Rumah Tanggaku Hampir Retak Karena Orang Ketiga


Wednesday, 20 Mar 2019


Perkenalkan saya Tina. Ketika usia 24 tahun saya memutuskan untuk menikah dengan lelaki bernama Tono (bukan nama sebenarnya) dengan usia 2 tahun diatas saya. Tidak ada keraguan saya untuk memilih jalur menikah padahal saat itu saya berstatus masih mahasiswi disalah satu Universitas Swasta Jakarta. Setelah melewati proses pernikahan yang membuat saya bahagia dihari itu, saya memulai hari-hari berumah tangga dengan status suami yang saat itu juga masih kuliah dan bekerja. Satu bulan berlalu saya dinyatakan positif hamil. 9 bulan saya mengandung dilalui dengan dengan kebahagiaan, anak pertama saya perempuan. Tepat 3 bulan usia anak pertama saya, saya kaget dengan hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan saya positif hamil lagi usia 2 minggu.

Hari-hari saya saat itu begitu bahagia. Dengan senang hati saya membesarkan putri kecil kami dengan keadaan hamil besar. Karena mengurus rumahtangga, kuliah saya pun saya tinggalkan saat itu saya pikir ini bagian mengabdi pada suami, saat itu saya tahu ia menyayangi saya dan anak-anak itu terasa sekali. Kalau diingat kembali sepertinya jauh sekali kalau akan ada orang ketiga di dalam rumah tangga kami.

Bagai disambar petir, ketika suami saya tidur saat malam hari, messenger di BBM nya berbunyi. Tanpa menaruh curiga saya pun membuka messenger tersebut, ternyata pesan yang dikirimkan oleh seorang perempuan yang menanyakan “lagi apa sayang” . Seketika saya membangunkan suami saya, dan terjadilah perang mulut antara saya dan suami, yang sampai akhirnya saya memilih mengalah mendengar penjelasan suami saya karena saya terlalu sibuk dengan mengurus anak-anak, maka suami saya memilih mencari pernghiburan dengan seorang mahasiswi. Keesokan harinya, saya mencoba mengalah dan merubah pola hidup dan perhatian saya. Saya lebih memperhatikan suami ketika dia pulang kerja dan membuka komunikasi yang mungkin tidak sebaik dulu saat masih pacaran dan belum memiliki anak.

Saya lebih intens untuk menghubunginya ketika jam istirahat kantor, melayaninya ketika ia pulang kantor dan lebih banyak waktu berbincang ketika ia di rumah sayapun berusaha sejak saat itu membagi waktu agar bisa mengurus diri saya namun tetap tidak melupakan kodrat saya sebagai seorang perempuan dan Ibu untuk mengurus anak-anak saya.

Bukankah lebih baik saya perbaiki keadaan dulu,  diri saya,dan hubungan ini supaya bisa kembali harmonis dan sehat. Saya pikir ‘ah mungkin beberapa waktu yang lalu suami sempat nakal karena kelalaian sayajuga yang terlalu sibuk ngurus rumah dan anak sampai lupa ngurus suami, makanya saya berusaha keras memperbaiki  hubungan komunikasi saya dengan pasangan’. Namun, apa mau dikata mungkin saya terlambat melakukannya atau memang suami saya tipe pria yang tidak puas dengan 1 perempuan ?

Singkat cerita  anak-anak sudah mulai tumbuh remaja, banyak aktifitas yang dilakukan oleh teman-temannya, sehingga  waktu luang saya dirumah lebih banyak. Waktu berjalan suami saya sering pulang malam dari biasanya, ketika ditanya alasan lembur dan lain-lain. Kecurigaan saya pun bertambah ketika tepat jam 02:00 dini hari saya terbangun karena bunyi messenger dari hp nya. Ketika saya cek, ternyata hpnya sudah menggunakan sandi. Berulang-ulang saya coba masukan password dengan hati yang menahan tangis. Entah dari mana berulang-ulang saya coba masukan angka demi angka, saya menemukan sandinya dan terbuka. Hati saya teriris, saya teriak malam itu ketika membaca pesan di hpnya, ya dengan pesan yang begitu banyak muak untuk dibaca, dan terakhir  dengan bunyi “sayang sudah sampai rumah?” , disaat dia terjaga dari tidurnya karena teriakan saya, saya lempar hp tersebut ke lantai. Dengan perasaan entah bagaimana yang tidak bisa saya sebutkan saya berlari kedapur mengambil pisau dan lari keluar. Sekuat tenaga saya lari, sekuat tenaga juga dia menggejar saya. Dengan hati penuh emosi saya mengikuti ajakan dia pulang kerumah.

