"Saat Orangtua Melampiaskan Kecewanya Padaku"


Saturday, 25 Aug 2018


Pengalaman soal orangtua juga bisa salah, saya dapatkan dari cerita seorang sahabat yang bernama Ratna. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Ratna dikenal sebagai anak dengan orangtua tunggal. Hanya Ibu saja, tanpa ayah. Saat saya bertanya "Dimana Papa Kamu?", Ratna bingung hendak menjawab apa. 

Masa sekolah dasar berlalu, persahabatan kami tetap terjalin hingga SMA. Kami semakin terbuka untuk saling bercerita tentang kondisi keluarga masing - masing. Ratna kemudian bercerita perihal perceraian kedua orangtuanya..

Suatu hari sang Ibu mengajak ratna duduk bersama saat usianya sudah 17 tahun, dan menceritakan duduk perkara yang dialami selama ini. Ratna kurang mendapatkan perhatian dari sosok ayah. Proses perceraian keduanya sudah berlangsung sejak putrinya duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, Ratna merasa ada kekosongan yang mengisi hati dan kehidupannya. Ia membutuhkan figur seorang ayah yang melindungi dan memberikan kekuatan pada keluarga, tidak saja pada dirinya sendiri melainkan Sang Ibu. 

Kekosongan ini dirasakannya selama bertahun - tahun. Tanpa disadari, ia menjadi pribadi yang pemarah, dan seringkali meragukan keberhasilan hubungan antar pasangan karena gambaran sosok pria yang Ia dapatkan adalah mereka yang tidak bertanggung jawab. Saat itu, Ratna sering bercerita pada saya dan berkeluh kesah, bahwa sang Ibu juga menjadi sosok yang pendiam, kualitas hubungan mereka tidak lagi positif. 

Antara Ratna dan Ibunya seperti memiliki kehidupan masing-masing, saat Ratna mengalami depresi berat karena permasalahan dengan pacarnya yang melakukan kekerasan, Meski pada akhirnya ia putus, namun trauma dengan mantan kekasihnya tersebut sangat mengganggu dirinya. Ratna merasa seakan ia sebatang kara saat itu. Ia enggan bercerita tentang permasalahan yang tengah di hadapinya pada orang lain termasuk pada Ibunya. Karena ia tahu ibunya sudah cukup berat harus melewati masa-masa tersulit karena perceraian dengan Papa, oleh karenanya ia tidak mau membebani sang Ibu dengan masalah pribadi dengan pacarnya tersebut.

Dan terberat dalam hidupnya, Ratna cerita pada saya saat itu masa tersulit dialaminya seorang diri, ia merasa tidak mempunyai pegangan hidup, beruntungnya Ratna ia bisa dengan cepat bangkit dari ketepurukan. Saya sebagai teman dekat Ratna kala itu merasa Ratna memerlukan dukungan. Saya pikir ia tidak akan bisa jika harus menghadapinya seorang diri. Karenanya Saya dan Ibu saya mengantarnya konseling ke psikolog, kebetulan psikolog tersebut teman Ibu saya. Saat itu Ratna mengatakan pada saya kalau ia sangat bersykyr dan bahagia bisa di perkenalkan dengan psikolog tersebut. Hingga kami sama-sama dewasa kami pun jadi jarang bertemu namun kita hanya sesekali kontak-kontakan via telepon.

Saya ingat betul, dua tahun setelah masa itu, kami bertemu kembali dalam suasana yang sedikit berbeda. Ratna dan Ibunya telah menjalani masa pendewasaan. Ratna mengatakan pada saya bahwa sejak saya dan ibu saya mengantarnya konseling ia rutinkan untuk datang ke psikolog bukan hanya seorang diri tetapi bersama sang Ibunda. “2 tahun lamanya aku konseling, setelah aku dinyatakan sehat dan lebih bisa menerima diri dan masa laluku, akupun mengajak Mama ikut konseling juga. Mamaku sangat senang aku pertemukan dengan psikolog” Ungkap Ratna. Setelah menjalani konseling bersama, Ratna berinisiatif untuk mengajak Sang Ibu berbicara dari hati ke hati dan merencanakan masa depan bersama.

Betapa senang saya mendengarnya, karena Ratna mengungkapkan kini ia dan mama nya telah dengan legowo memaafkan masa lalu dan ingin memperbaiki hubungan dan komunikasi mereka yang sempat merenggang untuk masa depan yang lebih baik. Saling melepaskan ego, Mamanya pun  meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan terhadap Ratna hingga dirinya hampir melupakan anaknya karena terlalu membesarkan ego dan rasa bersalah karena perceraian yang terjadi dengan Papanya Ratna. Mamanya cerita alasan perceraian dan ketidaksanggupannya menjalani hidup bersama pasangan (papa dari ratna) karena luka batin yang begitu besar yang Papanya perbuat pada diri Mamanya. Kini mereka berdua sudah sama-sama saling memaafkan dan menerima diri mereka dengan segala kepahitan yang pernah terjadi di masa lalu. Saat saya bertemu juga dengan Mamanya Ratna, saya pun merasakan aura positif, Mamanya Ratna kini sudah tidak lagi terlihat kurus dan pucat, kini saya lihat ia malah jauh lebih berisi, mukanya nampak lebih segar dan selalu melemparkan canda. Tidak seperti pertemuan dengan saya beberapa tahun yang lalu, boro-boro menegur atau bercanda bahkan untuk tersenyum pun tidak pada saya.

