Pre Marital Sex, Aku Dulu Pernah Melakukannya Juga


Wednesday, 22 Nov 2017


Melihat maupun mendengar hal mengenai pre marital membuat saya berada dalam lingkaran yang terus berputar, saya merasa tertuduh, merasa penyesalan, merasa “itu bukan saya”, dan juga iba kepada yang lain seperti saya: “Saya tahu rasanya..”

 

Saya tidak tahu bagaimana pendapat atau perasaan orang lain yang pernah merasakan seperti saya. Saya bukan korban, sekali lagi saya bukanlah korban. Saya terlibat di dalamnya, mau diajak atau mengajak sama saja.

 

Dulu, saya menganggap saya korban, karena beberapa paman pernah menyentuh saya, saya baru menyadari saat remaja bahwa itu sebuah kesalahan. Saya baru menyadari saya punya trauma dengan orang-orang serupa dengan paman. Saya baru menyadari kejijikan saya menyentuh pakaian dalam. Saat itu saya merasa kebiasaan menyukai imajinasi, kegiatan seksual sedari kecil merupakan hal wajar jika saya mengalaminya, karena paman-paman yang senang menyentuh. Mereka lupa, dan hanya ada satu orang di keluarga yang tahu, teman lebih banyak tahu.

 

“Jika masa lalu kamu seperti itu, terus mau bagaimana sekarang dan nanti? Lalu memang ada dampaknya dengan seks sebelum nikahmu itu?” Pertanyaan dari seorang sahabat membuka mata bahwa saya punya tanggung jawab hari ini dan nanti.

 

Saya melakukannya berkali-kali. Dengan kekasih pertama, saya tinggalkan. Kedua, saya tinggalkan dengan alasan : “Dia sama saja mau melakukannya.”. Kemudian, ketiga, dan sekarang yang keempat. Saya mohon berhenti. Bukan salah mereka, saya terlibat di dalamnya. Saya bukan lagi korban, dan ternyata memang bukan korban jika saya mau.

 

Dengan lugunya saya berpikir setiap mendapat yang baru, “ Oh, dia menerima saya. Dia tidak akan berlaku sama seperti yang kemarin.” Bodoh! Bukan mereka, tetapi aku. Tidak ada yang sempurna, maka terima saja diri ini apa adanya.

 

Ruang pengakuan dosa seakan menyeramkan untuk saya, bahkan saya pun berpikir, “Bagaimana bisa saya dan guru spritual berdua di dalam ruang tertutup seperti itu?” Saya ngeri mengaku dalam keformalan, saya hanya butuh teman berbagi.

 

Saya tidak bisa terbuka terhadap keluarga. Mereka hanya tahu bahwa saya anak baik-baik. Rajin melakukan ibadah, rajin baca Kitab Suci. Saya tidak mau terbuka kepada keluarga karena akan menyakiti mama, bahkan saya tidak mau didekatkan dengan pria yang dikenal orangtua atau saudara. Bagaimana jika belangku terlihat?

 

Saya tidak peduli dibilang munafik. Saya sering membayangkan bagaimana jika keluarga tahu? Mama tahu? Saya harus siap. Saya tidak peduli dikatakan munafik, karena kecintaan kepada Tuhanku hanya ini satu-satunya supaya saya bisa bernafas, dan bisa memandang orang yang seperti saya dengan hati yang sama, hati yang hancur. Saya berkali-kali ingin mundur dari tanggung jawab, tetapi semakin hari, semakin diberi tanggung jawab yang lebih tinggi. Saya merasa, “ Tuhan bercanda?”

 

Saya tidak tahu bagaimana pendapat orang lain, mengingat betapa buruknya saya merasa tidak pantas karena sulit sekali melepas kesalahan yang masih berkali-kali terjadi. Seperti tidak punya kuasa untuk melawannya. Jangan biarkan saya meninggalkan lelaki saya kali ini, karena saya ingin bertanggung jawab, karena saya juga tidak mau ada yang kelima, keenam, dan seterusnya.

 

Saya pun takut dengan masalah organ kewanitaan, apakah masih normal atau tidak. Saya takut untuk memeriksanya. Saya merasa tembok punya mata dan telinga sejauh mana saya pergi ada yang mengikuti.

 

Jadi, pre marital sex buat saya adalah sebuah kealfaan dari seorang anak manusia yang baru akan belajar setelah pengalamannya terjadi. Saya tidak menganggapnya sebagai suatu hal kewajaran. Tidak wajar bagi saya karena orangtua yang mengingatkan saya tetapi saya tidak taat, tidak wajar bagi saya jika sudah tertulis tetapi saya masih melakukan, tidak wajar bagi saya berkali-kali melakukannya dengan orang yang berbeda. Tidak wajar bagi saya, karena perbuatan ini menyakiti orang lain, bukan hanya saya.

