Patah Hati Sebagai Pembelajaran Hidup, Bukan Akhir Segalanya


Monday, 13 May 2019


Hai Urban Women, Senang sekali dengan tema kali ini tentang mengutamakan Tuhan di setiap langkah. Saya ingin berbagi cerita pengalaman pribadi saya tentang proses perjalanan spritual yang pada akhirnya menampar dan membuat saya sadar tidak ada jalan lain selain melakukan hal-hal yang benar dan lurus-lurus saja dan melangkah atas ridho Tuhan.

Saya ingin berbagi pengalaman saya dulu. Kurang lebih 12 tahun yang lalu saya mengalami yang namanya pasang surut keyakinan diri. Jadi begini, satu sisi saya tahu bahwa melakukan seks di luar pernikahan itu berdasarkan keyakinan saya adalah perbuat zina yang sudah sedari saya masih usia belasan tahun pun memahami bahwa itu perbuatan yang tidak akan pernah membawa kebaikan untuk diri saya sendiri karena mengawali langkah dalam sebuah hubungan dengan cara yang tidak atas restu Tuhan. Melakukan hal tersebut kerap kali membuat saya galau, putus asa dan serasa hidup saya tidak memiliki pegangan (jujur saya pernah mengalami moment ini). Saat itu meski saya tahu hal tersebut perbuatan yang tidak membawa kebaikan namun saya melakukannya dengan beberapa pria yang sempat menjalin hubungan dnegan saya. Bahkan seakan seperti tidak merasa kapok (jera) setiap kali pacaran, setiap itu juga saya pasti melakukan hubungan seks di luar pernikahan dan hubungan tersebut tidak pernah berlangsung lama apalagi hingga dibawa ke jenjang yang serius.

Beberapa kali mengiba pada pasangan untuk minta segera di nikahi karena hubungan ini sudah sampai tempat tidur, tetapi tidak pernah membuahkan hasil, yang ada malah di tinggalkan tanpa kabar atau malah ditinggal menikah setelah memberi segalanya.

Rasa kecewa dan galau terus saya rasakan berulang kali. Puncaknya adalah saat saya memiliki hubungan dengan seorang pria yang pada waktu itu saya sudah merasa yakin ini adalah pasangan terkahir saya yang akan sungguh-sungguh menikahi saya (karena kami saat itu berpacaran hampir 6 tahun) dan lagi berakhir dengan ending yang sama, ia menyudahi hubungan ini dengan alasan bahwa ia belum siap menikah dalam waktu dekat, ia meminta saya menunggunya atau mencari yang kata dia “lebih baik dari dirinya” disitu saya hanya bisa terdiam. Ingin marah, nangis, teriak (tetapi mikir lagi buat apa, rasanya air mata saat itu sudah habis-habisan karena ini cerita berulang yang sama bedanya kali ini hubungannya lebih lama dan rasanya lebih sakit).

Pikiran saya buntu banget, Saat itulah hidup saya seperti tanpa pegangan seakan saya merasa dunia saya sudah berakhir dan lebih baik di hancurkan saja sekalian. Saya hampir melakukan percobaan bunuh diri, tetapi entah kenapa batin saya terdalam mengatakan begini ‘jalan loe ini awalnya sudah salah lalu, mengapa harus di buat tambah salah lagi dengan mengakiri hidup dengan juga cara yang salah, apakah semua ini akan selesai dengan loe bunuh diri? Bahkan yang ada loe akan menambah banyak ketidakbaikan di dalam diri juga menambah dosa.

Saat itu saya ingat, saya di kamar kos seorang diri yang sedang meratapi keadaan atas perbuatan sendiri, yang saat itu jauh dari teman, tanpa sahabat, jauh dari orangtua dan jauh dari Tuhan. Saya menangis sejadi-jadinya, BUKAN untuk menangisi nasib saya yang selalu gagal dalam menjalin hubungan, atau karena sudah memberikan segalanya lalu di tinggalkan, Bukan... saya bukan menangis karena itu melainkan karena saya malu, sangat menyesal dan merasa bersalah pada Tuhan dan dengan diri sendiri, kalau saya flashback hidup sayapada waktu itu sebenarnya sudah banyak keberkahan yang Tuhan kasih ke saya.

