Pengalamanku Menjadi Orang Ketiga Di Pernikahan Temanku Sendiri


Friday, 08 Mar 2019


Awalnya tidak pernah terbayangkan bahwa saat itu aku harus menjadi duri dalam daging di dalam rumah tangga teman dekatku Milly dan suaminya Rio (bukan nama sebenarnya).

Aku yang berasal dari kampung ingin mencari pekerjaan di Jakarta, aku tergiur melihat banyak temanku yang sudah tinggal dan bekerja di Jakarta hidupnya lebih baik. Senang karena di  Jakarta aku punya tujuan, mampir ke rumah milly temanku untuk menumpang dulu beberapa hari sambil mencari tempat kos dan kebetulan juga aku memang sudah mendapatkan pekerjaan.

Setibanya aku di rumah Milly ia dan suaminya menyambutku dengan cukup baik, Rio suami milly yang aku tahu ia seorang Manager dan aku lihat Rio sangat sayang pada Milly. Milly dulu bekerja tetapi sejak menikah ia memilih untuk stay di rumah menjadi Ibu rumah tangga karena ia ingin fokus memiliki buah hati katanya.

Singkat cerita 1 minggu aku tinggal di rumah Milly, setelah itu aku mendapatkan tempat kos tidak jauh dari rumah Milly, karena di lingkungan rumah milly tempat kos masih sangat murah jadi aku memilih tinggal di area situ. Ketika aku sedang libur Milly main ke tempat kosku. Bisa dibilang Milly dan suaminya sangat welcome dengan kehadiranku. Kadang aku menginap di rumahnya. Beberapa kali setiap liburan Milly pun selalu mengajakku, kami liburan bertigaan. Jujur saat itu tidak ada perasaan apapun dan aku juga tidak melihat gerak gerik Rio bahwa ia menyukaiku. Hingga pada suatu hari di kantorku ada pengurangan karyawan, dan aku terkena PHK saat itu. Milly dan suaminya yang saat itu mungkin iba dengan keadaanku memintaku untuk tinggal sementara di rumahnya lagi sampai aku mendapatkan pekerjaan kembali.

Akupun tinggal dirumah Milly lagi, sambil terus mencari pekerjaan. Entah kebetulan atau tidak kantor suami Milly ternyata sedang membuka lowongan pekerjaan sebagai staf administrasi, akupun mencoba melamar pekerjaan disana. Atas rekomendasi Rio, aku di terima bekerja di kantor tersebut. Akupun kembal nge-kos walau sebenarnya Milly tidak mengizinkan aku ngekos. Tetapi aku memilih ngekos karena tidak ingin merepotkan mereka. Di kantor, perlakuan Rio suami Milly tetap sama baiknya seperti di rumah, ia bahkan sering mengajakku makan siang bareng rekan-rekan lainnya. kalau aku lagi sibuk banget, dia kadang memesankan makanan untuk di antar ke mejaku. Awalnya aku pikir hal tersebut di lakukan karena Milly istrinya yang meminta untuk memperhatikan aku seperti itu di kantor. Tetapi aku mendapatkan kenyataan yang membuatku galau darinya saat itu Jadi waktu itu aku lembur di kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Ketika pulang, Rio ternyata menungguku dia mengajakku pulang bersamanya, saat itu aku tidak berpikir untuk menolak ajakannya, karena hari juga sudah jam 10 malam.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol, saat itu aku sudah berpikir ini seperti ada yang salah, seharusnya aku mengabarkan Milly, seharusnya aku juga mengingatkan Rio untuk menelpon milly bahwa kita pulan kerja bareng. Bodohnya aku tidak mengindahkan pikiran tersebut, yang ada di pikiranku rasa nyaman dan terhibur pulang kantor ada yang menemani, makan ada yang beliin dan ada yang memperhatikan. Aku seperti lupa bahwa laki-laki yang sedang memperhatikan aku ini adalah suami temanku sendiri.  Malam itu aku merasa senang dan nyaman. Aku pikir nggak apa-apa juga, lagi pula hanya untuk sesaat. Keesokan hari hingga hari-hari berikutnya Rio semakin membuatku merasa nyaman. Kami bukan hanya sering pulang bareng sekarang tetapi setiap pulang dari kantor aku dan Rio sering nongkrong dulu di luar berdua hanya untuk sekedar ngopi dan mengobrol. Rio ternyata tidak pernah menceritakan kalau aku dan dia sering pulang bareng dan mampir-mampir dulu selepas pulang kerja. Kata Rio Milly tidak perlu tahu, karena menurutnya Milly itu orangnya cemburuan, dan dsiitu aku hanya bisa diam dan mengiyakan aku hanya tidak ingin ribut dengan Milly dan tetap bisa jalan dengan Rio yang sangat baik dan memperhatikanku.

