Resume Urban Women Book Club Juli 2018


Monday, 30 Jul 2018


Sabtu (28/7) lalu Urban Women kembali mempertemukan para anggota dan rekan perempuan yang memiliki hobi membaca buku dalam acara Urban Women Booclub, acara yang di hadiri 8 peserta tersebut  cukup seru.  Peserta saling bertukar pandangan dan diskusi buku-buku bertemakan Biografi/Tokoh sesuai dengan tema UW Bookclub bulan Juli ini yang sudah mereka baca. 

Ada kurang lebih 8 buku yang kami diskusikan dan ulas disini. Diantaranya buku berjudul “In My Shoes”yang dibaca oleh Risa, “Hatta Jejak Yang Melampaui  Zaman” yang di baca oleh Tahsya. Kemudian Buku yang dibaca oleh Cindi bertajuk “Dunia Dalam Genggaman Soekarno”,  “Goodnight Stories For Rebel Girls yang dibaca dan di review oleh Wan Tien, Lalu buku bertajuk “Jokowi  Anak Ideologis Bung Karno” yang dibaca Kartika, serta buku Biografi “Daud Beureuh dan Njoto” yang dibaca Lala.

Berikut ulasan dan review buku dari para peserta :

Buku bertajuk In My Shoes karangan Tamara Mellon yang di review oleh Risa Sabtu lalu berisi perjalanan karir dan hidup penulis seorang Tamara Mellon yang kini dikenal sebagai CEO pencipta trend fashion sepatu “Jimmy Choo” yang di gunakan para tokoh di serial serial televisi “Sex and The City”  yang cukup naik daun saat itu. Bagimana ia yang dulu sempat memiliki ketidakpercayaan diri saat awal memulai karirnya, pertempuran batin saat ia depresi, rehabilitasi ketergantungan obat-obatan karena perceraian yang terjadi pada keluarganya namun dari perjalanan panjang yang berat tersebut ia survive dan Mellon pun mengasah bisnis dan mulai  berinvestasi di dunia mode. Pelajaran yang bisa dipetik dari buku bersampul hitam putih  tersebut menurur Risa adalah bahwa kesuksesan akan datang dengan harga tinggi — setelah bergumul dengan beragam masalah yang pernah di hadapi, yang penting tetap Survive sambil terus berusaha, berdoa, terus belajar/mencoba dan memperbaiki diri dari kesalahan di masa lalu.

Berlanjut ulasan buku bertajuk  “Hatta Jejak Yang Melampaui Zaman” yang telah dibaca oleh Tahsya. Menurutnya buku tersebut berisi perjalanan karir, romantisme cinta dan keluarga salah satu founding father-nya Indonesia yaitu Bung Hatta. “Aku suka banget dengan bung Hatta ini, beliau bisa dikatakan sebagai sosok Negarawan ideal.  Mengapa tidak ? karena di buku ini di ceritakan bagaimana seorag Hatta yang memang minim untuk berdiplomasi dan tampil ke publik namun siapa sangka ide-ide dan pemikirannya dijalankan Bung Karno dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia” terang Tahsya. Dari buku tersebut Tahsya juga megungkapkan bahwa  Hatta adalah sosok ideal pria yang bisa menjadi role model para perempuan untuk mencari pendamping hidup. “Pendidikan karakter yang di terapkan bung Hatta sangat bagus, dalam buku ini dikatakan bahwa Hatta mampu menyeimbangkan antara urusan negara dan rumah tangganya. Hatta juga sosok pria ideal ia termasuk pria yang setia dengan istri yang dinikahinya hingga akhir hayat. 

Dari segi Parenting Hatta juga cukup baik, ia membebaskan anak-anaknya yang notabene semuanya adalah perempuan dalam hal mengejar karir dan passion impian mereka. Ia tidak memaksakan untuk anak-anaknyauntuk sama seperti dirinya berada di jalur politik. Hatta memberi kebebasan penuh untuk mereka memilih karir yang memang mereka minati. Terbukti beberapa anak Hatta saat ini cukup maju dan mumpuni namun sama seperti ayahya yang low profile dan tidak mengembar gemborkan hasil kerja mereka ke publik.  Prinsip Hatta adalah “Talk Less Do More” ungkap Tahsya.  Point pembelajaran dari buku Hatta ini menurut Tahsya adalah bahwa dalam berkarir/bekerja atau mencari pasangan hidup pendidikan karakter dulu yang diutamakan untuk dilihat, selebihnya penampilan luar dan Skill berpikir kritis dapat dipelajari/di asah dan dipoles tapi kalau sudah bicara karakter baik ataupun buruk itu melekat di dalam diri tiap pribadi”.

Berikutnya, Cindi. Ia mengulas buku bertajuk “Dunia Dalam Genggaman Soekarno”. Sukarno adalah pasangan Bung Hatta dalam memimpin Indonesia saat pertama kali merdeka. Menurut Cindi buku ini mengulas tidak hanya perjalanan Sukarno bagaimana ia yang cukup dikanal degan cara ia berdiplomasi dan mempengaruhi pemimpin dunia saat itu dengan beragam pernayataanya. Sukarno cakap dalam hal bertutur, ia berkolaborasi dengan Hatta yang memang tidak banyak bicara namun ide-idenya brilian. “Pembelajaran yang saya dapat dari buku ini adalah bahwa sosok sukarno yang fokus dan prinsipil dalam memimpin negara tidak terlepas dari peran Hatta yang menjadi penyeimbang dirinya. Saya percaya memang dalam hidup kita harus berpartner dengan baik pada orang yang bisa menjadi penyeimbang kita. Agar apa yang kurang di diri kita bisa saling dilengkapi dengan partner kita tersebut” terang Cindi.

