Perempuan Tangguh: LUAR BIASA ?


Monday, 11 Sep 2017


Seperempat abad mengarungi keseharian sebagai orangtua tunggal membuat saya kerap mendengar orang mengomentari diri ini dalam kapasitas sebagai perempuan yang “sendirian”: Tangguh.  

 

Hampir seperempat abad itu artinya juga setengah umur saya. Tentu dulu-dulunya tidak pernah terlahir secuil pun pikiran kelak saya akan jadi satu-satunya orangtua bagi anak saya, anak laki-laki semata wayang saya. Apalagi soal sendirinya saya membesarkannya selama seperempat abad. Apalagi, nah ini, sekarang pun saya sudah jadi nenek seorang bayi lucu umur tujuh bulan. Jadi rasanya kian sah saja status “sendirian” ini bagi saya. Tapi lantas apakah sah juga pendapat orang perihal ketangguhan saya?

 

            Begini.

 

Kendati di awal masa keseorangdirian ini sempat ada adukan emosi negatif yang nyaris membelenggu langkah mengarungi hari demi hari sebagai seorang ibu, saya tidak ingat pernah berpikir untuk menjadi pribadi cengeng yang meratapi nasib. Kalau bukan buat diri sendiri, hari demi hari itu harus saya genapi demi anak saya. Minimalnya saya harus kasih dia susu dan makanan bergizi agar tumbuh kembang jasmaninya terjamin sebaik-baiknya. Maksimalnya saya mau dia tumbuh jadi manusia yang baik, berempati terhadap sesama, pandai mencermati kehidupan, dan bertanggungjawab. Kalau saya lemah, apa jadinya dia?

 

Kebetulan sudah bekerja sebagai perempuan kantoran sejak sebelum menikah, sendirian membesarkan anak pastinya tidak mengendorkan semangat mencari nafkah. Kecuali saat-saat lelah fisik yang sangat dan berdampak secara batiniah. Tapi itupun teramat jarang. Karena memang pantang menunjukkan airmata di depan anak, saya pikir buat apa juga seorang anak kecil yang putih bersih harus ikut berenang di keruhnya warna lelah batin ibundanya? Dan toh… saya percaya kita manusia ini bukan cuma Homo Sapiens – kita adalah juga Homo Faber, manusia yang bekerja, tak peduli jenis kelamin. Bekerja, bagi saya, tidak pas jika harus dipermasalahkan kaitannya dengan “kodrat” saya sebagai perempuan. Persis di soal kodrat ini saya juga harus mampu membesarkan anak saya dengan cara menghormati hak asasinya sebagai seorang anak yang terlahir dengan jenis kelamin laki-laki. Aneka jenis permainan saya berikan kepadanya tanpa melupakan ketertarikan alamiahnya pada segala sesuatu yang di dunia ini dianggap bersifat “maskulin”. Main bola? Ayo. Main mobil-mobilan? Yuk! Panjat pohon? Why not? Semuanya sedapat mungkin harus seimbang untuknya. Termasuk “pinjam” ayah saya, atau adik laki-laki saya, untuk memberinya kesempatan “gaul” secara man to man – karena memang di situlah letak keterbatasan seorang ibu yang berstatus sebagai orangtua tunggal. Saya ikhlaskan saja limit ini, semata karena saya juga tidak ingin memaksa diri bersikap sampai keluar dari batas-batas kemanusiawian saya.

 

Merasa menyesalkah saya karena tidak sanggup sekaligus menjadi “sosok laki-laki” buat anak saya? Kadang iya, lebih sering tidak. Menyesal adalah hal terakhir dalam daftar panjang berisi sikap hidup saya, yang jika perlu pun tak usah saya cantumkan. Menyesal untuk hal-hal kecil seperti “terlambat keluar rumah dengan akibat kena macet panjang di jalan menuju kantor” itu biasa. Atau menyesal karena “tidak menyiapkan diri untuk presentasi program kerja”, yaah… sekali dua, jangan tiap kali. Menyesal karena tidak bisa selalu hadir dalam keseharian anak saya karena setiap hari saya harus mengantor? Tidak. Menyesal karena tidak bisa menghadirkan kelaziman soal utuhnya sebuah keluarga – ada ayah, ada ibu – buat anak saya? Mm… kayaknya sih gak pernah

 

Lebih dari itu, buat saya, ketangguhan itu pada dasarnya dibentuk lewat pola asuh, lewat upbringing dalam keluarga. Pendidikan, nilai-nilai yang ditanamkan sejak usia dini, teladan orangtua adalah beberapa saja yang membentuk karakter tangguh seseorang. Tambahkan ke dalam adonan itu: Pengalaman sepanjang perjalanan yang harus dilalui. Dan itu semua tidak tergantung jenis kelamin. Mau perempuan, mau laki-laki, bagi saya sama berhaknya untuk jadi pribadi tangguh.

