Pikiran Negatif Membuat Cemburu Buta ?


Wednesday, 20 Jun 2018


Pernah ada yang suka berasumsi negatif ke pasangannya ? pasangannya begini begitu dengan mudahnya di asumsikan negatif. Si pasangan di tuduh melakukan perselingkuhan-lah, genit dengan perempuan lain lah hingga berujung insecure yang berlebihan pada pasangannya. Lebih parahnya lagi saking pikirannya negatif hingga cemburu membabi buta. Hanya baru melihat pasangannya foto bersama perempuan lain, padahal fotonya nggak cuma berdua tapi ramai-ramai dan dengan mudahnya seseorang yang pikirannya dipenuhi dengan asumsi negatif kemudian menghakimi perempuan yang ada di dalam foto tersebut sebagai perusak hubungan orang. Kok bisa ? memang ada orang yang sampai seperti itu punya pikiran negatifnya ? tentu ada.

Seperti cerita salah seorang rekan saya dahulu, sebut saja namanya Alan bukan nama sebenarnya). Alan bekerja di salah satu perusahaan yang mengharuskannya mobile. Ia kerap di tugaskan ke luar kota untuk mengisi forum diskusi sebagai fasilitator bersama beberapa rekannya yang lain, tidak semua reaknnya adalah pria tetapi ada juga wanita. Alan sudah menikah dan memiliki 3 orang anak perempuan yang masih kecil-kecil. Istri Alan sebut saja namanya Dona (bukan nama sebenarnya) adalah seorang ibu yang fulltime di rumah mengurus rumah tangga dan menjaga anak-anak mereka.

Buat saya sebagai seorang rekan kerja, Alan adalah sosok pria yang baik, bertanggung jawab terhadap keluarga, taat beribadah dan sangat mencintai dan mengutamakan keluarga. Dikantor Alan termasuk rekan kerja yang supple dengan siapa saja dan senang membantu tidak pilih-pilih mau pria atau wanita. Saya dan teman-teman yang lainpun di kantor semua rata-rata juga sudah berkeluarga, setiap family gathering kami sellau saling bertemu dengan keluarga dan pasangan masing-masing, itulah sebabnya kami jadi saling mengenal. Jadi rasanya tidak ada alasan untuk harus ‘cemburu atau berpikiran negatif terhadap pasangan masing-masing” ketika sedang bekerja.

Namun, ternyata lain halnya dengan Alan’s Family, Istri Alan termasuk wanita yang memang saya lihat agak berbeda dari pasangan rekan kerja saya yang lain. Tiap ada Gathering ia enggan untuk ikut, saya berpikir ya mungkin karena ia juga masih memiliki batita yang masik kecil jadi ada rasa sungkan untuk bergabung di acara jalan-jalan bersama rekan kantor suaminya. Namun ia berteman dengan semua rekan-rekan perempuan yang ada di kantor, termasuk dengan saya di facebook.

Hingga pada suatu hari Alan, saya dan 2 rekan saya lainnya Mela dan Anton (bukan nama sebenarnya) mendampingi narasumber untuk acara kantor di luar kota. Selama di luar kota kurang lebih 3 hari, kami full bekerja, tidak ada waktu untuk jalan-jalan karena acara dimulai jam 8 pagi baru selesai jam 10 malam. Seperti biasa di tiap sessi sellau ada foto bareng narasumber bareng-bareng untuk kenang-kenangan.Llau bagian publikasi pun juga ada memotret kami dengan pose ala-ala sedang serius mengikuti forum diskusi. Selalu ada foto saya, mela, anton dan Alan. Anton yang yang selalu rajin membagikan foto di facebook (saat itu Instagram belum sepopular sekarang) Anton selalu men-tag kami. Tidak ada prasangka buruk ataum pikiran negatif terhadap cara kami berteman. Yaa...profesional saja layaknya orang bekerja, kalau pun foto-foto yaa...nggak ada yang terlihat terlalu dekat semua sama antara narasumber dan rekan kami lainnya karena memang sebatas teman kerja tidak ada pikiran negatif lainnya. Selama di luar kota pun kami masing-masing tidak pernah putus komunikasi dengan keluarga kami.

Dan, betapa terkejutnya saya, Mela dan Anton ketika mendapati istri Alan yang mengomentari foto yang di upload anton. Dia menulis seperti ini “gue disini capek-capek urus anak dia malah enak-enakan foto bareng perempuan itu”. Tidak lama ia pun membagikan kembali foto-foto bareng kami bertujuh di facebooknya dengan caption yang sangat memojokkan saya dan mela sebagai perempuan di dalam foto tersebut.”Perempuan perusak hubungan orang tidak bisa menjaga perilakunya ketika foto bareng dengan laki orang” begitu kurang lebih kalimat yang ditulisnya.

