Seberapa besar kita bergantung pada pria?


Thursday, 01 Mar 2018


Dulu sebelum saya menikah, saya pernah mendengar curhat beberapa teman saya yang sudah menikah lebih dulu tentang bagaimana kebergantungan mereka pada pasangannya. Teman saya yang pertama sebut saja namanya Neta (bukan nama sebenarnya) yang seorang Ibu rumah tangga, ia sempat curhat ke saya kalau dirinya sangat terbebani bila dalam hidupnya hanya menerima uang dari pasangannya. Bagaimana tidak ketika dia hanya ingin sekedar membeli semangkok mie ayam saja harus merasakan perasaan tidak enak hati, padahal ia mengaku dari segi finansial sebenarnya pasangannya pengertian dan memberinya kebebasan dalam menggunakan keuangan rumah tangga namun, ia mengatakan bahwa ada beban tersendiri yang ia rasakan ketika ingin memakai uangnya untuk jajan-jajan buat dirinya sendiri, karena memang teman saya sendiri yang membatasi keuangan rumah tangganya agar cukup hingga akhir bulan, “masa iya uang segitu untuk 3 orang (gw, suami dan anak) di pakainya untuk jajan-jajan seperti zaman masih single dulu, bisa-bisa nggak cukup sampe akhir bulan” Ujar Neta. Perasaan tidak enak yang teman saya alami menurut saya adalah wajar karena memang ia kini bergantung secara finansial pada pasangannya,  sebelum menikah teman saya adalah seorang pekerja kantoran jadi dia yang dulu terbiasa memiliki budget untuk jajan-jajan ke salon, beli baju, sepatu, tas , make up dan makanan kesukaan dari uang hasil keringat sendiri kini setelah menikah hidupnya harus bergantung pada pasangannya.

Cerita teman saya yang kedua sebut saja namanya Rena (bukan nama sebenarnya) kerap mengeluhkan suaminya yang selalu mempertanyakan sisa gaji yang tiap bulan diberikan dan sudah habis dipertengahan bulan, padahal saya sendiri sebagai temannya tahu persis bagaimana ia sangat jeli, hemat dan cenderung irit banget terhadap keuangan dalam rumah tangganya, bahkan ia jarang sekali memberi jajan anaknya apalagi jajan untuk dirinya sendiri itu bahkan tidak pernah ia lakukan, tiap saya kerumahnya pasti dia selalu membuat kudapan/cemilan sendiri untuk anak-anaknya.  

Lalu ketika mereka sedang meributkan ini pasti si suami selalu mengungkapkan cercaan dan ancaman-ancaman yang menyudutkan teman saya seperti mengancam akan berpaling ke wanita lain jika teman saya tidak pandai mengatur keuangan, cercaan pun ia dapatkan dari suaminya yang kerap menyebut rena adalah “wanita boros, bodoh dan tidak berguna yang katanya enak-enakan dirumah sedangkan suaminya bekerja banting tulang sendiri”.

Diperlakukan demikian Rena hanya bisa diam, dia mengatakan bahwa dia tidak berdaya, saya sebagai temannya pernah mengatakan pada Rena untuk dia mulai membantu suaminya untuk bekerja juga mencari penghasilan tambahan seperti ikutan bisnis online, melamar kerja jadi SPG atau berjualan makanan kecil yang modalnya bisa ia sisihkan dari gaji bulanan yang diberikan suaminya. Tapi rena malah mengatakan bahwa ia tidak memiliki bakat berdagang, yang ada bukan untung malah buntung gak dapat apa-apa katanya. “Posisi saya lemah, anak sudah 2 dan sudah bersekolah semua, sedangkan saya tidak memiliki kemampuan apapun dagang gak ada modal nggak punya bakat juga. Jadi, saya bertahan dengan pasangan karena saya butuh untuk melengkapi kebutuhan hidup anak-anak saya, nggak perlu lah kebutuhan saya yang penting anak-anak saja sudah cukup, kalau harus pisah dengan pasangan apa jadinya nanti anak-anak saya tanpa sosok seorang ayah dan pastinya itu akan membuat malu keluarga besar saya” Terang Rena.

