Pandangan Pria : Tentang Perilaku Menggunakan Jalan Pintas Agar Segera Dinikahi


Friday, 25 Jan 2019


Hai Urbanesse, bagaimana ya menurut pandangan pria tentang perilaku mempergunakan jalan pintas yang kerap di lakukan oleh beberapa perempuan guna mencapai tujuan pribadi salah satunya untuk mengikat hubungannya dengan pria agar bisa di nikahi dan bagaimana seharusnya reaksi pria ketika mendapati perempuan yang di sukainya memakai cara-cara tidak jujur dalam suatu relationship dengannya.

Berikut kami mewawancarai salah seorang Pria sebut saja namanya Gilang berusia 34 tahun yang berprofesi sebagai Management Training. Berikut cuplikan wawancara Urban Women dengannya :

Apa pendapat kamu tentang perilaku menggunakan jalan pintas untuk mencapai tujuan pribadi ?

Perilaku jalan pintas sebenarnya bukan hanya sering dilakukan oleh perempuan saja, tetapi laki-laki juga melakukannya. Bahkan jika boleh jujur saya sendiri pernah menggunakan jalan pintas demi mencapai kepentingan dan tujuan pribadi seperti membayar sejumlah uang ketika mengurus data administrasi kependudukan agar cepat di tindak lanjuti, karena tanpa menggunakan cara-cara ini follow upnya kerap kali lambat sedangkan pada saat itu saya butuh cepat. Mungkin ini catatan juga Jalan pintas bisa saja terjadi ketika seseorang kepepet atau sedang butuh cepat tetapi berbanding terbalik dengan sistemnya yang masih belum memadai. Tetapi jujur saat melakukan praktek sistem ngasih uang rokok atau uang jasa misalnya saya sadar bahwa perilaku tersebut tidak baik dilakukan. Hasilnya nyata lho, ketika saya menggunakan cara nggak jujur tersebut saya malah kena tipu sama calo ujung-ujungnya bukannya untung malah merugi. Nah sejak saat itu saya kapok buat memilih cara-cara cepat ketika mau mengajukan membuat data administrasi kependudukan apapun itu jenisnya karena ternyata hasilnya nggak membawa kebaikan buat diri saya. Bukan untung malah buntung. Sekarang makanya saya lebih memilih ikutin prosedurnya aja termasuk ketika saya membuat surat izin usaha dan SIM biarpun prosesnya lama dan berminggu-minggu tetapi setidaknya hasilnya nggak merugi kaya dulu. 

Bagaimana menurut kamu mengenai kasus beberapa perempuan yang menggunakan jalan pintas untuk mencapai tujuan pribadi, yang salah satu tujuannya agar bisa segera di nikahi oleh pria yang dinilai lebih kaya raya dan bisa menaikkan standar hidupnya secara ekonomi ?

Itu sebenarnya hak perempuannya juga memilih jalan tersebut untuk kepentingannya, resiko seharusnya sudah diketahui oleh mereka yang melakukannya ketika kamu tanam padi ya jadi beras, semua hasilnya adalah dari apa yang ditanam. Tetapi kalau saya dimintai pendapat saya sangat menyayangkan jika di zaman sekarang yang mana perempuan itu sudah sejajar dengan laki-laki di beragam bidang, seharusnya praktek mempergunakan jalan pintas supaya dinikahi oleh pria yang mereka anggap bisa menaikkan standar ekonominya itu nggak akan terjadi ketika si perempuannya sudah tahu apa yang menjadi kebutuhannya. Intinya perempuan harus tahu dulu apa yang menjadi sumber kabahagiaanya, misalnya materi atau ketulusan dari pasangannya, Kalau boleh saran nih perempuan harus tahu dulu apa kebutuhan dan tujuan mereka untuk hidup satu atap atau berpasangan dengan prianya, itu sih yang saya alami sendiri ketika ingin meminang pasangan saya. Walaupun kita nggak bisa menggeneralkan semua perempuan harus seperti itu. tapi setidaknya saya pribadi sebagai laki-laki malah lebih menghargai perempuan yang memang sudah benar-benar tahu kebutuhan dan standar kebahagiaan di dirinya.

Ada nggak pengalaman bersama pasangan berkaitan dengan menggunakan jalan pintas untuk tujuan tertentu ?

