Perempuan Tangguh, Bukan Perempuan Yang Keras


Tuesday, 05 Sep 2017


Secara kodrati wanita memang diciptakan tangguh. Awalnya saya menganggap ini hanya pembelaan diri wanita untuk mencapai kesetaraan gender. Tapi semakin dewasa saya semakin mengerti bahwa memang TUHAN menciptakan wanita itu tangguh karena wanita memegang peranan yang sangat penting untuk keindahan dunia ini. Saya bersyukur lahir dari seorang ibu yang tangguh, juga dari nenek yang tangguh. Saya tidak tahu apakah moyang saya juga tangguh tapi saya yakin moyang saya tangguh karena nenek sayapun tangguh.

 

Mamaku yang lahir dari rahim wanita tangguh di jamannya tentu saja menuruni ketangguhan yang sama. Di usiaku yang baru menginjak 9 tahun, papaku telah meninggal, mamaku yang menghidupi kami 4 orang kakak beradik yang berumur 8-7-6 dan 5 tahun tanpa peninggalan apa –apa dari papaku yang bangkrut.

 

Sebagai anak perempuan satu-satunya, mamaku sangat menekankan bahwa saya harus tangguh dalam menjalani kehidupan, karena kelak saya harus bertanggung jawab atas dasar rasa kasih sayang saya pada anak-anak dan pasangan hidup saya.

Ketangguhan seorang wanita menurut mamaku harus lebih komplit yaitu memiliki:

 

  1. Soft Skill
  2. Kerendahan hati
  3. Etika 
  4. Dan menempatkan diri secara tepat

 

SOFT SKILL 

Yang dimaksud mamaku soft skill adalah kemampuan untuk mengambil alih jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan berumah tangga kelak misalnya jika suami meninggalkan kita (apapun alasannya). Mamaku memberikanku les mengetik 10 jari, les Bahasa Inggris, les tata buku , les menjahit (zaman itu belum ada ekstrakurikuler selain olahraga), sampai rasa-rasanya saya tidak punya waktu istirahat.

 

Diluar jam les, saya harus jaga toko. Saya  hidup seperti tidak punya kebebasan meskipun mamaku tidak melarangku mau kemana saja, berteman dengan siapa saja dan sebagainya. Artinya saya tetap memiliki kebebasan tapi kebebasanku terikat oleh soft skill yang hari ini, ternyata itulah yang menjadikan saya yang sekarang ini.

 

Tentu saja ilmu – ilmu yang mamaku berikan padaku termakan masa misalnya sekarang orang tidak perlu lagi harus pintar menjahit karena pakaian dari harga termurah pun sudah ada di pasaran bahkan akan lebih murah daripada kita jahit sendiri. Kita tidak lagi harus bisa mengetik 10 jari karena anak-anak sekarang mengetik dengan 11 jari alias 2 jari di keyboard atau keypad pun begitu cepatnya. Ilmu tata buku telah berganti ke akuntansi. Bahasa Inggris sudah tidak perlu pakai les karena anak-anak sekarang tanpa les pun mereka mengerti Bahasa inggris. Kelihatannya semua yang diberikan sudah out of date tapi MENTALITAS yang mama berikan itulah yang menghidupi saya dan keluargaku saat ini.

 

Soft skill yang mama berikan itu justru membantu saya mengoreksi laporan admin, laporan stock barang dan sebagainya yang menjadikan saya  bisa menjalankan usaha dengan lebih efisien biaya. Jika tanpa skill itu, saya tidak yakin bahwa usaha bisa bertahan dimana running cost semakin hari semakin tinggi margin semakin hari semakin tipis dan dalam situasi itu usaha harus hidup, jika tidak, darimana biaya hidup?.

