Sederhana Berhari Raya


Thursday, 15 Jun 2017


Satu tulisan dari Bapak Baban Sarbana begitu melekat di kepala saya sampai hari ini meski sudah hampir satu dasawarsa sejak tulisan tersebut pertama kali saya baca. Di tulisannya itu dia bilang, "Hati itu tidak bersudut, karenanya ia mudah tersentuh dari arah mana saja". Begitu sederhana, namun sangat menginspirasi. Kemudian, di sepanjang perjalanan hidup yang baru seumur jagung ini, saya bisa sedikit mengerti maksudnya tersebut, karena telah mengalami langsung yang namanya "tersentuh hati" lewat arah mana saja, bahkan oleh orang asing yang baru ditemui satu kali saja. 



Seperti pagi itu, ketika saya sedang menunggu Ibu di pangkalan ojek dekat rumah, salah seorang abang ojek mendekati dan menyapa dengan kalimat seperti ini, "Mba, lagi nunggu siapa? Mau borong ya buat lebaran", sambil tersenyum. Spontan saya jawab, " Ngga Bang, Saya lagi nunggu Ibu. Mau ke Bogor karena ada perlu. Abang kali yang mau ngeborong!", saya menggodanya.



Abang ojek yang usianya saya perkirakan di sekitar 40 tahunan ini ketawa kecut sambil bilang, " Borong apaan Mba, ini pangkalan sepi!", jawaban singkat yang membuat saya merasa nyess sendiri. Ngga usah dia bilang, saya bisa menebak bahwa di sudut hatinya ada rasa kecewa tidak bisa belanja untuk lebaran, sekedar beli pakaian baru untuk dipakai ibadah, untuknya sendiri, istri, dan anak-anaknya. Pemandangan yang membuat saya merasa bersyukur atas hidup yang saat ini dimiliki, diberikan kecukupan. 


Hati saya tersentuh oleh kenyataan bahwa di satu sisi ada mereka yang bahkan membayangkan belanja untuk keperluan hari raya saja tidak berani, namun di sisi lain, ada mereka yang jor-jor-an belanja untuk keperluan hari raya (sampai memadati mall atau pusat perbelanjaan) yang sebenarnya hanya akan dipakai sebentar saja. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, hal paling sakral dari hari raya adalah merayakan kemenangan lewat ibadah yang persyaratannya sangat sederhana, baju atau perlengkapan ibadah yang bersih atau suci, bukan sesuatu yang baru keluar dari pusat perbelanjaan.


Mungkin sudah jadi tradisi dalam merayakan hari raya (hari raya apa pun menurut saya), warga-warga di tempat kita tinggal belanja baju baru, sepatu atau sendal baru, mengganti perabotan baru bahkan tidak sedikit yang mengecat rumahnya dengan warna-warna baru. Apakah salah? Ya ngga juga, namanya juga tradisi, kan? Selama memang ada kecukupan dana dan tidak melebihi kemampuan saya rasa hal tersebut wajar-wajar saja. Menjadi tidak wajar ketika hal tersebut dilakukan dengan berlebihan, di luar batas kemampuan, dan merugikan orang lain (misalnya). 


Saya sendiri pernah ada di kondisi tersebut (bahkan sampai hari ini sepertinya masih), yaitu merayakan hari raya dengan tradisi belanja sebelumnya. Waktu saya kecil, orangtua saya pasti membelikan saya baju baru untuk dipakai di hari lebaran. Mindset Dini kecil lebaran itu = sesuatu yang baru, meski sesuatu yang baru itu juga bukan hal yang mewah, hehe. Begitu pun dengan teman-teman sepermainan saya, tetangga, ibu-ibu, bapak-bapak, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menunjukan sesuatu yang baru di hari raya, ngga mau kalah satu sama lain. Sesuatu yang sepertinya sangat tidak penting dan tidak perlu! Tapi ini tradisi, kalau ngga dilakukan sepertinya belum afdol. Maka ngga jarang untuk bisa memenuhi tuntutan sosial tersebut, banyak yang memaksakan diri. Ini yang sepertinya perlu dikoreksi.


Seiring beranjaknya usia, pemahaman saya moment hari besar keagamaan berubah, bahwa hari raya baik Natal maupun Lebaran bukanlah tentang materi yang baru tetapi tentang hati yang baru, jiwa yang lebih tenang dan tingkat iman yang semakin membaik. Perlahan tapi pasti, pemahaman itu mulai masuk ke dalam diri saya lewat contoh yang diberikan oleh kedua orang tua di rumah. Ya, Ibu dan Ayah saya perlahan memberikan pemahaman bahwa hakikat hari raya bukanlah tentang materi baru tetapi tentang hati yang lebih bersih dan perilaku yang lebih baik. Di usia saya yang sudah masuk ABG, yang dirasa sudah bisa diberi pemahaman demikian, mereka memberi contoh. Ibu dan ayah saya hanya membeli barang sekedarnya jika dirasa memang dibutuhkan, seperti alat sholat baru, sarung, mukena. Begitu pun dengan makanan hari raya, hanya makanan khas keluarga tanpa effort dan jumlah berlebihan yang sebenarnya ngga akan habis termakan semuanya (ujung-ujungnya mubazir). Tradisi membuat kue sebelum perayaan juga semakin berkurang karena kami di rumah semakin jarang memakan kudapan manis, hanya satu dua jenis kue kering dipersiapkan jika ada tamu yang berkunjung.


Dan hari ini, mindset saya soal lebaran berubah total. Bukan lagi karena orang tua saya, tapi karena pengalaman saya sendiri melihat bagaimana tradisi dan tuntutan sosial tentang hari raya begitu menyusahkan dan menyedihkan bagi sebagian orang. Contohnya ketika saya lewat pasar atau mall, menyaksikan anak kecil menangis ingin dibelikan baju karena melihat teman sebayanya punya baju baru sedangkan orangtua mereka juga menangis dalam hati karena tidak mampu memenuhi keinginannya tersebut. Atau pemandangan lain di mana anak-anak kurang mampu hanya bisa menjadi penonton keriaan mereka yang menjalankan tradisi sosial hari raya yang menyisakan mendung di hati mereka.

 

Saya membayangkan jika saja pemahaman kita soal tradisi merayakan hari raya diperbaiki, dari memperkaya diri sendiri dengan segala materi yang baru menjadi ajang berbagi pasti hari raya menjadi lebih bermakna. Alhamdulilah, saya perhatikan pergeseran tradisi tersebut perlahan mulai terlihat, semakin banyak gaung soal saling berbagi dan membantu sesama. Dan kembali lagi gaung di luar sana rasa-rasanya ngga akan menyerap ke dalam jiwa kalau pemahaman dari dalam rumah sendiri belum ada, itulah kenapa sangat penting membangun fondasi tersebut dari madrasah pertama bagi anak dan keluarga.


Menutup tulisan kali ini, saya ingin mengutip sebuat quote “Bahwa manusia yang paling baik ialah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”. Semoga saja saya, kita semua, bisa memanfaatkan momentum hari raya untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi” :)

Happy fasting dan selamat menyambut Hari Raya bagi yang merayakan :)

 

 

sumber gambar: http://www.pulsk.com/646960/



Dini Anggiani

No Comments Yet.