Sontak saya, Mela dan anton yang membagikan foto tersebut di FB langsung kaget membacanya. Mela yang nampak marah sekali dengan ucapan istri Alan pun membalas komentar dan panjang jadinya. Saya pikir ini nggak akan selesai jika kami terus hanya berasumsi negatif terhadap istri Alan. Karena jika hanya berasumsi negatif pun akan lama selesainya dan makin rumit nantinya. Sayapun langsung ambil sikap untuk memanggil Alan guna mengkonfirmasi tentang apa yang terjadi dengan istri dan hubungan mereka.

Karena saya pikir tidak akan ada asap jika tidak ada api yang membakarnya. Saya juga kesal dan marah terhadap komentar istri Alan, tapi dengan saya balik memaki istri Alan misalnya meladeninya di FB apakah masalahnya akan selesai ? tentu tidak, semakin panjang iya. Saya terus berpikir positif melihatnya dari sudut pandang lain, mengapa istri Alan seperti itu, apakah ada hal yang membuatnya tertekan hingga dia bisa membabi buta menghakimi bahwa perempuan yang ada di foto bersama-sama suami dan rekan kerjanya yang lain adalah perusak hubungan orang ?

Alan pun meminta maaf atas ucapan yang dilakukan istrinya pada kami di Facebook, menurut penuturan Alan dirinya tidak menyangka bahwa istrinya di rumah akan bereaksi seperti itu hanya karena sebuah foto bersama. Saya dalam hal ini coba bersikap tengah-tengah dan tidak mau terburu-buru berpikiran negatif pada istri Alan, Saya tanyakan ke Alan, apakah mereka sedang mengalami hubungan yang rumit dan sulit dalam rumah tangga seperti ribut misalnya atau mungkin istri Alan sedang ada masalah apa yang bisa jadi Alan sendiri sebagai suaminya tidak tahu tentang masalah yang sedang di hadapi istrinya. Alan pun menjawab, sehari-hari yaa...saya lihatnya nggak ada masalah semua baik-baik saja bahkan sebelum berangkat ke luar kota kami sempat jalan-jalan dulu hari Minggunya bareg-bareng.

Singkat cerita, kejadian ini pun terus berulang, istri Alan tidak hanya berasumsi negatif tentang suami dan rekan-rekan wanita di kantornya tetapi juga pada siapun wanita yang sekiranya di foto bareng dekat dengan Alan, ia bisa langsung mengirim pesan sambil memaki wanita tersebut dengan sebutan yang tidak pantas dan menghakimi secara sepihak. Dari sejak kejadian yang kami alami hingga kasus terakhir yang dialami Indah (bukan nama sebenarnya) rekan kami yang masih junior di kantor yang dituduh sebagai perebut laki orang (pelakor), akhirnya saya mengajak rekan wanita di kantor yang pernah menjadi korban penghakiman dari istri Alan untuk mendatangi rumah Alan tanpa sepengetahuan Alan.

Mengapa kami diam-diam dari Alan ? karena Alan selalu menghindari kami jika ingin menyelesaikan permasalahan yang dibuat istrinya tersebut. Alan hanya terus meminta kami untuk tenang dan tidak menanggapi celoteh istrinya di facebook. Untuk orang seperti saya, tidak bisa hal negatif yang sudah dituduhkan dan di tunjukkan di muka umum (di FB) itu tidak disertai bukti dan penyelesaiannya. Semua hal harus berakhir positif agar saya dan rekan-rekan saya yang lainnya pun lega dan bisa bekerja lagi dengan tenang tanpa ada prasangka negatif baik dari istri Alan maupun dari diri saya dan rekan-rekan lainnya. Karena sejak kejadian tersebut hubungan kerja dengan alan pun jadi kurang nyaman kami rasakan.

Akhirnya saya dan rekan-rekan termasuk HRD dari kantor sebagai penegah berkunjung ke rumah Alan guna bertemu dengan istrinya agar kami jadi pada saling mengenal dan masalah tersebut tidak berbelit-belit, istri Alan pun bisa lebih tenang juga nantinya. Pada saat kami datang Alan sedang keluar ke supermarket dengan anaknya, di rumah hanya ada istri dan anaknya yang masih batita. Sontak terlihat dari wajah Istri Alan nampak kaget melihat medatangan kami ke rumah mereka.

