Pengalaman Buruk Tidak Membuatku Trauma Dalam Relationship


Monday, 02 Apr 2018


Hi Urbanesse! Tema bulan ini begitu menggugah, ya. Mengingatkan kita dimanapun berada: Penting untuk mengenali tanda hubungan yang tidak sehat dan perlahan melepaskan diri darinya. 

 
Pengalaman salah seorang teman saya, Lusi (bukan nama sebenarnya) yang terjebak dalam hubungan menyakitkan yang menurutnya 'melumpuhkan' dirinya. 
 
Cerita dimulai saat Ia duduk di bangku kuliah dan berpacaran dengan seorang mahasiswa populer bernama Andi (bukan nama sebenarnya). Seiring waktu berlalu, Lusi sering dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dan terkadang Andi mengancam saat memintanya. Setengah ketakutan, Lusi terjebak dalam hubungan ini selama kurang lebih 2 tahun. 
 
Lalu tiba saatnya Andi berselingkuh dengan mahasiswi lain, Lusi kelimpungan. Ia merasa dirinya hancur. Saat itu, yang Ia rasakan harus diwujudkan adalah menikah dengan Andi karena hanya Ia pasangan yang telah merenggut keperawanannya.
 
Malu, takut, dan depresi. Penyesalan datang bertubi - tubi terutama saat Lusi menyadari bahwa Andi secara terang - terangan mengatakan bahwa Ia ingin putus dan mengakhiri hubungan mereka. 
 
Selama berminggu - minggu Lusi menangis, meminta bantuan teman dan sahabat untuk menguatkan dirinya. Ia menutup diri dari lingkungan sekitar dan mengevaluasi diri sendiri. Berpikir dengan kepala dingin menurutnya adalah jalan keluar yang terbaik, selain berdoa kepada Tuhan. Memasrahkan semua keputusan hidup padaNya. 
 
Dalam kondisi tersebut, ia melakukan beberapa langkah yang menurutnya membantu menghadapi Andi dan gejolak emosi dalam diri: 
 
1. Tidak langsung bereaksi dalam setiap dilema atau pergolakan batin yang dialami. Menurutnya, mengambil jeda waktu dan berpikir ulang 2 hingga 3 kali membuatnya lebih bijak dalam memgambil keputusan. 
2. Mengabaikan komentar atau pembelaan dari Andi. Karena menurutnya, solusi yang ingin Ia dapatkan adalah tindakan logis yang tidak lagi menyangkut perasaan. Maka jalan terbaik untuk mencapainya adalah mengambil jalan tengah dan berpikir jernih. 
3. Lebih banyak meluangkan waktu untuk berdoa. Yang utama, Lusi menyadari bahwa Tuhan selalu memiliki cara untuk menunjukkan kepada kita jalan terbaik. Kali ini, yang ia yakini adalah menjauhkan dirinya dari Andi. 
4. Berpikir dari perspektif yang lebih besar, yaitu masa depan. Menurut Lusi, langkah ini membantunya melihat masalah dari sisi yang berbeda. Alih - alih merasa harus menghadapi masalah dengan emosi, Ia memilih untuk tetap tenang dan tegar. 
 
Time heals. Tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikiran, bahwa Lusi akan melabrak, menemui, atau bahkan mengganggu hubungan Andi dengan mahasiswi yang kini dipacarinya. Lusi menutup diri dari segala kemungkinan kembali ke masa lalu, melihat bagaimana kondisi hubungan mereka dan merusaknya. 
 
Lusi lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa dan melakukan hal - hal positif seperti mengerjakan tugas dengan kelompok belajar atau berjalan - jalan dengan sahabat, " Pokoknya jangan sampai ada waktu kosong kita sendirian tidak melakukan apa - apa. Serangan rasa sakit di masa lalu itu akan menyusup ke dalam pikiran dan perlahan menghancurkan. Saya memilih untuk menguatkan diri sendiri, daripada menambah masalah baru dan mempermasalahkan hubungan mereka." Ujarnya. 
 
Satu hal yang Ia yakini, Tuhan maha pengampun. Atas segala kesalahan yang telah Ia lakukan, ia memohon maaf. Bagaimana dengan pendapat keluarga? Lusi dengan berani menjelaskan lengkap segala duduk perkaranya; hingga membuat Ibunya menangis, tapi di waktu berikutnya mereka bersyukur telah dijauhkan dari Andi yang tidak bertanggung jawab, "Takut luar biasa ibu saya akan marah. Tapi saya akan lebih tidak nyaman jika tidak memberitahunya tentang apa yang terjadi pada saya. Ini yang saya pelajari: Jika dihadapkan pada masalah seperti ini, sebaiknya kita tidak hanya berfokus pada rasa sakit yang dirasakan, tetapi berjuang untuk menyembuhkan diri sendiri. Dengan begitu, reaksi kita terhadap kejadian dan orang lain yang mengganggu diri dan hubungan kita tetaplah positif.", tutupnya. 
 
Ada banyak sekali inspirasi yang kita dapatkan dari pengalaman Lusi, Urbanesse. Mendekatkan diri kepada Tuhan adalah salah satu cara terbaik untuk meyakinkan, bahwa masa depan sungguh bukan terletak pada tangan kita. Tetapi padaNya..


Nathalie Indri

No Comments Yet.