Didalam kamar saya teringat dengan anak-anak. Dia meminta maaf, setelah saya tanya 2 tahun sudah mereka berpacaran. Ya dengan wanita yang bekerja sebagai SPG rokok. Dia berjanji akan meninggalkan wanita itu. Hari-hari saya keesokan harinya hampa, sudah tidak ada lagi harmonis dalam rumah tangga, sudah tidak ada lagi kepercayaan saya terhadap dirinya, demi anak-anak saya bertahan dirumah neraka tersebut. Semakin hari wanita selingkuhannya semangkin menjadi-jadi meneror saya, postingan mesra dengan suami saya pun dia buka di sosmed. Bukti demi bukti terkuak dengan sendirinya, mulai dari kado perhiasan, tranferan uang yang cukup besar, serta pembelian mobil untuk wanita itu. Saya mencoba untuk berabar menjalani hari demi hari, hanya janji-janji dari suami yang mau untuk berubah tapi tidak kunjung berubah.

Setahun kemudian, setelah selalu ribut dengan suami dan selingkuhannya, saya memilih untuk diam. Saya tidak peduli apa yang mereka lakukan, saya tidak peduli berapa yang dia berikan ke wanita itu. Yang saya pikirkan hanya masa depan anak-anak. Yang terpenting adalah suami saya masih pulang kerumah dan masih mencukupi kebutuhan saya dan anak-anak, dirumah suasananya ya sudah masing-masing. Meski masih tidur satu ranjang namun hubungan ini sudah membeku. Aku hanya selalu berdoa pada Tuhan agar ada hal yang bisa membuat suamiku berubah dan belajar bahwa hidup ini singkat, jika hanya diisi untuk hal yang hanya akan menyakiti pasangan sahnya.

Setelah melihat ketidakpedulian saya terhadap suami, karir suami saya  hancur,  suami saya kena PHK di kantornya, dan sejak saat itu ia mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan SPG rokok itu, katanya si perempuan tersebut yang meninggalkannya. Tetapi saya sudah tidak lagi peduli, jika memang ceritanya seperti itu saya anggap itu bagian dari skenario yang Tuhan buat untuk ia dan pasangan selingkuhannya, harapannya semoga ia bisa berpikir dari semua kejadian yang dialaminya.

Ditengah ketidakpedulian saya namun saya tetap baik memperlakukannya, saya tetap mengurusnya. Bahkan sambil bantu dia yang lagi nganggur saya ambil pekerjaan sampingan mencuci dan menyetrika pakaian tetangga. Uangnya lumayan untuk kebutuhan kami sehari-hari. Setahun ia menganggur, akhirnya ia mendapatkan pekerjaan kembali dengan angka gaji yang jauh lebih kecil daripada sebelumnya. Saya tidak masalah dari dulu juga saya tidak pernah mengeluhkan tentang berapun gaji yang ia berikan pada saya, saya selalu bersyukur. Karena melihat kedinginan dan kebisuan yang saya tunjukan meski saya tetap masih mau mengurusnya dan masih mengabdi padanya, distu mungkin hatinya terketuk.

Saya ingat betul saat itu ketika anak-anak sudah pada tidur iya mengajak saya berbicara, sebelumnya selama ia menganggur hingga akhirnya bisa bekerja lagi, saya nggak pernah berbicara sedekat ini dengannya. Ia meminta maaf, bersujud di kaki saya meminta mengampuni kesalahannya. Ia mengatakan bahwa saat itu dirinya di butakan oleh hawa nafsu, ketika jaya ia malah melupakan istri yang sudah bertahun-tahun merawatnya dan memilih tidak melanjutkan kuliahnya dan tidak bekerja hanya untuk mengabdi padanya, ia malah mengabaikan kasih sayang yang saya beri ke dia hingga akhirnya Tuhan menutup rezeki kami karena kelakuannya.