3 bulan berjalan aku merasa seperti orang yang munafik. Ketika bertemu Milly dirumahnya aku harus menjadi bukan diriku, aku menjadi orang lain seolah aku teman yang baik begitupun Rio. Kami berdua bisa berpura-pura bahwa kami tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan Milly selalu ingin mendengar cerita tentang apa yang dikerjakan suaminya di kantor bahkan ia menitipkan Rio padaku agar ia tidak macam-macam di kantor. Aku merasa seperti manusia yang sangat munafik saat itu. Seorang teman yang tega mengkhianati temannya sendiri yang sudah banyak membantunya. Padahal aku lihat dengan jelas bahwa Rio seperti sangat menyayangi Milly, bahkan Rio pernah tidak masuk kantor karena Milly harus di rawat di rumah sakit untuk operasi usus buntunya, hanya saja ia dan aku saat itu sedang merasa sama-sama nyaman dan ada peluang bersama di luar rumah maka jadilah.

Aku Mendapat Pembelajaran Hidup

Ketika Beberapa teman aku ceritakan tentang masa lalu ini mereka selalu mengatakan hal ini ‘jahat lu, kok tega sih lu sama teman sendiri, lu nggak takut karma? Dan banyak lagi ucapan menyakitkan lainnya yang memang mungkin pantas ditujukan padaku saat itu.  Namun ada satu teman kuliahku sebut saja namanya Elga yang menurutku ia cukup bijaksana ketika menanggapi ceritaku. Ia mengatakan bahwa aku, Rio dan Milly semua memiliki tanggung jawab mengakui kesalahannya. “Kamu nggak salah menurut keyakinan kamu, Milly pun demikian, Rio juga. Kalau di telusuri lagi semuanya nggak ada yang pingin di salahkan walau kenyataanya ketiganya memang ada andil untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya hingga bisa terjadi hubungan segitiga tersebut. Rio salah karena dia memanfaatkan keluguan dan mengisi celah kosong di dirimu yang lama nggak terisi dan dia mencari pembenaran untuk kesenangan dan merasa memiliki kekuatan secara materi disitu, Milly salah karena ia memang benar penyayang seperti yang kamu bilang, tetapi dia tidak cerdik seharusnya kalau memang dia sayang keluarga ia tidak memasukan orang lain even itu teman sendiri ke dalam kehidupan rumah tangganya. Karena pepatah orangtua lama itu benar menurutku yang mengatakan bahwa jangan pernah mengizinkan orang lain menetap di rumah kita, karena itu akan menjadi fitnah juga memberi peluang terjadinya hal yang tidak diinginkan pencurian, pengkianatan dan lainnya’. Terangnya.  Ternyata Elga bisa berbicara seperti itu karena dulu ia pernah di khianati oleh teman karibnya.  Bahkan pasangannya kini sudah menikah dengan temannya dan menceraikan Elga, tetapi Elga move on ia tidak mau luka batin yang di alaminya dulu terbawa hingga lama di dirinya. Ia menyibukkan diri tetapi bukan untuk melarikan diri, melainkan memilih menyimpan energinya untuk membuka hati pada seseorang yang bukan hanya mau menjadikannya istri tetapi juga menjadikannya sahabat, adik dan partner kerja serta pasangan hidup di rumah jadi tidak ada peluang pasangannya akan mencari pelarian di luar rumah selain dengan dirinya.  Dan Elga sudah menemukannya, ia sudah menikah lagi sekarang. Untuk apa ada dendam jika semuanya malah membawa kebaikan buat diri saya dan mengantinya dengan seseorang yang jauh lebih berkualitas secara karakter dan kepribadian dari sebelumnya. Meski harus menunggu lama nggak amsalah selma menunggu itu memantaskan diri agar bisa menemukan pria sejati sesuai dengan kebutuhan kita adalah lebih baik daripada terburu-buru namun merusak hubungan orang lain” ungkapnya.

