Senang dan Bahagia Itu Berbeda. Ini Buktinya.


Thursday, 25 May 2017


Apa ya bedanya senang dan bahagia? Hmm…Biasa kalo otak lagi mampet, aku nanya opini tunangan aku. “Say, menurut lo, bedanya senang dan bahagia apa?” Dia jawab, “gue ngga tahu Indonesian termnya tepatnya apa untuk joyful dan happy. Joyful itu senang ya?” Aku bilang, “Joyful itu lebih ke bahagia, kalo happy itu perasaan senang.” Dia diam bentar, lalu merespon, “Kalo happy (senang) itu lebih short-term, misalnya happy pas holiday. Kalo joyful (bahagia) itu long-term, misalnya I am joyful to have you to be my wife.” Aku terdiam, unpredictable response to be honest, tapi bahagia dengernya…hahahaha

 

Statement dia membuka pikiranku. Aku mencoba menghubungkan senang dan bahagia dengan pengalamanku bekerja sebagai educator di child care centre. Sewaktu melihat tabungan bertambah karena baru dapat gaji, rasanya senang. Tetapi, ketika aku melihat perkembangan para balita yang berinteraksi denganku setiap hari, bagaimana mereka bisa mengenal kata-kata baru melalui bermain bersama, mencoba tantangan baru dalam bermain fisik, bisa lebih mandiri dalam mengenakan kaos kaki dan sepatu sendiri, dari merasa tidak nyaman dan terang-terangan berkata , “I don’t like you” karena aku orang baru, lalu pelan-pelan mulai mengenalku, mengingat namaku, mau beraktivitas bersama, tertawa ketika melihatku datang dan mencium tanganku…rasa bahagianya benar-benar tidak tergantikan. Dan perasaan bahagia itu terus tersimpan, bahkan membuat hatiku merasa hangat dan tersenyum sendiri ketika mengetik artikel ini.

 

Tiap orang pasti punya definisi sendiri mengenai perbedaan senang dan bahagia. Kalo menurut aku, menganalisa dari dua gambaran di atas, senang itu selain short-term, rasanya nggak terlalu dalam, bisa jadi karena didasari oleh factor practical, misalnya memenuhi standard dari pihak luar seperti senang dapat gaji yang bisa memenuhi kebutuhan investasi/keluarga/standard lifestyle, atau quick fix untuk sesuatu yang bikin kita stress, misal going out for a drink after long working hours. Bisa jadi buat tunanganku, liburan bikin dia senang bukan bahagia karena bagi dia liburan itu untuk menghilangkan kepenatan rutinitas kerja.

 

Mungkin saja bagi orang lain yang passionnya travelling, liburan itu bermakna lebih dalam dan menimbulkan kebahagiaan tersendiri karena mencapai tujuan yang lebih dalam, misalkan melebur dengan penduduk setempat dan mengenal budaya mereka secara lebih dekat. Bahagia itu sumbernya dari our deepest desire dan bersifat lebih tulus. Senang itu meletup-letup seperti kembang api, tapi bahagia itu rasanya damai seperti air mengalir. Misal, kalo dalam konteks dating, dulu pas banyak pria mapan yang ngajak keluar, jemput dan nganter pulang, nge-wine, makan enak, ngobrol semalaman, rasanya senang. Tapi sekarang biar cuman sama satu pria aja, tapi kita cocok secara kualitas karakter dan nilai hidup, rasanya itu bahagia. Dulu waktu masih sering keluar minum-minum dan party, rasanya happy sesaat. Sekarang walaupun tidur harus lebih awal karena harus bangun subuh tiap hari untuk kerja, kuliah, rasanya itu bahagia. Aku belajar, sumber bahagia itu malah yang gratisan, tapi sering nggak dihargain dan di-take for granted, misalkan cinta kasih dan keharmonisan keluarga, kebersamaan dengan sahabat, saat teduh bersama Sang Pencipta. Kadang, orang mengejar kesenangan semu dan mengorbankan kebahagiaan yang sesungguhnya, karena banyak kesenangan semu lebih kelihatan gemerlap dari luar, sedangkan kebahagiaan itu bersifat lebih sederhana.

 

Saya belajar butuh jujur dan keberanian untuk merealisasikan apa yang bikin kita bahagia. Karena ironisnya, kadang untuk bahagia secara long-term itu pada saat prosesnya malah nggak merasa senang dan harus berjuang. Misalnya, mau pernikahan bahagia, saya dan pasangan usaha untuk ikut konseling premarital, belajar untuk berkomunikasi dengan baik, toleransi dan menyelesaikan konflik secara bijak, bukan mengabaikannya untuk menghindari perasaan nggak enak, tapi malah menjadi bom waktu. Prosesnya jujur tidak mudah, kan nggak enak dikorek-korek dan disentil. Butuh jujur, butuh kerendahan hati, butuh active listening, butuh siap untuk terluka dan bangkit dari kesedihan. Makanya, saya pikir orang bahagia itu adalah orang yang memiliki jiwa besar dan tangguh yang terlahir dari proses memperjuangkan kebahagiaan sejati itu sendiri. Seperti Bunda Teresa berkata, “Joy is prayer, joy is strength, joy is love, joy is a net of love by which you can catch souls.”

 



Novia Heroanto

Bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, profesi impiannya sejak kecil. Perempuan kelahiran 2 November ini menyukai seni, fashion, dan gemar berburu kuliner lezat. Novi menyukai musik Coldplay, John Legend, dan Depapepe. Warna favoritnya merah. Novi membantu memilih foto dan membuat ilustrasi untuk artikel-artike Urban Women.

No Comments Yet.