Pamer Kemesraan Hingga Kegalauan di Sosmed, Wajarkah ?


Friday, 11 May 2018


Beberapa hari yang lalu saya sempat terkejut melihat seorang kawan pria sebut saja namanya Dito membagikan foto dan video pernikahannya di facebook dengan seorang perempuan. Lama saya tidak menjumpai postingan terbaru di facebooknya, Dito memang satu dari beberapa  laki-laki yang saya kenal  yang memang tidak terlalu senang posting atau mengupdate apapun di sosial media. Sampai akhirnya untuk pertama kalinya lagi ia memposting foto-foto pernikahannya. Terakhir yang saya tahu ia lama berpacaran dengan seorang wanita sebut saja namanya Tina (bukan nama sebenarnya) Tina pun berteman dengan saya di Facebook, selama berpacaran dengan Tina bertahun-tahun siapa yang menyangka ternyata perempuan yang dinikahi kawan saya tersebut bukanlah Tina melainkan orang lain.  Berhubung saya  kurang update heehee... ternyata setelah saya check status relationship Tina di facebook, nama Dito sudah tidak lagi disematkan di account facebook Tina.

Point yang ingin saya ceritakan disini yang kaitannya dengan tema Perempuan dan Fenomena Pamer di sosial media adalah tentang cerita beberapa orang rekan saya yang senang menunjukkan status, postingan foto kemesraan maupun tag status relationship dengan pasangannya. Termasuk Tina, saya mengetahui Tina berhubungan dengan Dito bertahun-tahun itu dari Facebook karena ketika mereka masih pacaran Tina selalu memposting foto-foto mesra bareng Dito bahkan mereka liburan bersama keluarga besar pun di update Tina di Facebook. Belum lagi status mereka yang kerap putus nyambung ketika masih bersama juga saya dapat updatenya dari facebook. Karena Tina sepertinya menjadikan facebook saat itu sebagai buku harian ia bersama Dito. 

Saya tidak mengenal Tina secara dekat, kami hanya kenal di dunia maya. Tina lah yang meminta pertemanan bersama saya, sayapun bingung ketika ia mau berteman dengan saya di Facebook. Tina sempat mengirim pesan ke saya, ia mengatakan tentang status hubungannya dengan Dito dan alasannya mengapa membagikan foto sedang bermesraan dengan kekasihnya itu juga segala isi hati dan bahkan kegalauannya di sosial media. Dia bilang dia melakukan itu agar mantan teman-teman sekolah Dito tahu jika Tina adalah pacar Dito dan berharap dengan dia memamerkan foto mereka berdua lengkap dengan tag status relationship mereka yang berpacaran, tidak akan ada lagi yang mengganggu hubungannya.

Dari sini saya tahu mungkin akan selalu ada alasan mengapa seseorang suka pamer kemesraan dengan pasangan mereka. Salah satunya seperti alasan Tina, Pamer karena butuh hubungannya diakui oleh semua orang dan berharap hubungan mereka saat itu bisa langgeng dan dijauhkan dari pengganggu. Tapi nyatanya hubungan mereka berdua berakhir, memang belum jodoh tetapi ada pelajaran yang saya dapat disini bahwa showoff  kemesraan bareng pasangan di sosmed boleh saja asal tidak belebihan. Ada teman saya juga seperti pengalaman Tina belum apa-apa sudah pamer di sosmed, hubunganpun putus di tengah jalan, “kalau seperti kasus saya sempat malu sendiri, maka sekarang saya lebih memilih tidak showoff dulu di sosmed sampai benar-benar hubungan ini dibawa ke jenjang yang serius” terang Viani (bukan nama sebenarnya) .

Pamer kemesraan dan kegalauan dengan pasangan di sosial media memang hak semua orang. Namun, jangan sampai ketika kita terlalu sibuk showoff di sosial media terhadap relationship yang sedang kita jalani, malah menjadi boomerang untuk kelanggengan hubungan kita.  Showoff di sosial media bukan hanya dilakukan oleh perempuan saja seperti Tina ada juga teman laki-laki saya yang juga kerap terlalu berlebihan menunjukkan perasaan pada pasangannya di sosial media. Bahkan tidak hanya kalimat mesra-mesraan saja yang di tag ke pasangannya, ketika sedang ribut dengan pasangannya pun teman saya mengupdatenya di facebook, saling mengomentari. 

Sempat saya mengirimkan pesan pada teman via messenger untuk tidak show off mengenai masalah yang sedang mereka hadapi di facebook. Teman saya hanya menjawab, nggak apa-apa katanya biar pasangannya malu, kasih efek jera. Mendengar jawaban tersebut, saya pun bilang dalam hati Oooh..Ok mungkin ini waktunya saya untuk men-delete teman pria saya itu dari facebook. Karena status yang dia update isinya sudah memaki dan  menjatuhkan harga diri wanitanya dan si wanitapun malah membalas hal yang sama juga di account facebooknya. Saya pikir daripada memberi pengaruh negatif ke diri saya serta menumbuhkan ketidaknyamanan untuk saya,  unfriend menurut saya adalah solusinya. Karena postingan negatif secara tidak langsung dan tanpa disadari akan memberi dampak negatif pula bagi yang membaca. Ini saya lakukan bukan karena saya tidak mau lagi berteman dengannya, tetapi ini sebagai bagian untuk menghargai diri saya dan privacy mereka, daripada nantinya hanya akan memunculkan penyakit hati dan keinginan kepo (mencari tahu) urusan orang lain ke diri saya.

