Pilih Gaji Besar Atau Kejar Passion-mu ?


Monday, 09 Jul 2018


Jika ada pertanyaan apakah kamu bekerja untuk berkarir atau sekedar mencari uang tambahan ? saya akan menjawab, saya bekerja untuk berkarir, mencari uang tambahan dan kini seiring waktu dan keadaan saya memilih untuk sesuai dengan passion saya yang membuat saya berkembang dan produktif. Bukankah karir itu bagian dari apa yang menjadi passion kita dan dalam prosesnya kita menemukan banyak pembelajaran untuk pengembangin diri maupun skill ? .

Awal bekerja

Sebelum lulus kuliah saya sudah bekerja menjadi guru freelance, mengajar privat anak SD hingga SMP dari satu rumah ke rumah yang lain, pernah juga saya bernaung di suatu lembaga bimbingan belajar (bimbel) dan TK untuk menjadi staf administrasi paruh waktu dan guru inval disana. Namanya pikiran anak muda yang baru tumben kerja  siapa tahu dengan bernaung di lembaga pendidikan bisa dapat kenaikan karir ketika saya lulus kuliah nanti. Pokoknya pada saat itu yang ada di pikiran, saya bisa mengajar freelance dapat uang untuk tambahan biaya skripsi sekaligus wisuda dan berharap setelah lulus bisa diangkat jadi kepala bimbel lalu punya pengalaman disitu.

Setelah lulus kuliah sayapun akhirnya  diangkat oleh owner bimbingan belajar tersebut untuk menjadi kepala cabang tempat bimbel dengan membawahi 2 orang staf administrasi. Ternyata setelah dijalani satu setengah tahun menjadi kepala bimbel saya tidak menemukan diri saya, tiap hari hanya berkutat dengan laporan nilai siswa, strategi guru, laporan biaya administrasi keuangan  namun saya tidak menemukan pengalaman dan pembelajaran baru semua berjalan statis. Saya merasa terkurung dan hidup saya serasa jalan di tempat. Tidak ada yang bisa saya hasilkan dan pelajari lagi disitu. Strategi mengajar sudah dibuat oleh para guru-guru, strategi promosi bimbel sudah sering saya buat walaupun yang dipakai tetap strategi yang lama yang pernah saya buat, saya hanya tinggal menambahkan jika ada yang kurang. Lainnya lebih kepada pekerjaan teknis, pengawasan dan pekerjaan administratif yang rutin ada rasa jenuh saat itu, melihat rekan-rekan saya seangkatan di kampus yang bisa bekerja sesuai dengan bidang kuliahnya.

Namanya saat itu masih muda, rasa ingin mendapatkan pengalaman dan uang tambahan lebih pun terasa. Pemilik tempat bimbel menganggap bahwa saya memiliki kemampuan untuk melakukan pendekatan personal dengan calon orangtua murid baru sehingga bisa dengan gampangnya mengajak para orang tua untuk mau menitipkan anaknya sekolah dan mengikuti bimbingan belajar, sempat saya ditahan agar tertap stay bekerja di tempat bimbel tersebut dengan nominal gaji yang ditambahkan sesuai dengan pendidikan dan pengalaman saya. Namun, ternyata uang tambahan yang cukup menggiurkan tersebut tidak menarik saya untuk stay di tempat bimbel tersebut, karena saya merasa saat itu saya masih muda dan masih ingin mengasah skill dan keilmuan yang saya miliki sesuai dengan passion saya yaitu sebagai seorang Accounting.

Namun, karena memang saya juga ada kenyamanan tersendiri mengajar les anak-anak jadilah saya memutuskan untuk membantu pemilik tempat bimbel tersebut secara freelance saja, jMembantunya Sabtu Minggu ketika saya libur bekerja untuk mengajar bimbel lalu membantu saat perekrutan penerimaan peserta didik baru dan meng-coaching bagian administrasi agar memiliki kemampuan dasar memasarkan program bimbel serta mengajak calon orang tua dari siswa baru agar mempercayakan anak mereka belajar di tempat bimbel tersebut. Saat itu saya berpikir ketika saya memutuskan resign dan meninggalkan lembaga yang sudah banyak membentuk dan membantu saya dari zaman saya kuliah hingga saya akhirnya lulus menjadi sarjana seperti saat ini saya tidak mau seperti kacang lupa kulit. Saya memiliki hutang moral untuk terus bisa berkontribusi pada pusat bimbingan belajar tersebut karena apalah jadinya saya yang sekarang sudah terbentuk jika saya melepas lembaga yang sudah menjadikan saya seperti  saat itu.  Meski Sabtu Minggu saya menyisihkan waktu setengah hari untuk mengajar dan membantu rekan-rekan  di pusat Bimbel tersebut. Apa nggak lelah dan merasa beban ? sejujurnya pernah ada rasa itu lelah, terbebani dan berat namun itu ternyata hanya rasa saja ketika saya belum menjalaninya. Tapi setelah saya  menjalaninya rasa yang tadinya lelah, beban, berat karena Sabtu Minggu yang harusnya saya gunakan untuk istirahat saya pakai untuk mengajar les dan membantu kawan-kawan di pusat bimbel tersebut. Ada rasa yang tidak bisa ditulis dengan kata-kata, puas saja apalagi ketika apa yang saya latih ke mereka, dapat cepat mereka serap ilmunya dan bisa mereka aplikasikan, hasil laporan belajar anak didik saya pun memuaskan itulah penghilang beban dan rasa lelah saya. 

