Pernikahanku Gagal, Karena Menggunakan Jalan Pintas Demi Mendapat Pasangan


Friday, 18 Jan 2019


Apa arti kebahagiaan ?

Pertanyaan itu dulu sempat aku lontarkan ke diriku sendiri, pernikahan pertamaku gagal karena aku terlalu menuntut banyak dari pasanganku yang saat itu masih belum jelas pekerjaanya. Saat itu aku juga sambil bekerja dan segala kebutuhan rumah tangga memang aku yang mencukupi.  Aku memang masih belum bisa berpikir dewasa saat itu dan tidak tahu dengan jelas apa tujuanku menikah. Yang aku tahu bahwa seseorang harus menikah karena sudah ada rasa saling cinta, that’s it. Tapi ternyata saat itu aku tidak tahu arti bahagia sesungguhnya dari cinta yang aku labeli itu apa.  Saat itu 2001 akhirnya aku berpisah dengan mantan suamiku yang sudah memberikanku 1 orang anak.

1 tahun kemudian akupun menikah kembali lagi-lagi aku tidak belajar dari pengalaman di masa lalu, dengan cara cepat bisa dengan mudahnya aku langsung mau menikah dengan seorang pria, sebut saja namanya Argo, seorang pegawai pemerintahan di daerah Sulawesi. Sejujurnya saat itu aku menjalin hubungan dengan Argo karena aku melihat Argo sangat besar mampu memenuhi kebutuhan ekonomi bukan hanya aku tetapi juga kedua orangtuaku. Bisa di bilang aku mempergunakan Argo agar dapat menaikan standar hidupku karena alasanku saat itu adalah ingin membahagiakan orangtua. Saat itu aku pikir orangtuaku akan bahagia jika aku bisa menikah lagi dengan pria yang jauh lebih jelas pekerjaanya dan bisa memenuhi ekonomi keluarga jadi aku tidak perlu susah payah bekerja lagi karena ada Argo sebagai suami yang sudah pasti mampu memenuhi kebutuhan ekonomiku. 2 bulan saja aku mengenal Argo, dan 3 bulan akupun meminta dia menikahiku, jalan pintas sempat aku tempuh dan ini adalah kekeliruan terbesarku saat itu yang tidak patut ditiru. Akhirnya aku di nikahi oleh Argo dalam kondisi sudah hamil anak darinya.

Aku memang sudah tidak lagi bekerja, aku menjadi fulltime mom untuk ketiga orang anakku. Argo memang sangat royal dia memberiku fasilitas dari mobil hingga kebutuhan ekonomi yang tidak berkekurangan, bahkan orangtuaku pun di suntuk juga ekonominya. Tapi ternyata Argo tidak benar-benar menyayangi anak pertamaku dari suamiku terdahulu. Dia sangat marah dan tidak menjatah sepeserpun untuk memenuhi kebutuhan anak pertamaku (yang notabene adalah anak tiri Argo). Alhasil aku membangun usaha warnet dan game online dengan menyewa tempat secara diam-diam, yang hasilnya aku gunakan untuk memenuhi kebutuhan anak pertamaku yang sudah bersekolah.

Tahun berganti, aku sadar segala hal yang diawali dengan cara cepat atau jalan pintas dengan niatan kurang baik endingnya memang tidak akan sempurna sesuai dengan bayanganku. Argo sudah mulai menunjukkan sifat aslinya ia bisa dengan mudahnya melakukan kekerasan baik secara psikis lewat bentakan maupun kekerasan fisik yaitu main tangan. Saat itu di depan anak-anak ia bisa dengan entengnya melepaskan tangan ke pipiku. Karena aku tidak mau gagal dalam pernikahan untuk kesekian kalinya, saat itu aku hanya bisa menangis dan bungkam. Pernikahanku dan Argo seperti sebuah kepura-puraan bahagia. Ketika di depan orangtua, argo dan aku bisa menjadi sepasang suami istri yang nampak bahagia. Anak pertamaku saat itu usianya 13 tahun. Dia sudah cukup dewasa sebelum waktunya dan dari dia lah mataku coba di buka.

Saat itu selesai ibadah anak pertamaku menemuiku sambil mengasuh adik-adiknya ia datang padaku dengan bertanya “Mama mengapa setiap selesai ibadah mama selalu menangis? Apa mama tidak merasa bahagia ?” sesaat jantung seperti berhenti mendengar pertanyaan anak pertamaku. Di tiap ibadah aku memang selalu berdoa untuk di kuatkan dan di beri pencerahan agar semua ini bisa ku temui jalan keluarnya. Saat itu aku merasa doaku di kabulkan Tuhan. Sangat egois jika demi materi dan status pernikahan aku mengorbankan masa depan dan hal-hal baik yang harusnya anak-anakku dapat lihat dan dengarkan di masa kecilnya. Aku tidak ingin mereka mengingat orangtuanya adalah, orangtua yang sering ribut dan memukul. Tidak ada cinta, kasih sayang dan kelembutan yang mereka lihat hingga mereka nantinya bertumbuh menjadi anak-anak yang keras, mudah curiga dan menerapkan standar kebahagiaan dari materi sama seperti diriku.

