Rekan Kerjaku Bermuka Dua


Thursday, 27 Sep 2018


Rekan Kerjaku Bermuka Dua

Saya ingin cerita tentang pengalaman saya menghadapi rekan kerja yang lain di muka lain dibelakang. Bermuka dua berdasarkan pengalaman pribadi  adalah orang-orang yang di depan saya bisa bersikap seperti tidak ada apa-apa (tetap baik, ketawa ketiwi) tetapi ketika saya tidak sedang bersama mereka, saya yang di tuduh macam-macam dan dibicarakan buruk. Kalau yang saya alami rekan-rekan saya tersebut, membuat kesimpulan sendiri dan melebih-lebihkan apa yang mereka lihat di diri saya.

Ini kejadian 9 tahun yang lalu yang saya alami di kantor saya sebelumnya. Saya mungkin termasuk wanita yang terlalu naif melihat orang lain. Saya mudah mempercayai orang, saya gampang iba dan tidak bisa membaca perilaku serta tidak dapat membedakan mana yang benar-benar baik dan tidak. Saya anggap semua orang itu sama seperti saya, entah saya yang terlalu polos atau memang mereka yang memiliki karakter kurang baik, sampai pernah ada  teman mengatakan kalau saya ini anaknya kelewat jujur dan terbuka. Padahal saya memang seperti ini adanya, saya tidak bisa berpura-pura karena memang natural saja saya seperti ini.

Sampai pada suatu hari rekan kerja saya sebut saja namanya Reta dan Gia (bukan nama sebenarnya) menuduh saya atas hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya tidak tahu kalau di tempat saya bekerja saat itu ada senioritas dan politik yang bisa dibilang keji sekali (buat saya). Saya bekerja memang tidak ada niatan sedikitpun untuk berpolitik di kantor (saling menjatuhkan, fitnah, adu domba dan muka dua). Murni saya bekerja untuk mencari uang dan mengembangkan diri saya agar memiliki pengalaman baru yang lebih baik. Saat itu saya memang mudah akrab dengan siapa saja, tidak melihat jabatannya. Saya bekerja sebagai Asisten Divisi yang memegang 5 atasan di perusahaan Multinasional kala itu. Karena memang pekerjaan tersebut passion saya jadi saya bekerja ya tidak ada beban, kendala dan tantangan selalu ada di pekerjaan saat itu saya anggap dimanapun saya bekerja pasti akan selalu ada tantangannya sendiri. Setahun bekerja saya mendapat promosi jabatan untuk menjadi Personal Assistant Direktur saya di kantor.

Singkat cerita, Saya bekerja seperti orang-orang pada umumnya, masuk kantor ngobrol sebentar dengan teman-teman semeja tapi kalau mereka sudah mulai gosipin orang memang saya lebih memilih mundur dan kembali ke meja kerja saya. Jam istrahat pun saya makan siang di meja kerja, karena memang waktu makan siang cukup pendek, sedangkan saya berkantor di gedung lantai 17 ada rasa malas untuk turun kebawah hanya untuk makan siang yang waktunya singkat, hampir semua rekan se-divisi saya makan siangnya turun kebawah, sedangkan saya lihat atasan saya saja enjoy menikmati makan siangnya di dalam ruangannya. Saya pun lebih memilih makan siang di meja kerja saja, lebih sejuk, nggak buang-buang waktu dan saya tidak terlalu suka keramaian ketika jam makan siang. (itu saya lho ya).

Siapa sangka sikap saya tersebut malah menjadi gosip dan prasangka negatif rekan lain. Saat itu saya berpikir memangnya saya tidak boleh ya berbeda ?saya lebih nyaman seperti ini bila makan ya di dalam kantor saja, sayapun menghargai dan tidak pernah mengusik mereka tetapi mengapa mereka membicarakan hal yang buruk tentang saya di belakang. Kenapa mereka nggak memilih untuk bertanya langsung saja ke saya ?. Saya tahu beberapa teman ngomngin saya dari Reta, memang reta ini adalah teman kantor yang saya nyaman ketika ngobrol sama dia. Karena dia orangnya seru dan saya pikir dia apa adanya juga. Dia sms dan cerita  “Gin, teman-teman pada ngomongin lu tuh, Gia bilang lu ansos (anti sosial) dan pengen ngedeketin bos. Saya bilang ke Reta lho kenapa Gia bisa ngomongin aku begitu mbak Reta.

Saat itu saya hanya bisa curhat sama Reta, saya sempat bilang dengannya bahwa saya harus bicara dengan mereka, saya butuh mengkonfirmasi ke mereka, namun Reta selalu mengatakan tidak perlu dan tidak usah saya ambil pusing cuekin aja. Reta menyuruh saya untuk diam saja tidak meladeni. Saya pikir sikap tersebut baik tapi ternyata Reta tidak benar-benar menjadi teman saya. Ia ternyata bermuka dua, lain di depan dan lain dibelakang saya.