Sambutan sinis pun sempat kami dapatkan mana kala HRD mengatakan bahwa kedatangan kami untuk berkenalan dengannya dan mengkonfirmasi tentang postingan di facebook yang membuat istri Alan salah paham terhadap semua perempuan yang ada di foto bersama suaminya. Setelah pertemuan tersebut barulah kami tahu, bahwa Istri Alan memang memiliki kadar insequre yang cukup besar. Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan melainkan karena dulu ketika masih pacaran, Alan termasuk pria yang memiliki banyak fans perempuan, “Mas Alan itu memang orangnya supple sama siapa saja, Terlebih dengan perempuan sejujurnya saya sempat tidak nyaman jika ada perempuan yang dekat-dekat dengan dia, karena di kepala saya terus kepikiran dia akan seperti zaman ia kuliah dulu. Saya takut dia kepincut perempuan lain di luar sana selain saya”. Di depan Alan yang juga baru mendengar kejujuran dari istrinya selama ini ternyata Istri Alan mengkhawatirkan Alan akan berpaling.

Lalu tanpa harus berpanjang lebar saya dan HRD meminta Alan dan Istrinya untuk menyelesaikan masalah rumah tangga mereka cukup hanya mereka berdua saja.Yang terpenting dari pertemuan ini adalah istri Alan sudah tidak perlu merasa insequre lagi terhadap rekan-rekan kerja Alan, Setidaknya kedatangan kami ke rumah Alan memberikan solusi agar Insti Alan bisa lebih tenag dan tidak lagi khawatir. Setelah kunjungan kami ke rumah Alan, kini Istri Alan tidak lagi menulis dan memposting macam-macam di facebooknya. Bahkan ia menuliskan status di facebook bahwa kini dirinya merasa lega dan bahagia karena ternyata rekan-rekan kerja suaminya tidak seburuk apa yang dipikirkan olehnya.

Saya dan rekan lainnya pun sangat senang juga mendengarnya, di kantor sudah tidak lagi merasa harus jaga jarak dengan Alan dan hubungan kerja pun jadi lebih profesional. Point pembelajaran yang kami khususnya saya pribadi dapatkan adalah,

  1. Saya dalam case Alan’s Family ini belajar menempatkan diri di posisi Alan dan Istrinya. Memang sulit namun ini penting karena jika kita tidak menempatkan diri kita seperti orang tersebut, sulit rasanya untuk kita bisa menumbuhkan asumsi positif dalam melihat masalahnya. Misalnya Ketika saya bertemu orang baru, saya mencoba pahami dari mana orang itu berasal. Mungkin orang itu suka menuntut karena dia kekurangan kasih.

 Mungkin Istri Alan seperti itu karena ada yang melatarbelakanginya dan lainnya lihat dari sudut pandang yang berisi kemungkinan, pada akhirnya kita pun secara tanpa sadar memunculkan asumsi positif di kepala kita dari analisa Self potitioning ini.  Meski kita tidak bisa tahu keadaan orang yang baru kita temui, dengan bersikap terbukalah akan segala kemungkinan yang dilalui orang tersebut maka nantinya kita akan terbiasa berasumsi positif di awal dalam melihat segala sesuatu..

  1. Menyadari bahwa tiap orang berbeda dan tidak harus sama dengan pikiran kita. Setiap orang adalah individu berbeda yang dihasilkan dari situasi berbeda, Sampai kita mengenalnya lebih baik, maka kita tentu tidak bisa menghakimi sembarangan bukan?. Kalau saya sendiri lebih memilih diam daripada harus mengomentari dengan komentar menghakimi, karena jika saya melakukannya itu sama halnya saya menunjukkan buruknya hati saya pada orang lain dan juga saya pikir dengan menghakimi tidak membuat diri saya menjadi lebih baik. Pada permasalahan Istri Alan saat itu sebenarnya ia bisa mencari tahu dulu kebenarannya, tanpa harus terburu-buru menghakimi bahwa suaminya berselingkuh hanya dengan baru melihat sebuah foto.
  1. Awal mula penghakiman (djudgemental) adalah asumsi dan pikiran yang negatif. Karena yang saya tahu itu, maka saya sejujujurnya sangat menghindari langsung djudgement segala hal meskipun hal tersebut buruk buat saya. Saya mulai dengan berpikir dan berasumsi positif, melihat dari sudut pandang yang membuat saya tenang. Misalnya, saya lihat seorang rekan saya sennag bergosip tentang teman lainnya di kantor, daripada saya harus mendengarkan gosip itu lalu membuat saya berasumsi negatif dan ikut menghakimi. Lebih baik saya menghindar dari percakapan berkaitan dengan ngomongin orang lain. Karena dengan ikut mendengarkan gosip/membicarakan orang lain menularkan pikiran negatif mereka ke diri saya.

Apakah dengan saya tidak mendengarkan gosip/ikut serta ngomongin orang lain membuat diri saya jadi kurang update ? tentu tidak, saya merasa malah hati dan pikiran saya lebih tenang dan fokus hanya pada urusan yang penting-penting saja. Jadi gimana Ladies, mau terus memupuk pikiran negatif atau Positif ? semua pilihan itu ada di tangan kita masing-masing.

 

 



Rika

No Comments Yet.