Saat itu aku pun membuat keputusan besar untuk memilih berpisah dari Argo dan kembali ke kedua orangtuaku dengan membawa anak-anak. Keputusan ini harus aku buat sebagai bentuk pertanggung jawabanku karena mempergunakan jalan pintas guna mengikat dan melanggengkan hubungan agar mendapatkan kesenangan materi tanpa mempedulikan kebahagiaan batin untuk diriku sendiri juga anak-anakku. Selama ini aku keliru mendefinisikan standar kebahagiaanku yang ukurannya selalu hanya dari materi semata. Awalnya Argo dan keluarga besarnya tidak menyetujui adanya perpisahan ini.

Solusi yang aku tempuh saat itu adalah melalui pertemuan demi pertemuan dengan Argo bahkan aku meminta rekanku yang memang seorang konsultant pernikahan untuk ikut menjadi mediator agar suasana pertemuan tidak tegang dan mendapat titik temu, agar setiap keputusan tidak ada yang saling merasa dirugikan dan berakhir tetap dengan cara-cara baik. Aku sadar saat itu mengawali pernikahan dengan argo bukan dengan cara dan niat yang yang baik maka aku terima keadaan inilah hasil yang kudapatkan berakhir dnegan perpisahan. Tetapi setidaknya perpisahan ini aku lakukan dengan cara-cara yang baik agar hasilnya berakhir juga dengan baik. Argo tetap Ayah dari kedua anakku yang memang masih kecil-kecil. Aku tidak ingin ada dendam dan luka batin pada diriku, diri argo dan terutama diri anak-anakku, walau ku tidak memunafikkan diri bahwa memang tidak ada perpisahan yang tidak meninggalkan luka. Tetapi aku pastikan bahwa ini adalah kegagalan yang terakhirku.

Setelah berpisah dari Argo, aku tinggal dengan orangtuaku, mereka sangat welcome dan tidak sedikitpun menghakimi keputusanku berpisah dari Argo. Dulu aku pikir orangtuaku akan marah karena perpisahan ini otomatis akan memutus ekonomi keluargaku karena Argo memang menyongkong keluargaku secara ekonomi. Tetapi kenyataanya asumsiku salah orangtuaku sangat bijaksana. Mereka menerima keputusanku karena memnag tidak ingin membuatku kecewa terus menerus. Aku sempat bertemu dengan mantan suamiku yang sedang menjenguk anak pertamaku, dia telah menikah dan aku lihat pernikahannya cukup solid, apalagi anak pertamaku sempat bercerita bahwa istri mantan suamiku sangat bijaksana dan baik pada anakku. Aku bersyukur pada akhirnya mantan suamiku kehidupannya sudah cukup lebih baik.

Saat itulah aku sadar bahwa aku aku harus mengubah cara pandang tentang arti sebuah pernikahan dan mengubah standar kebahagiaan. Standar bahagia bukan berdasarkan materi, bukan juga berdasarkan apa kata masyarakat umum (bahwa kebahagiaan adalah ketika kamu telah menikah, bahwa kebahagiaan adalah ketika kamu memiliki uang banyak, memiliki anak, punya suami yang kaya raya, jabatan yang tinggi,  keluarga yang utuh dan lain-lain yang biasanya di bentuk oleh apa kata masyarakat. Sejak saat itu aku ubah pola pikir bahwa ketika aku ingin bahagia tidak bisa dilakukan dengan jalan pintas supaya cepat mendapatkan dan membandingkan hidupku dengan orang lain karena jika aku terus seperti itu maka tidak menutup kemungkinan hal yang sama akan terus terjadi dalam hidupku.

Aku ingat betul saat itu tahun 2008 aku masih menjadi seorang single mom dan kembali bekerja di Jakarta. Sejak aku mengubah cara pandangku dan memahami bahwa kebahagiaan ukurannya bukan dari materi standar yang di anut masyarakat umum, hidupku perlahan mulai berubah. Aku bisa jauh lebih baik dalam menata diri, menata hati terutama menata jalan berpikirku yang dulu hanya fokus pada cinta dari pria dan materinya. Kini aku di sibukkan dengan pekerjaanku sebagai seorang apoteker, aku juga senang menulis di blog pribadi yang bercerita tentang pengalamanku tiap harinya hidup bersama ketiga orang anak-anakku sebagai single Mom, aku ikut club olahraga zumba dan aerobic dan ketik senggang aku salurkan hobbiku mengajar privat temannya anak-anakku mengajar bahasa inggris di rumah.

