Patah Hati Membuatku Lebih Mengenal Tuhan & Diriku Sendiri


Friday, 30 Nov 2018


Aku ingin cerita pada Urban Women tentang kehidupanku 11 tahun yang lalu, saat dimana aku belum benar-benar mengenal diriku sendiri, saat dimana dulu aku merasa tertekan atas hal yang aku rasa itu adalah kekurangan. Saat itu tahun 2006 aku masih berkuliah di salah satu universitas di daerah Jogjakarta. Di rumah aku termasuk anak yang manja dengan orangtua, karena memang aku anak tunggal. Makanya Mama dan papa aku sempat sedih mendengar aku diterima kuliah di Jogja, karena itu kali pertama dalam hidup kami (aku dan orangtua) harus hidup berjauhan.

Di Jogja aku nge-kos dan disinilah awal mula proses demi proses pembelajaran hidupku di mulai. Aku kuliah seperti umumnya remaja lain kuliah, ketika ada kelas aku datang dan ketika lagi nggak ada kelas aku di kosan kalaupun jalan-jalan paling banter jalan bareng teman-teman dekat aku. Sejujurnya aku belum pernah berpacaran, pacara pertamaku ya saat aku kuliah. Masuk semester ketiga aku menjalin hubungan dengan teman satu kampus beda fakultas dan dia senior aku di kampus. Sebut saja namanya Beno, Beno sangat perhatian padaku selama menjalin hubungan dengannya aku merasa di perhatikan dan aku benar-benar dibuat terbuai oleh setiap perilaku romantisnya. Mungkin karena aku baru pertama kali pacaran jadi ya seperti ini, setiap perlakuan Beno sellau membuatku merasa bahagia. Sampai pada akhirnya Aku dan Beno melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan ketika masih berpacaran.

Saat itu aku memang melakukannya atas dasar sama-sama mau, tetapi setelah melakukannya aku merasa bersalah pada diriku sendiri, karena sejujurnya aku mau melakukan ini karena aku merasa perlu melakukannya, aku merasa takut kehilangan Beno, kehilangan perhatiannya, kehilangan rasa nyamannya dan saat itu aku berpikir bahwa Beno adalah orang yang pas untuk menjadi pasangan hidup aku dan mungkin dengan melakukannya dia tidak akan meninggalkan aku. Dengan perasaanku yang seperti itu maka akupun rela melakukan hal apapun demi Beno.

Semuanya berubah sejak saat itu, Beno mulai banyak memintaku untuk melakukan hal yang sebenarnya bukan diriku. Misalnya saat aku dan Beno di undang ke pernikahan salah satu teman, Beno melarangku memakai baju batik yang biasa aku pakai untuk menghadiri undangan pernikahan, dia malah memintaku memakai baju casual dengan mengatakan kalau aku nggak pantas pakai baju tersebut. Kejadian tersebut berlangsung tidak sekali dua kali tetapi sering, bahkan ia pernah sampai mengatakan kalau aku tidak pantas memakai baju apapun karena warna kulitku nggak putih. Bagaimana reaksiku ? saat itu karena aku sudah merasa cinta sama dia, jadi aku mikirnya itu bagian dari cara dia perhatian denganku, aku merasa itu bagian dari cara dia menyayangiku walau aku merasa nggak nyaman dengan perlakuan dia yang banyak melarangku ini itu tetapi aku terima saja karena yang aku tahu saat itu dia melakukannya karena dia mencintaiku. Kalau nggak cinta, ngga mungkin dia sampai memperhatikan detail pakaian yang aku kenakan.

