Pengalamanku Meladeni Perdebatan di Sosial Media Yang Sia-Sia


Friday, 10 May 2019


Melihat kembali sosial media (sosmed) saya 5 tahun lalu membuat saya terperangah, ternyata dulu itu saya termasuk orang yang senang banget meladeni perdebatan di sosial media dan senang mengomentari/membuat status yang cenderung menghakimi pendapat orang lain yang tidak sepemahaman dengan pandangan saya. 

Saya ingat betul pada suatu hari akhirnya Ayah menegur saya yang kebetulan memang berteman di sosmed dan melihat perilaku saya yang kerap membuat status-status yang berisi kebencian dan perdebatan panjang yang tidak menghasilkan kebaikan apapun untuk diri sendiri. Ayah meminta saya melist kebaikan apa yang saya dapatkan setelah membagikan postingan yang penuh kebencian tersebut dan berdebat panjang dengan orang-orang berteman dengan saya di sosial media.

Saya malu sekali kalau di ingat lagi, ternyata ketika saya coba catat/list baik dan buruknya ternyata lebih banyak membawa keburukan buat hidup saya. Jujur karena sering berdebat di sosmed saya punya waktu istirahat jadi berkurang karena mantengin respon orang-orang terhadap status yang saya buat, saya jadi orang yang  sedikit-dikit pinginnya menebarkan informasi yang bisa mengundang orang lain jadi berdebat dengan saya.

Hati saya pun jadi buruk ke orang lain dan menganggap yang tidak sepemahaman dengan saya adalah kesalahan besar. Padahal kata Ayah hanya sekali kita di beri Tuhan kesempatan hidup,  sangat rugi jika saya mengisinya dengan hal-hal yang tidak membawa kebaikan buat diri sendiri. Saya jadi mudah berburuk sangka (suudzon), saya jadi mudah emosi dan hati saya jadi tidak merasa tenang.

Karena sejujurnya yang saya rasakan status maupun postingan yang saya bagikan di sosmed  sangat mempengaruhi batin & pikiran saya ketika yang saya bagikan negatif, maka hidup saya pun begini-gini saja  tidak berkembang, bahkan cenderung membawa pengaruh buruk pada kehidupan diri sendiri.

Sebaliknya ketika saya coba bersihkan sosmed saya dari postingan yang tidak membawa kebaikan buat diri saya dan membagikan postingan yang bermanfaat bukan hanya buat saya tetapi untuk orang lain maka saya rasakan sendiri hidup saya jauh lebih tenang, lebih enjoy dan hasilnya membawa kebaikan buat pola hidup saya. Saya jadi nggak mudah julid terhadap urusan orang lain di dunia nyata, saya jadi lebih fokus untuk membuat diri saya bahagia daripada harus membuang energi membagikan hak yang sedikitpun tidak membawa kebaikan.

Buat saya sendiri. Sejak di buka kan wawasan saya oleh Ayah tentang bagaimana berperilaku dalam menggunakan media sosial, sejak saat itulah Saya memulainya dengan memilih memiliki aktivitas lebih di dunia nyata, ini malah membawa kebaikan langsung untuk orang lain terutama untuk diri saya sendiri. 

Saya bekerja sesuai dengan passion dan itu membawa kebaikan buat saya. Saya lebih banyak bertukar pikiran dengan teman-teman dan menghindari perdebatan sia-sia yang tidak membawa kebaikan. Tuhan mengajarkan umatnya untuk selalu memiliki hubungan yang baik bukan hanya pada diri-NYA tetapi juga dengan sesama manusia dan sikap itulah yang saya tempuh agar saya dapat menjadi manusia yang bermanfaat dan membawa kebaikan untuk diri saya sendiri dan orang sekeliling saya. Saya bersyukur dan bisa bahagia bahkan hanya dengan menjadi pendengar seorang teman yang sedang mengalami kesulitan di hidupnya bonus kebahagiaan saya bertambah ketika saya juga bisa dipercaya membantunya memberikan masukan positif untuknya. 

Saya juga belajar dari pengalaman orang lain, mereka juga mendapatkan kebaikan, serta mendapatkan sedikit solusi dari kacamata orang lain yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk mereka lakukan. Menerapkan ajaran Tuhan dengan membawa dan menjalankan hal yang benar akan membawa kita dalam cara-cara berkehidupan yang positif.

 

 

 



Mia

No Comments Yet.