Sampai pada suatu hari saya memergoki Reta, Gia dan teman-teman yang lain masih pagi sekali sedang membicarakan saya. Mereka tidak menyangka kalau hari itu saya ternyata masuk kantor, Saya kaget mendengar bagaimana Reta menjelek-jelekan saya, dia melebih-lebihkan semua obrolan saya dengannya, saya tidak pernah berbicara seperti apa yang Reta katakan di Pantry.

Apa yang saya lakukan? Saya lebih memilih untuk pergi ke meja saya. Saya pikir kalaupun saya tegur hari itu juga saya tidak akan mendapat hasil apa-apa karena pasti rekan lainnya yang memang juga sudah dipengaruhi oleh reta dan gia tidak akan peduli, karena mereka sedang tidak suka dengan saya mau bagaimanapun saya minta penjelasannya dan menjelaskan pada mereka tentang diri saya tidak akan bikin mereka berubah untuk nggak benci dengan saya, malah akan menjadi semakin rumit dan buang-buang energi.

Ketika bertemu di meja kerja reta, gia dan teman-teman lainnya yang sudah selesai ngobrolin saya di pantry pun nampak kaget wajahnya sesekali saya lihat mereka mengerdipkan mata satu sama lain. Lalu reta kala itu masih bisa memainkan wajah baiknya pada saya seolah tidak ada apa-apa. Saya pun dengan berat menjawab semampu saya sambil saya alihkan ke pekerjaan. Jujur saya bukan orang yang bisa berpura-pura baik pada orang yang saya mendengar sendiri ia bersikap kurang baik ke diri saya. Sejak saat itu saya bersikap biasa saja pada Reta tetap profesional bekerja namun saya sudah tidak lagi curhat padanya. Meski ia masih sering datang ke meja saya untuk berkeluh kesah tetap saya tanggapi namun sudah tidak lagi mendalam. Yaa...biasa saja mendengarkan namun sudah tidak saya tanggapi, bahkan ia masih sempat memancing obrolan membicarakan rekan kerja lainnya pada saya.

Saat itu saya masih tetap bekerja seperti biasa, menunaikan tugas saya dan tidak mau peduli apa yang terjadi di kantor, yang penting saya kerja dan karir saya baik itu saja. Puncak kekecewaan saya terjadi ketika Reta dan Gia pada menyebarkan gosip di kantor dan menuduh saya ada affair dengan atasan saya yang notabene adalah Direktur perusahaan dan ia mengatakan bahwa saya mendekati atasan supaya saya bisa naik jabatan lagi di kantor. Sangat sedih mendengarnya dan marah sekali saat pertama kali saya mendengar gosip tersebut dari OB di kantor yang menanyakan langsung pada saya, Ternyata Reta dan Gia menyimpulkan hal tersebut karena mereka melihat saya beberapa waktu lalu sempat pulang kerja diantar bareng dengan atasan saya. Padahal itu baru sekali-kalinya saya diajak pulang bareng sama bos saya, tapi langsung dibuat cerita sepert itu. Gosip ini melukai hati saya, meskipun saya tidak pernah melakukannya, tetapi tidak bisa di pungkiri ini sangat membuat saya tidak nyaman di kantor saat itu. Mengapa bisa mereka berkesimpulan yang tidak-tidak tentang saya.

Belajar Dari Cara Ibuku Mengahadapi Rekan Kerjanya Dulu

Saya ceritakan ini ke Ibu saya yang memang sudah tahu asam garam kehidupan, beliau juga kan mantan pekerja kantoran yang sudah pensiun jadi pasti tahu cara menghadapi orang-orang seperti ini. Ibuku bilang selama yang mereka gosipkan adalah tidak benar lebih baik tidak perlu saya tanggapi. Awalnya memang menyakitkan katanya, tidak perlu di gubris dan bekerja seperti biasa. “Tetap baik seperti dirimu sendiri sebelumnya dengan mereka, tidak perlu menunjukkan bahwa kamu marah atau kecewa karena yang namanya gosip, berita bohong atau buruk akan selalu menimpa kita selama kita hidup. Jika tidak benar dan tidak menggangu pekerjaan kamu dengan atasanmu jalan terus, tidak perlu kamu membuang waktu dan energi untuk memikirkan bagaimana cara memperlakukan rekan kerja yang suka berbicara buruk dibelakangmu” terang Ibuku.

Tetapi mengapa mereka bisa bersikap baik di depanku, lalu berbicara buruk dan menuduhku yang bukan-bukan di belakangku padahal aku tidak pernah bersikap buruk pada mereka?

Dengan bijaknya Ibuku mengatakan begini “karena mereka lihat kehidupanmu lebih baik daripada diri mereka, makanya mereka ingin menjatuhkan mentalmu dengan cara-cara seperti ini. Kamu tidak perlu berubah menjadi maunya mereka, kamu marah, sedih, nangis, kerja jadi nggak maksimal, ujung-ujungnya nggak kuat lalu kamu resigne itu tujuan mereka. Kamu tetap jadi diri kamu sendiri, tetap berbuat baik pada mereka meski mereka tidak baik pada kamu. Selama tidak mengganggu kinerjamu tetaplah profesional. Kerjakan tugasmu di kantor seperti biasa, jadikan kejadian ini sebagai cambuk buat kamu agar menjadi pribadi yang kuat dan tegar dalam menghadapi hidup” ungkap Ibu.