Puncaknya adalah saat ia memintaku untuk menjauhi beberapa teman dekatku, demi dia aku pun mengikutinya. Aku jauhi teman dekatku yang saat itu sering bersama-sama denganku Melisa dan Dian (bukan nama sebenarnya). Apa yang aku pikirkan saat itu ? aku pikir lagi ini mungkin bagian dari cara dia mencintaiku makanya dia ingin aku tidak berteman dengan mereka yang menurut Beno 2 orang temanku tersebut tidak menyukai dirinya.  Kejadian melarang-larang dan banyak menuntutku untuk begini begitu berlangsung setelah aku telah memberikan semuanya pada Beno. Waktu, pikiran dan tenagaku saat itu habis hanya untuk fokus pada diri Beno, Beno dan Beno. Aku merasa takut kehilangan perhatian dari dia, aku takut merasakan kesepian lagi kalau aku harus kehilangan dia selama di Jogja dan kekhawatiran lainnya yang aku rasakan. Beno berhasil mengontrolku saat itu, akupun berusaha mengontrol dia, tetapi dia selalu saja melakukan tindakan yang tidak menyenangkan ketika aku mulai melakukan hal yang sama seperti yang Beno lakukan terhadapku. Seperti aku meminta dia untuk tidak terlalu sering hicking/naik gunung dengan club pecinta alam yang dia ikuti. Setiap kali aku memintanya, setiap itu dia kerap menghilang tanpa kabar seperti orang ngambek. Saat dia menghilang duniaku seakan sepi, runtuh dan aku merasa hancur sendiri. Lalu tiba-tiba ia bisa dengan mudahnya muncul lagi, hilang lagi muncul dan hilang lagi tanpa kabar dalam kehidupanku. Ia datang di saat ia memang hanya sedang membutuhkanku saja selebihnya ia bisa dnegan mudahnya menghilang tanpa kabar, bahkan di kampuspun aku bisa jarang melihatnya.

1 tahun aku pacaran dengannya, menjalani hubungan dengan perlakuan dia yang seperti ini. Aku merasa lelah tapi aku coba kuat-kuatin karena saat itu aku pikir ini bagian pengorbanan rasa sayangku pada Beno (berlebihan memang setelah aku lihat lagi sekarang heeheeee..). Ternyata ekspektasiku yang tinggi pada hubungan dengan Beno terjawab, tepat memasuki tahun kedua Beno menduakan aku dan memutuskan hubungan denganku. Dia mengatakan bahwa aku terlalu baik untuknya, naifnya aku saat itu bukannya menerima keadaan tersebut, aku malah seperti mengemis-ngemis meminta dia kembali padaku, menyalahkan diriku di hadapannya kalau semua ini salahku dan aku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi asal dia mau kembali padaku. Saat itu yang aku pikirkan adalah aku nggak mau kehilangan dia, karena aku merasa sudah banyak berkorban untuknya, aku merasa saat itu hidupku tidak berguna lagi tanpa dia. Semakin aku meminta dia kembali semakin dia menjauhiku dan malah pergi hilang dari hidupku. Kata teman-temannya Beno pindah kampus dan akan menikah, ia tidak lagi melanjutkan kuliahnya di Jogja dan kembali ke Jakarta untuk menikah dengan pacarnya. Iya pacarnya, jadi selama ini Beno ternyata sudah memiliki pacar di Jakarta tanpa aku tahu.

Moment Patah Hati Saat itu adalah Moment tepat untukku dimana ternyata Aku bisa Lebih Banyak Waktu Untuk Mendekatkan Diri Pada Tuhan dan Lebih Mengenal serta Mencintai Diriku.

Dalam kekecewaan ada hal besar yang bisa dipelajari dan pertemuan dengan orang-orang baik tanpa aku duga di saat terpurukku waktu itu. Saat patah hati dan kecewa dengan Beno aku tetap berkuliah, aku tetap menjalani aktivitasku seperti biasa. Walau keadaanya memang sangat berat dan sulit aku rasakan. Pulang kuliah kembali ke kosan hampa, sepi dan galau yang aku rasakan. Pada saat itu aku bertemu dengan Amelia seorang adik, teman kos dan sahabat di Jogja yang buat aku bisa menjadi pribadi yang kuat hingga hari ini. Amelia lah yang mengajak dan mengsupport aku di masa-masa kelam itu. Amelia dulu juga pernah kecewa seperti aku, transformasi dirinya yang menurutku sangat luar biasa. Ternyata di balik ketaatan ibadah dan pembawaan karakternyaa yang aku lihat  dan rasakan baik dan aku tahu dia anaknya tulus ternyata amelia memiliki masa lalu juga yang cukup menempa dia hingga menjadi pribadi saat ini. Amelia pernah mengalami pelecehan seksual dengan ayah tirinya ketika masih berusia 13 tahun, belum lagi ia pernah terjebak pada hubungan yang juga salah berulang kali.

