Pasangan Memilih Orang Ketiga, Begini Caraku Menghadapinya


Tuesday, 12 Mar 2019


Saya ingin menceritakan pengalaman kakak saya tentang bagaimana dia tetap tenang menghadapi perpisahan dengan pasangannya. Kami terlahir dari keluarga yang memang memiliki latar belakang pernah terlibat dengan& menjadi orang ketiga. Mama saya pernah menjadi istri kedua dari ayah tiri saya, tetapi karena Mama dulu sering mendapat kekerasan psikis, Akhirnya Mama memilih berpisah dan hingga kini ia tidak menikah lagi, sekarang mama menghabiskan masa tua dengan anak dan cucunya. Saya hanya 2 bersaudara kakak saya Anita (bukan nama sebenarnya) seorang single mother. Kakak saya berpisah dengan suaminya karena orang ketiga. Suaminya memilih menikah lagi dan meninggalkan keluarga demi pasangan barunya.

Aku dekat dengan kakak, kami sering curhat. Kakak pernah cerita bahwa ia mengikhlaskan semua yang terjadi karena memang sudah kehendak Tuhan, mau berusaha mempertahankannya bagaimanapun tetap saja jika pasangannya sudah berpaling dan lebih memilih yang lain ia bisa apa. Mau marah, mencaci maki dengan penuh emosi ke orang ketiga yang telah merusak rumah tangganya juga tidak dilakukannya, karena menurut kakak saya hal tersebut hanya akan membuang waktu dan energinya.

Ketika sudah menikah ia memilih berhenti dari pekerjaanya dan fokus menjadi Ibu rumah tangga. Tetapi ketika harus berpisah dengan mantan suaminya ia pun mencoba move on dan memilih melamar pekerjaan kembali di kantor tempat dulu ia pernah bekerja. Jalan Tuhan ia di terima kembali bekerja  walau gajinya tidak sama seperti dulu tetapi kata Mama kakak saya tetap semangat menjalaninya. Kedua anaknya setiap hari dititip di rumah Mama. Aku dan Mama gantian menjaga mereka. Sebenarnya kakak sudah memiliki pengasuh untuk anak-anaknya, tetapi karena Mama juga tidak ada aktivitas lain di rumah Mamaku menawarkan diri memilih untuk membantu menjaga anak-anak dari kakak.

Titik Pembelajaran

Well, Kakak saya memilih untuk move on, ia membesarkan kedua anaknya dengan keringatnya sendiri dan tidak mau meratapi keadaanya yang saat itu berstatus single mother. Saya sempat menanyakan pada kakak saya apakah ia pernah bersedih dengan keadaanya dulu, karena jujur saya nggak tahu kalau seandainya saya ada di posisi kakak apakah bisa setegar itu, ia menjawab begini “Namanya perempuan bohong jika tidak merasa sedih dan sakit hati karena perpisahan, waktu pacaran aja bisa menangis karena putus cinta apalagi ini harus berpisah ketika sudah menikah,  tetapi apakah itu akan di buat menjadi alasan untuk manjadikan diri kakak tidak mau bangkit ? lalu terus meratapi diri dengan bertanya-tanya kenapa kok bercerai, kok nasib aku begini sih, nanti anak-anak gimana tanpa bapak, apa kata orang lain kalau saya bercerai dan pikiran negatif lainnya yang kalau kakak pikir nggak banget jika kakak harus memikirkan sejauh itu. Selama kakak masih di kasih nyawa sama Tuhan, berarti selama itu juga kakak masih dikasih kesempatan untuk bisa terus berusaha bangkit membesarkan anak dan memulihkan diri sendiri agar tidak menjadi orang yang paling malang di dunia, karena hidup itu kedepan bukan ke belakang. Maka sekarang kamu bisa lihat kakak dan keponakanmu jauh lebih baik dari sebelumnya kan” Ungkapnya.

Kakak juga bilang di tengah kondisi yang pernah dialaminya dulu yang masih bersyukur dan termasuk beruntung, karena  menurutnya dia masih memiliki keluarga yang dengan terbuka mau menerima apa adanya bagaimanapun kondisi yang kakak alami saat itu. Serta masih memiliki sahabat-sahabat yang nggak mengahakimi dan menyalahkan pilihan kakak untuk berpisah.

Pembelajaran dari cerita kakakku bahwa “Orang Ketiga hanya perantara baginya, karena sejatinya penyebab utama perpisahan tersebut karena hubungan ia dengan suami sudah tidak lagi sehat. bahwa Ibaratnya seperti buah apel terlihat utuh dan cantik diluar namun di dalamnya ternyata membusuk. Kakakku tidak bisa menjadi dirinya yang utuh setelah menikah. “kakak menyadari Orang ketiga memang salah, mantan suami kakak pun juga, tetapi bukan berarti kakak adalah korban yang seutuhnya benar lalu dengan pembenaran itu kakak jadi seseorang yang harus meratapi diri menghadapi perpisahan dan melabrak orang ketiga yang mungkin juga korban namun dengan versi berbeda, tidak Sita buat kakak labrak melabrak bukan penyelesaian yang baik . Bagaimanapun kejadian dalam pernikahan kaka dulu itu ada kesalahan yang kakak harus pertanggung jawabkan juga.