Pertama, saya terlahir sebagai anak tunggal, orangtua sangat menyayangi saya yang seharusnya saya syukuri berkah dari Tuhan ini, berkah mendapatkan orangtua yang memang baik, demokratis dan sangat mengerti saya di saat banyak teman-teman saya yang belum mendapat kesempatan tersebut. Bukannya menjadi anak yang bisa membanggakan mereka, tetapi saya malah memilih langkah yang keliru dengan berpacaran tanpa sepengetahuan orangtua dan melakukan hubungan yang tidak sesuai dengan ajaran keyakinan saya.

Kedua, berkat Rezeki, saat itu sebenarnya saya telah bekerja sambil kuliah dimana tidak banyak teman-teman saya yang memiliki kesempatan tersebut tetapi lagi-lagi saya tidak mensyukuri keberkahan tersebut, saya malah memilih pura-pura menutup mata dengan tetap melakukan maksiat (hubungan seks diluar nikah dengan pasangan saya) yang sejatinya saya tahu bahwa itu nggak boleh dan banyak membawa ketidak baikan untuk diri saya sendiri.

Dan yang Ketiga Tuhan sudah memberikan keberkahan dalam hidup saya dengan menjauhkan saya dari laki-laki yang belum tepat untuk saya, selalu memberi saya nikmat kesehatan, saya masih diberi peluang nafas di bumi setiap hari agar saya bisa taubat dan mengakui segala perilaku saya yang salah, tetapi saya tidak bersyukur malah saya memilih mengulangi perilaku yang sama setiap kali menjalin hubungan dengan laki-laki dan berakhir dengan cerita yang sama yaitu dikecewakan.

Aku Melangkah ke hal-hal yang benar & membawa kebaikan saja

Berkali-kali merasa kecewa, namun baru kali ini aku benar-benar merasa Tuhan menyadarkanku bahwa DIA lah tempat sebenar-benarnya untuk kembali, segala kebahagiaan/keberkahan hidup yang aku terima bahkan rasa kecewa, sakit yang aku alami adalah atas jalan-NYA guna mengingatkan aku agar lebih dekat lagi dengan-NYA. Sejak itu aku belajar kembali memperbaiki hubunganku dengan diri sendiri, lebih mennghargai diriku sendiri sebagai bentuk syukur pada Tuhan atas raga yang masih diberi kesehatan ini.

Bagaimana aku menerima diriku?

Memperbaiki dulu hubunganku yang sempat jauh dari Tuhan, saat itu aku lebih banyak berdoa dan melakukan ritual ibadah memasrahkan diri pada Tuhan, merenung tanpa menghakimi diriku dan menerima yang sudah terjadi di hidupku adalah bagian dari pendewasaan diri & pembelajaran untuk melangkah menjadi pribadi yang lebih baik lagi karena dunia ini sementara jadi melakukan hal yang membawa kebaikan saja untuk diri sendiri adalah penyembuhan terbaik saat itu untukku.

Aku kembali melakukan aktivitasku seperti biasa bekerja di siang hari dan kuliah pada petang hari kini tanpa ada lagi beban karena merasa telah di kecewakan , batinku lebih tenang dan semanagat lagi menjaani kehidupanku. Aku pikir jalanku masih panjang, usiaku masih cukup muda dan masih banyak hal yang bisa aku lakukan yang membawa kebaikan untuk diriku.

