Pasangan Mendua, Karena Aku Terlalu Mengekangnya


Tuesday, 26 Mar 2019


Suatu ketika saya menjalin hubungan dengan seorang pria selama kurang lebih 2 tahun, selama itu juga saya selalu mengekang pasangan saya, saya banyak mengatur dia untuk melakukan hal-hal yang tidak saya sukai, harus berkomunikasi 24 jam per 7 hari, dia telat sedikit membalas pesan saya langsung menelepon dia, bahkan semua akun sosmed milik dia saya yang pegang, membatasi hobinya dan juga tidak memperbolehkan dia bergaul dengan teman temanya. Saya insecure sendiri dan itu saya maknai kalau saya melakukannya karena cinta. Saya melakukan itu bukan tanpa alasan, karena beberapa kali saya  pernah kecewa di masa lalu pasangan saya sebelumnya kerap menduakan saya. Saya takut ini terjadi lagi, oleh karenanya saya jadi sangat posesif pada pasangan saya kali ini.

Sampai suatu ketika apa yang saya khawatirkan terjadi, orang ketiga hadir dalam hubungan kami mereka memang baru 3 bulan menjalani hubungan itu di belakang saya. Beberapa kali pacar saya kembali lagi dia bilang dia akan meninggalkan selingkuhannya dan kembali ke saya dan kejadian itu terus berulang dengan perempuan yang sama, ending yang juga selalu sama. Selingkuh, Putus, maafin, balikan lagi, selingkuh lagi putus lagi, maafin lagi dan seperti itu berturut-turut.

Hingga 2 tahun berjalan tanpa saya sadari, entah karena sudah sampai puncak kecewa atau karena proses belajar berulang kali pikiran saya pun berubah. Bukan tanpa sebab, saat itu saya ingat betul ada gathering acara di tempat saya bekerja, sejujurnya saya belum pernah memutuskan untuk berjauhan dengan pasangan saya bahkan hanya untuk gathering kantor saya nggak pernah ikutan sebelumnya, karena saya orangnya curigaan jadi saya nggak bisa kalau harus meninggalkan dia hari-hari saya selalu fokus ke pasangan saya itu, hanya itu saja yang saya pikirkan. Hingga saya lupa kalau saya butuh piknik, butuh sendiri untuk meluangkan waktu menyenangkan diri sendiri. Entah kenapa untuk kali ini saya berani memutuskan untuk berangkat ikut acara gathering.

Gathering kantor berlangsung 3 hari, sejujurnya saat itu saya merasa bahagia, lepas, tenang dan di acara itu saya seperti menemukan sisi lain di diri saya yang selama ini ada tetapi belum saya temukan. Kebetulan di acara gathering ada sessi perenungan diri dan tim building mendatangkan psikolog khusus untuk menangani pengembangan diri karyawati. Saya sangat bahagia karena bisa mengikuti sessi sharing pengenalan diri sendiri, 3 hari itu akhirnya membuat saya sadar kalau selama ini dunia saya seharusnya luas, dunia saya seharusnya tidak melulu berfokus pada relationship.

Gathering menjadi tempat saya merefleksi diri. Sepulangnya saya dari acara tersebut saya mulai melist dan melihat kembali hubungan saya dengan pasangan saya selama ini. Ternyata, setelah di list, diantara kebaikan lebih banyak keburukan dan tidak ada peluang buat saya maupun untuk pasangan saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Saat itu sekembalinya dari gathering saya berencana bertemu dengan pacar saya, tanpa mengabarkanya terlebih dahulu saya pun langsung mendatangi kerumahnya, maksudnya ingin buka-bukaan supaya hubungan ini jelas mau di bawa kemana. Ternyata dia sedang tidak di rumah adiknya bilang dia pergi ke basecamp tempat latihan bandnya. Saya pun menuju kesana. Well, mungkin disinilah titik dimana saya harus mengambil keputusan untuk menegaskan padanya mengakhiri hubungan ini, saya dapati pasangan saya sedang bercengkramah dengan seorang perempuan yang ternyata adalah mantan pacarnya yang selama ini sudah berulang kali putus nyambung menjalin hubungan. Pada akhirnya kami bertemu. Saat itu saya langsung mengatakan pada pasangan saya untuk menjelaskan semuanya, dan perempuan tersebut juga ikut memberikan penjelasan. Fix, mereka memang sudah berpacaran kembali di saat pasangan saya masih menjalin hubungan dengan saya.

Apakah saya emosi ? Tidak, saat itu entah kenapa hati saya malah plong tidak ada rasa ingin marah seperti yang dulu sempat pernah saya rasakan. Padahal mereka berdua ada di depan saya, tetapi saat itu saya berpikir panjang saya tanyakan pada diri saya “apa untungnya jika saya harus marah dan menangisi laki-laki yang sudah berulang kali selingkuh, apa juga gunanya saya untuk marah pada perempuan tersebut, karena perempuan itu juga pasti mendapat rayuan dan sikap serupa seperti cara pasangan saya memperlakukan saya yang pernah lemah ini. Saya musti kuat kali ini, tidak boleh pakai emosi toh masih banyak pria lain di luar sana yang mungkin akan menjadi jodoh saya jika saya lepas dari laki-laki ini.” itu yang saya katakan kepada diri saya. Akhirnya saya memutuskan dia hari itu, meski ia meminta saya untuk membicarakannya kembali namun tidak saya indahkan lagi, saya pun pulang kerumah sejujurnya dengan rasa sedih, kecewa dan lega. 