Satu lagi cerita rekan saya zaman dulu yang kini sudah pindah rumahnya nun jauh di Bali, namun cerita dia sungguh membekas di kepala saya. Sebut saja teman saya ini namanya Fella (bukan nama sebenarnya) Fella, dia seorang working mom, dia sudah bekerja sejak masih single hingga ia menikah sampai sekarang, suaminya tidak masalah dengan ia tetap bekerja setelah menikah, pasangannya sangat mendukung dia untuk bekerja dan mengejar karir serta pendidikannya. Fella bekerja bukan karena alasan terbatasnya finansial dari pasangannya tetapi karena ia ingin bisa mengaktualisasikan dirinya agar terus berkembang karena karir yang ia dapatkan saat ini adalah pekerjaan impiannya dari zaman dia TK yaitu menjadi seorang Dokter di salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Pasangannya dulu bekerja sebagai pegawai Bank. Namun, pada 2014 suaminya terkena PHK dan hingga kini suami Fella tidak lagi bekerja, bahkan Fella sendiri yang memintanya untuk tidak lagi bekerja kantoran alasannya agar bisa dengan leluasa mengantar jemput Fella, juga di waktu kosong tiap harinya sang suami dapat fokus mengurus usaha Toko Kelontong. Saya lihat suami Fella juga sangat mengerti dan menghormati Fella dengan karirnya begitupun Fella dia sangat menghargai suaminya. Dibayangan saya dulu yang awam , Fella itu dengan ketinggian karir dan pendidikannya akan bisa dengan mudah mengontrol pasangannya dan cenderung tidak menghormati suaminya?

Ternyata, itu tidak berlaku untuk seorang Fella, rekan saya itu kalau sudah di rumah (sedang tidak mengenakan pakaian dokternya) benar-benar tahu posisinya sebagai seorang Istri dan Ibu dari 2 orang anak laki-lakinya. Fella menjalankan perannya sebagai seorang istri yang bijaksana dan tahu kebutuhan suaminya, saya sempat bertanya pada Ikhsan (bukan nama sebenarnya) suami Fella  yang kebetulan adalah teman saya juga dulunya heehee..saya tanya apakah dia tidak minder/merasa tersaingi atau cemburu dengan karir istrinya? Dia mengatakan Tidak, alasannya karena menurut Ikhsan ketika kita memutuskan menikah kita harus kaji lagi tujuan dan komitmen kita menikah itu untuk apa saja. “Misalnya istri saya pendidikannya baik dan karirnya bagus, yang bahagia dan bagus siapa, bukan hanya istri saya saja yang bahagia, tapi saya pun sangat bahagia menjadi suaminya orang-orangpasti bakal tanya “Istrinya siapa dulu” heeheee.... jadi nggak ada yang namanya minder, yang ada saya bangga ke dia karena istri saya mandiri namun tetap menghormati saya sebagai pasangannya” kata Ikhsan.

Menurut ikhsan kalau tujuan menikah untuk mengejar harta dunia, jabatan/posisi, nafsu kecantikan/ketampanan belaka saja, yaa...yang ada kita merasa keberatan dan tersaingi terus, hidup dengan istri atau suami sendiripun serasa kompetitif. “Padahal tujuan dan komitmen kita menikah menurut agama yang saya yakini adalah untuk ibadah kepada Tuhan, segala aktivitas yang kita lakukan di dalam pernikahan fokusnya satu saja tujuannya untuk Ibadah kepada Tuhan. Bekerja, membuka usaha, mengurus anak dan rumah tangga semata-mata karena Tuhan, karena DIA lah yang mempertemukan kita berdua hingga kita yang beda ini bisa di satukan dan kita dipertemukan untuk saling melengkapi kebutuhan masing-masing. Saya butuh istri saya untuk melengkapi kekosongan hati saya akan kasih sayang, kelembutan, perhatian seorang perempuan itu saya dapat di diri Fella (karena saya dari kecil tidak menemukan kasih sayang seorang ibu, ibu saya sudah meninggal dunia sejak saya bayi)”.