 

Jika nenekku tidak pernah mengajarkanku mencuci baju, piring, ngepel yang begitu sederhananya, mungkin saat ini saya membutuhkan biaya yang lebih besar untuk mendatangkan banyak SDM dalam hal bersih membersih. Terkadang akan kita temui skill teamwork kurang rapih, kitalah yang harus memberi tahu bagaimana agar menjadi sesuai harapan. Untuk me-manage usaha, dibutuhkan soft skill kita. Misalnya OB yang terkadang tidak bisa membersihkan lebih bersih, kita ajarkan begini lho caranya. Admin kurang rapih dalam mengatur cash flow stock barang atau cash flow hutang piutang, kita anjurkan apa yang kita harapkan agar meminimalize kerugian yang tentu menjadi kerugian kita pemilik usaha.

 

KERENDAHAN HATI 

Dalam menjalani kehidupan ini, kami diajarkan untuk rendah hati, lebih banyak mendengar (belajar) daripada bertengkar. Dalam memimpin usaha : tentu tidak mungkin me-manage teamwork dengan sikap yang arogan karena kita saling membutuhkan, saling melengkapi dan saling membangun menjadi sukses. Rasa tidak suka teamwork pada kita akan menghambat pertumbuhan usaha yang dijalankan.  Meski telah rendah hatipun, belum tentu teamwork menerimanya sebagai rendah hati, terkadang mindset mereka tentang pimpinan yang arogan tetap mempolakan bahwa kita arogan. Kita membutuhkan soft skill dalam mengsingkronkan situasi.

 

Terkadang ketegasan kita bisa dimaknai dengan arogansi jika kita tidak mampu menjelaskan maksud dan tujuan dari kebijakan yang diambil. Terkadang ketegasan juga bisa dimaknai arogan jika kita tidak bijak bersikap. Tegas yang keras apalagi kasar akan membuat teamwork menghancurkan usaha yang dibangun karena rasa tidak suka mereka. Ingat mereka yang ada di lapangan, mereka yang berhadapan dengan pekerjaan, dengan mitra kita  dan customer kita.

Bagi saya “Tegas tidak sama dengan keras (tidak juga cengeng)”.

 

Dalam menjalani usaha, kita pasti akan menjalin relasi dengan pihak mitra kerja. Kerendahan hati yang bukan rendah diri sangat dibutuhkan agar kemitraan tetap berjalan langgeng. Dalam kemitraan dengan pihak lain, tentu kita terkadang harus tegas dalam menentukan sikap terhadap Term Of Payment , kesepakatan – kesepakatan yang telah disepakati dsbnya. 

 

Mitra kerja tidak akan menerima sikap kita yang tegas keras karena banyaknya pihak lain yang menawarkan kerjasama sejenis. Dalam berkeluarga sebagai ibu dalam keluarga, kita DIHARUSKAN bisa rendah hati untuk mendengarkan dan tidak bertengkar. Terus terang skill ini membutuhkan waktu untuk mencapainya. Dengan rendah hati kita lebih mampu mendengarkan pendapat yang berbeda dari pasangan hidup dan anak-anak yang biasanya lebih “galak” karena kedekatan sedarah.

 

Dengan kerendahan hati juga kita sebagai ibu harus menurunkan soft skill pada anak-anak agar kelak mampu sukses melebihi orang lain yang tidak memiliki soft skill. Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti berelasi dengan orang lain. Kita tidak mungkin bersikap keras pada teman karena sikap keras yang egois akan sangat tidak disukai orang lain. Akan muncul kalimat ”Emang loe pikir elu princess bisa seenaknya bersikap keras ama gue. Siapa elu ?” hahah begitulah.

 

 

ETIKA 

Mengajarkan etika pada anak adalah keharusan kita sebagai orangtua , begitu kata mamaku. Dengan mengajarkan anak-anak kita etika, anak-anak kita lebih muda diterima orang lain dalam kehidupannya, dengan beretika yang tepat, anak- anak lebih mudah mendapatkan dukungan dari orang lain. Etika harus dihidupi disemua lini kehidupan, etika sebagai atasan (atasan pake etika lho ya,  tidak bisa tidak), etika sebagai anak, etika sebagai istri / suami, etika sebagai ibu, etika berteman, etika berbisnis , etika sebagai ipar dsbnya. Semua harus ada etikanya.