Disini Saya belajar

Saya sadar dulu ketika menjalin hubungan saya memang egois, posesif dan mengekang, saya terlalu memaksanya berubah. Padahal cowok nggak bisa diubah, tetapi mereka bisa diarahkan dan tidak dipaksa. Saya sadar perselingkuhan ini mungkin saja tidak akan terjadi jika saya sudah mengenal diri saya sendiri jadi saya tahu apa yang saya butuhkan dan nggak fokus dengan memikirkan cowok aja hingga melupakan kebahagiaan diri sendiri. Saya terlalu naif saat itu berpikir pria bisa saya ubah dengan instant bahkan sampai membatasi hobinya dia yang senang modifikasi motor. Ternyata semakin saya genggam dia malah semakin ingin melepaskan diri dari cengkraman saya, maka tidak heran jika dia selingkuh karena saya insecure tanpa memberikan alasan yang jelas padanya mengapa saya banyak melarang-larang.

Saya juga menyadari jika kita memang mencintai seseorang cukup cintai dia sewajarnya dan jangan sampai buta hingga lupa membuka mata untuk melihat bahwa di luar sana banyak yang lebih baik tidak sepantasnya perselingkuhan terus terusan untuk di maafkan dan di pertahankan dengan alasan kita takut menjadi jomblo, tidak akan menemukan yang seperti dia.

Seperti yang saya alami dulu itu sudah di luar batas, memaksakan hubungan yang sudah tidak sehat untuk terus terusan bersama. Tidak lupa untuk terus mencintai diri sendiri karna diri kita sangat berarti lebih dari apapun, selalu intropeksi diri tentang apa yang salah dari diri kita dan teruslah memperbaiki diri jangan sampai tertanam  di hati "pasangan kita mencintai kita apa adanya jadi ya sudahlah apa adanya diri kita dia terima toh" Kita tidak pernah tau isi hati seseorang bukan? intropeksi diri itu penting dalam hubungan, jika memang kita tidak ingin pasangan kita mencari pelarian kepada sosok orang ketiga seperti pengalaman saya sebelumnya.

Sejak saat itu saya mulai menata kembali hidup saya, tidak mau berlama-lama sedih. Lebih baik memantaskan diri agar saya mendapatkan pasangan yang memang saya butuhkan, saya belajar untuk lebih positif dengan hubungan baru, belajar lebih tenang tetapi tegas ketika membuka hubungan baru jadi waktu itu selepas 7 bulan menjadi single, saya lebih memilih berbicara apa adanya di awal hubungan  tentang diri saya dan tujuan saya berelasi dengan beberapa teman pria yang sedang dekat dengan saya.

Saya memilih berteman dulu daripada langsung menjalin hubungan, karena ternyata ketika saya putuskan jadiin teman, laki-laki malah lebih bebas dan bisa jadi dirinya sendiri dan disitulah saya bisa menilai apakah ia memang baik untuk saya atau tidak. Lebih baik menunggu lama sambil memantaskan diri daripada terburu-buru ingin menikah namun nantinya salah pilih. Sejak putus saya juga jadi lebih banyak meluangkan waktu kumpul bersama teman-teman dekat saya, pergi traveling ke tempat-tempat yang dari dulu sebenarnya sudah ingin saya kunjungi namun saya selalu tidak pernah memberikan waktu untuk diri saya karena saya fokusnya pada dunia pacaran saja.

Saya juga bisa mengikuti kelas yoga dan punya banyak waktu untuk berolah raga lari hingga sekarang, saya bersyukur saat ini saya sudah memiliki hubungan baru yang jauh lebih sehat dari sebelumnya. Kini saya sudah menikah, Sosok pasangan saya kali ini dapat membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa dan mampu mengarahkan ke hal-hal yang membawa kebaikan, saya tidak lagi insecure pada pasangan saya kali ini, karena saya paham bahwa tanpa harus khawatirkan pasangan saya sudah tahu komitmen, resiko dan tanggung jawabnya begitupun sebaliknya. Walau kami sadar bahwa memang tidak ada yang sempurna di dunia ini tapi setidaknya kami selalu belajar dari masalah yang datang untuk selalu menjadi apasangan yang lebih baik setiap harinya. Bagi saya yang terpenting hubungan ini dijauhkan dari orang ketiga.

Ternyata ketika kita memiliki hubungan yang sehat, maka hal-hal yang membuat tidak nyaman termasuk orang ketiga pun nggak bisa dengan mudahnya masuk, peluang memang akan selalu ada tetapi bukan membuat saya jadi insecure seperti dulu melainkan lebih biak untuk mengoreksi diri apakah hubungan saat ini sudah benar-benar baik. Saling komunikasi untuk tahu unek-unek seharian  itu buat saya sangat penting, biasanya saya diskusikan sambil pillow talk dengan pasangan. 

Semoga pengalaman saya ini bisa memberi inspirasi baru tentang bagaimana memiliki sebuah hubungan yang sehat hingga tidak berpeluang dimasuki orang ketiga ketika sudah memilih menikah.

 

 



Audya

No Comments Yet.