Sejak kejadian tersebut saya mulai membiasakan diri untuk lebih banyak membagikan hal yang bermanfaat dan mampu menghibur diri saya di facebook. Buat saya membagikan berarti menyimpan moment tersebut di facebook, seperti membagikan video kreativitas handy craft, video kuliner, artikel cerita inspiratif, video tentang psikologi anak dan dewasa, artikel Urban Women dan quotes-quotes (kalimat bijak inspiratif) yang memotivasi saya. Kadang untuk hiburan ketika saya sedang dirumah saya senang memainkan quiz-quiz iseng yang ada di facebook, biarpun konyol setidaknya ini hiburan dan berguna buat metime saya.  Saya sempat bercerita dengan rekan saya, kalau saya sedang senang membagikan quotes di sosmed. Karena selain untuk memotivasi jiwa saya quotes berguna untuk menyemangati dan menguatkan diri saya. Dengan saya membagikan quotes bukan berarti saya sok bijak atau curhat, pernah ada teman saya yang sempat  bilang kalau saya meluapkan perasaan lewat quotes. Nope!” quotes yang saya bagikan bukan untuk curhat melainkan untuk reflection for my self, renungan saja buat saya.

Ini murni hanya untuk diri saya kalaupun orang lain yang membacanya dapat dampak positifnya juga yaa..bagus berarti berguna bukan hanya untuk saya tetapi juga berdampak untuk orang yang membacanya. Karena saya percaya apa yang kita ucapkan akan kembali kepada kita, jadi jika kita memposting foto, video atau quotes yang baik-baik dan positif maka kebaikan dan hal positif pula yang akan kembali ke kita begitupun sebaliknya.

Saya seperti sekarang karena 8 tahun yang lalu ketika awal-awal punya facebook saya pernah mengalami juga terlalu showoff  kegalauan di sosmed. Ketika saya berkeluh kesah di facebook, maka di saat itu juga sampai tiap hari saya tidak pernah merasakan suasana hati yang menyenangkan, bawaanya galau saja. Setelah saya ubah untuk lebih bijak lagi dalam memposting segala sesuatu, misalnya tidak lagi memposting status yang isinya curhat, kegalauan dan kesedihan meski suasana hati sedang galau, kemudian membagikan  status yang positif, memotivasi dan menyemangati diri sendiri secara otomatis diri saya pun merasakan hal yang sama dengan apa yang saya posting. Istilahnya saya  kena sugesti sesuai dengan apa yang saya posting. Karena ternyata postingan kita adalah gambaran dari diri kita dan akan seperti apa diri kita.

Saya pikir dengan saya memposting kegalauan tidak ada yang membantu saya juga, mereka pasti terganggu dengan postingan saya. Karena sayapun demikian, suka terganggu dengan postingan orang lain yang kerap pamer kegalauan hatinya. Sejak saat itu saya pun berubah untuk tidak lagi showoff kegalauan saya di facebook dengan status curhat. Pamer kemesraan dengan pasangan ketika dulu saya belum menikah  juga enggan saya bagikan di sosial media. saat itu saya lebih memilih untuk tidak memamerkan siapa pasangan saya. Tiba-tiba saya sebar undangan pernikahan heeheee...sempat sampai ada teman yang mengatakan begini "waaahh...keren ya kamu diam-diam aja, nggak kelihatan pacarannya, nggak di tunjukkan di sosmed tiba-tiba sebar undangan untuk mengundang saya ke pernikahan kamu. Ini baru Good News" ungkap salah seorang rekan saya. Yaaa...memang saya dulu-dulu itu enggan untuk menunjukkan siapa pacar saya karena untuk apa juga belum waktunya dan belum tentu jadi juga. Gimana jadinya kalau sendainya saya sudah pamer kemesraan dengan pacar saya lalu nggak jadi nikah sama dia ? bukan malunya sih tapi lebih kepada kurang nyaman ke diri saya, itulah yang saya pertimbangkan.  Barulah setelah menikah  saya memasang wallpaper facebook foto bersama pasangan, tapi jarang sekali sampai sekarang saya membagikan postingan foto berdua bareng pasangan, karena saya dan pasangan sama-sama kurang senang publisitas foto bersama, paling banter saya kerap posting foto anak saya heehee...