Buat kakak saya, masa lalu dengan mantan suaminya yang kini lebih memilih hidup dengan orang ketiga, tidak sepenuhnya harus menghasilkan luka batin yang mendalam bagi kehidupannya. “Didalam setiap kejadian yang kakak alami tersimpan pembelajaran besar bahwa ini memang jalan Tuhan menghadirkan orang ketiga didalam rumah tangga kakak, mungkin kalau nggak mengalami masa lalu tersebut kakak nggak akan pernah bertemu dengan Mas Doni suami kedua kakak yang sekarang. Kegagalan pernikahan yang dulu bagi kakak tidak sepenuhnya salah orang ketiga, maupun mantan suami kakak tetapi lebih dari itu kakak banyak belajar tentang bagaimana bisa tetap membuat bahagia anak-anak dan pasangan dengan tidak melupakan kebahagiaan dan kebutuhan untuk diri kakak sendiri” terangnya.

Setelah perenungan dan ikhtiar panjang setiap kali ia berdoa kakakku sadar bahwa  saat masih berumah tangga dengan mantan suaminya terdahulu ia terlalu fokus untuk membahagiakan keluarga hingga melupakan kebahagiaan dan kebutuhan dirinya. ‘Dulu kakak kerap mengesampingkan apa yang menjadi kebutuhan diri sampai lupa tuh yang namanya untuk meng-entertaint diri sendiri yang dulu memang biasa dilakukan ketika kakak masih single seperti baca buku, ikut kajian sama teman-teman majelis ilmu,  apalagi sekedar me time ke salon, rasanya seperti tidak ada waktu. Waktu kakak habis hanya untuk memastikan pasangan dan anak-anak happy padahal seharusnya ada keseimbangan” ungkapnya.

Kini kak Anita sudah menikah kembali dan memiliki 1 orang anak dari pernikahannya yang baru, kegagalan yang terjadi 10 tahun yang lalu itu tidak menjadikannya trauma. Pasangan kak nita kali ini cukup baik bukan hanya baik pada diri Kak Nita tetapi juga baik terhadap anak-anak dari suami pertamanya. Kak Nita mengaku kini dirinya juga jadi lebih mengenal apa yang menjadi kebutuhan dan kebahagiaanya. Ia masih tetap bekerja, karena baginya bekerja menjadikannya tetap produktif secara akal dan mental namun tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu untuk ketiga anaknya. Mantan suami bersama istrinya yang merupakan Orang ketiga dalam pernikahan mereka dulu kini pun sudah dimaafkannya.  Ia pikir amarah dan dendam tidak akan menghasilkan kebaikan apapun untuk kehidupannya “Ketika kakak di hadapkan pada masalah kakak berdoa pada Tuhan untuk di kuatkan dan mampu mengikhlaskan. Ketika kakak sudah kuat dan ikhlas kakak memilih move on dan memaafkan mereka terutama memaafkan diri kakak sendiri. Hasilnya rasa benci dan dendam sirna sendiri yang ada kaka malah merasa lebih baik dan tenang dari sebelumnya” urainya padaku.

Aku ingat kak Nita pernah mengatakan “Bahwa suatu hubungan bagaimanapun terlihat kuat dari luar memang akan berpeluang hancur karena kehadiran orang ketiga atau karena apapun penyebabnya. Ini bukan tentang bagaimana cara kita mendapatkan hubungan tersebut agar bisa di nikahi lalu mengenggamnya erat-erat agar terhidar dari orang ketiga. BUKAN, ini bukan perkara hasil akhirnya melainkan ini tentang proses : proses tentang bagaimana cara kita memelihara agar hubungan tersebut tetap sehat di luar dan di dalam, ini juga tentang bagaimana kita tetap bereaksi positif dan tenang meski keadaan yang kita hadapi penuh dengan ketidaknyamanan dan ini tentang bagaimana kita mau mengambil sisi pembelajaran dari kepahitan dan luka tersebut, itulah kunci mengapa Kakakku sudah membuktikannya bahwa ia mampu menjadi pribadi yang kuat, tegar dan tenang ketika memilih membenahi dan memulihkan  dirinya sendiri tanpa harus mengedepankan emosi saat menghadapi kenyataan suaminya dulu lebih memilih orang ketiga ketimbang dirinya. Well, Sekarang kakakku sudah membuka new chapter dengan suami barunya, doa terbaik aku panjatkan dari jauh untuk mereka, semoga cerita ini menginspirasi.



Clara Marisa

No Comments Yet.