Begitu juga dengan teman saya Fella, dia butuh suaminya sebagai tempat ia berlindung dari penatnya kesibukan sehari-hari, orang yang membimbing dan mengarahkan dia dalam hidup, tempat ia belajar tentang ilmu agama, tempat ia bertukar pikiran tentang segala hal. Beragam masukan-masukan dari suaminya selalu tepat dan ia sangat terbantu karena suaminya cukup rasional dalam memberikan pendapat-pendapatnya ketika ia sedang mengalami masalah dalam pekerjaannya. Maka tidak heran pernikahan mereka kini sudah masuk tahun ke 13, masih terlalu muda untuk menyebut ini pernikahan sukses, namun dari cerita 3 orang teman saya tersebut saya memperoleh pembelajaran yang kini saya terapkan di dalam relationship saya sampai saat ini dalam menjalani rumah tangga,

  1. Dengan saya tidak terlalu bergantung pada pasangan secara finansial , itu sama artinya saya membantu suami memperbaiki dan memberi sumber pendapatan tambahan untuk perekonomian keluarga kecil yang sedang kami bangun. Jadi, perjuangannya terasa sekali membangun pernikahan ini. Ketika perjuangan itu kita rasakan bersama, maka saat kita sedang dihadapkan pada satu masalah serius maka kita bisa mengingat perjuangan mencari rezeki berdua ini yang pada akhirnya akan membuat kita paham bahwa kebersamaan dan saling melengkapi kebutuhan masing-masing ini sangat indah, cara ini bisa menjadi solusi serta pengingat untuk kami meredakan ego dan konflik yang mungkin sedang terjadi.
  2. Dengan saya  tidak terlalu bergantung pada pasangan saya, itu sama halnya saya menghargai dan menghormati diri saya sendiri, untuk terus mengaktualisasikan diri dan secara tidak langsung ini mampu meningkatkan harga diri saya di hadapan suami, saya menghindari anggapan bahwa saya sebagai perempuan tidak bisa apa-apa. Ketika suami saya bilang saya bisa, atas izin Tuhan saya pun bisa melakukannya. Meski demikan, saya tetap berada di jalur dan peran saya sesuai kodrat sebagai perempuan yang tetap memiliki kelembutan, menghargai dan menghormati pasangan saya, mengutamakan keluarga kecil saya serta tetap memperhatikan mereka dengan cinta kasih yang saya miliki.

 

  1. Suatu relationship dan pernikahan akan berjalan beriringan ketika 2 orang mempunyai komitmen kuat untuk saling melengkapi kebutuhan satu sama lain. seperti apa yang dikatakan Fella dan suaminya. Tidak ada satu yang terlalu bergantung melainkan keduanya saling bergantung melengkapi kebutuhan masing-masing.

 

Saya dan suami sama-sama memiliki kebutuhan akan afeksi yang cukup besar saya membutuhkan bimbingan spritual yang saya dapat dari suami, dia tempat saya berlindung,  mengarahkan dan selalu membantu saya dalam hal-hal yang saya tahu bahwa misalnya saya kurang di A dia lebih di A dan disitulah suami saya mengisi apa yang saya butuhkan. Begitupun sebaliknya misalnya  Saya memiliki kelebihan dalam hal hal B dan dia kurang di hal B tersebut saya pun membantunya mengisi apa yang ia butuhkan di hal B tersebut dan begitulah sehari-hari saya dan suami jalani. Kita berdua bukan saling bergantung melainkan saling membutuhkan satu sama lain dalam membangun keluarga kecil ini.

 

Itu yang saya lakukan agar di dalam suatu relationship tidak ada yang merasa saling bergantung dan minder. Intinya adalah ketika kita berkomitmen untuk menikah atau menjalin satu hubungan tanyakan dan kenali dulu diri kita lalu kemudian buat list-nya hal-hal apa yang kita butuhkan dari pasangan, apa tujuan kita menikah atau menjalin relationship dengan pasangan kita tersebut. Lebih bagus lagi jika kita dapat mengkomunikasikan dengan pasangan kita apa saja yang dia butuhkan dan dia kurang yang sekiranya bisa kita isi dan begitu sebaliknya. Kalau ini sudah coba kita lakukan, maka kita akan tahu kebutuhan masing-masing dan tidak ada yang saling bergantung, semua ada pada porsinya.

 

So Ladies, Dengan menjadi perempuan mandiri bukan berarti kita arogan dan tinggi hati, tetapi dengan tidak terlalu bergantung pada pasangan itu berarti kita menghargai dan menghormati diri kita sesuai porsinya. Saya sudah menjalaninya, bagaimana dengan kamu Ladies ?

Jadi, bergantung atau tidak dengan pasangan adalah pilihanmu, yang terpenting adalah kamu enjoy menjalaninya.



Rika

No Comments Yet.