Paulo Coelho - Aleph


Friday, 09 Mar 2018


Hi Urbanesse! Saya yakin kamu adalah satu dari sekian banyak wanita yang mengagumi karya penulis yang pernah mendapatkan rekor dunia karena buku "The Alchemist" diterjemahkan paling banyak oleh penerbit di seluruh dunia: Paulo Coelho. 

 
Beberapa waktu terakhir ini saya sedang ingin mendalami perihal diri dan kebahagiaan, lalu menemukan buku "Aleph" yang rasanya pas sebagai bahan kontemplasi. Buku ini bercerita tentang diri Paulo sendiri, sebagai seorang penulis sukses yang masih merasa "hampa" karena poin kebahagiaan belum Ia dapatkan. 
 
Ia lalu meminta ijin kepada Sang Istri untuk melakukan perjalanan menggunakan kereta api Trans Siberia mengelilingi daratan Eropa dan mencari kebahagiaan diri tersebut. 
 
Dalam perjalanan, Ia bertemu dengan seorang gadis muda yang mengaku sebagai fans beratnya, Hilal. Selama proses kebersamaan keduanya, Paulo dan Hilal mengalami sebuah momen "berada disini" dalam masa kini sekaligus masa lalu - yang dirasa menyembuhkan, sangat sensitif dan membuatnya trenyuh - yang Ia sebut titik Aleph. 
 
Di titik itu Ia merasa damai, sekaligus terjawablah segala pertanyaan dalam diri tentang kehidupan, waktu, dan kebahagiaan: 
 
1. Kehidupan selalu bergerak. Sama seperti kereta api, misalnya. Kehidupan adalah kereta yang berjalan tersebut, bukan stasiunnya. Sekalipun masa lalu, kehidupan selalu berjalan dan tak pernah berhenti. Kecuali kita mati. 
2. Dimanapun kita mencarinya, kebahagiaan berada di dalam diri. Semakin kita mencarinya, semakin kita harus mengenali diri sendiri. 
3. Lakukan perjalanan untuk menjawab pertanyaan - pertanyaan diri seperti konsep kebahagiaan dan kekosongan diri. Bertemanlah dengan alam, dan dengarkan sinyal - sinyal khusus yang diberikan olehNya melalui seisi semesta. 
 
Setelah membaca buku ini, saya merasa lebih damai. Literally. Merasa bahwa problem yang tadinya saya rasa berat menjadi tidak ada apa - apanya, karena saya memahami bahwa semua manusia pasti pernah mengalaminya. Pernah mempertanyakan hal - hal substansial seperti konsep diri dan kebahagiaan. Kitalah yang menentukan apakah diri akan bahagia, atau justru berdiam hanya merasakan kehidupan yang terlewat begitu saja..
 


Nathalie Indri

No Comments Yet.