 

Jadi, demikianlah…

 

Bicara tentang perempuan tangguh, saya tetap gak ngerti-ngerti amat  kenapa banyak kenalan bilang saya ini perempuan tangguh sekuat baja. Mereka sampai mengatakan ke saya Kalau saya ada di posisi mbak, saya kayanya nggak sanggup bekerja sambil mengurus dan membesarkan  anak seorang diri. Tapi saya katakan ke mereka inilah hidup.  Mungkin teman saya yang berbicara demikian karena ia tidak berada dengan nyata di posisi saya, coba kalau dia benar-benar berada di posisi Single Mom sekaligus Working Mom seperti saya pasti yang nggak mungkin bisa dilakukan jadi otomatis dengan alami bisa dilakukan.

 

Banyak hal dalam hidup ini saya lalui dengan kewajaran yang bagi saya “biasa aja” dan tidak terasa bagai uji nyali atau ujian ketangguhan. Urusan gagal atau berhasil juga buat saya tidak pernah jadi faktor untuk bikin hati ini galau. Kecewa, iya. Sedikit. Sehabis itu maju lagi. Hidup tidak boleh disendat-sendat oleh gundah gulana. Life must goes on, kan?

 

Saya percaya setiap dari kita masih punya reaksi alamiah yang purba dalam setiap kesempatan menghadapi tantangan atau ancaman bahaya layaknya hewan di alam liar. Lari atau hadapi dengan sepenuh kewaspadaan. Sebagai manusia biasa, jujur saja, sekali dua kali saya bisa juga berpikir soal lari dari kenyataan. Tapi apa bagusnya sih? Sekali dua kali itu bisa berdampak panjang menjadi tiga empat kali, dan akhirnya mungkin saja akan terus-terusan saya lari dari kenyataan. Jika harus terjadi berulang kali, biarlah itu adalah hal-hal yang akan mencambuk saya sebagai pelajaran berharga agar saya terus bangkit dan tegap maju jalan sebagai pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak mandheg, menyerah terbelenggu kegagalan dan mengeram dalam cengkeram rasa tidak percaya diri, apalagi lari mundur menjauh.

 

Kini anak saya yang dulu masih kecil-kecil saya urus seorang diri, sudah tumbuh menjadi dewasa bahkan sudah memiliki anak dan kini saya sedang menikmati hari-hari saya menjadi seorang Nenek sekaligus masih menjadi seorang pekerja kantoran. Bukan ngoyo atau apapun, tapi memang saya cinta kerja, saya cinta dengan pekerjaan saya yang sedari dulu ini  sebagai seorang Editor di salah satutu media besar di Jakarta. Karena dari pekerjaan inilah ketangguhan saya di uji dan kini saya berhasil membesarkan anak saya hingga bisa menjadi seseorang yang bermanfaat khususnya untuk keuarga mereka dan sekitarnya.

 

Ladies, Berdasarkan cerita pribadi saya ini, Menjadi tangguh bukan berarti bersikap keras atau ngoyo dalam menjalani hidup, menjadi perempuan tangguh adalah

  1. menjadi sosok yang tetap tegar berdiri
  2. Tetap bekerja
  3. Tetap menjadi orangtua yang baik
  4. Tetap memprioritaskan waktu untuk mengejar passion kita
  5. Tetap berusaha, berharap dan berdoa pada Tuhan
  6. Tidak bersedih, tidak berkeluhkesah dan tetap bersukacita

 

MESKI dengan atau tanpa ada seseorang yang istimewa di sisi kita, kita masih mampu berjalan. Ini benar, saya sudah menjalaninya.

 

 

 

sumber gambar: 

<a href="http://www.freepik.com/free-photo/mother-and-son-laughing-while-playing_1083387.htm">Designed by Freepik</a>



Tatyana

Kelahiran Jakarta 4 Januari 1966, pekerja kantoran sebagai praktisi kehumasan, nenek seorang cucu, dan masih tinggal di Jakarta. Pernah menulis beberapa buku berupa kumpulan cerpen dan pengalaan sebagai orangtua tunggal, sesekali menyanyi di kesempatan-kesempatan sastra, sesekali memandu acara, dan terkadang juga memberi kelas kecil untuk karya-karya kerajinan berbasis peduli lingkungan. Tetap, dan terus, berencana untuk membuat buku-buku lainnya, entah apa, di sela-sela jadwal kantor dan bantu-bantu mengasuh cucu.

No Comments Yet.