Saat bertemu denganku Amelia sudah menikah, dia mengekos di kos-san yang sama deganku bersama suaminya.Suaminya bekerja sebagai kasir di salah satu mini market dan Amelia sambil kuliah ia juga bekerja paruh waktu sebagai guru SMK di Jogja. Pernikahan dia dengan suaminya sudah berlangung 10 tahun namun memang belum dikaruniai buah hati. Tapi aku tahu hidup Amelia dan suaminya cukup bahagia karena berasa ke hatiku. Gimana ya, kalau orang tulus sama kita itu akan terasa sekali kena ke hati segala ucapan yang dikatakan Amelia penuh dengan kebaikan buat aku. Dari situlah Amelia memberiku semangat untuk lebih dekat dengan Tuhan. Aku ingat ucapannya “Kecewa kita, bahagia kita dan segala hal yang terjadi dalam hidup muasalnya atas izin Tuhan. Kembali kepada NYA adalah healing terbaik, karena ketika kita sudah mencintai Tuhan maka banyak jalan yang di bukakan olehNYA. Tuhan Maha Baik berdoalah pada-NYA karena Tuhan Maha penerima taubat ketika hambanya mau lebih dekat dan mencintai diriNYA terlebih dahulu”.

3 bulan saja aku mengalami kecewa dan jalan keberkahan banyak aku rasakan setelahnya itu. Ketika aku sedang ibadah ada waktu luang buat aku introspeksi diri dan mendata semua hal yang aku butuhkan saat ini. Yaaa...aku merasa diriku sangat berharga. Aku diciptakan Tuhan untuk beribadah dan mencintai diriku yang merupakan ciptaanNYA.  Saat itu aku mulai bangkit, aku merasa hidupku baru aku mulai lagi dari nol, sambil kuliah aku mulai membuka diri kebetulan aku punya hobbi dari dulu itu main volly tapi sejak di Jogja aku sudah nggak menyisihkan waktu lagi karena terlalu fokus dengan Beno saat itu. Aku mendaftar ekstrakurikuler Volly di kampus. Akupun bergabung dalam kajian keagamaan bulanan bersama Amel. Aku juga membuka bisnis counter pulsa dan asessoris handphone kebetulan dapat modal dari orangtuaku di Jakarta, sebenarnya sudah dari awal kuliah ayah meminta aku buka bisnis counter pulsa ini tapi dulu aku kan masih fokus sama pacaran jadinya mandek heeheee, Ayah ingin aku belajar berbisnis di kota orang dan menurut aku ini berkah yang luar biasa, mungkin seandainya aku masih bersama Beno semua hal luar biasa ini nggak akan Tuhan limpahkan buat aku.

Dari sinilah titik dimana aku mulai menerima semua kekurangan dan kesalahan yang pernah aku perbuat beberapa bulan yang lalu. Aku menerima masa lalu aku yang pernah terjerembab pada hubungan yang tidak baik dan negatif di awal itu sebagai bagian dari proses pengenalan diri dan pembelajaran hidup yang tidak akan aku ulangi. Kini aku menerima diriku apa adanya, aku tidak lagi takut dan trauma menjalin hubungan dengan pria hanya karena aku pernah masuk pada gaya pacaran yang tidak sehat. Kini aku lebih percaya iri dari sebelumnya.