 

Itu cerita masa lampau saya di beberapa tahun yang lalu, kini hidup saya sudah lebih berharga dari sebelumnya. Saya yang dulu kerap frustasi dan selalu dihantui dengan ketakutan penolakan dari seseorang yang baru saya kenal dan penolakan dari keluarga, kini semua sudah berubah saya mampu move on dari semua itu karena sahabat saya. Sebut saja sahabat saya itu namanya Rena, dalam tiap hubungan Rena selalu melakukan hubungan seks dengan pria yang di pacarinya, hingga suatu hari ia jatuh sakit, sakit yang ia pikir sakit biasa, ternyata ketika berobat Rena di vonis Dokter terkena penyakit kelamin (saya tidak akan menyebutkan nama penyakitnya karena kini Rena sudah tenang di alam sana bersama Tuhan). Sakit kelamin yang ia pikir sakit kelamin biasa ternyata membawanya hingga akhir hidupnya. Sebelum ia pergi, ia sempat mendengarkan curhat saya dan memberi masukan yang sampai saat ini saya ingat selalu dan dari masukan dia inilah saya pun tidak berhenti untuk sealu bersyukur atas apa kejadian pahit yang pernah terjadi dalam hidup saya pada akhirnya saya pun mampu move on dan menata kehidupan saya yang kini sangat jauh lebih baik dari sebelumnya.

 

Rena mengatakan pada saya bahwa “Hidup ini sekali, Jika Tuhan masih memberimu kesehatan dan kesempatan untuk menjalaninya, Maka hidupilah kehidupan kamu dengan berbagi cinta pada sesama maka di situ kamu akan banyak sekali bersyukur bahwa detik ini kamu masih lebih baik daripada orang yang sedang kamu bantu/bagi cintamu,  tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya dengan orang berbeda. Jika sakit yang kita rasakan di hati obatnya adalah kembali ke jalan Tuhan, Ikuti apa yang Tuhan perintahkan jangan sekalipun mengingkarinya. Jika sakit yang kita rasakan di fisik seperti yang aku rasakan saat ini obatnya dengan “Memaafkan diri sendiri dan menerima semua yang terjadi dengan penuh keikhlasan karena segala sesuatu pasti menelurkan hikmah, mungkin hikmahnya bukan untukku tapi untukmu. Menit ini kita masih bisa curhat berarti Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan. Jadi, jangan membuang waktu untuk frustasi atas masa lalu yang suram karena jika esok kita di panggil  Tuhan untuk pulang padaNYA kita yang rugi karena semasa hidup kita hanya membuang waktu dan energi dalam penyesalan tiada akhir, Yaa..kan Move On sayang jangan seperti aku kamu masih beruntung, Tuhan masih memberimu kesehatan”.

 

Ucapan Rena yang sangat menyentuh batin sayalah yang pada akhirnya membawa saya menajdi sosok saya seperti sekarang. Kini saya sudah menikah walau belum memiliki momongan tapi saya mendapatkan suami yang sangat menyayangi dan menghormati saya.  Saya menikah dengan teman sepermainan saya waktu kecil dan ketika masa pacaran kami sama sekali tidak melakukan hubungan seksual seperti yang saya lakukan dengan pasangan saya sebelumnya, pasangan saya ini sangat menghormati prinsip saya tersebut, dia pun menerima saya apa adanya, hingga akhirnya pada Januari 2015 kami pun menikah.

 

Saya pun kini juga lebih terbuka dengan keluarga, mama dan Ayah saya tahu mengenai masa lalu say, namun ternyata mereka lebih wise dari yang saya pikirkan sebelumnya hingga dulu sampai frustasi. Saya kini lebih tenang, tidak ada lagi yang mengganjal di hati, bagi saya masa lalu yang suram itu sangat amat menjadikan pelajaran dalam hidup saya hingga saya dapat menjadi sosok seperti sekarang. Saat ini aktivitas saya selain bekerja kantoran juga melakukan pelayanan di tempat saya beribadah, sesekali kerap di minta untuk membantu rekan yang mungkin sedang down dalam kehidupannya karena urusan percintaan walau saya tahu saya juga masih banyak kekurangan tetapi saya mencoba bantu dari apa yang pernah saya alami dulu.

 

Urbanesse, tulisan  ini bukan ingin membenarkan atau menyalahkan seseorang yang melakukan Pre Marital Sex, bagaimanapun melakukan hubungan seks di luar pernikahan risiko terbesar akan di tanggung oleh kita  wanita pastinya, jadi sebelum memutuskan untuk melakukan pre marital sex ada baiknya kita berpikir lagi risiko fisik dan psikis yang akan kita tanggung kalau-kalau hal yang tidak kita inginkan terjadi. Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi pembelajaran untuk kita agar lebih membuka mata terhadap Risiko Pre Marital sex. Tetap semangat, selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki detik ini dan jangan bersedih hidup ini masih panjang isilah dengan hal yang bermanfaat untuk semua orang.



Anonim

No Comments Yet.