Pengalamanku Menghadapi Si Pengganggu Hubungan Orang


Monday, 26 Mar 2018


Bagaimanapun memang yang kita tahu bahwa seseorang yang mengambil /merebut milik orang lain itu adalah perilaku yang tidak dibenarkan. Itu sama halnya seperti kita mencuri yang bukan hak kita. Lantas apakah seorang perempuan yang di duga perebut laki orang adalah mutlak kesalahan mereka ? apakah makian, bully dan  judgement harus mereka terima?

Dalam cerita ini saya ingin menceritakan pengalaman teman dari Ibu saya sebut saja namanya Clara (bukan nama sebenarnya). Clara telah menikah dengan Geri suaminya (bukan nama sebenarnya) selama 16 tahun dan di karuniai 2 orang anak perempuan saat itu. Di awal pernikahan semua berjalan sangat baik, suami clara juga menunjukkan sikap yang baik dirumah, karakternya tetap sama ketika ia dulu berpacaran dengan Clara. “orangnya tanggung jawab, jiwa kebapakan dan lembut” ujar Clara. Clara berprofesi  penata rias pengantin tiap hari Sabtu dan Minggu, di hari Senin sampai Jumat dia menjadi Ibu Rumah Tangga Fulltime di rumah mengurus anak-anaknya. Suami Clara adalah seorang pegawai salah satu Bank Swasta di Jakarta.

Singkat cerita kira-kira pada tahun 2013 rumah tangga Clara harus mengalami ujian yang bagi Clara saat itu cukup berat. Clara mencium perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya. “Awalnya nggak menyangka, saat itu ada perempuan masih muda kira-kira usianya saat itu 20tahunan (sebut saja namanya Lidya) datang kerumah saya menanyakan suami saya lalu dia bertanya saya siapanya Geri.  Yaa..saya jawab saya istrinya Mas Geri”. Dengan muka nampak kaget seakan tidak percaya dia pun kemudian mengatakan bahwa dia adalah pacar dari Mas Geri. Entah apa yang perempuan itu pikirkan, menurut saya ia cukup berani menemui saya untuk mengatakan bahwa selama satu setengah tahun ini ia sudah menjalin hubungan dengan suami saya. Ia mengatakan bahwa bulan depan Geri berencana akan menikahinya secara siri.

Mendengar kicauan perempuan tersebut yang sedang duduk di depan saya, badan saya gemetar, semua yang sedang dikatakan Lidya tidak ada yang saya tangkap. Yang ada dikepala saya hanya satu “Yaa...Tuhan Jahatnya suami saya sama saya, selama ini ternyata dia banyak berbohong dan baiknya dia hanya berpura-pura untuk menutupi kelakuannya di luar rumah” mau menangispun tidak bisa seakan tertahan air mata karena saat itu kalau saya turutin perasaan saya hanya emosi marah, kecewa, benci dan kesal luapan yang akan saya keluarkan ke Lidya dan pasti kalau saya bereaksi demikian semua nggak akan ada titik temunya. Tidak akan ada jalan keluarnya. Bila kejadian ini dialami oleh perempuan zaman sekarang dimana perempuan yang dianggap sebagai penggangu rumah tangga orang lain datang menghampiri istri sahnya maka yang terjadi adalah labrak melabrak dan saling serang yang ada,  tapi tidak dalam cerita pengalaman saya ini.

Saya bersyukur karena saya di didik dari keluarga yang kuat dalam keimanan dan keyakinan juga di bentengi dengan akhlak dalam menjaga sikap yang baik dalam mengelola reaksi diri ketika marah. Ketika saya menghadapi Lidya saat itu, Saya diingatkan kembali ucapan mama saya, “pergilah menenangkan diri dulu ketika marah kamu rasakan lalu basuhlah mukamu dan pergilah dulu beribadah atau berdoa sesuai dengan ajaran agama yang kita yakini”. Tanpa berpikir panjang saya katakan pada Lidya “untuk saya mohon izin pergi dulu ke kamar untuk menenangkan diri saya”.  Lidya kaget, ia bahkan tidak menyangka reaksi yang dia dapatkan dari saya.Dia bertanya pada saya “maaf mbak jika kedatangan saya membuat mbak jadi kecewa dan sedih”. Lalu saya beranjak masuk ke kamar.

Untungnya saat itu anak-anak saya sedang berada di sekolah jadi mereka tidak harus tahu kejadian ini. Selesai saya menenangkan diri dan berdoa di kamar kurang lebih 15 menit saya kembali menemui Lidya. Kali ini pikiran dan hati saya jauh lebih sejuk,  tenang dan terkontrol dari sebelumnya. Tanpa saya mau mendengarkan lagi cerita panjang lebar Lidya, saya tegaskan padanya “Lalu sekarang kamu datang kesini untuk apa Lidya. Kamu sudah tahu kan Mas Geri sudah beristri dan memiliki 2 orang anak. Kamuupun pasti juga tahu bahwa apa yang kamu lakukan ini salah. Yaa...kan ?” tanya saya pada Lidya.