Nggak ada ya, tetapi kalau menyambung dari pertanyaan sebelumnya ini yang saya terapkan pada mantan pacar saya yang sekarang jadi istri saya, ketika saya mau ngajak dia menikah, saya langsung nanya dulu ke dia “loe mau nikah sama gw karena apa? dan dia malah balik nanya ke saya. Ya jawaban saya saat itu “saya ingin menikah dengannya untuk berkomitmen penuh saling mencapai tanggung jawabnya berdasarkan kelebihan dan kekurangan yang kita miliki berdua dan mau sama-sama saling memperbaiki diri jika salah satu ada yang salah, tanpa main besar-besaran ego jika memang kita berbeda atau ada kekeliruan ya kita bisa belajarnya bareng-bareng (saling mengingatkan dan mengarahkan ke hal-hal yang membawa kebaikan aja) walaupun di dunia ini memang nggak ada yang sempurna ya, tetapi setidaknya saya dan istri Sali berproses untuk belajar bareng.

Dia sepakat akan hal tersebut dan kesamaannya adalah dia ingin menikah pada saya untuk sama-sama- menikmati proses setelah ijab qabul karena pernikahan itu kehidupannya nyatanya adalah setelah selesai resepsi dan menjalani kehidupan rumah tangga satu atap. Kami sepakat bahwa bukan hanya menikmati manisnya/enak-enaknya saja tetapi pahit-pahitnya ketika sudah menikah juga harus sama-sama.

Sabar itu kunci

Seperti ketika anak kami sakit, energi dan kesabaran kita di uji disini saat mengurus anak yang sedang sakit. Kalau nggak sama-sama sabar dan saling support ya perang dunia biasanya bisa terjadi di dalam situasi dan kondisi ini. Saya dari awal sudah saling bicara dengan istri kalau anak sakit atau ada hal apa kita kerjainnya gantian ya dan urus bareng-bareng. Saya nemenin istri saya ketika dia harus begadang karena anak rewel biasanya kita gantian atau ketika waktu itu saya sempat nganggur karena kena PHK dari kantor, istri saya yang masih bekerja pada saat itu nggak menjadikan dia sosok yang meninggi melainkan ia malah memberi support saya di tiap proses menjalani masa-masa nganggur tersebut.

Nggak ada sih dia menyarankan untuk menggunakan jalan pintas agar bisa bekerja di kantor cabangnya meski ia sebenarnya punya peluang untuk bisa masukin saya kerja saat itu, malah dia meminta saya untuk ikut perekrutannya sesuai prosedur perusahaan tempatnya bekerja. Jujur saat itu saya memilih untuk menolak tawaran istri saya, karena saya tidak mau ketika saya diterima bekerja satu manajemen dengannya, akan ada peluang-peluang orang yang nantinya berprasangka buruk dan menjadikan ia bahan untuk di jatuhkan karena kita nggak akan pernah tahu hati orangdan saya paham betul bagaimana istri saya. Makanya saya menghindari itu lebih baik saya berusaha sendiri tanpa harus merepotkan istri saya, Biarpun prosesnya lama ya jalanin saja dengan sabar sambil terus berusaha melamar-lamar kerja di tempat lain...

7 bulan saya menganggur dan hasilnya hingga saat ini saya masih bekerja di salah satu perusahaan retail di daerah Bekasi.

Bagaimana pria seharusnya bersikap dalam menghadapi perilaku beberapa perempuan yang menggunakan jalan pintas untuk mengikat hubungannya agar segera di nikahi, berdasarkan pengalamanmu ?

Saya bicara sesuai yang sudah pernah saya alami sendiri saja ya, bukan mau menggeneralkan dan sok ngajarin pria. Kalau saya sendiri lebih baik dibicarakan dengan perempuan yang sedang berhubungan dengan kita tersebut. Jangan hanya di diamkan aja meski kita nggak suka, lebih baik dibicarakan di awal bahwa kita nggak suka dengan cara-cara dia menggunakan jalan pintas, “yuk sayang mending kita cara bener aja lah, ikutin prosedur yang ada” haahaaaa....

Adakan pesan pembelajaran yang bisa kamu berikan untuk teman-teman perempuan berdasarkan pengalamanmu ?

Berhenti untuk menjadi seseorang yang mudah tergiur dengan melihat hasil cepat yang di dapat orang lain, hingga melupakan dan mengabaikan prosesnya yang ketika di rasakan lama. Karena kita nggak pernah tahu orang yang kita lihat saat ini berhasil mencapai tujuannya adalah mereka yang dulunya juga melewati cukup banyak proses dan pengorbanan serta cukup lama juga mereka jalani dalam hidupnya. Cintai prosesnya karena disitulah pembelajaran hidup dan pembentukan karakter yang baik kita dapatkan. Jadi ketika kita berhasil meraih tujuan dengan melewati proses yang seharusnya, kita akan merasa di berkati, bangga, puas dan menjalaninya pun tanpa merasa terbebani karena kita meraihnya dengan cara-cara benar.

Itu tadi wawancara kami dengan Gilang, semoga pangalamannya mampu menginspirasi Urbanesse ya.



Unknown

No Comments Yet.