknya juga sudah rapi saya mandikan dan lalu menyuapi makan. Biasanya saya lanjut di dapur sampai jam 11 siang untuk melanjutkan memasak kebutuhan catering dan warung makan dibantu dengan 2 orang asisten rumah tangga yang saya rekrut khusus untuk membantu saya memasak, menjaga warung makan dan mengatur menu yang masuk ke dalam kotak makan catering. Anak saya yang nomor dua sudah bisa bermain sendiri jadi sesekali ia memilih bermain di ruang tv sambil bisa saya lihat-lihat juga.

Setelah beres semua, saya pun mengantar sendiri dengan menggunakan sepeda motor dari rumah ke rumah, menu catering tersebut agar sampai di tempat pas jam makan siang. Kebetulan jarak rumah-rumah tersebut juga tidak jauh. Jam 12 setelah beres semua, anak pertama saya pulang sekolah saya pun mendampingi anak-anak saya makan dan memastikan mereka tidur siang. Nah ketika anak-anak tidur siang biasanya disini sambil jaga warung makan kalau lagi senggang saya nggak diam, saya senang browsing menu-menu masakan dan mencatat resepnya lalu nonton video cara membuat masakan-masakan enak. Biasanya dari sini saya terinspirasi untuk membuat menu-menu baru di catering dan warung makan saya. Tak jarang ini menjadi inspirasi saya juga untuk membuatkan masakan tersebut ketika suami saya libur.

Jam 5 warung makan saya tutup, anak-anak saya mandikan dan beres-beres warung makan. Setelah ibadah petang hari dan mendampingi anak-anak belajar agama dan si sulung mengerjakan tugas sekolahnya. Berikutnya menemani mereka bermain sampai jam 8 ketika Suami saya pulang saya mempersiapkan makan malam untuk suami lanjut langsung menidurkan anak saya yang paling bungsu. Jam 9 saya pastikan semua anak-anak saya sudah terlelap nah disinilah waktu free. Di jam ini saya dan suami biasa ngobrol dan di jam ini pula saya biasanya masih memegang pekerjaan di dapur untuk mempersiapkan sayuran dan lauk pauk yang akan di masak esok hari, di bantu suami pastinya heehee. Suami saya kalau libur ia tidak sungkan untuk membantu karena menurut kami pekerjaan rumah tangga itu adalah pekerjaan bersama. 

Buat saya Suami adalah tim kerja yang harus solid dan mendukung karena di sinilah salah satu energi dari dalam jiwa saya selain diri saya sendiri yang menjadi pendorong untuk saya bisa terus semangat menjalaninya.

Kalau baca dari tulisan ini mungkin ada yang berpikir nulis sih enak ya ? tetapi ini kenyataanya lho, di bayangan kita saja sepertinya terasa berat tetapi ketika sudah dijalani dan beres itu saya aja kadang bingung, kok bisa ya saya beres mengerjakan tugas sebanyak ini, kok bisa saya nggak mengeluh seperti dulu. Buat saya pekerjaan yang tidak beres mau apapun adalah pekerjaan yang memang kita tidak mau/tidak niat untuk menyelesaikannya dan sebaliknya.

Point pembelajaran dari pengalaman saya ini untuk para Ibu rumah tangga seperti saya adalah

  1. Ketika kita memilih tetap berkarir di kantor atau memilih jadi Ibu rumah tangga PASTIKAN bahwa pilihan yang di pilih itu kita sudah tahu resikonya dan benar-benar kita yang memilihnya bukan karena terpaksa atau dipaksa. Ini penting karena kalau ini pilihan kita, kita nggak akan ada tuh mengeluh dengan tanggung jawab yang kita emban, karena kan kita sudah tahu resikonya dan kita juga yang memilih. Nikmatilah tiap momentnya.
  2. Terus berkarya dan menghasilkan sesuatu meski kita sudah menikah dan menjadi fulltime Mom. Cari dan gali terus apa yang menjadi hobbi atau passion kita. kembangkan! siapa tahu dari hobbi bisa jadi uang, yaa...khan..!. Lumayan untuk bantu-bantu suami beli susu dan diapers anak heehee
  3. Tidak perlu merasa takut sibuk karena dengan kita mencari kesibukan lain selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pikiran kita bisa tetap waras karena nggak berkutat dengan hanya rutinitas yang itu-itu saja.
  4. Hindari bergosip atau nyinyir terhadap kehidupan orang lain. Lebih baik kita mengembangkan potensi yang kita miliki agar bisa terus produktif entah itu dengan menulis, membaca buku atau memasak seperti saya setidaknya pikiran kita jadi lebih terbuka.

Jadi, apa makna bekerja berdasarkan pengalaman saya?

Saya sudah pernah merasakan bagaimana bekerja kantoran dan kini saya menjadi Ibu rumah tangga yang membuka bisnis rumah makan, saya bahagia saat ini karena selain saya tetap bisa menyalurkan hobbi memasak, saya juga berbagi rezeki juga dengan 2 orang asisten dapur yang selalu setia membantu.  Buat saya, Bekerja itu adalah Ibadah Pada Tuhan yang tidak mengenal usia. Gali terus passion/hobbi kita agar kita dapat menikmati hidup dengan beragam tantangannya.

 



Rika

No Comments Yet.