Lalu bagaimana dengan foto dan status palsu, apakah itu bisa dibilang gambaran diri seseorang ? padahal orang tersebut sedang menyebarkan foto dan postingan palsu. Seperti kejadian yang pernah juga dialami teman saya sebut saja namanya Winda (bukan nama sebenarnya. Winda dulu sering banget ngupdate status di facebook dia sedang di suatu tempat yang mewah, sedang liburan ke Bali dan pergi liburan keluar negeri. Saya sih tahu dia pamer seperti itu katanya hanya untuk memamerkan ke teman-temannya di kampung biar pada iri katanya. Sebagai teman yang baik saya sudah beritahu dia untuk tidak berperilaku seperti itu di sosmed karena cepat atau lambat bisa terjadi hal yang memalukan nantinya.

Benar saja ketika untuk kesekian kalinya ia memposting lokasi di salah satu restoran di Jakarta yang saat itu sempat hits, ternyata dia tidak cari tahu informasinya dulu kalau restoran tersebut sebenarnya sudah tutup. Oh My God saya sebagai teman kost dia kala itu hanya bisa berucap “sabar yo, kan sudah aku bilang dont do that again”. Kolom komentar facebooknya penuh dengan candaan juga bullyan dari teman-temannya.  Sejak kejadian itu, Winda pun menghentikan kebiasaanya untuk pamer fiktif heehee...apalagi di zaman sekarang sejak ada instagram, “Postingan tidak disertai foto atau video itu “Hoax (informasi bohong)” jadi tidak ada kesempatan untuk orang lain pamer fiktif.

Dari kejadian tersebut Winda yang beberapa hari lalu sempat saya hubungi via whatsapp untuk saya interview tentang tema ini, kini belajar bahwa mau di dunia nyata atau di dunia maya menjadi diri sendiri adalah nomor satu. “Pamer hanya untuk berpura-pura bahagia, pura-pura menjadi orang yang berada, pura- pura punya padahal tidak. Hanya untuk mendapat pengakuan berupa acungan jempol dan love dari teman-teman sosial media kita untuk apa, sedangkan jika memang kita benar-benar punya dan bahagia biasanya malah enggan menunjukkannya. Yang diam-diam saja tanpa publikasi malah jauh lebih beruntung dan bahagia hidupnya. Pengalamanku dulu itu sangat berharga pembelajarannya untukku sekarang.” Terang Winda.

Dari cerita rekan-rekan saya dan pengalaman saya pribadi point pembelajaran yang saya dapat untuk menghindari fenomena pamer di sosial media  :

  1. Orang yang benar-benar bahagia tidak butuh pengakuan atau publisitas dari orang lain  di sosial media, jadi buat saya foto bareng pasangan sambil bermesraan atau ribut-ribut dengan pasangan buat saya cukup Tuhan, saya dan pasangan saya saja yang tahu . Karena buat saya kebahagiaan sejati adalah di dunia nyata. Sesekali  saya upload foto bareng pasangan itupun pada moment tertentu saja. Seperti moment perayaan hari besar keagamaan atau tahun baru  selebihnya cukup disimpan untuk kebutuhan pribadi saja heeheee...
  2. Saya buat suasana nyaman dan menyenangkan ketika memainkan sosmed. Karena itulah kegunaan sosial media selain menghubungkan teman yang jauh juga menjadi hiburan kala saya jenuh. Jadi, ketika ada teman yang terlalu berlebihan showoff/Pamer hal apapun di sosmed, ada baiknya kita hidden mereka atau level tertinggi bisa kita unfriend Karena kitalah yang memegang kendali rasa nyaman dan menyenangkan yang ingin kita rasakan ketika main sosmed. Bukan terbawa perasaan melainkan ini cara saya menghargai diri saya agar bebas dari postingan yang membawa pengaruh negatif. Postingan positif akan membawa dampak positif ke diri kita juga ke yang melihatnya dan sebaliknya.
  3. Menjadi diri sendiri baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Karena dengan saya menjadi diri saya setidaknya menghindari saya dari asumsi negatif orang lain. Tidak perlu pamer fiktif apalagi berpura-pura hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain.
  4. Selalu posisikan diri menjadi orang lain ketika kita ingin pamer kemesraan atau hal apapun di sosial media. Jika kita sendiri tidak nyaman melihat orang lain berperilaku demikian, pun orang lain juga merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan. Saya selalu memikirkan dulu dalam memposting sesuatu di sosmed, berguna tidak untuk saya, memberi hal positif atau tidak untuk kepribadian saya.
  5. Saya lebih perbanyak memposting atau membagikan hal yang bermanfaat untuk diri saya. Kalaupun foto selfie atau foto keluarga dan teman-teman saya yang saya post itu saya lakukan jarang-jarang. Saya jadwalkan ketika weekend dirumah.
  6. Saya tidak mengejar jumlah like, love atau komentar melainkan feedback dari teman sosmed saya yang mengatakan bahwa "postingan saya ini sangat berguna, terimakasih sudah membagikan cerita ini". Mendengar feedback tersebut secara tidak langsung membawa saya lebih semangat menjalani aktivitas berarti yang mendapat dampak positif bukan hanya diri saya tetapi sampai juga ke orang lain.

Simpan Momentnya dan tetap jaga privacy kita. Itu cara saya Bagaimana dengan kamu Ladies ?



Libra

No Comments Yet.