Thanks Elga, pengalaman yang ia ceritakan membuatku tertampar dan sadar bahwa apa yang aku cari, buat apa aku bekerja kalau ujung-ujungnya aku malah menjadi orang ketiga di dalam pernikahan temanku sendiri, aku merenung dana meminta ampun apda Tuhan atas segala perbuatanku dan  berdialog pada diri sendiri, aku seharusnya mencintai diriku. Masa iya aku mau di label sebagai pasangan tidak sah yang merusak rumah tangga kawannya sendiri ? bagaimana perasaan anak-anaku nanti jika mengetahui kenyataan bahwa Ibu pernah menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain? Bagaimanpun aku tidak ingin anakku tumbuh dari perilaku Ibunya yang tidak baik untuk dicontoh. Akhirnya 5 bulan saja aku menjalin hubungan dengan suami temanku, dan aku memutuskan untuk menyudahinya.

Aku ingat betul saat itu aku, milly, Rio dan Elga bertemu, Elga aku minta jadi penengah disini, karena aku ingin semuanya clear tanpa ada saling menyakiti jadi ketika aku pamit pergi aku sudah tidak lagi membawa rasa bersalah. Rio dia sangat kaget saat aku berbicara jujur tentang semua ini pada Milly istrinya. Nampak ia sangat marah tetapi ini harus aku bicarakan secara jujur. Namun aku tidak melihat kecewa dari wajah milly padaku ia malah menangis dan memelukku. Aku tahu milly orang yang baik, Rio juga disini aku yang salah berada di tengah-tengah keluarga mereka, harusnya aku yang menghindari itu dari awal, harusnya aku bisa menghindari keadaan ini. Memang awalnya berat dan takut untuk mengakui kesalahan dan bersikap jujur pada temanku Milly. Namun, aku memilih lebih baik jujur dan minta maaf sebelum pergi tetapi aku tenang dan mereka kembali bersama, daripada aku pergi dengan membawa rasa bersalah terutama pada diriku sendiri. Aku memilih berdamai dengan masa laluku dan melakukan kebaikan bukan untuk Milly, bukan juga untuk Rio tetapi ini untuk diriku sendiri.

Setelah itu Aku pamit pada mereka dan minta maaf, aku juga berjanji untuk tidak lagi berada di antara mereka. Rio pun meminta maaf padaku dan pada istrinya Milly, pertemuan kami bertiga saat itu cukup membuat aku dan milly sangat mellow, kami menangis dan saling menguatkan.  Aku resigne dari kantor Rio karena kebetulan juga aku diterima bekerja di tempat lain. Hingga kini aku dan Milly masih tetap berkawan baik, kami masih sering chatting walau memang belum ada waktu lagi untuk bersua karena aku sudah tinggal di luar Jakarta dan aku kini juga sudah menikah dan memiliki 1 orang anak.

Well, Ternyata lebih membahagiakan memiliki hubungan yang tidak dirahasiakan, dengan restu dan tidak ada yang harus di sakiti dan tersakiti dan satu lagi mau menerima masa lalu &kekurangan diri kita. ‘Kitalah yang memilih jalan hidup kita sendiri, ketika kita sudah tahu di awal hubungan bahwa kita memilih dengan cara yang tidak baik (dirahasiakan, tanpa restu, tanpa doa, dipaksakan meski rumit dan hanya mencari nyaman versi kita saja maka hubungan tersebut tidak akan membawa ketenangan, kebaikan dan seperti pengalamanku ini tidak akan berlangsung lama lebih baik di hentikan meski memang berat tanpa harus kita yang menghentikannya. TETAPI jika Hubungan tersebut di landasi dengan saling mendoakan, saling mengusahakan, tanpa di rahasiakan dan dengan restu  maka semesta pun meng-Amini dan jalannya pasti akan di permudah oleh Tuhan, Itu tepat aku alami sendiri. Semoga ceritaku ini mampu menjadi inspirasi bagi teman-teman yang mengalami hal serupa.

 

 

 



Rika

No Comments Yet.