Pengalamanku Pernah Memandang Sebelah Mata Realita Pernikahan Orang Lain


Wednesday, 20 Feb 2019


Realita Pernikahan ternyata tidak semudah seperti kata-kata yang pernah saya ucapkan dahulu ketika saya masih single. Dulu itu ekpektasinya kalau saya menikah nanti saya nggak mau seperti kehidupan pernikahan si Zia (bukan nama sebenarnya) yang kerjaanya ngalamin baby blues nggak kelar-kelar. Saya sih nggak mau dan jangan sampai begitu, pokoknya mau gimanapun musti tetap positif, kuat dan belajar dari pengalaman orang lain untuk lebih sabar dan bisa menahan diri untuk tidak marah.

Saya juga melihat kehidupan pernikahan rumah tangga teman saya Wina (bukan nama sebenarnya) lagi-lagi saat itu saya ngebayangin dan ngomong dalam hati “kalau nanti saya menikah jangan sampai saya mengalami pernikahan seperti Wina selalu mengeluh dengan masalah rumah tangganya, seakan menjadi orang yang sangat menderita sekali.

Sejujurnya saya malu jika menengok lagi ke belakang ekpektasi saya dalam mengamati pengalaman pernikahan beberapa teman, saya cenderung menggampangkan keadaanya.

Singkat cerita saya pun melepas masa lajang dan memilih menikah dengan pria yang sudah 4 tahun menjalin hubungan dengan saya. Saat itu definisi pernikahan bagi saya adalah melepas masa lajang hidup bersama agar segala hal bisa dilakukan bersama dan membawa kebaikan dalam hidup, bukan kemudharatan (ketidakmanfaatan) ketika masih berpacaran. Saat itu saya pikir saya sudah siap dan cukup matang untuk menikah hanya berbekal belajar dari pengalaman orang lain, harusnya saat itu saya sadar kadar tiap orang dalam bereaksi menghadapi masalah itu berbeda-beda versi, walau saya tahu tetap pilihannya ada pada kita mau versi yang buruk reaksi ketika menghadapi masalah ATAU versi yang baik ketika di tempa masalah. Berdasarkan pengalaman saya semakin buruk reaksinya maka hasilnya tidak akan semakin baik dan malah akan membawa beban berat pada akhirnya, begitupun sebaliknya.  

Realitanya

Tahun pertama di masa awal pernikahan semua masih berjalan baik dan indah saya pikir ini sudah sesuai dengan ekpektasi di awal (hidup bersama dalam ikatan pernikahan, segalanya dilakukan bersama). Konflik kecil ada terjadi tetapi tidak sampai mengganggu suasana hati dan langsung bisa kami selesaikan. Karena memang saat itu saya dan suami sudah mengkomunikasikan sedari awal jika ada masalah harus segera di bicarakan sampai tuntas. Setiap berkonflik kami langsung membicarakannya, tidak gengsi memaafkan dan memperbaiki diri belajar dari kejadian sebelumnya itu selalu kami jalankan hingga hari ini.

Masuk tahun demi tahun berikutnya saya memiliki 2 orang buah hati. Ekspektasi saya dulu sebelum menikah bahwa dengan memiliki buah hati maka akan mampu menyatukan perbedaan pendapat, menyejukkan hati saya dan suami ketika galau melanda, ego pun akan lebih mudah di tahan karena berpikir bahwa hal baik harus kami berdua tunjuk dan tanamkan agar anak meniru hal positif dari hubungan orangtuanya. IYA ekpektasi itu sebagian benar. Ketika sedang lelah saya rasakan, saya bisa menjadi sangat bersemangat, merasa sejuk dan kembali menemukan diri saya ketika melihat anak pertama saya mendapatkan nilai yang bagus di sekolahnya, melihat anak saya yang kedua sudah bisa berjalan dan hal baik lainnya yang saya temukan di diri mereka dan sejujurnya ini cukup menjadi penyejuk dan penambah rasa syukur kami pada Tuhan kala sedang merasa lelah di berbagai urusan hidup.

Namun, yang namanya pernikahan itu ibarat kita mengendari sepeda, hanya diri kita lah yang benar-benar musti tahu cara menyeimbangkan sepeda tersebut agar bisa berjalan tetap stabil dengan baik mau di jalan lurus dan mulus maupun di jalan yang licin, berbatu dan berbelok-belok. Realita pernikahan yang membuat saya bertumbuh menjadi pribadi hingga hari ini adalah saat dimana kami masih terus harus banyak belajar menahan diri untuk tidak mudah emosi ketika masalah yang datang bertubi-tubi.

Saya ingat betul pengalaman menghadapi problem rumah tangga terbesar di pernikahan yang pernah saya alami di beberapa tahun yang lalu, yaitu pada saat anak pertama saya di vonis oleh dokter terkena penyakit paru-paru basah, padahal saya tidak memiliki keluarga dengan riwayat penyakit tersebut dan kenyataan yang harus saya dapatkan adalah bahwa suami saya perokok dan ia memiliki riwayat penyakit tersebut juga saat masih balita. Jujur karena ini pengalaman saya yang baru memiliki anak saat itu, mendengar suami dengan riwayat penyakit tersebut, yang tidak ia ceritakan pada saya membuat saya tidak dapat mengontrol emosi. Saya kerap menangis menghadapi anak saya yang sakit tersebut, pikiran saya mengawang jauh khwatir, takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada anak saya. Kurang tidur yang menjadikan saya pada akhirnya mengalami baby blues bahkan sempat hampir menyerah dan berpikiran buruk untuk mengakhiri hidup saya karena merasa nggak kuat.