 

Etika adalahsuatu sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan dan kesanggupan seseorang secara sadar untuk mentatati ketentuan dan norma kehidupan yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat atau suatu organisasi.

 

 

MENEMPATKAN DIRI SECARA TEPAT

Pada akhirnya, menempatkan diri secara tepat akan membuat kehidupan lebih mudah. Arogansi, sikap tegas yang keras tentu bukan tegas yang dimaksudkan dalam menjalani kehidupan.

 

Mama mengajarkan tentang sikap tegas berarti kita tegas pada nilai-nilai luhur kehidupan, tegas pada apa yang telah disepakati, dan tegas pada norma-norma yang berlaku tapi bukan tegas dalam arti men-judge orang lain. Miliki mindset jika kita tidak ingin diperlakukan demikian, maka jangan memperlakukan orang lain demikian.

 

Sebagai wanita, kita boleh aja setara dengan pria dalam hal persamaan gender tapi KODRAT kita sebagai IBU adalah tugas mulia yang TUHAN percayakan pada kita untuk kebahagiaan anak-anak kita dan orang lain. Banyak pimpinan – pimpinan yang baru diangkat menjadi pimpinan karena kinerjanya, sering gagal paham dalam hal ketegasan. Mereka mengartikan ketegasan dengan harus bersikap keras, bahkan dengan marah-marah tanpa arahan mereka sudah berpikir mereka tegas agar dianggap tangguh, Big NO Urbanesse. Saya sudah pernah menerapkan itu dulu hasilnya Nol besar, bawahan saya kerjapun jadi tidak fokus dan cenderung malah membuat kesalahan-kesalahan baru. Seperti ini menurut saya adalah type pimpinan yang berorientasi jabatan bukan berorientasi sukses. Jabatan menjadi prestise. Ia menjadi pimpinan seperti ini karena dulunya mungkin tidak diajarkan soft skill dari keluarganya. Ia berjuang sendiri dengan kinerjanya.

 

Menjadi pimpinan dibutuhkan pembuktian kinerja dan attitude, sikap tegas yang menyenangkan, yang bisa mengarahkan mana yang tepat dan mana yang menyalahi SOP. Dalam hal ini, jika ia tegas keras itu berarti ia mengarahkan teamnya pada kesuksesan. Dibutuhkan soft skill dan ilmu mengkomunikasikan maksud dan tujuan demi mencapai goal yang sama. 

 

Menjadi ibu yang keraspun, anak-anak sulit akan menerima nilai – nilai kebajikan yang kita harapkan untuk mereka. Menjadi pasangan hidup pun jika kita keras, pasangan hidup kita cenderung akan menghidari kita daripada membentuk keluarga yang harmonis. Sebagai teman, sikap keras kita juga tidak akan menyenangkan sehinga orang akan menghindari berteman dengan kita bahkan ditambahi gosip-gosip negative untuk menunjukkan rasa tidak suka mereka.

 

Mama mengatakan pada saya, ketika kita bersikap keras yang egois itu akan sangat merugikan kita sendiri nantinya. Sikap tegas yang keras, yang berorientasi egois tidak akan menjadikan kita dianggap tangguh dan sukses karena tidak akan mendapatkan dukungan dari hati. Ilmu kehidupan harus diajarkan dari rumah dan ini TUGAS MULIA sebagai seorang wanita. Hal yang pernah ibu saya tanamkan dari ini semua kini saya terapkan ke anak-anak saya, kelak pasti ini akan membantu mereka dan keluarganya agar langkah sukses melangkah, karena saya sudah merasakannya di usia saat ini, sangat terpakai.

 

Benar kata orang, dibalik kesuksesan seorang pria (keluarga termasuk anggota keluarganya) ada wanita tangguh di belakangnya sebagai pendukungnya.

 

 Sumber gambar: created by Katemangostar -freepik.com



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.