Apakah benar ini tujuan saya bekerja ?

Sabtu Minggu saya gunakan setengah hari untuk freelance membantu rekan-rekan di lembaga pendidikan tersebut. Senin sampai Jumat saya bekerja menjadi Program Assistant di salah satu lembaga donor milik asing, gajinya cukup besar dan jenjang karir juga ada disana.  Namun Karena fisik saya ternyata lemah, karena di lembaga donor tersebut pekerjaan sangat under pressure. Karena menjadi program assistant ternyata berbeda dengan accounting, pekerjaanya memang sama-sama mengelola budget dan detail namun di posisi ini sebagian besar pekerjaan saya seperti seorang cashier yang membayar reimburst dan ikut mendampingi relawan dan karyawan dalam kegiatan perjalanan dinas di luar daerah. 2x saya masuk rumah sakit karena terkena tipes. Dari situlah saya berpikir kembali, apakah sebenarnya tujuan saya bekerja ? bukankah tujuan saya bekerja adalah untuk mendapatkan pengalaman, pembelajaran dan mengasah kemmapuan serta passion saya ? tapi dengan melihat kondisi saya saat itu saya berpikir ulang bahwa sepertinya bukan ini tujuan saya. Gajinya boleh besar tapi tidak banyak yang bisa saya pelajari dan dengan kondisi saya yang sakit rasanya sudah semakin jelas kalau bukan ini pekerjaan yang saya impikan. Sempat Ayah mengatakan kalau saya ini tidak bersyukur sudah dapat gaji besar, kantor bagus malah memilih resign, tapi saya tidak mau ambil pusing karena saat itu saya pikir saya yang menjalaninya dan saya tahu mana pilihan terbaiknya. Bukankah segala yang di paksakan dan menjadi beban hasilnya tidak akan baik ? 2 tahun saja saya merasakan bekerja di lembaga donor dan akhirnya kembali saya memilih resign.

Bukan Gaji Besar Melainkan Pembelajaran Besar

Beberapa bulan setelah resign dan setelah istirahat total setelah bedrest dari sakit saya pun mendapat tawaran untuk mengisi posisi sebagai Senior Eksekutif Accounting di salah satu perusahaan perbankan swasta di Jakarta, di posisi tersebutlah saya menemukan passion saya. Disitupun saya banyak berhubungan dengan orang-orang baru yang menurut saya super, saya juga mendapat  sharing knowledge dari beberapa senior saya yang jujur mereka tidak pelit terhadap ilmu yang mereka miliki, mereka mau berbagi sesuatu yang saya sendiri tidak tahu. Bahkan saya pun mendapat pengetahuan tentang IT basic dari rekan IT Junior yang ada di bawah saya, ini membuat saya setidaknya jadi nggak gagap teknologi (gaptek).  Walau yang namanya dunia kerja akan selalu ada saja yang menjadi penghambat kita untuk jadi merasa berat, beban, cemas namun itu tidak menjadikan saya mundur, malah saya jadi semangat untuk bekerja lebih baik lagi dan menunjukkan pada orang yang melemahkan dan menghambat kinerja saya, bahwa apa yang mereka lakukan sia-sia karena saat saya bekerja, murni saya hanya bekerja tidak terpikir untuk menjatuhkan orang lain. Kalaupun orang tersebut merasa saya seperti itu, saya pikir itu biarlah menjadi perasaannya saja yang terpenting saya tidak seperti apa yang dituduhkan mereka.

Akhirnya  Walau pada awal masuk gajinya tidak sebesardi lembaga donor namun banyak pembelajaran yang saya dapat disini, upgrade ilmu akuntansi dengan diikut sertakan pada traning dan workshop yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.