Ibuku berbicara seperti ini karena dulu pun ia mengalami hal yang sama seperti yang pernah aku alami. Bahkan kalau dengar cerita Ibu dulu ia sempat di tikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri di kantor yang menjelek-jelekan Ibu ke atasannya, namun atasan Ibu tidak mempercayainya, Karena sudah tahu karakter ibuku seperti apa. Ibuku orangnya nggak terlalu mau ambil pusing hal yang seperti ini, selama apa yang ibu jalani benar, tetap bisa bekerja profesional maka ia  tidak akan terganggu dangan adanya berita miring tentang dirinya. Alhasil Ibu tetap bertahan hingga pensiun.

Ini yang saya lakukan

Akupun mulai mempraktekkan cara yang Ibu lakukan di kantor, aku coba tetap tenang bereaksi dengan bersikap baik pada rekan kerja divisiku. Pada Reta dan Gia akupun tetap baik ke mereka meski Gia ketika aku menyapanya ia tidak menggubrisnya. Namun aku coba tenangkan diri untuk nggak sakit hati dan baper. Pikirku saat itu “biarin aja deh nanti juga capek sendiri toh aku masih bisa bekerja dan mereka tidak menggangu pekerjaanku itu saja cukup buat aku”. Bagaimana dengan Reta? Ia tetap temanku, aku tetap baik dengannya ia juga masih suka ngobrol denganku, meski aku tahu ia bermuka dua. Namun, biarlah itu menjadi urusannya yang penting aku tidak perlu membuang energi dan waktuku untuk menanggapi mereka yang berperilaku seperti itu.

Terlepas dari gosip yang tidak benar tentangku yang ia sebarkan di kantor, Aku merasa tidak melakukannya, dan tidak ada yang perlu aku klarifikasi, ketika ada yang nanya ya tinggal aku jawab. Ketika mereka tidak bertanya untuk apa juga aku jelaskan, toh mereka yang tidak suka padaku tetap akan bersikap sama dan tidak akan percaya.  Dan yang memang tidak ada masalah denganku juga tidak akan membutuhkan penjelasan itu dariku, karena memang tidak ada hal yang rumit yang perlu aku jelaskan.

Alhasil, aku tetap bekerja di kantor tersebut hingga tahun 2017, Reta, Gia dan teman sedivisiku yang lain semuanya jadi berkawan baik, kenapa kok bisa gitu ? karena gosip hanyalah gosip jika tidak benar ia akan berlalu begitu saja, seiring bertambahnya usia dan mereka juga melihat aku bersikap biasa saja meski diperlakukan tidak menyenangkan, akhirnya malah mereka yang berbalik jadi baik padaku. Kami sudah saling memaafkan ketika lebaran beberapa tahun yang lalu, Gia dan Reta meminta maaf padaku. Pada tahun 2017 akhirnya aku memutuskan resigne karena memang sudah hampir 8 tahun saya bekerja di kantor tersebut. Aku mengundurkan diri karena memilih menjadi fulltime mom, Kini aku sudah menikah. Cara Ibuku menghadapi penggosip yang bermuka dua aku terapkan juga hingga sekarang dalam kehidupan bertetangga dilingkungan tempat tinggalku.

Kehidupan bertetangga maupun kehidupan politik di tempat kita bekerja sebenarnya sama menurut saya. Kita lah yang harus pandai-pandai untuk bereaksi dengan tetap baik (bukan  untuk pura-pura baik) tetapi jadi diri kita sendiri apa adanya kita, tetap tenang dan berpikir positif bahwa dalam hidup kita akan selalu dipertemukan dengan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita, namun kita lah yang memilih mau bereaksi dengan cara baik atau buruk mengahadapinya. Baik itu untuk diri kita burukpun kembalinya ke diri kita.  Kalau bereaksi baik malah kita di cerdikkin ? yang saya rasakan memang awalnya iya, tetapi ketika kita memilih tidak menanggapi mereka dengan bersikap cuek namun tetap baik (ketika mereka menyapa kita jawab, ketika mereka minta bantuan kita bantu semampu kita) setidaknya mereka akan mengingat kebaikan kita tersebut.  Selalu ada karakter baik disetiap diri orang lain, jadi inilah yang saya gunakan agar bisa terus memupuk pikiran agar tetap positif dalam kehidupan bertetangga.

Gosip dan cerita miring serta keingintahuan orang lain berkaitan dengan kehidupan saya tetap saya temui meski sudah berumahtangga, namun saya memilih untuk tetap menjadi diri saya sendiri yang baik tetapi tidak terlalu ikut masuk di dalam kebiasaan mereka. Seperlunya dan seadanya saya saja. Hidup malah lebih tenang seperti ini. Terimakasih Ibu, sudah memberitahu saya  Ilmu kehidupan untuk menghadapi dengan bijak lingkungan yang bermuka dua. 

 



Rika

No Comments Yet.