Lidya menjawab iya saya tahu itu salah, namun saat itu saya benar-benar tidak tahu kalau Mas Geri sudah memiliki istri dan anak. Lidya mengatakan bahwa ketika mengawali hubungan dengan Mas Geri, ia tidak mengetahui bahwa Geri sudah memiliki anak istri. Awalnya Lidya juga tidak bermain hati dengan Geri ia hanya seorang anak perempuan dari kampungnya yang sedang ke Jakarta untuk kuliah dan saat itu ia benar-benar sedang butuh uang untuk biaya hidupnya (bayar kos, makan, transportasi, komunikasi dan kebutuhan hidup lainnya) semntara uang kulaih masih di tanggung oleh orangtuanya. Lidya mengaku bahwa ia mengenal Geri ketika ia masih bekerja sebagai SPG minuman energi, ia bertemu Geri ketika sedang menawarkan minuman tersebut ke Geri dengan alasan tawaran pekerjaan dari Geri untuk menjadi Customer Service di Bank mereka saling bertukar nomor handphone dan berlanjut. Pekerjaan tidak di dapatkan dari Geri namun Geri malah menawarkan diri menjadi pacarnya yang akan membiayai kehidupan Lidya selama di Jakarta.

Saya baru tahu tentang mbak ketika saya mengajak Mas Geri ke rumah orangtua saya. Mas Geri bercerita di hadapan orangtua saya bahwa sebenarnya ia sudah menikah dan memiliki istri namun katanya pernikahan mbak dan dia sudah berjalan tidak baik dan sedang proses cerai. Namun, orang tua saya tidak percaya begitu saja saya diminta Ibu saya untuk mencari tahu dulu siapa Geri yang sebenarnya sebelum memutuskan untuk menerima pinangan dia. Sebenarnya saya bisa saja mencari tahu tentang mbak dari beberapa bulan yang lalu, sejak Ibu meminta saya mencari tahu tentang Mas Geri, namun saya saat itu berpikir pendek mbak kalau saya pada akhirnya harus menerima kenyataan Mas Geri sudah berkeluarga berarti nantinya selesai hubungan saya dengan mas geri yang berarti berhenti juga masukan uang bulanan untuk saya hidup di Jakarta. Karena terus terang saat itu saya betul-betul butuh biaya untuk membayar sisa hutang kartu kredit dan hutang-hutang lainnya. Mas Geri selama ini membantu saya secara finansial mbak dia juga sangat baik memperlakukan saya”. Terang Lidya saat itu.

Dikatakan oleh Lidya bahwa ia akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri  menemui saya adalah untuk mengkonfirmasi kebenaran apakah saya dan Geri benar-benar sedang tidak baik rumah tangganya dan sedang dalam proses cerai. Saya jawab TIDAK. Rumah tangga saya dan Geri selama ini baik-baik saja, bahkan saya pun sampai detik ketika Lidya datang saat itu saya masih tidak percaya bahwa suami saya selama 1 setengah tahun berselingkuh di belakaang saya namun saya sampai tidak tahu itu. Saya tahu Lidya adalah anak baik-baik ia masih labil, karena saat itu yang ia pikirkan adalah bagaimana ia bisa mendapatkan uang yang cepat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Saya katakan pada Lidya saat itu “Seandainya hal ini terjadi pada Ibumu, bagaimana perasaanmu sebagai seorang anak perempuannya mengetahui bahwa ayahmu menduakan ibumu dengan wanita lain? Kamu tahu kan bagaimana perasaan seorang perempuan ketika keluarga yang dibangunnya bertahun-tahun dan ia percayai lalu di nodai dengan perselingkuhan?.

Kamu tanyakan ke dalam diri kamu yang paling dalam apakah dengan cara ini kamu bahagia, apakah benar ini kebahagiaanmu? Kamu masih muda, cantik masih panjang kehidupanmu dan masih banyak pengalaman yang akan kamu temui nanti kedepannya. Saya sendiri jika memang Mas Geri nantinya lebih memilihmu untuk ia nikahi, saya akan ikhlaskan namun saya tidak akan mau di madu. Saya akan memilih untuk melepaskan Mas Geri untuk kamu.

Anggaplah saya ini sebagai kakakmu yang menginginkan kamu adik saya untuk mendapatkan laki-laki baik dalam agamanya, karirnya dan masa depannya tapi bukan suami orang atau bukan milik orang lain yang kamu mau coba ambil, agar nantinya tidak akan ada yang merasa tersakiti dan disakiti” sambil saya meminta Lidya melihat foto anak-anak saya.