 “Goodnight Stories For Rebel Girls” yang dibaca dan di review oleh Wan Tien juga cukup menarik perhatian peserta lainnya. Karena selain buku tersebut berisi tetang perjalanan karir, quotes hidup mereka dan biografi tokoh-tokoh perempuan yang terkenal di seluruh dunia, buku tersebut juga di designe cukup menarik dengan painting picture dengan warna-warna yang indah sehingga membuat sasaran pembaca yang notabene anak-anak bisa membaca dan memilih role model tokoh perempuan yang ada di buku tersebut. “Mereka (anak-anak dan kita yang baca) bisa memilih ingin menjadi seperti siapoa diri kita atau setidaknya kita terinsipirasi dari mereka. Saya suka di bagian buku tersebut ketika membahas perjalanan hidup dan karir “Michele Obama”. Bagaimana Miscele muda yang saat itu tidak terelalu pandai secara akademis di sekolahnya namun ia sudah memiliki mimpi besar bahwa suatu hari nanti ketika ia beranjak dewasa ia ingin bisa menjadi sosok yang menginfluence orang banyak khususnya mereka yang minoritas agar tidak minder dalam menjalani kehidupan” terang Wan Tien. Siapa sangka ia kini pernah menyandang sebagai the first lady di Amerika yang mendampingi suaminya menjabat Presiden Amerika saat itu Barack Obama. Ia bukan hanya memberi pengaruh luas pada bangsanya tetapi juga seluruh masyarakat di seluruh dunia. “Pelajaran yang bisa di petik dari buku ini adalah bahwa kita sebagai perempuan penting untuk memiliki 3 role model  dalam hidup entah role model kita itu tokoh/orang baik perempuan atau laki-laki yang mampu menginspirasi kita, mau jadi seperti apa kita hari ini, esok dan di masa depan. Agar mapping hidup kita secara karakter dan karir itu jelas” ungkap Wan tien.

Berikutnya buku bertajuk “Jokowi  Anak Ideologis Bung Karno” yang dibaca Kartika. Menurut Tika buku tersebut berisi tentang perjalanan seorang Jokowi yang anak desa kini bisa menjabat sebagai Presiden RI. Point pembelajaran dari buku tersebut adalah “Bahwa kesederhanaan dan mengasah karakter baik itu perlu, karena bisa menjadi nilai tawar di tengah masyarakat kita yang sudah tidak lagi percaya dengan hanya sekedar janji semata” . 

Terakhir adalah buku Biografi “Daud Beureuh dan Njoto” yang dibaca Lala.  Seperti diketahui bahwa Daud Beureuh dan Njoto ini adalah sosok yang cukup dikenal oleh bangsa ini, terkenal karena mereka dianggap sebagai “pemberontak”/ memiliki pemikiran ke-kiri-an  yang di konotasikan negatif sebagai orang-orang yang ingin mememcah NKRI. Padahal sebenarnya jika dibaca buku biografi diri mereka, Njoto dan Daud Beureuh adalah manusia biasa juga yang sama seperti orang-orang kebanyakan.  Buku ini lebih kepada membahasa sisi kehidupan sehari-hari kedua tokoh tersebut . Bagaimana sosok mereka dimata teman, lingkungan keluarga dan bagaiamana kehidupan percintaan dan rumah tangga mereka. Ternyata seorang tokoh terkenal yang dianggap pemberontak itu malah merupakan sosok yang humanis, setia pada pasangan dan romantis. Sebutan pemberontak di sematkan pada mereka karena pandangan dan pendapat mereka yang ke-kiri-an sehingga menghkawatirkan terancamnya NKRI, padahal jika ditelusuri kembali, berbeda pandangan/pendapat di kumpulan masyarakat/organisasi yang dalam hal ini adalah suatu yang lumrah dan wajar asal tidak saling memaksakan pandangannya. Dari buku tersebut kami belajar “Bahwa dalam hidup akan selalu ada perbedaan pandangan/pendapat, namun bijaknya jika kita menemukan rekan kita yang berbeda tersebut kami pikir tidak  wise jika kita cukup mempercayai hanya apa kata umum saja, alangkah lebih baik kita mengkonfirmasi kebenarannya dulu dan melihat sisi positif dari perbedaan tersebut”.

Itu tadi ulasan review buku peserta yang hadir di Urban Women Bookclub kali ini. Sampai bertemu di UW Bookclub meet up berikutnya pada  25 Agustus 2018 mendatang dengan tema buku “Comedy/ Komik Populer Favorit” untuk mendaftar jadi anggota Urban Women Bookclub bisa menghubungi nomor whatsapp 0815-172-52-504. Lets be smart and Inspiring Ladies!.



Unknown

No Comments Yet.