Kini sudah masuk tahun ke 7 saya di perusahaan ini, sempat ada teman yang bertanya ‘kamu awet ya kerja disana, betah ya apa mau sampai tua disana ? saya tidak mau mendahului Tuhan, jika hati dan jiwa saya sudah disini dan Tuhan masih mengizinkannya, saya masih disini. Lelah ?namanya orang kerja pasti nggak ada yang nggak lelah. Bersyukur dan nikmati, mengeluh boleh sesekali tetapi tidak perlu diumbar cukup dalam hati dan sikapi diri. Siapa yang menyikapinya ? yaa..diri saya sendiri siapa lagi, karena yang bekerja dan menjalaninya adalah diri kita, jadi kitalah yang menyemangatinya.

Sempat ada tawaran dari tempat lain saya urungkan untuk pindah, karena bagi saya bekerja itu bukan soal kenyamanan saja, bukan juga besarnya gaji tetapi tanggung jawab terhadap diri saya sendiri, untuk apa saya mencari yang lebih besar gajinya namun tidak banyak membuat saya berkembang secara pola pikir, karakter dan skill, fisik sering sakit-sakitan pula, karena  hasil dari capaian kita bekerja untuk dinikmati  bukan untuk biaya berobat kan ?. bukan tidak mau pindah lagi karena saya pikir disinilah saya bisa menjadi diri saya saat ini dan menemukan tujuan saya bekerja yaitu untuk hidup (untuk mencukupi kebutuhan saya secara materi juga secara batin, pola pikir dan karakter). Dikantor ini saya bisa bekerja, juga bisa hidup (bersosialisai dan mengembangkan diri). Mama selalu bilang ke saya ketika saya pernah down ketika ada rasa malas dalam bekerja, kata mama “jangan jadikan hidup untuk bekerja, tapi bekerjalah untuk hidup”. Maksud mama, jangan sampai pekerjaan mengurung saya dan tidak bisa membuat saya mengembangkan diri keluarlah, mainlah, bergaulah, banyakin waktu untuk diri sendiri jangan sampai kamu diikat pekerjaan, karena pekerjaanmu tidak akan menolongmu ketika kamu jatuh sakit keras”. Cintailah pekerjaanmu tapi jangan melupakan kehidupanmu” itulah pesan Mama selalu yang saya ingat.

Jadi dari pengalaman saya ini saya ingin membagikan pembelajaran  yang saya dapat dari saya pertama kali bekerja hingga sekarang.

  1. Gaji besar memang segalanya, namun ketika saya sudah menemukan nyaman bekerja sesuai dengan bakat/passion saya maka gaji pun akan mengikuti dengan sendirinya. Karena sesuai pengalaman ketika saya bekerja dengan passion malah lebih produktif ketimbang bekerja pada pekerjaan yang kita tidak cocok dan dipaksakan.
  2. Bahwa jangan sampai pekerjaan yang mengatur kita tapi kita lah yang mengatur dan memilih pekerjaan tersebut mau bagaimana dan seperti apa kita dari pekerjaan itu. Ketika saya sudah tidak nyaman dan sering sakit ketika bekerja yang tidak sesuai tujuan saya, dengan yakin dan bulat saya memilih resign dan saya tahu resikonya ketika resign belum mendapat pekerjaan pengganti (saran saya pastikan ketika resigne kita sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan diri kita) bukan hanya di cocok-cocokin tapi yang benar-benar cocok.
  3. Dari pengalaman yang saya, saya selalu Lihat adakah diri saya berkembang setidaknya secara karakter, pola pikir dan mungkin saja skill dan apakah pekerjaan tersebut membuat kita jadi lebih baik ? bukan hanya secara materi saja tetapi secara mental ?.
  4. Dan, menjadikan pekerjaan kita sebagai ibadah. Jadi segala lelah dan upaya yang kita kerjakan kita kembalikan lagi semua semata-mata karena Tuhan. Dia lah yang membuat semuanya terjadi seperti rekan kerja yang solid, senior yang mau berbagi ilmu, kesempatan mengikuti training dan pencapaian lainnya dari usaha saya, yang saya dapat di kantor tidak lepas dari pertolongan Tuhan pastinya. Tuhan juga membuat saya berada di posisi saat ini pasti bukan tanpa maksud hanya saja saya musti banyak bersyukur dan kurangi mengeluh karena yang saya rasakan, mengeluh kerjaan berat, lelah, beban lah di sosial media tidak akan menyelesaikan pekerjaan itu sendiri melainkan hanya membuang waktu . Orang lainpun tidak akan membantu juga bukan ?

So, Ladies kamu pilih mana gaji besar atau bekerja sesuai passion ?.



Clara Marisa

No Comments Yet.