Saat itu nampak muka sedih dan kecewa di wajah Lidya. Ia mengatakan bahwa saya adalah perempuan baik hati, istri yang tegar dan berhati besar meski kehadiran Lidya membuat saya kecewa namun menurut Lidya saya tidak bereaksi dengan menunjukkan kekecewaan, kemarahan sedih berlebihan dan tidak pula menyudutkannya. Itulah yang menurut Lidya belum ia miliki dan ia belajar dari saya akan arti ketegaran dan sikap berbesar hati. Saya meminta Lidya untuk pulang ke rumah orang tuanya dulu di kampung, untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali keputusan apa yang ingin diambilnya.

Malam harinya saya pun membicarakan hal tersebut dengan suami. Yang pasti saat itu dalam kondisi yang benar-benar Mas Geri sudah dalam posisi sangat santai. Kebetulan anak-anak juga sudah pada tidur. Saya tanyakan perihal Lidya yang datang kerumah. Reaksi Geri sangat kaget ketika mendengar nama Lidya. Saya ceritakan semuanya dan saya meminta dia bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan. Sepanjang malam ia terus meminta maaf pada saya dan menjelaskan bahwa ia awalnya hanya ingin membantu Lidya, namun karena menurut pengakuannya ia khilaf dan kurang bersyukur dengan apa yang ia miliki ia jadi tidak bisa menjaga kepercayaan yang saya berikan padanya.

Apapun itu alasan Geri, saya minta ia bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia harus menghadap Lidya dan orangtuanya. Saya tidak meminta ia memilih, namun saya hanya minta ia pikirkan konsekwensi dari perbuatannya, jika ia serius dan bisa bersikap baik seharusnya ia bukan hanya memacari Lidya tetapi juga menikahinya, karena saya pikir kasihan lho perempuan di gantung terlalu lama tidak diberi kepastian.  Ia meminta saya memaafkan perbuatannya dan ia berjanji untuk menyelesaikan masalahnya dengan Lidya. Saya katakan pada Geri “itu urusanmu dan selesaikanlah sesuai dengan apa yang menurutmu baik”

Dari sini pun kembali saya bercermin kepada diri saya sendiri, memberi catatan baik dan buruknya diri saya hingga introspeksi diri mengapa suami saya bisa tidak menjaga dengan baik komitmen pernikahan ini dan coba berpaling ke wanita lain.

Saya sadar sebagai istri saya mungkin terlalu menuntut banyak pada suami saya dan terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri dan anak-anak, hingga ia sebagai seorang pasangan tidak ada ruang untuk mengeluarkan unek-uneknya, hingga ia tidak ada teman lagi untuk berbagi, karena yang saya tahu ketika saya menuntut ia menjadi seperti ini dan itu ia nyaman-nyaman saja, padahal mungkin sebenarnya ia terbebani dan dari sinilah komunikasi kita berdua jadi kurang.

Ketika ia pulang kerja, karena saya sudah terlalu lelah mengurus rumah tangga pada siang hari, mungkin ada satu waktu saya sempat lupa untuk menanyakan suasana hatinya dia, bagaimana tiap hari ia di kantor dan komunikasi lainnya yang dulu ketika kami pacaran selalu kami lakukan dengan intends namun sejak menikah saya akui memang sudah jarang kami lakukan yaitu menanyakan kabar, menanyakan sudah makan atau belum, sedang apa dan ucapan sakral I love you memang sudah jarang kami lakukan kecuali ketika ia berualng tahun.

Semoga yang Geri katakan adalah benar bahwa ia hanya khilaf dan tidak ada lagi cerita Lidya-lidya lain yang datang kerumah. Selang 1 minggu, lidya datang kembali kerumah saya dengan membawa Ayah dan Ibunya juga saat itu Geripun ada di rumah. Memang saat itu saya sendiri sudah tahu kalau Lidya dan keluarga akan datang kerumah. Saya pikir saat itu kedatangan lidya dan keluarga adalah untuk meminta saya mengikhlaskan Geri untuk Lidya tetapi ternyata dugaan saya salah. Lidya dan Orangtuanya datang untuk meminta maaf pada saya atas semua yang dilakukan  Lidya selama 1 setengah tahun ini. Lidya berjanji untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan Geri.

Ada satu ucapan Lidya yang buat saya mengakui kalau anak ini memang bukan hanya cantik tapi juga cerdas dan berpikir rasional. Lidya mengatakan bahwa ia belajar dari saya tentang bagaimana belajar memiliki empati, menurut lidya saya memiliki sikap itu. Sikap dimana kita mampu memposisikan seandainya hal yang orang lain alami terjadi pada diri kita juga atau pada orang sekitar kita yang kita sayangi dikecewakan dan diperlakukan sama seperti apa yang kita lakukan pada orang lain. Pada saat Lidya datang kerumah, saya tidak menyudutkan dia sedikitpun memang karena saya berpikir seandainya saya ada di posisi dia pasti hal yang tidak mengenakan adalah disudutkan ketika kita tahu kita salah, maka dari itu saya bersikap ngemong ke Lidya agar dia tidak merasa di hakimi.