Sejujurnya aku bahagia, aku bahagia dengan keadaanku sekarang. Anak-anaku tidak kehilangan orangtuanya, Mantan suamiku masih tetap dapat berkunjung menemui mereka, mengajak mereka jalan-jalan dan menyediakan waktunya untuk bersama membesarkan anak-anak meski tidak harus satu atap, kami bisa tetap berhubungan baik karena fokus kami adalah untuk anak-anak agar mereka tidak kehilangan sepeserpun hal-hal baik meski orangtuanya berpisah. Aku kini berhubungan baik dengan Argo dan Istri barunya juga dengan mantan suami pertamaku dengan istrinya yang sudah sangat akrab dengan anak pertamaku. Sejujurnya sudah tidak ada lagi rasa kecewa yang aku rasakan, malah sebalinya aku bahgia karena anak-anakku mendapat orangtua sambung yang cukup menyayangi mereka seperti anaknya sendiri. Tidak ada bibit negatif ke mereka karena mereka istri-istri dari mantan suamiku juga selalu menunjukkan hal positif untuk anak-anakku jadi tidak adalasan buat aku mencemaskannya.

Aku tidak menyesali perpisahan ini dan semua yang terjadi dalam hidupku. Karena dari situlah aku mendapatkan berkat dari Tuhan, aku kini bisa menjadi perempuan yang tahu tujuanku jika memilih menikah kembali, aku pun jadi bisa lebih menyederhanakan arti kebahagiaan bahwa bahagia itu diriku yang menciptakan bahkan makan nasi hanya pakai garam saja tetapi badanku sehat dan anak-anak juga nggak ada yang sakit aku sudah merasa bahagia banget. Pada tahun 2011 aku pun menikah lagi, aku putuskan menikah karena bersama pria yang menjadi saumiku kini, aku bisa menjadi diriku sendiri, tanpa harus berpura-pura apagi menggunakan jalan pintas seperti dulu. Hingga kini pernikahan bersama suami ketigaku sudah masuk tahun ketujuh dan dari pernikahan ini aku sudah dikaruniai 1 orang anak lagi aku berharap ini pernikahanku yang terakhir, semoga.

Dari pengalaman ini aku belajar :

  1. Tidak Gegabah dan yakin pada proses dari usaha yang dilakukan. Ketika aku gegabah atau menginginkan apa yang aku mau dengan menggunakan jalan pintas di dalam hubungan percintaan hasilnya malah tidak berjalan baik, jadi aku memilih untuk tidak terburu-buru ketika ingin mendapatkan good relationship. Tidak terburu-buru bukan berarti santai dan cuek melainkan tidak panik sendiri, tetap tenang namun sambil berusaha memantaskan diri dan fokus pada hal-hal yang menjadi kebutuhan diriku. Hasilnya meski menunggu bertahun-tahun dan melewati 2x perpisahan aku akhirnya dipertemukan dengan suamiku yang sekarang.
  2. Jujur pada diri sendiri adalah lebih baik daripada membohongi keadaan termasuk pasangan. Dari 2 kali perpisahan ini aku belajar kalau kejujuran itu penting, jujur dimulai dari diri sendiri dulu mau menerima kemampuan dan kekurangan diri. Karena ketika sama diri sendiri saja kita sudah jujur, otomatis kejujuran itu akan kita bawa dalam menjalin hubungan dengan pasangan. Aku sadar dulu itu aku melakukan cara-cara nggak jujur dalam mengambil hati pasangan, karena aku juga nggak jujur sama diri aku sendiri bahwa aku sebenarnya punya kemampuan untuk mencukupi kebutuhan keluarga (aku bisa bekerja) tapi saat itu aku malah lebih memilih bergantung pada pasangan dan tidak menerima kondisi pasangan yang berkekurangan. Bahkan pada pasangan yang berkecukupan pun aku masih menggunakan cara-cara tidak jujur dalam pernikahan aku bisa pura-pura bahagia di depan keluarga besar jalan pintas agar hubungan ini tetap nampak seperti baik-baik saja, agar rumah tangga seperti adem ayem padahal penuh duri.  Syukurlah pada pernikahanku yang ketiga ini aku dan pasangan lebih terbuka dan bisa jujur menjadi diri kami sendiri. Kami bertumbuh bersama.

Semoga cerita dari pengalamanku ini dapat menginspirasi Urbanesse agar lebih memikirkan kembali efek negatif dari menggunakan cara-cara tidak jujur /jalan pintas idalam suatu love relationship. Jika cara-cara jujur masih mampu kita gunakan, untuk apa kita menggunakan jalan pintas bukan, semua itu pilihan kamu Urbanesse.



Clara Marisa

No Comments Yet.