Saya katakan pada suami saya bahwa semua jalan ini memang sudah di gariskan Tuhan untuk hidup saya, agar saya bisa lebih dekat pada NYA dan kamu bisa menjadi lebih dewasa dalam bersikap, anak kamu sudah dua kamu seharusnya bisa menjadi conton untuk anak-anakmu, jangan sampai anakmu mengikuti perilaku orangtuanya. Selama ini aku menjaga perasaan mereka, aku tidak ingin anak-anakku hidup dan melihat orangtuanya berpisah, ribut yang pada akhirnya membuat mereka merasa bukan jadi anak dari keluarga dengan orangtuanya baik-baik saja. Aku hanya tidak ingin anak-anak tumbuh dalam trauma hingga mereka harus mengalami apa yang orangtuanya alami.

Aku bukan diam saja, aku hanya mencoba belajar lebih tenang, sabar dan ikhlas karena menjaga agar mereka tidak harus tahu mengenai hubungan kita yang tidak baik. Aku ingin kedua anak kita menjadi sosok anak yang kuat dan menjadikan kita berdua panutan dalam hidup mereka” terangku pada suamiku saat itu.  Saya memaafkannya tapi memang tidak melupakan perselingkuhan yang pernah ia perbuat.

Suami saya mulai berubah membaik. Ia mendapatkan pekerjaan kembali, Waktu libur kantor kini digunakan untuk anak-anak dan membawaku pergi jalan-jalan. Pulang sudah kembali seperti awal, dan mulai banyak menceritakan pengalamannya dikantor hari itu. Saya hanya berdoa dan berharap semoga ini menjadi awal kami menjalani rumah tangga yang baru lagi dengan suami walau rasa cinta sudah tidak ada saat itu. Aku hanya mengandalkan Tuhan agar aku bisa membuka hati kembali agar bisa mencintainya lagi dan belajar mempercayainya kembali. Seiring waktu ia memang sudah berubah, sudah tidak lagi ketakutan hpnya aku buka tetapi aku juga sudah tidak mau mencari tahu, karena aku yakin kecurangan akan di tunjukan dnegan sendirinya tanpa harus aku mencari tahu.  Dia pun menawarkanku untuk melanjutkan kuliah yang sempat tidak aku selesaikan demi menjadi istri dan ibu yang baik. Aku pun menyetujui tawarannya kebetulan anak-anak juga sudah tumbuh remaja.

Kali ini saya rasakan saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, di tengah ada waktu luang saya menyempatkan diri untuk bisa pergi ke salon merawat diri dan melepaskan kepenatan dengan mengikuti kegiatan bersama Ibu-ibu dilingkungan tempat saya tinggal. Saya juga mengikuti majelis ilmu kajian kerohanian agar bagian kosong yang ada di hati saya tidak benar-benar kosong karena saya tahu Tuhan bersama saya dan DIA lah penguat hati saya hingga bisa menerima suami saya kembali setelah ia mengecewakan. Mungkin sebagian perempuan menganggap saya terlalu lemah demi anak saya rela berkorban perasaan, tetapi semua ini sudah saya ukur sesuai dengan porsi saya, kebetulan memang jalan hidup saya seperti ini.

Pembelajaran yang saya dapatkan dari kejadian yang lalu tersebut adalah :

Saya kini menjadi pribadi yang lebih realistis tidak menaifkan diri bahwa hubungan ini akan seperti cerita drama korea yang sering saya tonton yaitu berakhir bahagia. Karena kebahagiaan saat ini bagi saya adalah bisa melihat anak-anak tumbuh remaja dengan memiliki kedua orangtua yang memang menyayangi mereka tanpa harus berkonflik di depan mereka, saya ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi dengan versi mereka sendiri tanpa harus meng-copy yang buruk dari pengalaman kedua orangtuanya. Bagaimanapun suatu saat misalnya  nanti kejadian serupa saya alami kembali, setidaknya kini saya punya bekal secara mental dan kemadirian secara finansial dari kejadian lampau sehingga bisa menjalaninya lebih kuat dan punya bekal lebih lagi dari sebelumnya.

 



Tina

No Comments Yet.