Setelah kejadian tersebut awalnya agak sulit untuk saya mempercayai lagi suami saya, Geri pun tahu itu. Maka sambil berjalannya waktu saya belajar kembali untuk menata diri dan emosi saya agar dapat memiliki kepercayaan seperti dulu. Geri terus berusaha meyakinkan saya bahwa dulu dirinya memang khilaf dan tidak bersyukur dengan apa yang ia miliki dia pun berusaha membuktikan pada saya kalau dia kini telah berubah.

Saat clara menceritakan kisah ini pada saya, usia pernikahan Clara sudah memasuki tahun ke 19, salah satu anak Clara juga sudah ada yang tumbuh remaja. Lalu bagaimana dengan Geri suami Clara ? yaa...mereka tetap bersama hingga kini. Sejak kejadian beberapa tahun yang lalu tersebut Clara sudah memaafkan dan memberi kepercayaan kembali pada Geri. Bagi Clara suatu relationship akan dikatakan baik ketika pasangan tersebut mampu melewati prosesnya dan menata reaksi dirinya terhadap emosi ketika di hadapkan pada suatu hubungan yang buruk. “Bersyukurlah bagi kita yang proses perjalanan love relationshipnya tidak harus mengalami sesuatu yang rumit dan buruk namun tetap melatih diri untuk selalu bereaksi negatif ketika suatu hari nanti kita harus di hadapkan pada bad relationship. Karena dalam suatu hubungan itu pasti akan selalu ada, kalau kata orang dahulu bilangnya konflik itu “bumbu rasa” dari suatu hubungan. Love relationship itu ibarat masakan kitalah yang yang membuat masakan itu istimewa, manis, gurih, hambar kitalah yang mengaturnya. Jika masakan itu tidak enak, cari tahu di sisi mana yang kurang atau berlebihan” ujar Clara.

Dari cerita clara ini ia memberitahu saya pembelajaran hidup yang di dapatnya tentang bagaimana melatih diri dalam bereaksi agar tetap positif meski dalam hubungan yang buruk, kelak nanti ia pun akan memberitahukannya pula pada anak perempuannya ketika dewasa nanti :

  1. Komunikasikan sebab akibat masalah dengan pasangan. Ketika hubungan cinta dengan pasangan kita sudah kita rasakan buruk atau rumit, berkomunikasi dengan pasangan adalah pilihan pertama dan utama. Karena saat hubungan cinta kita bermasalah berbicara dengan orang lain bukan solusi utama, berbicaraah dengan orang yang sedang bermasalah dengan kita yaitu pasangan kita. Ketika ada kesempatan untuk bicara dari hati ke hati, tegaskan tentang arah hubungan yang sedang kita jalani tersebut dengannya,  tidak perlu takut pada kenyataan atau konsekwensi yang harus kita terima atau dapatkan setelah komunikasi itu berlangsung. Karena bagaimanapun hasilnya tetap bersama atau akhirnya berpisah keduanya memiliki pembelajaran tersendiri buat kehidupan kita ke depannya. Berhentilah untuk berpikiran takut kehilangan, takut ditinggalkan, takut berpisah, takut sendiri dan ketakutan lainnya yang kerap menyelinap di kepala kita para perempuan. Karena apa yang kita takutkan belum tentu terjadi.
  1. Tidak menyalahkan orang lain ketika hubungan kita dengan pasangan sedang dalam kondisi buruk. Kalau saya tenangkan pikiran dan emosi dulu ketika sedang mengalami bad relationship bisa dengan berdoa, ibadah, cuci muka atau pergi dulu ke suatu tempat yang kita senangi sambil merefleksikan diri. Karena keputusan dari pikiran orang yang sedang emosi dengan yang sudah lebih tenang dan sejuk hasilnya akan berbeda.
  1. Menerima segala kekurangan diri. Ketika pasangan menduakan atau mengkhianati kita, tidak perlu itu kita jadikan tameng yang membuat kita jadi rendah diri dan down. Tenanglah karena semua akan baik-baik saja.
  1. Libatkan Tuhan selalu dalam usaha mencari solusi dengan pasangan. Karena DIA lah yang Maha membolak balikan hati dan keadaan. Jika kita sudah berusaha mengelola reaksi diri kita terhadap emosi dengan baik namun keadaanya masih merumit atau buruk, kembalikan semuanya pada Tuhan karena DIA-lah kuasa terbesar atas diri kita dan permasalahan yang sedang dihadapi.

 

 



Clara Marisa

No Comments Yet.