Aku merasa kini berharga, aku sangat bersyukur karena sampai detik ini aku masih di beri usia panjang, kesehatan oleh Tuhan, masih bisa terus kuliah dan membangun bisnis kecil-kecilan, masih diberi kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan dan kini aku bisa mengenal diriku lebih dari sebelumnya, Terimakasih masa lalu tanpamu aku tidak bisa seperti aku sampai hari ini.Kini Aku tahu apa yang aku butuhkan, yaitu cinta ya, cinta dari Tuhan, cinta dari diriku sendiri dan cinta dari lingkunganku. Amelia dan suaminya mengajarkanku makna cinta yang lebih luas daripada yang aku tahu sebelumnya. 2013 aku pun menikah dengan laki-laki yang Tuhan turunkan untuk aku, laki-laki yang mau bertymbuh bersamaku sampai hari ini, laki-laki yang mau menerima masa laluku dan tidak menghakimi atas kecerobohanku di masa lalu. Aku menyebutnya dia pria yang tepat. Pada akhirnya Tuhan membuka jalan keluar setelah aku banyak mendapat tempaan yang membuatku belajar

Dari pengalaman itu aku belajar tentang cara mengatasi kelemahan diriku di awali dengan :

  1. Mencintai dulu Tuhan sebelum mencintai apapun, Karena Tuhan adalah pemilik skenario hidup kita. DIA lah pemgang kendali terbesar dari apa yang kita rencanakan dan kita butuhkan. Ibadah, Rencana(Doa), Usaha dan Belajar ketiga hal itu yang akan selalu kita temui dalam hidup. Mengutamakan Tuhan diatas yang lain-NYA akan membuka mata hati dan pikiran kita untuk mengenal diri kita dan menerima segala kesalahan dan kelemahan diri kita sebagai satu kesatuan mencintai Tuhan. Kerika kita sudah mencintai yang menciptakan diri kita ini, maka kita akan lebih bisa menghargai kelemahan yang kita milki dan mampu mengolahnya menjadi sebuah berkat dan bukan lagi beban, Itu yang aku alami.
  1. Mendata semua kebutuhan, kemampuan serta kekurangan ternyata mampu membuka pikiranku bahwa “Wow Aku ternyata sehebat ini’, sangat sayang sekali harus membuang waktu dan energi dengan memberi cinta pada orang yang belum mencintai diriku dengan cara-cara baik’ dan menjauhkan aku dari Tuhan dan kebaikan sekelilingku.
  1. Lingkungan positif mampu mengubah kelemahanmu menjadi kekuatan. Tuhan itu Maha Adil, dia memberikan Inner circle positif dan baik sesuai dengan kebutuhanku, kehadiran Amelia adalah berkat dari Tuhan, DIA mendatangkan Amel untuk mengubah pola pikir dan hidupku agar lebih berguna dan berharga dari sebelumnya. Memiliki teman-teman yang positif, baik dan membangun serta memberi semangat dan penghargaan dalam pencapaian hidup meski hanya hal kecil seperti mengatakan “Kamu keren, kamu bisa, kamu hebat, kamu mampu” buat orang-orang yang pernah mengalami kekecewaan, tekanan hidup yang keras dan introvert sepertiku itu sangat memberi kebahagiaan batin yang luar biasa dan pemantik semangat untukku akhirnya melangkah lebih baik dan memilih move on.
  1. Sejak lebih dekat dengan Tuhan dan lebih mencintai diri sendiri serta berpikir positif bahwa semua yang terjadi dalam hidupku membuatku tetap akan baik-baik saja, pada akhirnya ini membawaku menjadi pribadi yang lebih percaya diri sampai sekarang. Aku nggak lagi minder karena takut atau trauma kalau nggak ada laki-laki yang mau menerima aku apa adanya. Terbukti akupun setelah itu dipertemukan dengan pria yang kini menjadi suamiku.

“Dalam Hidup Kita Musti Optimis pasti akan dipertemukan dengan orang-orang yang tepat, Orang yang tepat adalah mereka yang tahu kelemahanmu tetapi tidak memmpergunakan dan memanfaatkan kelemahanmu melainkan membantu kamu bangkit dan membuka jalan untuk melangkah dan tumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya”. Itulah ceritaku beberapa tahun yang lalu, semoga mampu memberi inspirasi untuk Urbanesse.

Love Your GOD First and Then Love Your Self.

 

 

 

 

 

 

 

 



Rika

No Comments Yet.