Realitanya pasangan sayalah yang pada akhirnaya menyadarkan dan mendukung saya. Di kondisi yang sebenarnya saat itu saya juga tahu dia pun sangat cemas, merasa bersalah dan galau. Ia mampu memposisikan dirinya untuk mengajak saya untuk tidakmengkhawatirkan segala hal yang belum terjadi, dia mengingatkan saya untuk terus tidak putus harapan dengan berdoa sambil kami berdua juga berusaha menyembuhkan anak saya melalui medis maupun jalan alternatif. Moment yang paling menyentuh dan membuat saya bertahan adalah ia meminta saya untuk meningkatkan terus rasa sabar sambil berserah diri pada Tuhan karena penyakit apapun itu berasal dari Tuhan dan harus dikembalikan lagi ke Tuhan. “Jikapun hal buruk terjadi misalnya setelah usaha dan doa kita, selalu ingat bahwa keluarga, harta dan hal apapun yang kita dapat di dunia ini hanyalah titipan Tuhan yang suatu saat pasti akan ia minta kembali dan kita sebgai manusia harus kuatdan tabah melepasnya” kurang lebih seperti itu ucapan suami saya saat itu.

Nah dari kejadian beberapa tahun lalu tersebut, realita pernikahan yang saya jalani menyadarkan saya bahwa sebuah pernikahan tidak cukup hanya mengandalkan cinta di mulut atau di postingan sosmed. Cinta dalam sebuah pernikahan adalah perwujudan cinta senyata-nyatanya. Nyatanya pernikahan yang harus saya jalani seperti ini, Bukankah setiap orang berbeda-beda reaksi dirinya ketika menerima suatu masalah?. Dulu saya akui, saya memang keliru suka mengecilkan realita pernikahan teman-teman saya yang pada akhirnya saya pun melewatinya juga. Bahkan reaksi emosi saya ternyata tidak lebih baik dari teman-teman saya. Dalam kondisi tersebut saya sangat bersyukur atas semua yang terjadi saat itu, ini menempa saya untuk terus bisa menjadi Istri, Ibu dan Perempuan yang sejatinya ingin selalu memberikan yang terbaik bukan hanya untuk keluarga tetapi juga untuk orang-orang sekitarnya dan terutama untuk diri saya sendiri.

Anak saya pada akhirnya sembuh dari sakit paru-paru yang di deritanya. Hingga hari ini saya dan pasangan masih terus menjalani pernikahan dengan segala realitanya sambil terus bertumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih dewasa dan sabar serta tenang ketika harus dihadapkan pada tantangan baru dalam pernikahan yang kami jalani. Saat menulis artikel ini sambil pillow talk dengan pasangan saya dan suami sepakat bahwa pernikahan bagi kami berdua adalah “Perwujudan dari cinta senyata-nyatanya bukan hanya bersama di kala senangnya saja, tetapi wujud nyata dari cinta terbesarnya adalah saat dimana salah satu sedang melemah yang lain dapat menguatkan dan ketika salah mau aling memaafkan serta memperbaiki diri. Itu yang kami namakan proses bertumbuh dalam pernikahan”. Saya dan pasangan nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepan terhadap pernikahan ini, harapan saya sebagai manusia inginnya pernikahan ini bisa sampai akhir hayat. Amen.

Dari cerita lalu tersebut saya belajar :

  1. saya belajar untuk tidak lagi memandang sebelah mata pengalaman orang lain baik yang belum maupun yang sudah menikah, baik berupa ekspektasinya maupun realita pernikahan yang tengah di hadapi. Karena setiap orang reaksinya berbeda-beda ketika menghadapi suatu masalah (seperti ini, mungkin bagi saya yang tidak sedang mengalami problem yang di hadapi si A saya menganggapnya enteng, tetapi bisa jadi itu adalah masalah terberat yang dialami si A). Saya akhirnya sadar bahwa kita nggak akan pernah tahu realita apa yang akan terjadi di dalam kehidupan pernikahan kita jadi tetap hargai cara orang lain bereaksi terhadap realita pernikahannya dan sampai hari ini akhirnya membuat saya selalu ambil pelajaran berharga pengalaman hidup orang lain.
  2. Ekspektasi boleh saja namun tetap realistis. Ekspektasi sebelum menikah nggak masalah, setidaknya itu bisa menjadi acuan untuk memilih pasangan yang tepat nantinya. NAMUN alangkah lebih baik menjadikan ekspektasi sebagai standar bahwa pernikahan yang saya jalani nantinya harus mutlak seperti ekspektasi yang kita bayangkan, karena berdasarkan cerita saya, pada kenyataanya dalam pernikahan saya selalu ada kejutan baru yang membuat saya dan suami semakin dewasa&bijaksana secara pola pikir.

Semoga pengalaman saya dapat memberi pandangan berbeda dalam melihat realita sebuah pernikahan.



Clara Marisa

No Comments Yet.