Saat weekend aku memiliki aktivitas dari kegiatan majelis ilmu seminggu sekali, ikut komunitas bersepeda & menjadi relawan guru bahasa inggris untuk anak-anak yayasan Yatim Piatu, sejujurnya kini aku malah lebih bahagia dengan diriku sekarang. Dengan menajdi relawan aku mendapat pengalaman untuk mensyukuri hidupku yang dulu sempat jatuh terpuruk karena kecewa. Mereka anak-anak tanpa orangtua saja bisa bersyukur dengan hidupnya, mereka masih berkeinginan maju mau belajar bahasa inggris,bersekolah, mengikuti kegiatan keagamaan dan memiliki cita-cita tinggi. Bagaimana jika waktu itu aku jadi bunuh diri ? yang pasti aku tidak akan bisa bertemu dnegan anak-anak ini, tidak bisa menjadi manfaat buat mereka dan untuk diriku sendiri. Terimakasih Tuhan telah membawaku di titik ini, karena tanpa kecewa&luka rasanya tidak mungkin aku bisa berada di panti asuhan mengajar anak-anak tersebut.

Pengalamanku mengajarkanku untuk tidak lagi mengharap pada manusia, mengharap pada sesuatu yang belum pasti tujuannya. Aku sadar dulu itu aku kecewa berulang kali karena hidupku terlalu mengharap pada manusia (laki-laki).

Aku sadar selalu ada alasan mengapa kita di tempatkan Tuhan di posisi hari ini atau mengalami kejadian yang mencewakan seperti aku dulu, karena Tuhan sayang sama aku dan DIA ingin aku belajar lagi, terus dan selamanya agar kedepannya aku semakin dan tidak mengulang kembali kesalahan di masa lalu.

Sejak saat itu saya lebih banyak meminta dalam doa pada Tuhan untuk selalu di beri kekuatan di setiap tantangan maupun masalah yang akan saya hadapi. Doa pada-NYA sangat memberi saya energi. Energi untuk tetap merasa pantas di cintai dan mencintai kembali, jujur mengakui masa lalu bahwa saya pernah salah melangkah dan dari doa yang kini lebih banyak saya munajatkan pada Tuhan disetiap ritual ibadah kini saya jadi lebih menerima bahwa ‘saya pernah melakukan kesalahan berkali-kali, semua akan baik-baik saja jika saya mengikuti jalur sesuai dengan ajaran Tuhan dan tidak melampaui batas (mengikuti emosi dan ego hanya untuk kesenangan belaka).

Saya tidak lagi menjalin hubungan terlalu lama (berpacaran) saya memilih melakukan pengenalan dengan cara berteman karena menurut saya ini lebih aman dan tidak ngoyo untuk segera memiliki hubungan yang serius karena belajar dari pengalaman yang dulu, terlalu berusaha keras ingin hubungan yang serius hingga saya melampaui batas. Saya rasakan sendiri dengan mengikuti jalan yang membawa kebaikan untuk diri sendiri, hati saya menjadi lebih tenang dan hidup jadi lebih terarah sangat berbeda jauh 180 derajat dengan kehidupan saya yang dulu.

Kini saya sudah menikah, siapa sangka bahwa saya di persunting dengan teman masa SD saya yang dipertemukan kembali saat sedang mengikuti majelis ilmu di Jakarta. Menikah bukan berarti selesai dari perkara permasalahan kehidupan, menikah berarti siap menerima segala tantangan baru yang lebih terasa dari masa single dahulu itu yang saya rasakan. Namanya proses bertumbuh, ibarat seperti saat tumbuh gigi pasti rasannya membuat tidak nyaman namun ketika gigi itu sudah tumbuh maka akan membentuk gigi baru yang lebih kuat dari gigi sebelumnya. Begitupun hidup, saya ibaratkan tantangan dan masalah, baik hari ini maupun masa lalu membuat saya kini menjadi pribadi yang jauh lebih tenang & kuat. Yang terpenting saya tidak lupa bahwa hidup dan mati kita adalah kuasa-NYA menjalankan yang benar saja MAKA hidup akan membawa kita pada tempat yang sepantasnya.

Semoga sedikit ceritaku ini dapat memberi inspirasi untuk Urbanesse agar kita sama-sama belajar untuk tetap melakukan yang benar yang membawa kita pada berkehidupan yang positif.

 

 

 



Rika

No Comments Yet.