Setelah kejadian yang ia alami pada diri dan Ibunya, kini Ratna sudah benar-benar membenahi diri. Ratna saat ini bekerja sebagai Humas di salah satu maskapai penerbangan, ia pun kini juga sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Ratna menikah atas pilihannya sendiri, ia tidak mengalami trauma karena ia cerita pada saya bahwa, ia yakin segala yang terjadi dalam hidupnya selalu ada berkat di dalamnya. “mungkin jika tidak mengalamai hantaman seperti dulu aku dan Mama tidak akan menjadi perempuan seperti sekarang. Buatku Mama adalah perempuan kuat dan ia sosok Mama yang mau dengan rendah hari meminta maaf padaku atas kesalahannya yang pernah mengabaikanku karena terlalu terbelenggu dengan kekecewaan masalalu dengan papaku” terang Ratna.

Ratna dan Ibunya Sama-Sama Belajar Dari Pengalaman Masa Lalu

Mama Ratna pun juga mengatakan padaku bahwa ia berterimakasih karena aku telah membantu Ratna menjembatani ia untuk Konseling ke psikolog, yang pada akhirnya mereka berdua sama-sama healing dari kekecewaan dan trauma masa lalu mereka masing-masing. “Terimakasih karena telah membantu Ratna di saat terberat dalam hidupnya yang seharusnya saat itu Mama yang ada mendampingi Ratna.

Pesan untukmu, Jadilah orangtua yang tidak egois jika memang kondisi saat itu kita orangtua yang sedang kecewa dengan pasangan atau keadaan diri kita jangan sampai melupakan anak sebagai bentuk pelampiasan terakhir karena kita kecewa pada pasangan (suami) kita. Anak-anak adalah anugerah dari Tuhan bukan untuk di jadikan objek sasaran amarah dan kecewa kita dari laki-laki. Mereka seharusnya jadi sumber kekuatan terbesar kita. Dengan bersikap baik pada anak-anak kita, mengarahkan mereka untuk menjadi versi terbaik yang mereka inginkan, tidak memaksakan dan menekan anak-anak untuk menjadi apa yang kita mau, selalu menjaga komunikasi seperti layaknya seorang sahabat dekatnya. Karena kenyamanan mereka di pelukan kita membentuk kesehatan mental mereka” terangnya. Mama Ratna belajar dari pengalaman pribadi, dengan harapan tidak ada lagi orangtua yang menyia-nyiakan anak-anak mereka.

“Mama menyesal sekali dulu itu, tapi kini Mama sudah bisa berbesar hati dan menerima masa alalu mama bahwa itu bagian dari perjalanan hidup Mama, kini juga Ratna sudah menemukan pasangan hidupnya yang sangat baik bisa menjaga diri Ratna anak-anak mereka dan menjaga Mama” Terang Mama Ratna pada saya. 

Tuhan tidak tidur, Ratna kehilangan sosok Ayah dan Ibunya kehilangan sosok Suami Namun kini Tuhan menggantinya dengan sosok laki-laki baik yang menikahi Ratna, Saya pun sebagai sahabat Ratna dari kecil ikut merasakan juga bahwa pasangan Ratna adalah Suami, Ayah dan sosok menantu yang baik untuk Ratna dan keluarganya.

Ratna tidak punya alasan untuk tidak memaafkan Mamanya. Dari pengalaman ini ia menyadari bahwa siapapun dapat melakukan kesalahan, sekalipun orangtuanya. Ia belajar untuk tidak menyalahkan pihak lain, dan mengambil hikmah bahwa semua yang terjadi adalah rencana Tuhan. 

Ratna juga berkata pada saya, "Jangan pernah menganggap orangtua kita adalah manusia super. Dalam menjalankan hidupnya - baik sendiri maupun bersama kita, anak - anaknya - mereka membutuhkan bantuan. Bukalah hati kita dan bicaralah dari hati ke hati. Pastikan kita ada untuk membantu mereka, dan tidak serta merta menyalahkan atas segala hal yang terjadi pada keluarga. Karena orangtua juga manusia, mereka bisa melakukan kesalahan dan kita sebagai anak wajib mengingatkannya dengan penuh kesabaran." Ungkap Ratna. 

Ratna dan Ibunya membuktikan bahwa antara anak dan orangtua bisa belajar saling berkolaborasi dalam menentukan pilihan hidup, tidak dengan emosi dan saling mengingatkan serta menguatkan dan mendukung di segala kondisi, baik dalam kondisi tertinggi maupun dalam kondisi terendah diantara keduanya. Komunikasi dua arah diperlukan dan rendah hati untuk saling memaafkan karena tidak bisa dipungkiri orangtua juga manusia bisa salah. Dari sini kita juga belajar bahwa anak-anak korban perceraian tidak selalu hidupnya akan menjadi tidak baik, Ratna membuktikannya ia kini karirnya mumpuni dan mendapatkan pasangan hidup yang menurut saya sangat baik untuk Ratna dan keluarganya. “semua ini bisa terjadi karena pilihan, Ratna sebagai anak memilih untuk bangkit dan survive meski pernah terluka dan Ibunya sebagai Orangtua bisa bangkit dan memaafkan dirinya meski pernah kecewa.

 



Nathalie Indri

No Comments Yet.